My Possessive Twins

My Possessive Twins
53 : Kesalahan Besar



Layaknya sebuah kebetulan esok hari ketika pelajaran olahraga berlangsung dua kelas digabung menjadi satu karena Pak Jay berhalangan hadir di jam kedua hingga dia memutuskan untuk menggabungkan kedua kelas, pertama kelas Devina dan kedua kelas Harris. Masalah semalam dimana Devina bertemu dengan Harris dia tidak bercerita pada Ziko karena menurutnya hal itu tidak perlu untuk diceritakan lagipula mereka tidak melakukan apapun.


Hanya saja tatapan mata Harris selalu tertuju pada Devina bahkan teman-temannya juga menyadari hal itu apalagi Ziko yang langsung mengepalkan tangannya dengan kuat. Seandainya saja bisa dia pasti akan pergi ke samping Devina lalu merangkulnya agar tidak ada pria yang berani meliriknya, tapi sayang Pak Jay memisah barisan di antara para wanita dan lelaki.


Tatapan mata Harris untuk kekasihnya jelas saja tatapan penuh kagum dan rasa suka, Ziko benar-benar benci melihatnya. Apalagi dari sini Devina terlihat sedang tertawa ketika Mona membisikkan sesuatu ditelinganya dan membuat kecantikan gadis itu bertambah.


"Bisa berhenti liatin cewek gue dengan tatapan itu?" Tanya Ziko pada akhirnya


Dia sudah cukup jengah ditambah pria bernama Harris itu ada disampingnya kalau tidak ingat lagi belajar Ziko pasti sudah memukulnya.


Mendengar perkataan itu Harris menoleh lalu tersenyum meremehkan, ternyata benar gadis itu sudah memiliki kekasih.


"Sorry, tapi gue rasa dia biasa aja dan tadi malam gue sama dia juga ketemu." Kata Harris sambil mengangkat bahunya acuh


Mendengus kesal Ziko benar-benar merasa gerah dan panas di waktu yang bersamaan, kenapa banyak sekali yang ingin merebut Devina darinya?


Tapi, tunggu tadi Harris bilang dia bertemu kekasihnya tadi malam kan?


Kenapa Devina tidak bilang padanya?


Mood Ziko benar-benar hancur sekarang dia bahkan mengalihkan pandangannya ke depan hingga matanya bertemu dengan manik mata teduh milik kekasihnya. Sebenarnya Ziko sangat ingin marah, tapi ketika sebuah senyuman yang begitu manis terbentuk bersamaan dengan mata yang menyipit dia ikut tersenyum.


"Dia cantik"


Mendengar perkataan itu senyum Ziko langsung pudar dia ingin memukul pria itu rasanya.


"Ya dan dia pacar gue! Stop merhatiin dia!" Tegas Ziko yang malah membuat Harris tertawa


Padahal dia tidak ada niatan lain hanya ingin memuji saja karena Devina benar-benar terlihat cantik ketika dilihat dari sini. Entah kenapa dimata Harris kecantikan Devina berbeda gadis itu terlihat begitu lugu apalagi senyumannya.


Hanya saja Harris bisa mengerti kenapa Ziko terlihat begitu khawatir ketika ada pria yang memuji kekasihnya karena tentu saja dia akan melakukan hal yang sama kalau Devina kekasihnya. Mata Harris mengikuti Devina yang kini maju ke depan karena dipanggil oleh Pak Jay untuk mengambil nilai.


Wajah Devina terlihat sangat tidak bersemangat apalagi ketika bola voli berada ditangannya.


"Pak saya gak bisa tau." Kata Devina


Kalau para lelaki pada tertawa mendengarnya lain halnya dengan beberapa gadis yang justru mencibir dan mengatakan kalau Devina cari perhatian.


"Coba dulu atau kamu tidak dapat nilai." Kata Pak Jay


Menghela nafasnya pelan Devina melempar bola voli itu cukup tinggi lalu memukulnya dengan posisi tangan yang tadi sudah diajari, tapi tetap saja tangannya terasa sakit. Hanya saja senyum Devina mengembang lebar ketika bola itu melambung cukup tinggi dan melewati net hingga membuat teman-temannya berseru heboh.


Devina memang selalu lemah dalam pelajaran olahraga makanya berhasil sedikit saja mereka heboh sekali.


