
Adara benar-benar menyesal telah menceritakan semua masalah kemarin pada Devano yang berujung perkelahian antara pria itu dengan Julian dan berhasil membuat jantung Adara berdetak sangat cepat, dia tidak menyangka Devano akan sampai melakukannya. Kemarin Adara bercerita karena dia rasa memang perlu mengingat Devano selalu meminta dia untuk bercerita dan lagi Adara hanya ingin merasa sedikit lebih tenang.
Setelah pulang kuliah Adara dibuat terkejut dengan kedatangan Devano di rumahnya, bukan kedatangannya yang membuat Adara terkejut melainkan wajahnya yang terluka. Ada luka di sudut bibirnya juga memar di sekitar dahi serta hidungnya membuat Adara meringis sendiri melihatnya.
Tanpa berpikir lagi Adara meminta Devano untuk duduk lalu perlahan mengobati luka yang ada di wajahnya.
"Kamu kenapa sih Van? Aku cerita sama kamu bukan untuk melihat kamu luka-luka kayak gini karena berantem sama Julian." Kata Adara
Devano tak menjawab dia sedikit meringis ketika Adara menyentuh lukanya, tapi tidak masalah dia puas sudah bisa membalas dendam pada Julian yang seenaknya bicara buruk tentang gadisnya.
"Vannn"
"Apa sayang? Kenapa?" Tanya Devano
"Kamu! Kenapa harus berantem sama Julian? Aku gak pernah minta kamu ngelakuin hal itu dan aku gak mau apalagi sampai lihat kamu luka kayak gini, ngerti gak sih?" Kata Adara antara kesal dan lelah
"Aku gak bisa tahan, dia bicara hal buruk tentang kamu." Kata Devano
"Van kalau kayak gini aku jadi merasa bersalah apalagi sama orang tua kamu atau Devina." Kata Adara
"Gak usah dipikirin yang penting aku puas." Kata Devano
"Astaga Devano kamu ngerti gak sih? Aku cemas tau gak? Kamu tiba-tiba dateng dengan wajah banyak luka gini." Kata Adara
"Tapi, masih ganteng gak papa masih bagus di foto nanti pas kita lamaran." Kata Devano
"Vano! Aku lagi gak bercanda!" Kata Adara kesal
"Luka kecil doang Ra lagian aww sakit sayang." Ringis Devano ketika Adara menekan luka di sudut bibirnya
"Tuh luka kecil! Kamu kenapa sih Van? Kenapa harus berantem sama Julian? Sekarang Julian gimana?" Tanya Adara
Devano hanya mengangkat bahunya acuh lalu mengatakan hal yang membuat Adara menghela nafasnya pelan.
"Gak tau aku tinggalin dia tadi." Kata Devano santai
"Jangan kayak gini lagi Van aku beneran gak papa." Kata Adara
"Tapi, aku gak suka ada orang yang bicarain hal buruk tentang kamu." Kata Devano
"Vannn"
"Kenapa Adara Alexander? Aku gak papa masalah Mommy sama Daddy mereka pasti ngerti kok jangan cemas apalagi Devina." Kata Devano
"Tapi kenapa harus sampai berantem? Nanti kalau semakin runyam gimana?" Kata Adara pelan
"Gak akan udah tenang aja cup cup." Kata Devano sambil menepuk-nepuk kepala Adara
Adara diam lalu menundukkan kepalanya, dia sungguh menyesal telah bercerita pada Devano jika tau akhirnya akan begini sungguh Adara hanya akan diam saja.
"Ra?"
Adara mendongak dan menatap Devano dengan genangan air mata membuat pria itu cemas sendiri.
"Ehh jangan nangis." Kata Devano
"Aku gak mau cerita apapun lagi ke kamu." Kata Adara sambil menghapus air matanya
"Kamu nyebelin tau gak? Aku takut Van gimana kalau Julian nanti balas kamu? Gimana kalau orang tua kamu marah atau Devina marah dan gak percaya lagi sama aku?" Kata Adara
"Enggak...."
"Kamu nyebelin banget sih." Kesal Adara
"Jangan nangis." Kata Devano yang mulai merasa bersalah
Direngkuh tubuh Adara dengan sayang Devano memeluknya seraya mengusap kepalanya membuat Adara memejamkan matanya karena merasa nyaman. Sungguh Adara sangat takut kalau orang tua Devano marah atau menganggapnya membawa sial untuk Devano.
Mengeratkan pelukannya Adara tidak mengizinkan Devano untuk melepaskan pelukan mereka.
"Yaudah maaf lain kali aku gak bakal kayak gini lagi." Kata Devano
"Aku beneran gak akan cerita apapun ke kamu lagi Van." Kata Adara pelan
"Jangan Ra kamu harus tetap cerita semuanya ke aku dan kali ini aku janji gak bakal berbuat sesuatu sebelum bilang ke kamu." Kata Devano
"Aku beneran gak papa Van dan aku gak mau langgar janji aku ke Bunda, jadi biarin aja Julian." Kata Adara
"Iya maaf aku cuman kesal sama dia soalnya udah bicara hal buruk tentang kamu dan buat kamu sedih kemarin apalagi dia sampai bawa-bawa Bunda kamu juga pasti kamu sedih banget." Kata Devano
"Tapi, aku gak mau jadi orang seperti dulu lagi Van aku gak mau buat Bunda kecewa kalau dia lihat aku berantem lagi apalagi sama Julian dia pasti bakal sedih, Bunda pernah bilang sejahat apapun Julian tetap saudara aku." Kata Adara
"Iya"
"Aku marah banget dan aku berusaha buat buat nahan emosi aku makanya kemarin aku pergi gitu aja dari rumah Ayah." Kata Adara
"Ini terakhir kali aku janji gak bakal kayak gini lagi." Kata Devano
Melepaskan pelukannya Adara mengusap pipinya yang basah karena air mata lalu menatap Devano dan tersenyum tipis.
"Sekarang biar aku obatin lukanya nanti aku bakal bilang sama orang tua kamu tentang kejadian hari ini." Kata Adara
"Enggak perlu Ra biar aku aja yang bilang." Kata Devano
"Tapi, janji jangan pernah kayak gini lagi ya? Jangan berantem apalagi karena aku." Kata Adara
Devano mengangguk patuh lalu membiarkan Adara yang sekarang sangat fokus mengobati lukanya.
Sesekali meringis ketika merasakan perih Devano langsung tersenyum begitu Adara selesai dan dia berterima kasih pada kekasihnya itu yang hanya Adara balas dengan gumaman pelan. Mata Devano terus menatap Adara yang membereskan kotak p3k miliknya lalu menaruh lagi di laci yang berada tak jauh darinya.
Tersenyum manis Devano meminta Adara untuk mendekat lalu membawa gadis itu ke dalam pelukannya lagi.
"Setelah ini Julian gak akan ganggu kamu lagi, percaya sama aku"
Adara kembali bergumam pelan dan mengeratkan pelukannya seraya memejamkan matanya.
Senyumnya juga mengembang ketika Devano menjatuhkan ciuman singkat di puncak kepalanya.
°°°°
Update dulu yaaaa🥰