
Mengikuti langkah kaki Ziko dengan terburu-buru Devina mengerucutkan bibirnya sebal kekasihnya itu merajuk karena ketika menjemput tadi ada Alex di rumahnya. Sebenarnya Alex ke rumah bersama Chiko juga karena mereka ingin mengajak Devano bermain basket, tapi Ziko sudah lebih dulu kesal padanya dan hal itu menyebalkan.
Langkah kaki Devina terhenti ketika Ziko juga berhenti dia menatap kekasihnya itu dengan lugu membuat Ziko menghela nafasnya pelan lalu meraih tangannya dan digenggam. Senyum Devina mengembang lebar dia menautkan jarinya dengan jari Ziko dan mereka bersama-sama masuk ke dalam rumah.
Tapi, senyum Devina perlahan pudar ketika melihat siapa yang ada di rumah kekasihnya.
"Gak lupa kan Ko? Kita ada tugas kelompok yang besok di kumpul tadi gue chat dan lo gak balas Nizam lagi di jalan"
Ada Tiara di rumah kekasihnya dan hal itu membuat Devina kesal padahal Ziko bilang dia tidak ada rencana apapun.
"Hah? Tugas apa Ra? Perasaan gak ada." Kata Ziko
"Coba deh liat chat gue sama Nizam udah chat lo kita juga baru inget kalau di kumpulnya besok." Kata Tiara
Menghela nafasnya pelan Ziko mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan membuka chat dari Nizam yang mengirim pesan beberapa jam yang lalu.
"Nizam udah di jalan kan?" Tanya Ziko
"Udah"
"Yaudah tunggu bentar gue ambilin minum, kamu tunggu bentar ya Vin." Kata Ziko
Devina hanya diam sambil mengangguk singkat lalu duduk di hadapan Tiara dan memasang wajah juteknya.
Tidak ada percakapan sama sekali Devna bahkan enggan menatap teman kekasihnya yang sekarang duduk dihadapannya. Masih tetap diam hingga Ziko kembali dan Nizam bersama Putra yang baru saja masuk ke dalam.
"Vin bentar ya? Aku lupa kalau ada tugas ke..."
"Iya enggak papa." Kata Devina
Ziko baru ingin bicara lagi, tapi kedua temannya sudah lebih dulu bersuara ketika mereka melihat Devina yang sedang duduk disana.
"Ehh ada pacarnya Ziko." Kata Nizam
"Tunangan Zam." Kata Putra
"Oh iya tunangan, apa kabar Vina? Eh Vina kan namanya?" Tanya Nizam tidak yakin
"Heem aku baik." Kata Devina sambil tersenyum
"Ada yang bawa laptop gak?" Tanya Ziko
Mereka bertiga menggelengkan kepalanya pelan membuat Ziko akhirnya pergi ke kamar untuk mengambil laptop miliknya dan melihat hal itu Devina mengikutinya. Begitu masuk kamar Devina langsung merengek dan protes pada Ziko sambil mendudukkan dirinya di atas ranjang.
"Ziko ih katanya gak ada rencana apa-apa." Keluh Devina
"Aku juga lupa Vin, maaf." Kata Ziko
"Betee aku mau disini aja gak mau keluar." Kata Devina
"Yaudah iya kamu disini aja, janji cuman sebentar aku selesain secepatnya." Kata Ziko
"Kalau udah selesai Vina mau ke kedai ice cream." Kata Devina lagi
"Iya nanti kita kesana." Kata Ziko
"Mama mana?" Tanya Devina lagi
"Arisan"
"Em yaudah sana Ziko turun Vina mau tiduran disini aja." Kata Devina
Tersenyum tipis Ziko mengangguk lalu memeluk Devina sebentar dan mencium puncak kepalanya dengan sayang.
Setelah itu Ziko keluar dari kamar dan menghampiri teman-temannya yang kini menatap dengan penasaran karena tidak melihat Devina ikut turun.