"Udah kan Pak?" Kata Devina


Anggukan Pak Jay membuat senyuman manis Devina mengembang dengan sempurna dan dengan penuh semangat dia menghampiri teman-temannya.


"Akhirnya woy Vina bisa juga." Kata Mona sambil tertawa


"Bisa setelah tiga tahun." Kata Cessa membuat mereka semakin tertawa dan Devina mengerucutkan bibirnya sebal


"Lima tau kan dari SMP udah belajar.'' Kata Devina yang semakin mengundang tawa teman-temannya


Devina tersenyum, tapi perlahan senyum itu pudar ketika dia mendengar bisik-bisik yang membicarakannya, sepertinya dari kelas lain.


"Lebay banget gitu doang"


"Berasa kayak apaan gitu aja heboh banget"


"Emang dasarnya dia lebay sih banyak gaya"


"Iya sok polos banget"


Saat melihat Mona yang sepertinya ingin marah Devina langsung menahannya dan tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan, dia rasa itu semua tidak perlu dilakukan.


Lagipula mereka tidak sepenuhnya salah.


Perkataan mereka memang benar adanya dan Devina juga tidak mau membuat keributan apalagi ini masih dalam jam pelajaran.


"Gak usah didengerin." Kata Nayla membuat Devina tertawa mendengarnya


"Udah denger, tapi gak papa." Kata Devina


"Mereka iri itu Vin makanya kayak gitu." Kata Mona yang merasa tersinggung karena ada orang yang menggunjing teman baiknya


"Udah Mon biarin aja jangan bikin ribut ini masih jam pelajaran." Kata Devina


"Kadang gue heran kenapa lo bisa sebaik itu sih Vin? Kalau gue jadi lo sih pasti udah gue jambak rambut mereka sampai rontok." Kata Cessa gemas


Sekali lagi Devina tertawa jujur dia memang selalu merasa tersinggung, tapi dia hanya malas untuk membalas dan lagi untuk apa?


Apa yang dia dapatkan?


Kata Mommy nanti juga kalau mereka lelah mereka akan diam sendiri.


"Jangan dong kasihan." Kata Devina


"Ehh Vin gue mau nanya ini sumpah dari tadi gue penasaran bangettt." Kata Nayla membuat Devina menatapnya dengan alis bertaut


"Kenapa?" Tanya Devina


"Lo ngerasa gak sih kalau Harris ngeliatin lo? Sumpah gue dari tadi perhatiin dia ngeliatin lo terus." Kata Nayla


"Emm emang iya?" Tanya Devina


"Iya kalau lo perhatiin Ziko juga dari tadi keliatan kesel sambil ngeliatin Harris." Kata Nayla lagi


"Sebenernya kemaren aku ketemu sama dia, tapi aku gak kenal sama dia." Kata Devina


"Hah? Serius lo gak tau dia?" Tanya Cessa kaget


"Enggak aku kan cuman tau kalian-kalian aja yang kelasnya deket, tau sendiri gimana Vano kan? Aku kemana-mana sama dia terus." Kata Devina membuat mereka mengangguk faham


"Kok lo bisa ketemu sama Harris?" Tanya Mona penasaran


"Dia anaknya teman Daddy dan kemarik aku ketemu waktu aku ikut Daddy ke acara ulang tahun perusahaan." Kata Devina membuat mereka mengangguk faham


"Perusahaan ada ulang tahunnya ya? Gue mah terakhir ngerayaiin ulang tahun waktu sd." Kata Nayla membuat yang lainnya tertawa


"Perusahaan Daddy udah jalan lebih dari lima belas tahun makanya selalu dirayaiin setiap tahun." Kata Devina sambil tersenyum


"Lama juga ya Vin." Kata Mona


"Pantesan ya udah gede banget perusahaannya." Kata Cessa


Mereka memang tau kok perusahaan milik keluaga Wijaya dan benar perusahaan itu sangat besar ternyata sudah lima belas tahun berjalan.


"Ehh terus pas lo ketemu sama Harris gimana?" Tanya Nayla lagi


Devina mengangkat bahunya acuh, tidak ada yang terjadi.


