My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (82)



Devano masuk rumah sakit!


Tepat pukul delapan pagi Daffa memutuskan untuk membawa anaknya ke rumah sakit karena Devano yang suhu tubuhnya semakin tinggi dan meracau karena merasa dingin. Setelah melalui pemeriksaan Devano akhirnya harus di rawat untuk beberapa hari meskipun harus melalui paksaan dari semua orang barulah Devano setuju.


Sejak tadi Devina terlihat sangat sedih bahkan dia sempat menangis dan air mata Devina yang akhirnya meluluhkan kembarannya untuk bersedia diinfus dan dirawat beberapa hari ke depan. Sekarang Devina menunggu kembarannya karena orang tua mereka sedang pulang ke rumah untuk mengambil beberapa barang.


Tadinya Devina bersikeras untuk menginap dan menjaga Devano, tapi kedua orang tuanya melarang karena mereka tau Devina itu mudah sekali lelah. Tentu saja Devina tidak bisa menolak dan berakhir dengan mengangguk lesu.


"Vin"


"Kenapa? Vano ada yang sakit?" Tanya Devina cemas


"Enggak aku mau minum." Kata Devano pelan


"Minum? Sebentar Vina ambilin." Kata Devina


Bergegas mengambil minum Devina memberikan gelas serta sedotan untuk membantu kembarannya minum.


"Sudah?" Tanya Devina


Devano bergumam pelan sebagai jawaban dan Devina menaruh lagi gelasnya di meja lalu meraih tangan Devano yang terasa hangat sambil mengusapnya dengan penuh kelembutan.


"Gak papa Vin." Kata Devano


"Vano sih kan dari pas sakit kata Daddy ke rumah sakit, tapi gak mau lihat kan? Sekarang Vano sakit nanti aku di rumah gimana?" Kata Devina sedih


"Maaf"


"Vina gak ada teman di rumah, tapi sama Mommy dan Daddy gak boleh tidur disini untuk temenin Vano." Kata Devina lagi


"Iya maaf." Kata Devano pelan


Devina mengerucutkan bibirnya sebal lalu memperhatikan wajah kembarannya yang sangat pucat.


"Vano pucat banget wajahnya." Kata Devina


"Em pusing"


"Vano cepet sembuh." Kata Devina pelan


"Iya"


Memeluk Devano dengan hati-hati Devina meneteskan air matanya karena merasa sedih dan hal itu membuat Devano jadi merasa bersalah.


"Jangan nangis." Kata Devano


Devina diam tidak memberikan tanggapan apapun.


"Vina gak mau kalau Vano sakit." Kata Devina


Devano sangat bingung harus melakukan apa tangan satunya di infus dan dia juga merasa kalau tubuhnya sakit semua.


"Jangan sakitt." Pinta Devina


"Iya Vina"


"Vano bikin Vina sedih." Kata Devina lagi


"Maaf"


Melepaskan pelukannya Devina menghapus air matanya lalu menatap Devano dan mengusap kepalanya dengan sayang.


"Vano tidur biar cepat sembuh." Kata Devina


Devano tidak bisa memberikan penolakan karena dia juga merasa lelah sekali dan perlahan matanya terpejam kala usapan dikepalanya kembali dia rasakan. Melakukannya hingga Devano benar-benar terlalap Devina menghela nafasnya pelan, dia tidak suka melihat kembarannya sakit.


Sejak pagi Devina sama sekali tidak menyentuh ponselnya bahkan dia tidak mengabaikan pesan dari Ziko atau teman-temannya dan memilih untuk menemani Devano terus. Saat ini bagi Devina kembarannya yang terpenting hingga dia tidak mau memikirkan hal yang lainnya lagi.


Mungkin nanti setelah pulang dari rumah sakit dia akan memeriksa ponselnya dan membalas pesan yang masuk.


'Agh Mom kepala aku sakit banget'


Tadi pagi ketika sarapan Devano mengatakan hal itu sambil memegang kepalanya cukup kuat dan Devina sangat cemas.


'Mom dingin'


Setengah jam sebelum pergi ke rumah sakit Devano juga meracau sambil mengeratkan selimutnya.


Sekarang pria itu sudah terlelap membuat Devina merasa lega dia bahkan terus menatap Devano sambil sesekali mengusap tangannya yang terasa hangat.


Devano lebih susah untuk dibujuk ketika sedang sakit.


¤¤¤


Saat masuk ke dalam ruang rawat anak mereka Daffa dan Fahisa melihat Devina yang tertidur dengan posisi duduk sambil menggenggam tangan Devano yang juga tertidur lelap. Saling melemparkan senyum keduanya langsung masuk ke dalam Daffa menaruh tas yang dia bawa di kursi lalu Fahisa menghampiri Devina dan membangunkannya dengan hati-hati.


"Bangun sayang kita pulang yuk." Ajak Fahisa


Devina bangun dan menatap Fahisa sebentar sambil mengumpulkan semua kesadarannya.


