My Possessive Twins

My Possessive Twins
66 : Devano Kangen!



"Sudah selesai bicaranya?"


Pertanyaan itu Fahisa ajukan pada Ziko yang baru saja mengantar Devina sekitar pukul tiga sore dan wajah berseri keduanya menandakan bahwa mereka telah berbaikan. Mereka berdua menjawab dengan anggukan juga senyuman manis yang membuat Fahisa ikut senang, dasar anak muda.


Terlihat dengan jelas betapa bahagianya Devina sekarang berbeda sekali dengan tadi pagi. Sebenarnya Fahisa sedikit tidak suka dengan cara Ziko yang meninggalkan sekolahnya dan malah pergi ke bandara, tapi namanya juga anak muda kalau sedang jatuh cinta.


"Sudah Mommy." Kata Devina dengan senang


"Senang sekali hmm? Padahal tadi pagi cemberut terus." Kata Fahisa sambil tertawa


Devina hanya menunjukkan cengirannya dan menghampiri Fahisa lalu menatap Ziko dengan senyuman penuh kebahagiaan.


"Tante aku pulang ya? Makasih sudah kasih waktu untuk aku dan Vina bicara." Kata Ziko dengan begitu tulus


"Sama-sama lain kali jangan bolos sekolah ya? Tante gak mau kalau orang tua kamu mengira kamu bolos karena Devina." Kata Fahisa yang dijawab dengan anggukan tegas oleh Ziko


"Siap Tante"


"Mami aja." Kata Fahisa membuat Ziko terdiam lalu tersenyum senang dan mengangguk


"Ziko pulang dulu ya Mi? Vina aku pulang ya nanti kalau udah sampai rumah aku kabarin." Kata Ziko


Devina mengangguk singkat dan melambaikan tangannya pada sang kekasih yang sekarang berjalan keluar dari rumahnya.


Menatap anaknya yang terlihat begitu bahagia Fahisa tersenyum, dia senang sekali melihat anak-anaknya ketika sedang tersenyum.


"Senang?" Tanya Fahisa


Devina menoleh lalu mengangguk dengan semangat dan memeluk Fahisa erat membuat wanita paruh baya itu tertawa kecil sambil membalas pelukannya.


"Senang bangettttt aku tadi jalan-jalan sama Ziko." Kata Devina


"Kenapa gak cerita kalau ada masalah sama Ziko hmm?" Tanya Fahisa dengan lembut


Devina hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak mau cerita cukup pada Devano saja selagi hanya masalah kecil orang tuanya tidak perlu tau.


Seakan mengerti kalau anaknya memang tidak mau bercerita Fahisa tidak bertanya lebih lanjut.


"Sekarang sudah selesai kan masalahnya?" Tanya Fahisa


"Sudah Mommy." Kata Devina senang


"Lain kali kalau kamu punya masalah bicarakan baik-baik ya? Komunikasi itu penting sayang jangan sampai kalian sama-sama terluka hanya karena salah faham." Kata Fahisa


Mengangguk faham Devina semakin mengeratkan pelukannya.


"Mommy"


"Hmm"


"Makasih yaaa." Kata Devina


"Makasih untuk apa?" Tanya Fahisa dengan lembut


"Makasih karena sudah jadi Mommy nya Vina." Kata Devina membuat Fahisa tertawa kecil dan mengusap rambut anaknya dengan sayang


"Terima kasih juga karena sudah jadi anak Mommy yang menggemaskan." Kata Fahisa


Melepaskan pelukannya Devina tersenyum dengan sangat lebar dan tangan Fahisa terulur untuk mengusap pipinya dengan lembut.


"Mommy ayo main ke rumah Kak Ara." Ajak Devina


Terlihat berfikir sesaat setelahnya senyum Fahisa mengembang dengan lebar dan dia menganggukkan kepalanya.


