My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (39)



Kembali memulai perkuliahan setelah satu minggu izin untuk menunggu semua lukanya sembuh Devina masih merasa sedikit takut, tapi dia mencoba meyakinkan kedua orang tuanya serta kembarannya dengan mengatakan bahwa dia sudah baik-baik saja. Meskipun Devina sendiri belum yakin dia masih cukup takut untuk keluar dari rumah hanya saja dia juga tidak bisa terus diam begini dan membuat kuliahnya terbengkalai.


Sudah seharusnya Devina belajar untuk melawan rasa takutnya dan kembali memulai aktifitas seperti biasanya, lagipula mereka semua telah mendapat putusan di pengadilan. Singkatnya Devina cukup aman untuk keluar dari rumah selain itu Daffa juga pasti akan menjaganya bahkan dia memutuskan untuk mempekerjakan satu orang yang akan mengawasi Devina dari jauh.


Sejak kedatangannya tadi kabar tentang Devina yang diculik kembali tersebar dan hampir semua teman sekelasnya menanyakan keadaan Devina yang hanya bisa Devina jawab dengan mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Jujur setiap kali ada yang menyentuh bahuhya dia selalu tersentak kaget dan merasa jantingnya berdetak dengan sangat cepat, takut.


Entah kenapa setiap kali ada yang menyentuh bahunya Devina merasa takut.


"Vin habis ini mau kemana?" Tanya Intan ketika mata kuliah pertama mereka akan segera berakhir


"Em gak tau." Kata Devina


"Perpustakaan aja mau? Sekalian ngerjaiin tugas untuk besok." Usul Hanifa


"Iya boleh." Kata Devina


Kembali fokus pada dosen yang mengajar Devina sedikit kebingungan karena telah absen dua kali pertemuan dan membuatnya benar-benar tidak faham. Mungkin nanti dia akan meminta catatan pada Hanifa atau Intan.


Hari ini dia pulang siang karena ada tiga mata kuliah dan mengingat sudah seminggu dia tidak kuliah maka tugasnya pun sangat banyak. Memikirkan betapa banyak tugasnya saja sudah membuat Devina sangat pusing ditambah lagi ada beberapa mata kuliah yang akan ujian.


Setelah lima belas menit dosen yang sedang mengajar tadi keluar dari kelas dan karena memang sudah habis jamnya. Mata kuliah selanjutnya masih cukup lama sekitar dua jam lagi kalau dosennya tidak datang terlambat.


"Kita mau ke perpus jadinya?" Tanya Intan sambil memasukkan bukunya ke dalam tas


"Em ke kantin dulu gimana? Aku mau beli minum sama roti." Kata Devina


"Yaudah gue juga mau beli minum Vin." Kata Hanifa


Akhirnya mereka bertiga berjalan bersama menuju kantin untuk membeli minuman dan ketika melihat keadaan kantin yang cukup padat Hanifa memutuskan untuk dia saja yang membeli. Dia meminta kedua temannya untuk menunggu karena kalau Devina atau Intan yang beli sudah dapat dipastikan akan lama sekali.


Selagi Hanifa pergi membeli Devina duduk bersama Intan di dekat kantin sambil menatap lurus ke depan hingga Intan merasa penasaran.


"Vin, maaf nih ya gue mau nanya." Kata Intan


"Em nanya apa?" Tanya Devina sambil menatap temannya


"Kejadian itu beneran? Lo diculik? Di dekat gerbang belakang kampus?" Tanya Intan


"Iya, luka ini karena aku coba kabur." Kata Devina sambil menarik sedikit lengan kemejanya


"Ih ya ampun kok bisa sih? Dia ada dendam sama lo apa gimana?" Tanya Intan


"Sebenernya ini semua karena Daddy ada sedikit masalah dengan rekan kerjanya." Kata Devina


