My Possessive Twins

My Possessive Twins
Devano (77)



Sembilan bulan.


Usia kandungan Adara sudah memasuki bulan ke sembilan yang artinya sebentar lagi bayi kembar mereka akan segera lahir.


Nathan dan Nadhin terlihat begitu bersemangat menanti kelahiran dua adik mereka. Devano juga sama antusiasnya.


Sekarang Devano sudah banyak meluangkan waktunya di rumah atas izin Daffa tentunya. Pria itu selalu siap siaga untuk istrinya yang tengah hamil.


Perkiraan dokter si kembar akan lahir di pertengahan bulan ini.


"Amaa Amaa aku enggak caball"


Nadhin naik ke atas sofa tempat dimana Adara duduk sambil memakan buah-buahan.


"Mama juga enggak sabar mau ketemu baby twins." Kata Adara sambil tersenyum dan mengusap perutnya dengan sayang.


Anak perempuannya itu menyengir lucu dan ikut mengusap perut Mamanya.


"Nadhin mau makan melon?" Tanya Adara pada anaknya itu.


Mata Nadhin langsung berbinar senang dan dengan penuh semangat anak itu mengangguk lalu membuka mulutnya.


Hal itu membuat Adara tersenyum dan langsung menyuapi anak itu.


"Nathan lama ya Ama." Kata Nadhin dengan wajah cemberut.


Oh iya anak laki-lakinya itu sedang pergi bersama Devano untuk membelikan mie ayam kesukaan Adara.


Tadi Nadhin di ajak juga, tapi lucunya anak itu menolak dan malah menjawab,


'Aku dilumah aja temenin Amaa cama adik dalam pelut'


Anak itu perhatian sekali sekarang Adara jadi sangat gemas.


"Hm mungkin Nathan sama Papa lagi beli ice cream." Kata Adara yang membuat Nadhin langsung kembali bersemangat.


Dan tak lama setelah percakapan itu suara Devano dan Nathan sudah terdengar.


Sosok Nathan muncul dengan membawa kantung plastik berukuran kecil yang entah apa isinya.


"Adhinnn Adhin aku cama Papa beli coklat." Kata Nathan senang.


"Mau mauuu"


Nathan langsung menghampiri adiknya dan mengeluarkan dua buah coklat lalu memberikannya satu pada kembarannya.


"Telima kacih Papa." Kata Nadhin.


Devano tersenyum dan mengangguk seraya mengusap-ngusap kepala Nadhin dengan sayang.


"Gemes banget sih ini anak Papa." Kata Devano.


"Aku mau makan dulu." Kata Adara dengan penuh semangat.


Melihat itu Devano langsung berdiri dan mendekat pada istrinya. Dia membantu Adara untuk berjalan padahal Adara bisa sendiri.


"Vano aku bisa sendiri." Kata Adara sambil tersenyum penuh arti.


Tapi, Devano tidak peduli dan tetap membantu istrinya itu.


"Cantik dan gantengnya Papa jangan nakal ya? Duduk disitu sambil makan coklatnya, oke? Papa mau temenin Mama makan dulu atau Nathan sama Nadhin mau ikut?" Tanya Devano.


"Gakk!"


Kedua anak itu menjawab secara bersamaan.


"Yaudah tunggu sebentar ya?" Kata Devano yang lagi-lagi dijawab secara bersamaan.


Kemudian Devano membawa Adara ke ruang makan. Dia meminta gadis itu untuk duduk saja, sedangkan Devano pergi mengambil mangkuk juga sendok garpu dan jangan lupakan segelas air putih juga.


Adara tersenyum senang dan memperhatikan Devano yang kini menyiapkan makanan untuknya.


"Ini dia bumill cantik." Kata Devano.


"Yess makasih sayang." Kata Adara yang membuat Devano sedikit terkejut, tapi setelahnya langsung tersenyum.


Dia memperhatikan istrinya yang sudah mulai makan dengan lahap.


Sebenarnya Devano tidak menyangka dia akan berubah sejauh ini. Maksudnya dulu Devano sangat cuek, tapi sekarang dia berubah menjadi sosok yang hangat dan penuh perhatian untuk keluarga kecilnya.


Dan untuk orang lain Devano mungkin masih sedikit cuek, tapi tidak secuek dulu yang tidak pernah peduli dengan dunia sekitarnya.


Sekarang Devano memiliki dunianya yang baru dengan dia dan keluarga kecilnya.


••••


"Tangan Papa besalll"


Devano asik memperhatikan Nadhin yang tengah sibuk memainkan jari-jari tangannya dan membandingkannya dengan jari mungil anak itu.


Kali ini Nathan yang sedang menempel pada Adara. Keduanya tengah menonton film kartun bersama atau lebih tepatnya Adara tengah menemani anaknya menonton film kartun.


Nadhin tidak mau karena katanya bosan, jadi dia malah merecoki Papanya yang tengah sibuk dengan tumpukan kertas dan pekerjaannya.


Dan alhasil Devano mengurungkan niatnya untuk melanjutkan sedikit pekerjaannya.


"Papa Papaaa adik aku lucu enggak? Nanti dia miliki cepelti aku enggak?" Tanya Nadhin sambil menatap Devano dengan wajah lucunya.


"Mirip dongg nanti mirip Ama juga." Kata Devano.


"Em kalau mirip Ama belalti adiknya cantik coalnya Ama cantik cekali." Kata Nadhin disertai cengiran lucu di wajahnya.


Devano langsung tersenyum ketika mendengarnya. Dia menciumi pipi Nadhin yang kini berada di pangkuannya dengan gemas.


"Nadhin juga cantik seperti Mama." Kata Devano.


Anak itu tersenyum lagi lalu memeluk Devano dengan manja.


Devano benar-benar gemas sendiri pada anak itu. Dia tidak bisa membayangkan kalau nanti si kembar lahir lagi.


Oh dia pasti tidak bisa diam dan tidak mengganggu anak-anak bayinya yang sangat menggemaskan itu.


Dia pasti akan mulai dimarahi Adara karena mengganggu tidur anak mereka nanti.


••••


Halo halooo part ini pendekkk maaf yaaa hehe


Aku mau kasih tau pengumuman kalau satu part lagi cerita ini tamat dan akan dilanjut ke cerita anak-anak mereka setelah sudah besar🤗


Part terakhir aku update hari ini juga mungkin siang atau sore dan cerita anak-anak mereka akan mulai di publish besok🤗


Nanti ceritanya aku gabung dengan cerita anak-anak Ziko dan Devina karena cerita selanjutnya temanya anak sekolahan dan disana anak-anak mereka satu sekolah, jadi aku satukan aja ceritanya🥰



Nah itu bentuk penampakan cover dari cerita selanjutnya🥰


Siap baca yaa???


Oke segitu dulu see you di part terakhir cerita iniiiii dan see you di cerita baru🤗