
Semalaman Devina menangis hingga menolak untuk makan malam karena Devano tidak ada, dia bersikeras untuk makan kalau Devano pulang, tapi pria itu tidak kunjung pulang bahkan hingga mematikan ponselnya. Kedua orang tuanya berusaha menghibur Devina terutama Fahisa yang terus memeluknya dan menghapus jejak air mata di mata indah Devina.
Sejak tadi Daffa berusaha menghubungi Devano juga Alex temannya, tapi tidak ada jawaban dan dia sudah meminta supirnya untuk menjemput Devano juga, tapi katanya Devano sedang pergi keluar bersama Alex. Akhirnya Devano tidak pulang dia menginap di rumah Alex dan membiarkan Devina menangis, tapi beruntungnya ketika hari semakin larut Devina yang sudah lelah menangis perlahan membuka matanya.
Sekarang kepalanya sakit karena terlalu banyak menangis dan Devina juga tidak memiliki semangat apapun, dia meraih ponselnya lalu mencoba menghubungi Devano lagi. Kali ini tersambung, tapi tidak ada jawaban meskipun Devina berkali-kali mencoba menelpon.
Lalu Devina membuka pesan dari kekasihnya.
Vina udah ya sedihnya :(
Aku udah coba telpon Devano sama Alex dan besok aku bakal nemuin mereka
Jangan nangis ya?
Vano gak marah kok sama kamu Vin dia cuman sedikit kesel aja
Tetap saja Devina tidak merasa tenang sebelum Devano berdiri dihadapannya dan mengatakan kalau dia tidak marah lagi. Saat suara pintu dibuka terdengar Devina mendongak dan tersenyum tipis pada Fahisa yang berjalan masuk ke dalam.
"Ayo sarapan dulu." Kata Fahisa
Devina menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak mau makan.
"Devina, nanti Daddy marah sayang, makan ya?" Kata Fahisa
Devina memasang wajah sedihnya, tapi tetap menyambut uluran tangan Fahisa dan mengikuti wanita paruh baya itu membawanya ke ruang makan. Dengan tidak bersemangat Devina duduk dihadapan Daddy nya sambil menundukkan wajahnya.
"Devina"
Suara berat Daffa membuat Devina mendongak.
"Vano pulang nanti siang Daddy sudah telpon tadi, sekarang makan." Kata Daffa
"Iya Dad"
"Jangan sedih." Kata Daffa lagi
Devina menyunggingkan senyuman tipis lalu mulai memakan sarapan yang sudah Fahisa siapkan dalam diam. Perasaannya masih tidak tenang kalau dia belum bicara langsung dengan kembarannya.
"Vina kuliah hari ini?" Tanya Fahisa
"Hmm nanti jam dua hari ini cuman ada satu mata kuliah." Kata Devina
"Nanti mau Daddy antar atau dijemput Ziko?" Tanya Daffa
"Belum tau Dad kalau Ziko gak ada jam nanti aku berangkat sama dia." Kata Devina pelan
Daffa mengangguk faham, dia sedikit kesal pada anaknya yang malah pergi dan membiarkan Devina menangis semalaman.
Sekarang anaknya itu makan dengan tidak semangat bahkan ketika baru memakan setengah Devina langsung bilang kenyang dan pergi ke kamarnya lagi. Sampai di kamar Devina menjatuhkan dirinya di ranjang dan bersamaan dengan itu ponselnya berdering.
Nama Ziko tertera disana dan Devina langsung mengangkatnya.
'Vin aku susul kamu sebentar lagi'
Devina belum sempat menyapa, tapi Ziko malah mengatakan hal yang membuat dia bingung.
"Aku kuliahnya masih lama Ziko dan aku gak mau kemana-mana." Kata Devina pelan
'Devano yang minta'
"Kita mau ketemu Vano?" Tanya Devina dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya
'Iya, dia minta aku untuk susul kamu dan ajak kamu ke cafe deket kampus'
"Untuk apa?" Tanya Devin
'Belum tau Vin dia gak bilang'
"Yaudah aku siap-siap dulu." Kata Devina
Setelah mematikan ponselnya Devina pergi ke kamar mandi untuk mandi dan mengganti pakaiannya. Sekitar lima belas menit Devina bersiap sekarang dia sudah selesai dan hanya tinggal menunggu Ziko datang.
Devina memakai kemeja panjang serta celana jeans juga membiarkan rambutnya tergerai agar tidak membuat Devano marah. Saat ponselnya bergetar Devina langsung mengambil tasnya dan berjalan keluar kamar.
Begitu bertemu kedua orang tuanya mereka langsung bertanya pada Devina.