"Aduh gue gak faham." Kata Intan membuat Devina tertawa kecil mendengarnya


"Kata Daddy dia memutus kerja sama secaa sepihak lalu orang itu tidak terima dan mau balas dendam." Kata Devina


"Ya ampun Vin gue sedih deh, kenapa harus lo sih? Untung lo gak papa." Kata Intan membuat Devina tersenyum mendengarnya


"Makasih udah peduli sama aku." Kata Devina


"Kita kan teman Vin masa gue gak peduli sih sama lo." Kata Intan


"Iya Intan"


"Terus sekarang keadaan lo gimana? Maksud gue lo gak ada trauma gitu kan?" Tanya Intan


"Emm aku sekarang gak berani kemana-mana sendirian terus aku juga selalu takut setiap ada yang sentuh pundak aku dan aku gak yakin aku berani lewat gerbang belakang kampus lagi." Kata Devina


"Tenang aja gue bakal temenin lo terus kok sama Hanifa, ya meskipun Hanifa nyebelin sih cuman...."


"Apa?!"


Perkataan itu membuat Intan tersentak lalu mendongak dan menatap Hanifa yang juga menatapnya dengan galak. Melihat hal itu Devina tersenyum entah kenapa kedua orang itu selalu membuat Devina merindukan Mona dan Cessa.


Sayangnya sampai sekarang ketiga temannya itu belum ada yang datang untuk melihat keadaannya mereka hanya sempat bertelponan saja.


Dan jujur Devina sangat ingin bertemu mereka.


"Yuk ke perpus"


Perkataan itu membuat Devian tersentak lalu menatap kedua temannya dan mengangguk singkat sambil berdiri. Mereka berjalan bersama menuju perpustakaan utama yang ternyata tidak terlalu ramai juga.


Masuk ke dalam Hanifa mengajak mereka untuk ke lantai dua saja karena memang buku yang mereka cari ada disana. Sampai di lantai dua mereka meletakkan tas terlebih dahulu baru mencari buku yang ingin mereka gunakan.


Senyuman Devina mengembang dia sudah lama sekali tidak pergi ke toko buku mungkin nanti ketika ada waktu dia akan mengajak Devano atau Ziko untuk pergi ke toko buku. Sekarang Devina pergi ke rak buku di sisi kiri lalu mulai mencari buku yang ingin dia gunakan.


Cukup lama hingga akhirnya dia menemukan buku itu dan tersenyum senang. Hendak menemui kedua temannya yang masih mencari buku seseorang menyentuh pundak Devina.


Sentuhan itu cukup kuat hingga kembali membuat Devina ketakutan dan menjatuhkan bukunya. Kedua temannya menoleh ke arah Devina yang sekarang bergerak mundur dengan raut wajah ketakutan.


"Eh kenapa? Sorry gue tadi cuman mau nanya lo nemu bukunya dari mana soalnya gue juga butuh buku yang sama." Kata seorang pria yang tadi menyentuh pundaknya


Devina tidak menjawab dia terlihat takut sambil mengepalkan tangannya kuat membuat Hanifa dan Intan langsung menghampirinya.


"Vin?"


Nafas Devina tak beraturan ingatan yang sudah berusaha dia lupakan kembali muncul dan mengganggunya.


"Hey sorry?" Kata wanita itu lagi


"Iya Kak gak papa." Kata Intan


Intan mengambil buku yang jatuh sedangkan Hanifa merangkul Devina dan mengajaknya untuk duduk.


"Minum dulu Vin." Kata Intan sambil membuka air mineralnya


Devina menerima botol itu lalu meminumnya sedikit dan menundukkan kepalanya.


"Tenang Vin." Kata Intan


"Vina"


Devina menoleh sebentar dan menatap Intan yang tersenyum sambil mengusap pundaknya.


"Takut"


Devina mengatakannya dengan sangat pelan.


