
Kelemahan Devano sejak dulu adalah kembarannya dia tidak bisa melihat Devina terluka barang sedikit saja itu sebabnya Devano begitu posesif dan sekarang dia benar-benar dipenuhi ketakutan dalam perjalanan menuju rumah sakit. Tanpa peduli keselamatan Devano melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata agar bisa segera sampai di rumah sakit.
Tidak akan pernah Devano memaafkan dirinya kalau sesuatu yang buruk sampai terjadi pada kembarannya. Jantungnya berdetak dengan begitu cepat hingga Devano merasa sangat sesak dan tangan serta kakinya mendadak sakit tanpa alasan, tapi Devano tidak peduli dia harus segera sampai.
Saat motornya berhenti di parkiran rumah sakit Devano langsung melepaskan helmnya dan berlari ke dalam sambil mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi orang tuanya. Beberapa kali tidak ada jawaban dan Devano memilih berjalan sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Halo Mom kalian dimana?" Tanya Devano panik
'....'
Setelah mendengar Fahisa menyebutkan sebuah ruangan Devano langsung beralari untuk mencarinya, dia benar-benar ingin segera sampai disana dan melihat Devina. Menemukan ruangan yang disebutkan Fahisa tadi Devano langsung membukanya dengan nafas terengah dia dapat melihat orang tuanya juga Devina yang terbaring di atas ranjang.
"Vina"
Berlari menghampiri kembarannya Devano dapat melihat Devina dengan luka di sudut bibirnya serta tangan yang dibalut perban. Saat ingin bertanya dia langsung dihadiahi tatapan tajam Daffa, tidak Devano tidak takut dia akan terima kalau dimarahi.
"Daddy...."
"Kenapa kamu biarkan Devina pulang sendirian?! Harusnya kalau kamu ada urusan telpon Daddy Devano dan bukan membiarkan Devina pulang sendirian!" Bentak Daffa membuat Devina yang tadi memejamkan matanya kembali terbangun
Dia sedikit terkejut ketika melihat Devano.
"Mas jangan...."
"Diam Fahisa! Devano kamu benar-benar telah melakukan kesalahan!" Tegas Daffa
"Tadi Vina bilang...."
"Harusnya jangan kamu dengarkan! Tetap telpon Daddy ketika kamu tidak bisa menemani Devina dan bukan malah membiarkan dia pergi sendirian!" Bentak Daffa lagi
Devina menggigit bibir bawahnya pelan, merasa takut juga bersalah pada kembarannya.
"Mas udah jangan dimarahin." Kata Fahisa sambil menggenggam tangan suaminya dan mengusapnya pelan
"Lihat! Sekarang kembaran kamu ada disini." Kata Daffa sambil menunjuk ranjang Devina dengan telunjuknya
"Maaf Dad tadi Vano ada jam..."
"Daddy tidak mau menerima alasan apapun Devano!" Tegas Daffa
"Mas"
Fahisa jadi kasihan melihat anaknya dia yakin sekali Devano pasti tadi sangat khawatir.
Selama perjalanan Devina memang baik-baik saja, tapi ketika sampai di persimpangan jalan motor yang dia tumpangi bertabrakan dengan mobil berkecapatan tinggi dari arah berlawanan. Sudut bibir Devina berdarah serta tangan dan kaki kanannya yang dipenuhi luka karena menghantam aspal jalan.
Bukan hanya Devina, tapi pengemudi motornya juga mengalami hal yang sama dan pengemudi mobil tadi yang membawa Devina kesini. Sebenarnya Devina sudah boleh pulang dan bisa dirawat di rumah, tapi Daffa bilang biarkan Devina dirawat untuk hari ini dan pulang besok.
Dia terlalu cemas.
"Vina"
Melihat kembarannya yang membuka mata membuat Devano berlari menghampirinya dan meraih tangannya lalu digenggam dengan lembut. Wajahnya menggambarkan rasa bersalah yang teramat besar membuat Devina juga ikut merasa bersalah.
Tadi dia yang memaksa.
"Aku enggak papa." Kata Devina pelan
"Maaf Vin." Kata Devano sambil mengusap puncak kepalanya dengan lembut
Pantas tangan dan kakinya terasa sakit tanpa alasan ternya karena ini.
"Devano kita pulang!" Kata Daffa
"Daddy aku mau disini...."
"Pulang!" Kata Daffa dengan penuh penekanan
"Daddy please...."
"Kamu tidak dengar?! Daddy bilang pulang dan biarkan Mommy yang menjaga." Kata Daffa dengan suara meninggi
Mata Devina berkaca-kaca dia ikut sedih melihat kembarannya dimarahi begitu oleh Daddy nya padahal Devano tidak salah. Semua ini murni karena kecelakaan tidak seharusnya Devano dimarahi.
Ini kali pertama Devano dimarahi hingga dibentak.
