
Senyuman manis Fahisa terbentuk ketika dia melihat Devano yang tertidur lelap di sofa masih dengan seragam sekolahnya, anak itu masih belum berganti pakaian padahal ini sudah sore. Akhirnya karena merasa kasihan Fahisa mengambil selimut karena dia tau Devano tidak akan kembali ke kamar meskipun dia yang memintanya.
Mengusap rambut hitam anaknya Fahisa menyelimuti tubuh Devano dengan selimut yang tidak terlalu tebal. Anak laki-lakinya ini selalu begini kalau masalah tentang Devina dia terlalu takut kalau terjadi sesuatu pada kembarannya.
Saat kedua anaknya tertidur lelap Fahisa keluar dari kamar untuk menghampiri suaminya yang ada di ruang kerja. Suara pintu yang dibuka membuat suaminya mendongak dan tersenyum lalu menghampiri Fahisa.
Dipeluknya tubuh sang istri dengan sayang membuat Fahisa juga ikut tersenyum dan membalas pelukannya.
"Maaf aku gak akan gitu lagi." Kata Daffa
"Hmm obatnya sudah?" Tanya Fahisa mengalihkan pembicaraan
"Sudah sayang ada di meja dapur." Kata Daffa
"Nanti malam aku tidur sama Vina ya?" Kata Fahisa
"Iya tidak perlu minta izin." Kata Daffa membuat Fahisa tertawa kecil mendengarnya
"Vano tidur dia gak mau keluar dari kamar Devina." Kata Fahisa
"Vano memang gitu kan?" Kekeh Daffa
"Hmm kadang aku merasa terharu." Kata Fahisa
"Vano sangat peduli entah itu pada Sahara ataupun Devina." Kata Daffa
"Benar dulu dia juga menyelamatkan Sahara dari Kevin." Kata Fahisa
Anaknya memang sangat berani dia bisa melakukan apapun untuk melindungi orang-orang yang dia sayang.
"Kamu jagaiin Vina aja nanti biar Bi Santi yang masak untuk makan malam." Kata Daffa sambil mengusap lembut pipi istrinya
Fahisa tersenyum dan mengangguk patuh lalu mencium sekilas bibir suaminya sebelum kembali ke kamar anaknya.
"Aku ke kamar Vina dulu"
Setelah mengatakan hal itu Fahisa kembali ke kamar anaknya dan ketika masuk ke dalam ternyata Devina sudah bangun. Gadis itu tidur menyamping dengan mata terbuka yang menatap kosong ke depan.
Berjalan mendekat Fahisa tersenyum ketika anaknya itu mendongak dan dia langsung naik ke atas ranjang untuk menemani anaknya. Mengerucutkan bibirnya Devina langsung memeluk Fahisa dari samping, tubuhnya masih cukup panas.
Tapi, sakit kepalanya sudah sedikit berkurang.
"Mommy dari manaaa?" Tanya Devina manja
"Nemuin Daddy sayang, kamu nyariin Mommy?" Tanya Fahisa yang dijawab dengan anggukan oleh anaknya
Devina semakin mengeratkan pelukannya membuat Fahisa tersenyum lalu mengusap lembut puncak kepalanya.
"Vano kenapa tidur disitu?" Tanya Devina sambil mendongak dan menatap wajah Fahisa dengan lugu
"Dia gak mau Mommy suruh ke kamarnya katanya mau sama Vina." Kata Fahisa sambil tersenyum
Mengerucutkan bibirnya Devina kembali memeluk Fahisa dengan erat, dia jadi mau menangis.
Astaga cengeng sekali.
"Mommy"
"Iya sayang?"
Devina mendongak dan menatap Fahisa dengan wajah sedihnya lalu menanyakan hal dengan mata berkaca-kaca.
"Vina nyusahin ya?" Tanya Devina
Mendengar hal itu Fahisa terdiam dengan raut wajah terkejut.
"Enggak sayang, kenapa nanya gitu?" Kata Fahisa dengan lembut
"Vina nyusahin kan? Vina cuman bisa bikin repot kan? Vina gak berguna ya?" Tanya Devina lagi
Kali ini air matanya jatuh membuat Fahisa tersenyum dan langsung menghapusnya dengan lembut lalu menciumnya keningnya lama.
"Kenapa bilang gitu hmm? Vina gak ngerepotin apalagi bikin susah dan Vina gak boleh ngomong gitu." Kata Fahisa
"Tapi, Vina bikin susah sering sakit dan sering nangis udah itu manja banget." Kata Devina sambil menatap Fahisa
"Vina gak boleh ngomong gitu ya? Daddy sama Vano nanti marah." Kata Fahisa
"Vina bisanya bikin susah aja, pasti Mommy, Daddy, Kak Ara sama Vano capek ya ngurusin Vina?" Kata Devina lagi
"Devina sayang jangan ngomong gitu ah gak boleh." Kata Fahisa tidak suka
Tapi, bukannya berhenti Devina malah terus bicara dengan air mata yang sesekali terjatuh.