"Ide bagus sayang"


Bersorak senang Devina bergegas pergi ke kamarnya dan mengatakan kalau dia akan menelpon Sahara untuk mengabari bahwa mereka akan datang. Di tempatnya Fahisa tersenyum penuh arti sambil menatap anaknya yang berlari menaiki tangga, lucu sekali.


Dia benar-benar bersyukur memiliki anak-anak yang begitu ceria meskipun terkadang dia merindukan sosok Sahara, tapi kedua anaknya selalu berhasil membuatnya senang setiap hari. Terkadang Fahisa sering memikirkan bagaimana kalau nanti anak-anaknya sudah menikah dan hanya dia serta Daffa yang tinggal di rumah, pasti sepi sekali.


Tapi, tidak masalah selagi dia masih bisa melihat anak-anaknya yang tersenyum dia ikut bahagia.


Tak ada yang lebih penting dari senyum manis anak-anaknya.


"MOMMY KAK ARA ADA DI RUMAH"


Seruan Devina membuat Fahisa tertawa kecil dan mengatakan kalau dia akan segera bersiap.


Baiklah saatnya para wanita menghabiskan waktu bersama-sama.


¤¤¤


Kedatangan Fahisa dan Devina ke rumahnya membuat Sahara sangat senang dan bersemangat sudah lama sekali mereka tidak menghabiskan waktu bersama. Sekitar pukul lima sore mereka berdua sampai di rumah Sahara dan langsung disambut dengan seruan heboh juga pelukan hangat Sahara.


Devina juga terlihat sangat heboh dia sangat merindukan Kakak perempuannya yang selalu menjadi tempat curhatnya.


Selesai melepas rindu Sahara langsung mengajak mereka berdua untuk masuk dan duduk di ruang tamu lalu dia memanggil Bi Yuni untuk membawakan minuman juga beberapa makanan ringan. Saat baru ingin duduk suara tangis Airlangga terdengar membuat Sahara berlari kecil ke ruang tengah, tadi anak itu sedang tertidur.


Kembali dengan Airlangga digendongannya Sahara membuat mata Fahisa berbinar dan langsung membawa si kecil yang tampan ini ke dalam dekapannya.


"Hay cucu Omaa"


Sahara tersenyum dan mendudukkan dirinya di samping Devina membuat gadis itu langsung memeluknya dari samping.


"Kangenn Kakak"


Tertawa kecil Sahara mencubit pelan pipi Devina dan mengatakan kalau dia juga merindukan adiknya.


"Vano sama Daddy jadi pergi ke Bali?" Tanya Sahara


Devina mendongak dan mengerucutkan bibirnya sebal lalu menganggukkan kepalanya.


"Jadi! Mereka jahat sekali Kak aku tidak boleh ikut." Adu Devina membuat Sahara tertawa melihatnya


"Gemes banget sihh adik aku." Kata Sahara sambil mencubit pipinya


"Kemarin dia menangis kalau kamu mau tau Ra." Kata Fahisa


"Ya ampun kan cuman seminggu." Kekeh Sahara


"Gak enak Kak aku kesepian di rumah kalau gak ada Vano." Keluh Devina


"Sini nginep di rumah Kakak aja." Kata Sahara


"Kan sekolahh." Kata Devina


"Kalau gitu telpon Kakak kalau kamu bosan." Kata Sahara sambil tersenyum manis


Mengangguk singkat Devina kembali memeluk Sahara dengan erat membuat Kakaknya itu hanya bisa tersenyum.


Devina memang manja sama seperti dia dulu.


Bedanya Sahara sudah biasa ditinggal pergi apalagi oleh Daddy nya ketika dia masih kecil, berbeda dengan Devina yang hampir tidak pernah ditinggal. Setelah menikah dengan Fahisa salah satu kebiasaan Daffa berubah, dia jarang pergi keluar kota untuk masalah pekerjaan dan lebih sering menyerahkan urusan itu kepada Kakaknya atau Kakak iparnya.


"Arjuna belum pulang sayang?" Tanya Fahisa


Menatap Fahisa sebentar Sahara tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.