"Daddy jangan marahin Vano." Kata Devina pelan
"Devano kita pulang sekarang." Kata Daffa lagi
Daffa benar-benar marah, dia takut setengah mati ketika mendapat telpon yang mengatakan anaknya di rumah sakit.
Daffa sudah pernah kehilangan dan dia tidak mau mengalami hal itu lagi.
Dia pernah kehilangan istrinya lalu kehilangan janin yang dikandung Fahisa meskipun sudah lama, tapi kejadian itu membekas diingatannya.
"Daddyy"
Sekali lagi Devina memanggil Daffa dan membuat pria paruh baya itu menghela nafasnya pelan lalu berjalan mendekat.
"Kenapa hmm?" Tanya Daffa
"Jangan marahin Vano." Kata Devina yang tidak ditanggapi apapun olehnya
Daffa hanya diam dan mengusap puncak kepala anaknya dengan sayang lalu mencium keningnya.
"Devano pulang!" Kata Daffa lagi
"Dad..."
"Mau membantah Daddy?!" Tanya Daffa
Menghela nafasnya pelan Devano melirik sekilas Devina lalu berjalan menghampiri Daddy nya.
"Kasih kunci motor ke Pak Hadi kamu pulang sama Daddy." Kata Daffa
Devano mengangguk patuh dan dia menatap Devina cukup lama lalu menghela nafasnya pelan sebelum menghampiri Daffa yang sudah berjalan lebih dulu.
Daffa tidak pernah semarah ini pada anak-anaknya.
Tidak, dia bahkan tidak pernah marah apalagi dengan Devano.
Setelah suami dan anaknya keluar Fahisa bergegas menghampiri Devina yang mulai menangis.
"Sst jangan nangis sayang." Kata Fahisa sambil menghapus air mata anaknya
"Mommy jangan marahin Vano." Pinta Devina dengan isakan pelan
Tubuhnya sakit semua, tapi hatinya lebih sakit karena saudara kembarnya dimarahi dan dibentak.
"Tidak sayang." Kata Fahisa dengan lembut
"Daddy marahin Vano... Mommy bilang Daddy jangan marahin Vano." Pinta Devina semaki terisak
"Iya sayang tidak Daddy tidak akan memarahi Vano, udah nangisnya." Kata Fahisa masih setia menghapus air mata di wajah anaknya
"Daddy marah dan bentak Vano." Lirih Devina
"Daddy melakukan itu karena dia sayang kamu Devina." Kata Fahisa
"Tapi, Vano enggak salah... Mommy nanti Daddy marahin Vano lagi." Kata Devina
"Tidak sayang Mommy akan bilang Daddy ya?" Kata Fahisa yang dijawab dengan anggukan oleh anaknya
"Kalau Daddy marahin Vano.... aku enggak mau makan." Kata Devina
"Iya Vina sekarang udah jangan nangis." Kata Fahisa
Setelah Devina mulai tenang Fahisa mengusap pipinya dengan sayang dan meminta Devina untuk istirahat. Kedua anaknya memang memiliki ikatan yang begitu kuat bahkan Devina sangat tidak terima karena suaminya memarahi Devano.
Tersenyum kecil Fahisa mendekatkan wajahnya dan mencium kening anaknya.
"Cepat sembuh Vina"
¤¤¤
Selama perjalanan Devano hanya diam dan tidak berani mengatakan apapun, dia ingin bersama kembarannya hanya saja Devano tidak bisa membantah ucapannya. Sebenarnya bisa hanya saja Devina akan semakin sedih nanti apalagi tadi dia melihat mata berkaca-kaca kembarannya dan Devano memilih untuk menurut.
Dia tau kalau dia salah dan Devano juga akan menerima kalau Daffa memarahinya. Jadi sepanjang perjalanan Devano hanya diam dan ketika sampai di rumah dia juga tetap diam.
"Ke ruang kerja Daddy"
Mengangguk patuh Devano mengikuti langkah kaki Daffa menuju ruang kerjanya dan langsung duduk dihadapan Daddy nya.
"Maaf karena sudah membentak kamu." Kata Daffa membuat Devano mendongak
"Daddy tidak salah memang Vano yang salah." Kata Devano
"Daddy sangat takut kalau sesuatu terjadi pada Devina dan ketika tau bahwa dia tidak pulang bersama kamu membuat Daddy sangat marah." Kata Daffa dengan rahang mengeras
"Maaf Dad"
"Kembali ke kamar kamu Devano karena Daddy tetap tidak izinkan kamu ke rumah sakit." Kata Daffa
Ingin protes, tapi tidak bisa akhirnya Devano mengangguk patuh dan pergi ke kamarnya. Dia akan menelpon Mommy nya saja nanti untuk menanyakan kembarannya.
Selepas anaknya pergi Daffa menghela nafasnya pelan dan mengusak kasar wajahnya dia selalu saja lepas kendali kalau sudah menyangkut masalah seperti ini. Bahkan dia mengabaikan mata berkaca-kaca Devina ketika dia membantak Devano.