"Aku mau keluar sama Ziko, boleh kan?" Kata Devina
"Boleh sayang." Kata Fahisa
"Hati-hati di jalan sayang." Kata Daffa
Devina mengangguk patuh lalu mencium punggung tangan keduanya dan berjalan keluar rumah. Ada mobil Ziko di luar gerbang rumahnya dan Devina berlari kecil lalu masuk ke dalam.
Dia tersenyum tipis ketika Ziko menatapnya.
"Mata kamu sembab." Kata Ziko
Devina hanya tersenyum mendengarnya, tentu saja dia menangis semalaman.
Tanpa banyak bicara Ziko menghidupkan mesin mobilnya dan melaju menuju cafe dekat kampusnya. Sebenarnya dia tau untuk apa Devano mengajak mereka kesana, pria itu sudah bertemu Yuna dan memaksanya untuk meminta maaf pada Devina.
"Ziko"
"Iya Vin"
"Vano gak bakal marah lagi kan? Aku gak mau Vano marah." Kata Devina sedih bahkan matanya kembali berkaca-kaca
"Enggak Vin." Kata Ziko sambil mengusap puncak kepala Devina sebentar
"Vano gak pernah sampai kayak gitu Ziko apalagi sampai nginap di rumah temannya." Kata Devina yang malah kembali terisak
"Hey Vin jangan nangis dong akunya jadi gak fokus bawa mobilnya." Kata Ziko
"Apa aku udah keterlaluan? Ziko aku gak mau Vano marah dia bakal maafin aku kan?" Isak Devina
Ziko menghela nafasnya pelan lalu menepikan mobilnya dan menatap Devina yang menangis. Dia menangkup wajah kekasihnya sambil menghapus air mata yang masih mengalir.
"Jangan nangis hm? Percaya sama aku ya? Vano gak bakal marah." Kata Ziko
Mengangguk singkat Devina menghapus jejak air matanya membuat Ziko tersenyum dan kembali melajukan mobilnya. Sekitar lima belas menit perjalanan akhirnya mobil Ziko berhenti di cafe dekat kampus yang memang sering mereka kunjungi.
Jantung Devina berdetak dengan sangat cepat, tapi melihat Ziko yang tersenyum menenangkan sambil menganggukkan kepalanya membuat Devina sedikit merasa tenang. Devina menggenggam tangan Ziko cukup kuat ketika mereka berjalan masuk ke dalam.
Saat mata Devina bertemu dengan mata kembarannya yang menatap dengan datar, dia merasa takut. Namun, Ziko sedikit memaksanya untuk berjalan mendekat dan duduk dihadapan Devano.
"Vano"
Devano mendongak dan menatap lurus ke depan lalu mengatakan sesuatu yang membuat Devina diam.
"Minta maaf!"
Devina fikir kalimat itu untuknya dan Devina sudah ingin meminta maaf, tapi ketika suara Devano meninggi dia sadar kalau itu bukan untuknya. Saat menoleh mata Devina membulat karena ada Yuna disana dia menatap Devano, tapi kembarannya itu seolah tidak peduli.
"Minta maaf gue bilang!"
Yuna diam dan menatap Devano dengan sengit.
"Lo gak denger? Gue bilang minta maaf sama Devina!" Kata Devano lagi
"Vano aku gak pa..."
Yuna mengeraskan rahangnya lalu duduk di dekat Devina dan mengatakan maaf dengan singkat.
"Maaf"
"Bukan cuman maaf! Gue udah bilang minta maaf yang bener sama kembaran gue sekarang." Sentak Devano
"Vano"
Devina takut melihat Devano yang terlihat begitu marah sekarang, tapi pria itu masih memasang wajah datarnya.
Yuna kali ini menatap Devina dengan tajam dan membuat gadis itu menggenggam kuat tangan Ziko yang ada disampingnya.
"Devina gue minta maaf untuk semuanya dan gue janji hal kayak gitu gak akan terulang lagi, lo gak salah." Kata Yuna
"Enggak papa Kak." Kata Devina pelan
Setelah selesai Yuna menatap Devina dengan tajam lalu menatap Devano dan mengatakan sesuatu.
"Puas?"
"Sekali lagi lo sakitin Devina atau bicara hal yang buruk tentang dia gue gak bakal berbaik hati kayak gini lagi." Kata Devano dengan tatapan membunuhnya
Yuna tidak mengatakan apapun dia langsung berdiri dan pergi meninggalkan mereka tanpa mau tau apa yang terjadi setelahnya.
Begitu Yuna pergi Devina menatap kembarannya yang sekarang sedang menenggak habis minuman yang tadi dia pesan tanpa mau bicara dengan Devina. Melirik Ziko sebentar Devina memasang wajah sedihnya membuat Ziko jadi tidak dia tega.