"Cuman ngobrol sebentar terus aku langsung nyamperin Vano." Kata Devina


"Dia kayaknya suka sama lo Vin." Kata Mona


"Enggak lah kamu nih ngarang aja." Kata Devina


"Ihh bener Vin yakin gue keliatan dari cara dia ngeliat lo." Kata Mona


"Enggak"


Menghela nafasnya pelan Mona akhirnya diam dia tau sulit sekali untuk membuat sahabat baiknya itu percaya karena Devima sering kali menyangkal kenyataan yang sudah benar-benar terlihat dengan jelas.


Sangat ketara dengan tatapan mata Harris yang terus mengikuti kemana Devina pergi dan senyum yang diam-diam terukir ketika melihat Devina tertawa atau tersenyum.


"Oke semuanya pelajaran hari ini Bapak selesaikan dan masih ada lima belas menit sampai bel pergantian pelajaran berbunyi jangan membuat keributan karena ini masih jam pelajaran saya." Kata Pak Jay membuat mereka berseru senang dan mengangguk patuh


Bersamaan dengan perginya Pak Jay dari lapangan Ziko langsung menghampiri kekasihnya dan membuat teman-temannya yang lain mencibir pria itu, tapi dia tidak peduli karena Ziko benar-benar panas melihat banyak mata yang menatap kekasihnya. Sedangkan Devina yang sama sekali tidak faham hanya tersenyum ketika melihat Ziko menghampirinya.


Senyuman manis itu semakin membuat Ziko jatuh cinta apalagi dengan rambutnya yang sedikit basah karena keringat. Baru akan bicara dan ingin mengajak Devina pergi sebuah suara sudah lebih dulu terdengar.


Suara yang membuat Ziko semakin kesal.


"Devina"


"Kita ketemu lagi ya?" Kata Harris senang


Devina hanya mengangguk singkat karena takut kalau Ziko marah bahkan wajah kekasihnya itu sudah terlihat masam.


"Seneng bisa ketemu kamu lagi semoga kita lebih sering ketemu ya?" Kata Harris yang membuat mata Ziko menajam


"Iya"


Devina hanya menjawab dengan singkat lalu menarik tangan Ziko agar segera pergi dari sana.


"Duluan ya Harris." Kata Devina sambil berlalu pergi


"Ketemu lagi Vin." Kata Harris


Devina hampir menahan nafasnya mendengar perkataan itu dia bisa habis karena kalian tau sendiri gimana posesifnya Ziko dan Harris seperti ingin mengibarkan bendera perang dengan kekasihnya.


"Kita ke rooftop aja." Kata Ziko tanpa menoleh


Tidak bisa menolak Devina hanya membiarkan Ziko yang membawanya ke rooftop, dia tidak mau kalau pria itu malah semakin marah. Sebenarnya Devina sama sekali tidak ada masalah untuk berteman entah itu dengan Alex atau Harris, tapi dia hanya takut kalau kekasihnya itu marah.


Meskipun Devina beberapa kali masih sering menanggapi chat dari Alex, dia juga tidak enak kalau harus bermusahan dengan pria itu padahal mereka sama sekali tidak ada masalah. Saat sampai di rooftop Ziko langsung mengajak Devina untuk duduk dan diam, tidak mengatakan apapun.


Devina juga tidak mau memulai pembicaraan.


Raut wajah kekasihnya sangat tidak bersahabat dan Devina malas berbicara dengan orang yang masih terlihat marah atau kesal karena apapun yang dia katakan tetap saja salah.


"Kamu kenapa gak bilang kalau tadi malam ketemu Harris?" Tanya Ziko setelah cukup lama berdiam


Nada bicaranya terdengar biasa bahkan masih lembut ditelinga Devina.


"Ihh bukan ketemu, tapi kemarin aku habis dari kamar mandi nah pas mau balik lagi dia gak sengaja nabrak aku." Kata Devina


Menghela nafasnya pelan Ziko mencubit pipi kekasihnya dengan gemas, memang itu namanya tidak bertemu ya?


"Tetap aja itu namanya ketemu Vinaa." Kata Ziko


"Tapi, ketemunya kan gak sengaja." Kata Devina sambil mengerucutkan bibirnya kesal


Coba kasih tau pada Ziko bagaimana caranya untuk marah dengan Devina?


Dia selalu gagal ketika menatap mata Devina dan melihat wajah sedihnya.


