My Possessive Twins

My Possessive Twins
41 : Devano Marah



"Pulang!"


Satu kata yang diucapkan kembarannya dengan datar membuat Devina menggigit bibir bawahnya pelan, dia takut sekali karena sekarang sudah jam sembilan malam dan dia masih berada di rumah kekasihnya. Sebenarnya sejak sore Devina sudah meminta untuk diantarkan pulang, tapi Nazwa memintanya untuk tinggal sampai makan malam karena Papa nya Ziko akan pulang ketika makan malam dan sekarang dia malah diminta untuk menginap.


Entah keberuntungan apa, tapi orang tua Ziko ternyata sangat ramah bahkan keduanya menyambut Devina dengan baik dan mengajaknya mengobrol tentang banyak hal. Namun, jangankan menginap sekarang saja suara Devano seperti sebuah lonceng penanda bahaya yang memintanya untuk segera pulang dan Devina amat sangat yakin dia akan dimarahi ketika sampai rumah.


Sebenarnya Devina sudah menelpon kedua orang tuanya, tapi dia lupa mengabari Devano hingga pria itu sangat marah sekarang. Sudah dapat dipastikan dia akan habis ketika sampai di rumah.


"Iya Van tadi baru...."


'Pulang sekarang!'


Titah Devano sudah mutlak dan itu artinya Devina harus benar-benar pulang serta sampai di rumah secepat yang dia bisa.


"Sini aku yang ngomong." Kata Ziko


Dengan sedikit ragu Devina menyerahkan ponselnya kepada sang kekasih dan membiarkan dia berbicara dengan kembarannya.


"Halo Van"


'Antar Devina pulang sekarang! Udah malam bukannya gue udah bilang batas ajak keluar jam sembilan!'


Devina yang memang menghidupkan loud speaker bisa mendengar suara Devano yang semakin menyeramkan.


Beruntungnya orang tua Ziko sedang tidak ada disini kalau iya dan mereka mendengarnya Devina jadi merasa tidak enak.


"Iya ini gue mau antar dia pulang Van." Kata Ziko


'Secepatnya sampai rumah!'


Baru ingin menjawab Devano sudah mematikan panggilan telponnya membuat Ziko menghela nafasnya pelan lalu menatap kekasihnya dengan senyuman.


"Yuk pulang." Ajak Ziko


"Pamit dulu sama orang tua kamu." Kata Devina pelan


Mengangguk singkat Ziko mengajak Devina ke ruang tengah dan benar saja kedua orang tuanya ada disana. Saat melihat Devina datang Nazwa langsung tersenyum dan menanggalkan semua berkasnya lalu menghampiri kekasih anaknya.


"Tante aku mau pulang." Kata Devina membuat senyum di bibir Nazwa perlahan memudar


"Kenapa pulang sayang?" Tanya Nazwa sedih


Maklum saja sejak dulu Nazwa selalu ingin memiliki anak perempuan, tapi sampai sekarang dia hanya memiliki anak laki-laki makanya ketika Devina datang dia sangat senang.


"Emn sudah ditelpon suruh pulang." Kata Devina sambil tersenyum


"Yaudah, tapi janji ya lain kali harus menginap?" Kata Nazwa


Devina tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu mencium punggung tangan kedua orang tua Ziko dengan sopan.


Saat ingin keluar Zion memberikan kunci mobilnya kepada anaknya membuat Ziko tersenyum lalu mengatakan bahwa dia akan mengantar Devina pulang. Jujur saja Devina suka dengan keluarga Ziko yang sangat-sangat ramah bahkan mereka cukup homoris pantas saja Ziko juga seperti itu kalau di sekolah.


Sampai di luar Ziko yang mengeluarkan mobil membuat Devina mengerutkan dahinya, tapi tetap masuk ketika kekasihnya itu membukakan pintu untuknya. Setelah Ziko ikut duduk dan menyalakan mesin mobilnya lalu berlalu pergi dari rumah Devina langsung bertanya.


"Aku kira mau naik motor." Kata Devina


"Di suruh Papa sebenarnya aku lebih suka naik motor." Kata Ziko membuat kekasihnya menatapnya dengan penasaran


"Kenapa?"


Tapi, jawaban Ziko membuat Devina memasang wajah kesalnya dan pria itu yang tertawa senang.


"Kalau naik motor bisa kamu peluk." Kata Ziko


"Ihh nyebelin!" Kata Devina


"Bercanda sayang, aku suka aja soalnya udah biasa naik motor dari awal masuk SMA kayaknya aneh kalau bawa mobil dan lagi Papa belum kasih izin kayakna baru ini deh diizinin." Kata Ziko


Devina mengangguk faham lalu kembali mengalihkan pandangannya, tapi dia kembali cemas ketika ponselnya berdering dan menampilkan pesan dari kembarannya.