Dia berpura-pura membuka ponselnya lalu mengatakan pada Devano kalau dia ada kelas, alibi agar Devano mengantar Devina pulang.
"Van gue ada kelas dadakan, gimana?" Kata Ziko
Devank terdiam sebentar lalu mengatakan kalau dia yang akan mengantar Devina pulang. Tersenyum singkat Ziko mengusap kepala Devina dengan sayang sambil menatapnya dengan teduh berusaha membuat Devina merasa tenang.
"Duluan ya? Jangan sedih lagi." Kata Ziko
"Hati-hati nanti kabarin aku." Kata Devina
Ziko mengangguk singkat lalu melangkahkan kakinya menjauh, tadi Devano meminta dia untuk menjemput dan mengantar Devina pulang lagi, tapi kini dia akan membiarkan mereka bicara.
Dia tidak mau Devina terus merasa sedih.
Begitu Ziko menghilang dari pandangan mereka Devina menatap kembarannya dengan raut wajah sedih.
"Vano"
Belum sempat bicara Devano sudah berdiri dan mengajaknya pulang menbuat Devina sadar kalau Devano masih marah, tapi mereka harus berbaikan hari ini juga.
"Ayo pulang"
Tetap mengikuti langkah kaki kembarannya Devina masuk ke dalam mobil ketika Devano membuka pintu untuknya. Saat Devano juga sudah masuk Devina menahan tangannya yang kali ini tidak dilepaskan.
"Vano"
"Kenapa Vin?" Tanya Devano masih enggan untuk menatapnya
"Maaf"
"Udah ya? Gak usah dibahas dia udah minta maaf." Kata Devano
"Tapi, Vano masih marah sama aku." Kata Devina
Devano menggelengkan kepalanya pelan lalu menghidupkan mobilnya dan meninggalkan area cafe.
"Vano jangan diemin aku." Pinta Devina
Devano tidak memberikan tanggapan apapun.
"Vano aku minta maaf, udah jangan diemin Vina lagi." Kata Devina sedih
Masih tidak ada jawaban Devano tetap menatap lurus ke depan meski dia juga tidak tega dengan Devina.
"Vano aku minta maaf." Kata Devina yang kini mulai menangis
"Jangan nangis Vin." Kata Devano ketika mendengar isakan saudara kembarnya
"Vanonya marah sama Vina." Isak Devina
"Vin aku enggak marah." Kata Devano pelan
"Vina minta maaf jangan marah, jangan diemin Vina lagi." Isak Devina semakin keras
Dada Devano terasa sesak hingga dia memutuskan untuk menepikan mobilnya dan melepas sabuk pengamannya juga Devina lalu membawa kembarannya itu ke dalam pelukannya. Tangis Devina semakin pecah dia memeluk Devano dengan sangat erat.
"Maafin Vina maaf jangan marah lagi"
"Enggak Vin aku udah gak marah." Kata Devano
"Vina minta maaf"
Devano menghela nafasnya pelan lalu menghapus air mata yang terus mengalir di mata indah kembarannya.
"Aku gak marah lagi, jangan nangis." Kata Devano sambil tersenyum
Devina masih terisak bahkan kini nafasnya mulai tidak beraturan.
"Vin udah jangan nangis aku gak marah lagi." Kata Devano sedikit panik melihat nafas Devina yang tidak beraturan
Devina masih terisak tanpa air mata dengan nafas yang kian tidak beraturan, dadanya sesak.
"Vina hey udah tenang ya? Aku gak marah Vin." Kata Devano cemas
Merasa panik Devano mengambil air mineralnya tadi yang ada di dashboard dan meminta Devina untuk meminumnya. Mengambil air mineral itu Devina meminumnya perlahan dan berusaha untuk tenang.
Devano masih menatapnya sambil menghapus jejak air mata yang ada di pipinya.
"Aku gak marah Devina udah ya? Tenang Vin jangan nangis lagi." Kata Devano dengan lembut
Devina masih belum menanggapi apapun, dia sedang berusaha menetralkan deru nafasnya.
"Vina"
Devina mendongak dan menatap Devano yang tersenyum sambil mengusap pipinya.
"Jangan marah lagi Vano"
"Iya enggak"
Pipi Devina diusap dengan lembut lalu Devano kembali memeluknya dengan erat.
"Maaf karena udah buat kamu nangis." Kata Devano
Devina tidak menjawab hanya membalas pelukan kembarannya dengan erat, dia tidak mau kehilangan Devano dan sikap posesifnya.
Devina tidak akan menyembunyikan apapun lagi.
¤¤¤
Update lagii yeyyy😚