"Vina sering sakit dan bikin kalian cemas terus Vina juga manja banget apa-apa maunya diturutin selain itu Vina juga cengeng dikit-dikit nangis, pasti kalian capek kan sama Vina?" Kata Devina lagi
Menghela nafasnya pelan Fahisa menangkup wajah anaknya dan mencium keningnya lama.
"Vina dengar ya? Jangan pernah berfikiran seperti itu lagi kami gak pernah ngerasa capek atau apapun itu kamu tau kenapa?" Tanya Fahisa dengan lembut
Devina menggelengkan kepalanya pelan membuat Fahisa tersenyum dan mencapit hidungnya.
"Karena Mommy, Daddy, Kak Ara, dan Vano itu sayang sama kamu." Kata Fahisa
"Vina mau kayak orang-orang Mommy gak mudah sakit dan gak manja Vina kasihan sama Vano yang harus jagaiin Vina terus, kemana-mana harus dianterin kalau mau pergi bajunya juga diperhatiin Vano pasti capek." Kata Devina
Fahisa menghela nafasnya pelan dan menarik anaknya itu ke dalam pelukannya.
Devina hanya menggelengkan kepalanya pelan dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Mommy"
"Hmm"
"Vina takut"
"Takut apa sayang?" Tanya Fahisa dengan lembut
"Vina takut ditinggalin Vina gak mau sendirian." Kata Devina
"Gak ada yang ninggalin kamu Devina." Kata Fahisa
"Vina mau sama Kak Ara." Kata Devina pelan
"Nanti Mommy telpon Kakak ya? Kalau dia tidak sibuk besok Mommy minta Kak Ara ke rumah." Kata Fahisa
Devina menganggukkan kepalanya dan kembali memeluk Fahisa dengan cukup erat.
"Vina mau tidur sambil dipeluk Mommy." Kata Fahisa
Tersenyum tipis Fahisa ikut berbaring di ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya juga Devina lalu memeluk anaknya dengan sayang.
"Nanti Mommy bangunkan untuk makan malam ya?" Kata Fahisa yang dijawab dengan anggukan oleh anaknya
Lalu keadaan kembali hening karena Devina yang diam dan mulai memejamkan matanya.
Tanpa keduanya tau Devano mendengar semuanya.
¤¤¤
Dalam diam Devano menyuapi kembarannya memakan bubur serta sup ayam yang sudah disiapkan dengan telaten dan sabar sesekali dia mengusap sudut bibir Devina yang kotor. Sama sekali tidak ada percakapan keduanya hanya diam dan sibuk dengan fikiran serta kegiatannya masing-masing.
Mendengar perkataan Devina tadi membuat Devano juga ikut merasa sedih, dia tidak suka kalau kembarannya itu menyalahkan dirinya sendiri atau menganggap dirinya tidak berguna dan menyusahkan karena Devina tidak seperti itu. Semua yang ia lakukan selama ini untuk kembarannya bukan dengan paksaan melainkan karena keinginannya sendiri.
Karena rasa sayangnya untuk Devina.
"Vano"
"Iya?"
"Aku kayak anak kecil ya?" Tanya Devina
Menghela nafasnya pelan Devano meletakkan sendok yang tadi dia gunakan dan menatap Devina yang juga sedang menatapnya.
"Kamu kenapa sering ngomong gitu sekarang? Apa yang kamu fikirin sebenernya Vin?" Tanya Devano
Devina menggelengkan kepalanya pelan membuat Devano merasa kesal sendiri.
"Ada yang ganggu fikiran kamu?" Tanya Devano lagi
"Enggak ada Van." Kata Devina
Tersenyum tipis Devano menangkup wajah kembarannya dan mengusap pipinya dengan lembut.
"Dengerin aku ya?" Kata Devano
Devina mengangguk sebagai jawaban.
"Semua sikap aku ke kamu itu tanpa paksaan Devina aku sama sekali gak ngerasa capek, muak, kesel atau apapun yang ada difikiran kamu sama sekali gak pernah Vin,"
Devina menatap mata kembarannya yang menatapnya dengan sorot mata penuh ketegasan seolah ingin memberi tau kalau semua ucapannya adalah nyata.
"Kenapa aku gak mau kamu sakit? Kita saudara kembar Devina aku selalu bisa rasaiin apa yang kamu rasaiin, sama seperti kamu yang juga ngerasa sakit ketika aku berantem sampai terluka aku juga sama,"
Mata Devina berkaca-kaca ketika mendengarnya.
"Kalau kamu sakit aku juga ikut ngerasa sakit dan kalau kamu terluka aku juga ikut terluka, semua yang aku lakuin itu murni karena aku sayang sama kamu Vina." Kata Devano
Devina menatapnya lalu setetes air mata jatuh dan membuat Devano langsung menghapusnya.
Dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Matanya seolah mengatakan bahwa Devina tidak boleh menangis.
"Vano"
"Hmm"
Devina merentangkan kedua tangannya dan mengatakan hal yang membuat Devano tersenyum.
"Hug meee"
Kapanpun Devina membutuhkan pelukan Devano akan selalu ada disana.
¤¤¤
Ini pendek guys haha ga papa lah ya😂
Dapet salam dari si kembar katanya makasih udah nungguin cerita mereka😚