"Tadi Mas Juna telpon katanya dia lembur dan pulang agak malam." Kata Sahara


Fahisa mengangguk faham dan kembali bermain bersama si kecil Airlangga yang terlihat begitu manja.


"Ma Ma"


"Oma"


"Ma Maa"


"Oma sayangg"


Terlihat sekali kalau Fahisa juga sangat senang, tentu saja dari dulu dia selalu suka anak kecil.


"Kakk"


"Hmm"


Devina melepaskan pelukannya dan menatap Sahara dengan senyuman manisnya.


"Aku mau nanyaa." Kata Devina


"Nanya apa hmm?" Tanya Sahara penasaran


"Kakak sama Kak Juna itu teman waktu SMA juga ya?" Tanya Devina membuat Sahara terdiam sebentar lalu tertawa


"Iya Mas Juna itu Kakak kelasnya Kakak waktu SMA, kenapa hmm?" Tanya Sahara


Devina menunjukkan cengirannya lalu menggelengkan kepalanya pelan.


Devina terdiam dengan pipi yang mulai memerah lalu dia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan fotonya bersama dengan Ziko sambil tersenyum malu.


Melihat foto itu Sahara tersenyum adiknya terlihat begitu bahagia bisa dilihat dari senyuman yang begitu lebar dan kekasih adiknya juga terlihat begitu mencintai adiknya.


"Kalian cocok." Kata Sahara membuat Devina tersenyum mendengarnya


"Iya ya? Banyak yang bilang kayak gitu." Kata Devina senang


"Hmm kalau diperhatiin agak mirip juga." Kata Sahara


"Aku udah pernah ketemu orang tuanya Kak mereka baik." Kata Devina


Mendengar hal itu Sahara merasa senang, kalau sudah dikenalkan ke orang tua berarti pria itu benar-benar menyukai adiknya.


"Iya? Bagus dong." Kata Sahara yang ditanggapi dengan anggukan oleh adiknya


"Heem waktu itu dia bilang kalau Mamanya suruh ajak aku ke rumah lagi." Kata Devina


"Ziko itu baik Ra dia perhatian banget sama Vina dan hebatnya lagi dia berhasil bikin Vano percaya sampai izinin dia untuk nganter Vina pulang." Kata Fahisa


Wah kalau sudah berhubungan dengan Devano itu sih berarti sudah sangat baik karena jangankan adiknya dulu dia saja yang merupakan Kakak dari Devano sering kali di atur-atur oleh adiknya.


'Kak jangan pakai baju kayak gitu kependekan'


'Kalau ada yang sakitin Kakak bilang nanti Vano bakal kasih pelajaran'


'Dingin Kak pakai baju panjang'


Semisal Devano sudah percaya berarti mereka juga harus percaya.


"Tapi, dia cemburuan Kak kadang aku suka kesal." Keluh Devina


"Kakak ipar kamu juga sama." Kata Sahara sambil tertawa


"Kesal kan Kak? Kadang kalau di sekolah Vina malu soalnya Ziko nempel terus apalagi seeing cubit pipi aku jadi diledekin orang-orang." Kata Devina


Sahara tertawa mendengarnya, tapi hal itu bukan salah Ziko salahkan saja Devina yang sangat menggemaskan dengan pipi chubby nya.


"Makanya kamu jangan gemesin." Kata Sahara sambil mencubit pipi adiknya dengan gemas


Mengerucutkan bibirnya kesal Devina mengalihkan pandangannya dan mengambil camilan yang ada di meja.


Kalau sudah berkata begitu pasti pipinya akan dicubit.


Kadang Devina bingung, memang ada apa sih di pipinya?!


Kenapa orang-orang suka sekali mencubitnya?


¤¤¤


Baru hari pertama Devano pergi, tapi Adara sudah merasa kesepian apalagi di sekolah tadi tidak ada Devano yang biasanya selalu mengikuti Adara dan bersikap posesif padanya. Sejak pulang sekolah Adara hanya berbaring di ranjang sambil memainkan ponselnya melihat satu persatu foto dia bersama Devano juga membaca chat mereka yang bisa dibilang sangat random.