Udh dmn??


Kalau sudah marah pasti deh ngetik pesannya tidak pakai huruf vokal.


Tersenyum tipis Devina mengambil gambar ke depan lalu mengirimkannya pada Devano membuat Ziko yang melihatnya menggelengkan kepala pelan. Terkadang dia merasa lucu dengan Devano yang bisa dibilang sangat posesif dengan kembarannya terutama masalah rambut dan pakaian yang selalu Devano atur sesuai keinginannya.


Tapi, mungkin kalau dia berada diposisi Devano dia juga akan melakukan hal yang sama mengingat Devina yang cantik dan lugu ini membuat orang-orang ingin memanfaatkannya.


"Vano cerewet banget." Keluh Devina sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya



UDAH DIJALAN VANO SABAR


"Lagian kamu kenapa gak bilang Vano juga tadi?" Tanya Ziko


"Lupaa"


Devina tersenyum lebar membuat Ziko merasa gemas dan mengacak rambutnya.


"Dia itu perhatian sama kamu Vin gak mau kamu kenapa-kenapa makanya selalu telpon kamu kalau kamu gak ada di rumah." Kata Ziko


Devina mengangguk faham dia juga tau kok kalau kekasihnya itu melakukan semuanya karena dia peduli dan sayang dengannya, tapi tetap saja terkadang Devina merasa kesal.


"Ziko aku mau nanya boleh gak?" Tanya Devina


"Hah? Nanya aja kenapa harus izin dulu?" Tanya Ziko sambil tertawa


"Emm kenapa Mama kamu kerja? Memang dia gak capek? Dulu Mommy juga mau kerja, tapi Daddy gak pernah kasih izin." Kata Devina


Terdiam sebentar Ziko menghela nafasnya pelan sebelum menjawab pertanyaan dari kekasihnya.


Dan kalian harus percaya kalau Devina merasa menyesal sudah bertanya.


"Dulu Papa pernah selingkuh sama sekretarisnya, tapi beruntung belum terlalu jauh karena Mama keburu tau dan Mama mau cerai dia sempet bawa aku pulang ke rumah Nenek juga,"


Ada jeda yang Ziko berikan sebelum melanjutkan perkataannya.


"Saat itu Papa nyesal dia berkali-kali datang ke rumah Nenek minta maaf sama Mama dan memohon supaya mereka gak cerai awalnya Mama menolak dia bersi keras untuk cerai, tapi Papa juga gak mau berhenti sekitar dua bulan aku sama Mama di rumah Nenek ninggalin Papa sendirian,"


Senyum diwajah Ziko terbentuk, dia memang sempat kecewa dan sedih, tapi sekarang dia merasa lebih baik karena orang tuanya tidak berpisah dan tetap bersama.


"Entah apa yang terjadi sampai akhirnya Mama setuju untuk menarik gugatan cerainya, akhirnya kami kembali ke rumah dan Mama minta supaya dia dijadikan sekretaris Papa,"


"Dan ya akhirnya Mama kerja sama Papa mereka selalu keluar kota bareng untuk pekerjaan kata Mama dia belum bisa percaya sepenuhnya sama Papa, tapi sekarang mereka sudah baikan dan Mama bilang kalau dia sudah mau berhenti kerja supaya bisa menghabiskan waktu di rumah." Kata Ziko


Tentu saja Ziko akan sangat senang kalau Mama nya benar-benar berhenti dan menghabiskan waktu di rumah, melanjutkan figur seorang Ibu yang sempat dia lewatkan.


"Gak usah minta maaf Vin kejadian itu udah lama dari aku sd dan sekarang mereka udah sangat-sangat baik." Kata Ziko ketika melihat wajah bersalah kekasihnya


Tersenyum manis Devina menganggukkan kepalanya dan menatap lurus ke depan.


Hari ini dia sangat bahagia karena Ziko mengajak dia menemui orang tuanya dan menghabiskan waktu seharian disana, membuat Devina merasa kalau Ziko benar-benar mencintainya. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua puluh menit mobil Ziko berhenti di rumah kekasihnya membuat Devina kembali merasa cemas, tapi ketika Ziko ingin mengantarnya ke dalam dia langsung menolak.


Alasannya nanti kekasihnya itu akan dimarahi oleh Devano dan lagi ini sudah cukup malam.


"Beneran? Gak papa kok Vin aku antar aja ya?" Kata Ziko lagi


Devina menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Gak usah lagian Devano juga gak bakal marahin aku kok paling cuman ngomel, dia gak berani marahin aku soalnya aku suka ngadu." Kata Devina sambil menunjukkan cengirannya


Mendengar hal itu Ziko tertawa kecil lalu tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala Devina dengan sayang dan mengucapkan selamat malam untuknya.