"Kita pulang biar Daddy yang jagaiin Vano besok kita kesini lagi." Kata Fahisa dengan penuh kelembutan


Bergumam pelan Devina berdiri dengan dibantu Fahisa dan gadis itu langsung memeluk Mommy nya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Fahisa.


"Ngantuk? Sini sayang." Kata Daffa


Mengangguk singkat Devina mendekat lalu memeluk Daffa dengan cukup erat sambil memejamkan matanya.


"Udah jangan cemas Vano sebentar lagi sembuh dia cuman demam dan tekanan darahnya rendah." Kata Daffa


Mendengar hal itu Devina kembali menangis membuat Daffa menghela nafasnya pelan dan langsung melepaskan pelukannya. Menangkup wajah Devina dengan kedua tangannya Daffa tersenyum sambil menghapus air matanya dengan penuh kelembutan.


"Udah ya? Sekarang pulang sama Mommy." Kata Daffa


"Heem nanti Daddy kabarin Vina." Kata Devina


"Iya sayang"


Tersenyum singkat Devina kembali memeluk Daddy nya sebentar sebelum akhirnya bersama dengan Fahisa keluar dari ruang rawat Devano. Dengan tangan yang memeluk lengan Mommy nya erat Devina menyandarkan kepalanya di bahu Fahisa.


Tadinya Fahisa yang ingin menjaga Devano, tapi Daffa bilang biar dia saja dan dia meminta istrinya untuk di rumah bersama dengan Devina. Sekarang keduanya sudah masuk ke dalam mobil dan Devina kembali memeluk Mommy nya dengan erat.


"Vina mau makan dulu?" Tanya Fahisa


"Enggak"


"Ini udah sore sayang, makan dulu ya?" Kata Fahisa


"Di rumah aja." Kata Devina


"Yaudah nanti di rumah makan ya?" Kata Fahisa


Devina bergumam pelan sebagai jawaban dan kembali memejamkan matanya. Tersenyum penuh arti Fahisa mengusap kepala anaknya dengan sayang dan menciumnya.


"Mommy"


"Hmm"


"Nanti kalau sudah sampai rumah bangunin ya?" Kata Devina


"Iya, kamu mengantuk?" Tanya Fahisa


"Heem ngantuk." Kata Devina


"Yaudah tidur dulu nanti Mommy bangunin." Kata Fahisa


Bergumam pelan Devina memejamkan matanya dan berusaha untuk tertidur karena dia memang merasa sangat mengantuk sekarang. Mendapat usapan di kepalanya membuat Devina semakin merasa tenang hingga sesaat setelahnya Devina sudah terlelap.


Tersenyum manis Fahisa mencium anaknya dengan sayang lalu menatap lurus ke depan dan membiarkan Devina tertidur.


¤¤¤


"Vano makan dulu"


Malam sudah tiba sekarang Daffa sedang membujuk anak laki-lakinya itu untuk makan dan ternyata cukup sulit bahkan lebih mudah membujuk Devina untuk makan. Sudah lima belas menit sejak makan malam diantarkan dan Devano masih enggan untuk makan padahal wajahnya sudah pucat sekali.


Sudah berkali-kali Daffa memintanya untuk makan, tapi Devano masih menolak dan memilih untuk diam meskipun Daffa sudah sedikit memarahinya. Memang sulit sekali kalau Devano sudah sakit begini dulu ketika masih kecil juga sama lebih sulit menjaga Devano daripada Devina ketika sakit.


Kalau Devina dimarah atau diomeli sedikit aja dia akan langsung menurut, tapi sayangnya hal itu tidak berlaku untuk Devano.


Jika sudah begini Daffa hanya akan memakai satu cara.


"Vano kamu mau tau? Sejak kamu dibawa ke rumah sakit Devina menangis terus." Kata Daffa


Berhasil Devano langsung menatapnya.


"Bahkan tadi ketika Daddy suruh pulang dia masih menangis lalu meminta Daddy untuk kasih kabar tentang kamu dan tadi sore Mommy kamu bilang Devina tidak mau makan, dia hanya makan beberapa suap setelah dipaksa." Kata Daffa


Devano diam masih sambil menatap Daddy nya yang kini tersenyum padanya.


"Makanlah meski hanya sedikit kalau Devina nanya lagi Daddy jawab apa hmm? Apa Daddy harus jawab kalau Vano tidak mau makan? Nanti Vina bisa kepikiran dan tidak bisa tidur." Kata Daffa


Setelah terdiam cukup lama Devano akhirnya mau makan dan Daffa langsung membantu anaknya itu untuk suduk. Tersenyum senang Daffa langsung menyuapi anaknya makan dengan perlahan karena Devano mengunyah cukup lama.


Begini kalau Devano sudah sakit apalagi sampai ke rumah sakit, manjanya bisa melebihi Devina.


¤¤¤


Aku updateeee💞