
Semakin dekat dengan hari pernikahan justru membuat Adara ingin berjauhan dengan Devano karena kalian harus tau betapa menyebalkannya pria itu ketika mereka berdua bertemu, tidak mau berhenti menggodanya. Setiap kali bertemu semua pembahasan Devano pasti deh gak tentu arahnya dan hal itu buat Adara kesal sendiri karena masalahnya pria itu selalu membahas hal-hal yang menurutnya tidak harus di bahas sekarang.
Maksudnya, bisa di bahas nanti kan setelah menikah?
Kalian pasti mengerti hal apa yang Devano bahas dan hal itu membuat Adara gemas sendiri pada calon suaminya yang entah kenapa berbeda sekali dengan yang dulu. Bayangkan saja Devano yang dulu selalu bersikap cool sekarang sangat-sangat menyebalkan dan manja, ya meskipun hanya kepada Adara.
Biasanya Adara selalu menghindar setiap di ajak bertemu, tapi kali ini tidak bisa karena Devano tiba-tiba sudah ada di dalam rumahnya ketika dia pulang.
Jangan tanya Adara memang pernah memberikan satu kunci cadangan pada Devano, tapi pria itu tidak pernah menggunakannya bahkan Devano pernah bilang kuncinya hilang.
"Vann kamu ngapain coba di sini?" Tanya Adara
Devano hanya tersenyum sambil menatap Adara yang meletakkan tasnya di meja lalu mendekat dan duduk di sampingnya.
"Kamu mau di ajak ketemu nolak terus." Kata Devano
"Van please ya kita sebentar lagi nikah dan bakal ketemu terusss masa gak ketemu sehari atau dua hari aja gak bisa." Kata Adara gemas
"Emang enggak bisa maunya ketemu kamu terus setiap hari." Kata Devano membuat Adara menghela nafasnya pelan
"Iya"
"Ngambek ya? Ya ampun aku kan cuman kangen Ra masa gak boleh kangen." Kata Devano
"Vann udah deh ah jangan kayak gini." Kata Adara
"Kenapa? Lucu ya?" Kata Devano
"Sebelll mana ada lucu." Kata Adara
"Jahat banget." Kata Devano
Adara tertawa kecil dia menatap Devano dari samping dan tersenyum.
"Kamu kenapa sih Van? Setiap hari pasti deh ajak ketemu." Kata Adara
"Ya biar semangat." Kata Devano
"Memang semangat kamu itu aku?" Tanya Adara
Devano menghela nafasnya pelan dia menatap Adara dan mencubit gemas pipinya.
"Ya terus siapa lagi? Masa semangat aku Serra memang boleh?" Kata Devano
Mendengar nama itu raut wajah Adara langsung berubah.
Serra
Wanita itu teman kampus Devano mereka pernah sekali terlibat tugas kelompok dan secara kebetulan satu kelompok hanya berdua. Ya, hal itu membuat Adara cemburu karena mereka mengerjakan tugas bersama di cafe dekat kampus bahkan Adara pernah di ajak ikut serta satu kali.
Sebenarnya hal biasa, tapi Adara sedikit kesal karena sikap Devano tidak sekaku biasanya bahkan bisa di bilang Devano bersikap biasa saja.
Padahal biasanya Devano selalu bersikap dingin apa lagi dengan seorang wanita selain Adara.
"Ya jangannn"
"Masih cemburu ya?" Goda Devano
"Masih." Kata Adara dengan wajah cemberut
"Gak perlu cemburu aku gak suka sama dia." Kata Devano
"Kenapa? Dia cantik." Kata Adara
"Tuh kan mulai, aku kadang suka gak ngerti deh sama kamu suka banget nanya hal kayak gitu." Kata Devano
"Yaa kan nanya." Kata Adara
"Nanti aku jawab cantik langsung ngambek." Kata Devano
"Iya iya maaf"
"Lucu banget sih." Kata Devano sambil mencubit pelan pipi Adara
Adara tersenyum dia semakin mendekat dan memeluk Devano dengan sayang membuat kekasihnya itu ikut tersenyum.
"Van"
"Hm"
"Udah ketemu ada di laci kamar hehe nanti malam bisa nyusup." Kata Devano
"Ck. Jangan mulai ya?" Kata Adara
Devano tertawa dia melepaskan pelukan Adara lalu mencium sekilas bibirnya membuat Adara terdiam.
"Aku cuman mau ketemu kok sebentar lagi pulang." Kata Devano
Adara tersenyum dan mengangguk singkat sebagai jawaban lalu dia meraih tangan Devano untuk digenggam dengan tangannya yang cukup kecil.
Tangan Devano begitu lembut Adara suka sekali kalau Devano sudah mengusap kepalanya.
Tangan yang sudah memberikan kekuatan untuknya hingga bisa bertahan sampai sejauh ini.
Terima kasih banyak Devano.
°°°°
"Kenapa kamu senyum gitu tumben banget?"
Pertanyaan itu membuat Devano menoleh dan melihat Daffa yang menatapnya dengan heran hanya karena dia memasuki rumah sambil tersenyum. Cukup aneh memang karena Devano jarang sekali tersenyum, tapi sekarang hal itu selalu terlihat bahkan ketika makan saja pria itu tersenyum.
Daffa hampir takut melihatnya.
Apalagi melihat Devano yang tersenyum semakin lebar lalu berjalan menghampirinya dan hal itu membuat raut wajah Daffa berubah. Rasanya seperti sedang bertanya-tanya, apa ini anaknya atau bukan?
"Kenapa kamu? Di tanya kenapa kok malah senyum senyum gitu." Kata Daffa
"Lagi seneng Dadd." Kata Devano
"Sekarang Daddy suka takut sama kamu Van." Kata Daffa jujur
"Takut?"
"Ya aneh kamu sekarang Daddy suka lihat kamu senyum sendiri, kamu kesambet ya?" Kata Daffa
"Enggak Dad ya ampun sembarangan ngomongnya." Kata Devano
"Terus kenapa?" Tanya Daffa
"Habis ngapel ke rumah calon istri lah." Kata Devano membuat Daffa menatapnya dengan aneh
Lihat kan?
Dia benar ada yang aneh dengan Devano.
"Gaya banget kamu." Kata Daffa sambil menggelengkan kepalanya pelan
"Ah kayak Daddy gak pernah aja sama Mommy dulu." Kata Devano
"Emang enggak kan dulu yang jodohin Kakak kamu." Kata Daffa
Maksudnya Sahara tentu saja Devano juga sudah tau.
"Dad"
"Hm"
"Enggak jadi deh." Kata Devano
"Beneran deh Van sekarang Daddy takut sama kamu." Kata Daffa
Belum sempat menanggapi Daffa sudah berjalan menjauh membuat Devano menatapnya dengan bingung, tapi setelahnya memilih untuk tidak peduli.
Memang dia aneh kenapa?
Ada yang salah dengan Devano ya?
°°°°
Aduh Vano kesambet setan apa kamu ini🤣
Lagi jatuh cinta loh Daddy anak kamu inii dia gak sabar mau nikah🤣