"Lah Vina mana Ko?" Tanya Nizam
"Di kamar mau tidur katanya lagian gue juga kan mau nugas dari pada nanti dia bosan." Kata Ziko
"Boleh?" Tanya Tiara dengan alis bertaut
"Emang gak boleh? Dia tunangan gue dan Mama juga gak pernah masalah bahkan Vina pernah nginep di sini." Kata Ziko sambil mengangkat bahunya acuh
Mereka mengangguk singkat dan memilih untuk tidak bertanya lagi ketika Ziko mulai menghidupkan laptop miliknya, dia yakin Devina pasti merajuk.
Kenapa jadi Devina sekarang yang ngambek?
¤¤¤
"Vin aku udah selesai katanya mau ke..."
Perkataan Ziko terputus dan terganti dengan senyuman manisnya kala melihat Devina yang ternyata sudah tertidur lelap di sofa dengan tangan memegang ponsel yang masih menyala. Melangkahkan kakinya masuk Ziko membiarkan pintu kamarnya terbuka lalu menghampiri Devina dan mengambil ponselnya perlahan untuk dia letakkan di meja.
Menggelengkan kepalanya pelan Ziko menyentuh pelan pipi Devina, tapi gadis itu tetap tidak berkutik dan hal itu membuat Ziko memutuskan untuk memindahkan Devina ke ranjangnya. Membaringkan Devina dengan hati-hati Ziko menarik selimut untuk menutupi tubuh Devina lalu mengusap dengan lembut kepalanya.
Teman-temannya sudah pada pulang tadi makanya Ziko langsung ke dalam untuk menemui Devina dan mengajaknya ke kedai ice cream.
"Ya ampun Vin kamu gemes banget sih lagi tidur gini." Kata Ziko sambil memperhatikan Devina yang terlihat begitu lelap
Saat tengah asik memperhatikan Devina ponsel kekasihnya itu berbunyi membuat Ziko langsung beranjak dari tempatnya dan mengangkat panggilan dari kembaran Devina.
"Kenapa Van?" Tanya Ziko
'Vina mana? Mommy nanyaiin katanya jangan pulang sampai malam karena kami mau ke rumah Kak Ara'
"Iya nanti gue kasih tau Vina nya tidur." Kata Ziko
'Tidur? Kok bisa? Bukannya kalian keluar untuk jalan-jalan?'
"Iya tadinya gitu, tapi gue lupa ada tugas untuk besok dan Vina ikut gue ke rumah dia nunggu di kamar selagi gue ngerjaiin tugas eh ketiduran." Kata Ziko menjelaskan
'Jangan macem-macem!'
"Iya Van ya ampun ini pintu kamar juga kebuka lebar." Kata Ziko
'Jam lima antar Vina pulang!'
"Iya"
Mengambil ponsel miliknya Ziko mengambil gambar Devina yang tertidur lelap hingga berkali-kali. Setelah itu Ziko mencium sayang keningnya dan beranjak ke sofa sambil meraih gitar miliknya.
Dia akan menunggu hingga Devina terbangun.
¤¤¤
Di tempat lain Devano kembali menemui Adara yang belakangan ini memang seperti menghindarinya dan hal itu sangat menyebalkan bahkan Adara mengabaikan pesan serta telpon darinya. Sekarang Devano berada di rumah Adara dan gadis itu sedang duduk dihadapannya, tapi tidak mau menatapnya.
Sungguh semenjak hari dimana Juan hampir membuatnya celaka Adara seolah menghindarinya padahal Devano sudah berkali-kali meyakinkan kalau dia baik-baik saja. Sudah lima belas menit mereka diam dengan Devano yang menatap kekasihnya tajam.
"Adara kenapa kamu hindarin aku? Ada masalah apa?" Tanya Devano
"Enggak ad..."
"Mau bohong? Jawab sambil lihat aku!" Tegas Devano
"Van gue..."