"Kemarin gak ngapa-ngapain kan? Dia ngomong apa aja?" Tanya Ziko


"Gak ngapa-ngapain cuman jalan bareng ke dalam acara terus aku langsung hampirin Vano lagi." Kata Devina jujur


"Dia beruntung banget bisa lihat kamu secantik kemarin." Kata Ziko sambil tersenyum tipis


Sebelum berangkat Devina memamg mengirimkan foto dan Ziko benar-benar terpesona dengan kecantikannya apalagi Devina memakai dress.


"Memang sekarang gak cantik?" Tanya Devina dengan polosnya membuat Ziko tertawa mendengarnya


"Cantik banget Vin sampai aku mau nyembunyiin kamu biar gak diliat orang-orang." Kata Ziko


Devina tersenyum dengan begitu lebar ketika mendengarnya.


"Bener kan? Gak bohong?" Tanya Devina


"Gak, aku serius Vin kamu cantik banget." Kata Ziko sambil mengusap puncak kepala gadisnya


"Zikooo"


"Kenapa?" Tanya Ziko dengan mata yang terus menatap Devina


"Kalau aku chatan sama cowok lain kamu marah gak?" Tanya Devina


"Marah! Kalau chatnya penting gak masalah, tapi kalau chat biasa aku bakal marah!" Kata Ziko


"Kamu sering chat sama cewek lain gak?" Tanya Devina


"Sering"


"Kok sering? Chatnya penting gak? Sama siapa aja kamu chatnya?" Tanya Devina tidak suka


Ziko ingin tertawa melihatnya padahal dia jarang chatan dengan gadis lain kecuali Mona dan Adyra mungkin.


Kalau Mona untuk curhat dan Adyra karena mereka sering manggung bareng.


"Gak terlalu penting sih Vin dan biasanya chat sama Mona atau Adyra." Kata Ziko yang membuat wajah Devina langsung cemberut


"Ihh nyebelin!" Keluh Devina


"Kok nyebelin?" Kata Ziko sambil menahan tawanya


"Kamu sering pergi bareng sama Adyra gak?" Tanya Devina lagi


"Kalau lagi gak pergi sama kamu... aw sakit Vin." Kata Ziko karena kekasihnya itu memukul lengannya cukup kuat


"Nyebelinnn! Ziko nyebelinn!" Kata Devina


Setelah mengatakan hal itu Devina langsung berdiri dan berlalu pergi membuat Ziko tertawa lalu mengejarnya.


"Vin aku bercanda doang." Kata Ziko


Saat Ziko meraih tangan Devina dia langsung menepisnya dan menatapnya dengan galak.


"Sana!"


"Ya ampun Vin bercanda doang aku gak pernah pergi sama Dyra lagi bahkan nganterin pulang juga hampir gak pernah karena Bastian yang biasa nganterin dia pulang." Kata Ziko


"Bodo amat!"


Wajah Devina sangat galak membuatnya terlihat begitu lucu.


"Aku cuman bercanda sayang." Kata Ziko lagi


"Aku gak peduli! Sana kamu pergi aja." Kata Devina kesal


Mendengar hal itu Ziko merasa aneh, kenapa Devina sangat sensitif?


"Kamu lagi dapet ya Vin?"


Devina langsung menoleh dan menatapnya dengan tajam membuat Ziko kini mengerti.


Dia salah besar karena mengganggu Devina sekarang.


"Kamu mau makan apa Vin?" Tanya Ziko


"Mau makan kamu!" Ketus Devina


"Aku juga mau makan kamu." Kekeh Ziko


"Ziko! Kamu tuh apaan sih mulutnya!" Kata Devina kesal


Tertawa kecil Ziko mensejajarkan langkahnya dengan Devina lalu merangkulnya.


"Mau apa sih Vin? Sini kasih tau"


Devina berdecak kesal dan melepaskan tangan Ziko yang menyampir dibahunya.


"Mau jauh-jauh dari Ziko"


Kesalahan besar Ziko mencari masalah di saat Devina datang bulan pada hari pertama.


¤¤¤


Semuanya maaf banget karena kemarin gak bisa update :)


Hehe sekarang aku udah update nihhh😉 Kalau berkenan boleh kali follow ig aku (Widadwi_94).


Mau update lagi gakkk?