Beranjak dari tempatnya Daffa memilih untuk kembali ke rumah sakit dan meminta maaf pada anaknya.
"Pak Hadi jangan biarkan Devano pergi kemana-mana! Katakan padanya dia baru boleh pergi ke rumah sakit ketika sore." Kata Daffa ketika dia bertemu dengan Pak Hadi di luar
Setelah mengatakan hal itu Daffa kembali memasuki mobilnya dan menuju rumah sakit untuk melihat anaknya sekaligus meminta maaf. Sejak dulu dia paling tidak bisa melihat anak-anaknya terluka bahkan kalau anaknya sakit saja Daffa akan panik sendiri.
Mengeluh pusing saja Daffa akan langsung menyuruh untuk periksa ke dokter, setakut itu memang.
Menempuh perjalanan yang cukup lama mobil Daffa kembali terparkir di rumah sakit dan dia bergegas ke ruangan dimana Devina berada. Saat masuk dia dapat melihat anaknya yang terisak dan membuat Daffa semakin panik.
"Hisa kenapa?" Tanya Daffa membuat Fahisa menoleh sebentar
"Kata Vina tangannya sakit banget." Kata Fahisa
"Sakit sayang?" Tanya Daffa dengan lembut
Menghapus air matanya dengan pelan Devina mengangguk.
"Sakit Daddy, tapi sekarang sudah tidak terlalu sakit." Keluh Devina
"Biar daddy panggil dokter ya?" Kata Daffa
"Sudah Mas tadi dokter sudah kesini kok." Kata Fahisa
Mengangguk faham Daffa langsung duduk di dekat ranjang anaknya ketika Fahisa memberikan tempat untuknya. Tersenyum tipis Daffa mengusap puncak kepala Devina dengan sayang dan membuat anaknya memejamkan matanya.
Tapi, dia langsung teringat Devano dan secara refleks kembali membuka matanya.
"Daddy"
"Iya Vina butuh sesuatu?" Tanya Daffa lembut
"Vano mana?" Tanya Devina pelan
"Di rumah sayang." Kata Daffa
"Jangan marahin Vano Daddy." Kata Devina membuat Daffa tersenyum dan mengangguk
"Iya enggak"
"Vano enggak salah jangan dimarahin Vina ikut sedih." Kata Devina dengan mata yang kembali berkaca-kaca
"Iya Vina enggak." Kata Daffa sambil tersenyum
"Tadi dada Vina sesak karena Daddy marahin Vano." Kata Devina
Tersenyum singkat Daffa mendekatkan wajahnya dan mencium seluruh wajah Devina dengan lembut.
"Janji enggak akan marahin Vano lagi"
Mendengar itu Devina tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Kembarannya tidak boleh dimarahi.
¤¤¤
Sudah lebih dari lima belas menit Devano ada di dekat kembarannya sambil mengusap puncak kepalanya dengan lembut, tapi tidak mengatakan apapun. Wajahnya diliputi kesedihan dan setiap Devina bertanya Devano hanya akan menjawab dengan gelengan atau anggukan singkat.
Mata pria itu juga terlihat memerah membuat Devina jadi ikut sedih. Kalian tau sendiri kalau Devina itu cengeng jadi melihat Devano sekarang membuatnya sedih hingga ingin menangis.
"Maafin aku Vin." Kata Devano setelah cukup lama terdiam
"Jangan minta maaf." Kata Devina dengan senyuman
Saat ini mereka hanya berdua sedangkan orang tuanya pergi makan di kantin rumah sakit karena memang belum makan apapun sejak tadi.
"Maaf"
"Devano jangan minta maaf!" Kata Devina dengan bibir mengerucut
Devano menghela nafasnya pelan lalu memegang dahinya cukup kencang dan Devina melihat bahunya yang bergetar.
"Vano?"
"Maaf Vin karena gak bisa jagaiin kamu." Kata Devano pelan
Sekali lagi Devano menghela nafasnya dan mengusap kasar wajahnya lalu menatap Devina yang juga menatapnya dengan wajah penuh kesedihan.
"Vano jangan gituu." Kata Devina
Devano tersenyum dan mengusap pipi Devina dengan lembut.
"Jangan sedih." Kata Devano
"Makanya Vano jangan gitu." Kata Devina yang kembali berkaca-kaca
"Jangan nangis, aku sayang kamu Vin." Kata Devano tulus
"Vina juga sayang Vano"
Tersenyum manis Devano mencium kening kembarannya dengan sayang.
"Tangan dan kaki aku sakit semua tadi." Kata Devano
"Dada aku sesak karena kamu dimarahin Daddy." Kata Devina
Devano mengusap puncak kepala kembarannya dengan sayang.
Dalam diam Devina memperhatikan dan dia memutuskan untuk tidak melanjutkan seleksi beasiswa itu.
Dia tidak mau dan tidak bisa berjauhan dengan keluarganya.
¤¤¤
Hehe iya gitu lahh pokoknya😂
Aku mau tamatin cerita ini boleh gaaaa???