"Jelasin sekarang kamu kenapa! Ada masalah apa sampai kamu hindarin aku?" Tanya Devano lagi
"Van aku cuman gak mau bikin kamu celaka lagi." Kata Adara pelan
"Kamu apaan sih Ra? Itu semua bukan salah kamu, kenapa kamu terus-terusan nyalahin diri kamu sendiri kayak gini coba?!" Tanya Devano kesal
"Van kamu gak nger...."
"Kamu yang gak ngerti, aku udah bilang ini bukan salah kamu dan aku udah bilang kalau aku gak mau pergi." Kata Devano
"Van..."
"Oke kalau gitu sekarang kamu bilang, mau kamu apa? Kamu mau aku pergi? Kamu mau kita putus? Kamu mau aku ninggalin kamu sendirian?" Tanya Devano
Adara terdiam sambil mengalihkan pandangannya, jelas saja dia sangat tidak mau kalau hal seperti itu sampai terjadi.
"Jawab Ra kamu mau kita gimana? Aku udah janji sama Bunda bakal jagaiin dan selalu ada untuk kamu, apa kamu mau buat aku ngelanggar semua janji itu?" Tanya Devano
"Enggak"
"Semua itu kecelakaan berhenti salahin diri kamu sendiri, aku udah berjuang sejauh ini Adara dan kamu mau aku berhenti gitu aja?" Tanya Devano lagi
"Maaf Van"
"Adara yang aku kenal gak kayak gini." Kata Devano
"Maaf"
"Sekali lagi aku tanya, kamu mau kita gimana?" Tanya Devano
Adara diam dan tidak memberikan jawaban apapun membuat Devano menghela nafasnya pelan.
"Kamu mau kita udahan?" Tanya Devano lagi
"Enggak, aku cuman punya kamu." Kata Adara sambil menatapnya dengan sedih
"Kalau gitu jangan menghindar." Kata Devano pelan
Adara mengangguk singkat lalu mendekat dan memeluk Devano dengan erat. Membalas pelukan kekasihnya Devano mencium puncak kepala Adara dengan sayang sambil mengusap rambutnya.
"Aku gak mau kita kayak gini Adara, jangan hindarin aku." Kata Devano
"Iya"
Melepaskan pelukannya Devano mengambil sesuatu dari saku celananya lalu menatap Adara dengan senyuman dan memakaikan cincin di jari manisnya tanpa permisi.
"Jangan cemas tentang apapun cukup percaya sama aku"
Adara tersenyum lalu menganggukkan kepalanya dan kembali memeluk Devano dengan sayang, dia hanya memiliki Devano sekarang.
'Kamu bangga sekali ya? Tentu saja kamu pasti bangga memiliki bocah kurang ajar yang sok berani itu'
Perkataan Juan kembali terdengar di telinga Adara, tapi bolehkah dia mengabaikannya?
Adara benar-benar tidak ingin kehilangan Devano dihidupnya.
"Van kamu beneran sayang sama aku kan?" Tanya Adara
"Kamu masih ragu?" Tanya Devano
"Enggak"
"Kalau enggak kenapa masih tanya?" Kata Devano
"Hanya ingin mendengar kamu mengatakannya sendiri." Kata Adara pelan
"Aku sayang kamu Adara." Kata Devano
"Makasih udah selalu ada untuk aku Van." Kata Adara
"Jangan pernah minta aku pergi atau aku akan membawa kamu lari dan mengurung kamu agar kamu tetap bersamaku." Kata Devano
Mendengar hal itu Adara tertawa dan memeluknya dengan lebih erat sambil memejamkan matanya lalu mengatakan sesuatu yang membuat Devano tersenyum.
"Pemaksaan"
Devano bisa melakukannya untuk mempertahankan Adara di sisinya.
¤¤¤
Kalian mau aku update nya banyak yaa hehe😂
Besok aku double up dehh😆