Bayangkan saja dia dan Devano sama-sama tidak bisa memulai percakapan bahkan di sekolah mereka berdua sama-sama dikenal sebagai orang yang cuek dan dingin. Percakapan mereka terkadang tidak jelas, tapi Adara senang karena dengan adanya Devano dia merasa tidak kesepian.


Hanya saja sekarang Adara merasa sepi apalagi Devano belum membalas pesannya sejak siang.


Astaga Adara bucin sekali!


Baru saja dia berdiri dan ingin pergi ke dapur untuk makan, tapi suara notifikasi di ponselnya membuat Adara tersenyum dan kembali ke ranjang lalu mengambil ponselnya. Benar, pesan itu dari Devano bahkan pria itu mengirim foto padanya dan hal itu membuat Adara tersenyum senang.


Maaf Dar baru bales


Habis nemenin Daddy ke kantor temannya



'Ya ampun ganteng banget mau nangisss' Batin Adara berteriak


Menggigit bibir bawahnya pelan Adara menahan teriakannya ketika dia mengetik balasan untuk Devano dengan kata-kata yang bisa dibilang sedikit, emm berlebihan.


^^^Vano aku kangennn :(^^^


^^^Kapan kamu pulangnya?^^^


^^^Mau ketemuu^^^


Tak butuh waktu lama untuk mendapat balasan dan balasan yang Devano kirimkan membuat mata Adara membulat.


Vc aja ya?


Ketika Devano menelpon Adara langsung bangun dan pergi ke kaca untuk melihat penampilannya. Setelah merapihkan rambutnya dan memakai sedikit bedak Adara kembali duduk di ranjang lalu mengangkat telpon dari kekasihnya.


'Malam Darr'


"Malam, kamu lagi dimana?" Tanya Adara sambil tersenyum


Ahh sepertinya kalau bersama Devano dia jadi murah senyum.


'Lagi di hotel baru selesai makan malam, kamu udah makan?'


Adara menggelengkan kepalanya pelan, dia malas untuk makan.


"Belum, malas mau makan." Kata Adara


'Makan, nanti sakit kalau gak makan'


"Hmm nanti mau ngobrol sama kamu dulu." Kata Adara membuat Devano tersenyum mendengarnya


'Tadi di sekolah gak deket-deket sama cowok lain kan?'


"Enggak cuman sama Alex, Erick, Yuda, dan Gara gak ada yang lain." Kata Adara jujur


'Kangen gak?'


Adara terdiam sebentar lalu mengangguk dengan wajah cemberut membuat Devano gemas sendiri melihatnya.


"Kangennn, masih lama ya?" Tanya Adara sedih


'Enam hari lagi'


"Lama banget Vann." Keluh Adara


'Sebentar kok nanti aku telpon tiap hari'


Adara hanya mengangguk singkat.


'Makan Dar'


"Nanti aja ihhh." Kata Adara


'Sekarang cepet gak usah dimatiin gak papa'


"Nanti aja aku belum mau makan." Kata Adara


'Tapi janji ya bakal makan?'


Adara hanya mengangguk dan tersenyum lalu menatap wajah Devano cukup lama.


Wajah Devano terlihat sangat cool apalagi dengan rambut berantakannya, dia jadi mau mengacak-ngacak rambutnya.


'Dar'


"Hmm kenapa?" Tanya Adara


'I love you'


Sial! Kalimat itu selalu berhasil membuat Adara terpaku dengan wajah merona.


Dia melihat Devano yang tersenyum manis padanya dan secara refleks Adara berseru membuat tawa Devano terdengar.


"Vano kangan mau pelukkkk!"


Urat malu Adara memang sudah putus.


Tapi, dia benar-benar ingin memeluk Devano.


Sangat ingin memeluknya.


¤¤¤


Ciee Dardaraa udah gak malu dan cuek lagiii😂


Gemes banget deh Vano sama Dara😂