"Hey ada gue sama Hanifa jangan takut kita bakal pukul orang yang mau nyakitin lo." Kata Intan


"Intan kita keluar aja ya?" Kata Devina


Intan mengangguk lalu mengatakan pada Hanifa yang baru selesai menelpon untuk mengajak Devina keluar dari perpustakaan.


Akhirnya mereka berdua keluar lalu duduk di bangku dekat perpustakaan dan bersamaan dengan itu pula Devano muncul. Beruntungnya ketika Hanifa menelpon tadi dia sudah selesai kelas dan memang mau pergi ke perpustakaan untuk memulangkan buku.


"Vina?"


Suara itu membuat Devina mendongak dan menatap kembarannya.


"Kamu kenapa?" Tanya Devano dengan lembut


"Vina takut." Kata Devina


"Sini ikut aku ya?" Ajak Devano sambil mengulurkan tangannya


Devina menatap kedua temannya sebentar.


"Aku ikut Vano ya?" Kata Devina


"Iya Vin"


Setelah itu Devina menggenggam tangan kembarannya dan membiarkan Devano mengajaknya ke parkiran lalu masuk ke dalam mobil. Tanpa mengatakan apapun Devano melajukan mobilnya meninggalkan area kampus dan Devina juga tidak mengatakan apapun.


Hingga ketika di perjalanan Devina penasaran dan menoleh pada Devano.


"Vano mau ajak aku kemana?" Tanya Devina


"Ke tempat yang bisa bikin kamu senang." Kata Devano


Sekitar lima belas menit mobil Devano terparkir di kedai ice cream membuat Devina terdiam lalu tersenyum tipis. Sebelum keluar Devano meminta Devina untuk menatapnya sebentar dan kembarannya itu menurut, dia menatap Devano.


"Vina kenapa?" Tanya Devano


"Ada yang sentuh pundak Vina dan buat Vina takut." Kata Devina


"Sekarang masih takut?" Tanya Devano


"Enggak kan ada Vano." Kata Devina membuat Devano tersenyum mendengarnya


"Yaudah kita turun yuk? Kamu udah lama kan gak kesini." Kata Devano


"Iya, Vina mau ice cream coklat." Kata Devina


Devano mengangguk lalu mereka keluar bersama-sama dari dalam mobil dan masuk ke dalam kedai serta langsung memesan.


Selagi menunggu Devina mengeluarkan ponselnya membuat Devano memperhatilan case phone yang sepertinya masih sangat baru.


"Case phone nya lucu." Kata Devano


Devina mendongak lalu tersenyum dan membalil case phone nya sambil menunjukkan pada kembarannya.


"Ziko yang beliin Vina kita kembaran." Kata Devina senang


"Lucu banget, Ziko pakai kayak gitu juga?" Tanya Devano


"Iyaa mau kan diaa." Kata Devina


"Maulah Ziko kan bucin." Kata Devano


"Kayak Vano." Kata Devina membuat Devano tersenyum lalu mencubit pelan pipinya


"Habis ini mau pulang apa balik lagi ke kampus?" Tanya Devano


"Ke kampus lagi Vina udah ketinggalan banyak belum lagi tugas yang udah numpuk." Kata Devina


"Nanti aku bantuin." Kata Devano


"Bener yaa?" Kata Devina


"Iya nanti malam aku bantuin." Kata Devano


Devina tersenyum senang lalu tak lama setelahnya pesanan mereka datang membuat Devina tersenyum senang melihatnya.



Devano pun sama dia ikut tersenyum, tapi bukan karena ice cream pesanannya melainkan karena senyuman manis kembarannya.


Hal itu yang sangat penting bagi Devano.


¤¤¤


Haii maaf updatenya lamaa😂


Hari ini satu aja dulu yaa semuanya😚 Buat yang rindu Ziko besok kita akan bertemu dengan Ziko dan segela kebucinannya😂


Sangking bucinnya Ziko rela pakai case phone gemoyy beginii demi Devina😂