
"Colet colet"
Nadhin asik mencoret-coret buku kosong dengan pensil warna dia membuat gambaran asal dengan berbagai macam warna. Di samping anak itu ada Nathan yang melakukan hal yang sama juga, kemarin Adara sengaja membelikan buku juga pensil warna untuk si kembar.
Mereka sudah tiga tahun, jadi tidak papa bermain sekalian belajar juga apalagi Nadhin dan Nathan sangat suka. Kini Devano yang sedang menemani keduanya karena Adara lagi mandi dan hari ini mereka akan pergi jalan-jalan ke taman bermain.
Rambut Nadhin sudah tumbuh panjang sekarang, sudah melebihi bahu, dia cantik sekali mirip dengan Adara ah Nathan juga sama dia mirip Adara. Meskipun banyak yang mengatakan Nathan mirip dengannya, tapi menurut Devano anak laki-laki nya itu juga mirip Adara hanya bagian mata dan bibir saja yang mirip dengannya.
"Papaa Adhin gambal." Kata Nadhin
Anak itu menaruh pensil warnanya lalu berjalan mendekati Devano dan menunjukkan buku miliknya.
"Wah bagusnya." Kata Devano membuat anak itu tersenyum lucu
"Adhin colet colet agi." Kata Nadhin
Nadhin kembali ke samping Nathan dia mengambil pensil warnanya dan membuka lembaran buku selanjutnya lalu mulai mencoret-coret di kertas yang masih putih itu.
"Tan gambalnya jelek." Kata Nadhin
Nathan menatapnya sebentar lalu kembali fokus pada gambarannya.
"Tan jelek gambalnya jelek." Kata Nadhin lagi
"Bialin." Kata Nathan
Nadhin kembali menggambar dia mencoret-coret lembaran kosong itu hingga kini di penuhi warna.
Devano menatap keduanya bergantian dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya, dia senang sekali memiliki dua orang anak yang begitu pintar dan tidak rewel.
"Vannn"
Suara Adara terdengar membuat Devano mendongak dia melihat istrinya itu sudah siap dengan dress di bawah lutut berwarna cream yang melekat di tubuhnya.
Ah ya sekarang Adara suka memakai dress Devano senang sekali melihatnya.
"Amaaa"
Nathan melemparkan pensil warnanya dia berlari menghampiri Adara dan memeluknya ketika Adara menunduk untuk mensejajarkan tinggi mereka.
"Siapa ya yang mau ke taman bermain?" Tanya Adara
Mendengar itu Nadhin juga meletakkan pensil warnanya lalu ikut menghampiri Adara.
"Adhin Adhinnn"
Adara tertawa dia memeluk Nadhin dan mencium pipinya begitu juga dengan Nathan.
"Ayo ajakin Papa." Kata Adara
Keduanya mengangguk, tapi hanya Nadhin yang menghampiri Devano anak itu memeluk Papa nya dengan manja.
"Papa jalan-jalan cekalang." Kata Nadhin
"Hm enggak mau." Canda Devano
"Aaaa Papa"
Nadhin cemberut membuat Devano tertawa lalu dia mengangkat tubuh Nadhin dan menggendongnya juga memberikan ciuman di pipinya.
"Ayo anak-anaknya Papa." Kata Devano
Keduanya berseru senang Nathan langsung di gendong oleh Adara.
Hari ini waktu Devano dengan keluarga kecilnya.
°°°°°
"Nadhin jangan lari sayang nanti jatuh"
Sama halnya dengan Nathan anak itu juga sama dia terus berpindah dari satu mainan ke mainan lainnya. Di sana ada beberapa anak juga yang bermain dengan dijaga oleh kedua orang tuanya karena ini memang akhir pekan.
"Papa Papaaa mau gendong." Kata Nadhin begitu sampai di hadapan Devano
Devano tersenyum dia berjongkok meminta Nadhin untuk naik ke pundaknya lalu menggendong anak itu membuat Nadhin tertawa senang.
Nadhin merentangkan kedua tangannya ketika Devano berlari kecil mengelilingi taman bermain dengan Nadhin yang ada di pundaknya.
"Telbang telbanggg." Seru Nadhin sambil tertawa
Nathan menatap dengan wajah berbinar dia melambaikan tangan pada Nadhin.
"Dadahh Athannn aku telbangg." Kata Nadhin senang
Devano masih terus berlari kecil mengelilingi taman bermain hingga akhirnya dia berhenti di dekat Nathan dan Adara lalu menurunkan Nadhin.
"Nathan mau juga?" Tanya Devano
Dengan senyuman lebar Nathan mengangguk dia lalu naik ke atas pundak Devano dan tertawa begitu Devano mulai berdiri kemudian berlari kecil.
"Ke canaaa Paaa ke canaa." Kata Nathan
Devano menurut dia membawa Nathan ke tempat yang anak itu mau lalu kembali lagi hingga beberapa kali sampai akhirnya dia lelah juga. Menurunkan Nathan di dekat Nadhin dan Adara kini Devano langsung duduk dia tertawa pelan sambil mengambil minum.
"Aaaa ada esklimm Papa ada esklimm." Rengek Nadhin
Devano mengikuti arah pandang Nadhin dan ternyata benar ada penjual ice cream yang menggunakan mobil.
"Mau ice cream?" Tanya Devano
"Mauu mauuu." Seru Nadhin
"Athan jugaaa." Kata Nathan
"Yaudah yuk beli ice cream sama Nathan ya? Nadhin sini sama Ama." Kata Devano
Nadhin mengangguk lalu menatap Devano yang kini menggandeng tangan Nathan dan pergi untuk membeli ice cream.
"Sini Nadhin duduk, capek enggak?" Tanya Adara dengan penuh kelembutan
Nadhin menggelengkan kepalanya dia duduk dipangkuan Adara.
"Amaa aku mau main pat Mami." Kata Nadhin
"Mami siapa? Mami Vina atau Mami Ara?" Tanya Adara
"Mami Pina." Kata Nadhin
"Oh mau main sama Arthan ya?" Kata Adara
"Gakk cama Aldann." Kata Nadhin
"Nanti kita bilang Papa ya?" Kata Adara
Nadhin mengangguk patuh dia duduk anteng hingga Devano muncul bersama dengan Nathan membuat anak itu langsung melompat turun.
"Esklimm Adhinnn"
Nadhin memang suka sekali ice cream apalagi Fahisa sering sekali menyimpan ice cream di kulkas kadang anak itu hampir setiap hari makan ice cream.
Kalau di larang langsung ngambek bukan main, enggak mau ngomong kecuali sama Devano.
Dasar anak Devano!
°°°°
Hellooo aku updateeee🥰