"Good night Vin, mimpi indah dan sampai ketemu di sekolah besok." Kata Ziko sambil tersenyum manis


Devina mengangguk dan melambaikan tangannya kepada Ziko sebelum akhirnya turun dari mobil.


"Hati-hati Ziko nanti kabarin kalau udah sampai ya?" Kata Devina


Setelah memastikan Devina masuk ke dalam Ziko baru menghidupkan mesin mobilnya dan kembali ke rumah.


Kembali pada Devina yang membuka pintu rumah dengan hati-hati, tapi tenyata dia tetap dikejutkan dengan Devano yang duduk di ruang tamu sambil menatapnya dengan galak. Bukan merasa bersalah Devina malah menunjukkan cengirannya lalu berjalan mendekat dan memeluk kembarannya dari samping.


"Kenapa baru pulang?" Tanya Devano


"Tadi ada orang tuanya Ziko terus aku gak boleh pulang sampai makan malam." Jelas Devina


"Kenapa gak bilang?" Tanya Devano kesal


"Udah bilang Mommy sama Daddy." Kata Devina sambil melepaskan pelukannya dan menatap Devano dengan lugu


Merasa gemas dan kesal Devano mencubit kedua pipi kembarannya hingga membuat Devina merengek.


"Terus gak bilang aku? Kenapa gak bilang aku juga?" Tanya Devano kesal


"Ihh maaf akunya lupa." Kata Devina membuat Devano semakin kesal


Dia jadi merasa dilupakan oleh kembarannya.


"Jadi kalau sama Ziko gak inget aku gitu?" Tanya Devano


Seandainya anak sekolah melihat Devano sekarang mereka pasti akan heboh apalagi para gadis yang akan histeris melihat Devano yang sangat menggemaskan sekarang.


"Maaf bukan gitu Vano." Kata Devina


Tapi, Devano yang terlanjur kesal langsung berlalu pergi membuat Devina menghela nafasnya pelan dan mengejar kembarannya.


Saat menaiki tangga suara Fahisa terdengar membuat Devina berhenti dan menoleh ke ruang kerja Daddy nya dimana Fahisa baru saja keluar.


"Udah pulang sayang?"


Menghampiri Fahisa sebentar Devina langsung mencium punggung tangannya dan mengangguk singkat sebagai jawaban.


"Daddy mana?" Tanya Devina


"Lagi di kamar mandi." Kata Fahisa


Devina mengangguk faham lalu meminta izin untuk pergi ke kamar Devano karena kalau tidak kembarannya itu akan semakin merajuk.


"Memang Vano kenapa?" Tanya Fahisa


"Ngambek dia soalnya aku lupa kasih tau dia tadi." Kata Devina sambil menunjukkan cengirannya


"Pantesan dari tadi dia kesal makan aja cuman sedikit." Kata Fahisa dengan tawa kecilnya


Tersenyum lebar Devina langsung berbalik dan menghampiri Devano di kamarnya meninggalkan Fahisa yang tersenyum penuh arti melihatnya.


Sejak kecil Devano memang sangat posesif terhadap kembarannya bahkan sampai ada yang mengira dia mencintai Devina dan cemburu kalau dia dekat orang lain. Padahal kenyataannya Devano tidak mau kalau Devina melupakannya dan terlalu sibuk dengan orang lain, dia hanya ingin Devina selalu mengingatnya dan juga dia tidak ingin kalau kembarannya sampai terluka apalagi menangis.


"Vanoo"


Memeluk kembarannya yang sedang duduk di meja dari belakang Devina menggumamkan maaf sambil mencium pipinya berkali-kali.


"Ngapain? Sana sama Ziko aja." Kata Devano membuat Devina tertawa


"Ihh gemes banget sih jadi pengen aku rekam biar anak sekolah pada tau." Canda Devina


Devano langsung menatap kembarannya itu dengan tajam.


"Maaf Vano janji gak bakal lupa lagi, beneran deh janji janji janji Vina kalau mau kemana-mana bakal kasih kabar." Kata Devina


"Janji?"


"Iya janji janji janji janji janji"


Devano tertawa membuat kembarannya tersenyum senang dan mencium pipinya berkali-kali.


"Udah gak marah kan?" Tanya Devina memastikan


Devano bergumam pelan membuat Devina tersenyum.


"Sayang Vano banyak-banyak"


Tertawa kecil Devano mencubit pipi kembarannya itu dengan gemas.


"Sana ganti baju terus tidur"


Devina menganggukan dengan semangat lalu bergegas pergi ke kamarnya.


"Siap boss"


¤¤¤


Enak ya jadi Devina dikelilingin cogan kalau aku sih dikelilingin pekerjaan wkwk :v