
"Devina ayo jawab"
Pertanyaan itu terus Devano ajukan meskipun Fahisa memintanya untuk berhenti bertanya pada Devina, tapi dia terus mengikuti kembarannya hingga ke kamar dan masih meminta jawaban. Hal itu membuat Devina kesal juga, dia bingung harus bicara apa dan lagi dia malu mengatakannya pasti Devano akan memarahi kekasihnya nanti.
Ayolah dia memang tidak mungkin menjawabnya karena selain Ziko yang akan dimarah dia juga akan dimarah nanti oleh kembarannya, jadi Devina memilih untuk menutup mulutnya. Sekarang Devano ada di kamarnya melarang Devina untu melakukan apapun sebelum menjawab pertanyaannya.
Ketika Devina mengambil ponsel Devano merebutnya dan ketika Devina mengambil novem Devano juga merebutnya, begitu terus.
"Ihh Vanoo udah sanaa! Aku kan bilang gak ada apa-apa." Keluh Devina
"Ngapain gak? Jawab yang jujur." Titah Devano
"Gak ngapa-ngapain Vanoo." Kata Devina sambil menunduk
"Lihat mata aku terus bilang kalau kamu gak ngapa-ngapain sama Ziko." Kata Devano
Devina mendongak dan menatap mata kembarannya, tapi dia langsunh kehilngan kata-katanya.
"Kan bohong!" Kata Devano galak
"Gak ngapa-ngapain Vano aku sama Ziko cuman ke loteng terus buka kado disana...."
Devina diam sambil menunduk tidak berani mengatakan apapun lagi.
"Terus? Apa lagi?" Desak Devano
"Yaudah"
"Pasti ada kan? Ngapain? Kalian ciuman ya?" Tebak Devano dengan mata memicing
Devina membulatkan matanya lalu menggelengkan kepala dengan cepat, tapi kepanikan dan wajah memerahnya membuat Devano yakin.
"Kalian ciuman?!" Tanya Devano
"Ihh enggakk." Kata Devina
"Dimana? Disini?!" Tanya Devano sambil menekan bibir bawah Devina pelan
Devina merengek dan menepis tangan kembarannya dengan wajah semakin memerah.
"Enggakk"
"Bener kan? Dasar Ziko aku bakal ajak dia ketemu." Kata Devano membuat Devina langsung menahannya
"Ihh jangan! Vano nih kenapa sih? Kamu juga pernah kann sama Adara?!" Kata Devina sambil melotot
"Gak pernah disitu." Kata Devano
"Yaudah coba." Kata Devina membuat Devano melotot mendengarnya
"Ngomong apa kamu barusan?" Tanya Devano sambil mencubit pipinya kuat
"Sakitttt"
"Ziko bener-bener aku bakal bilang Daddy." Kata Devano
"Jangan Vanoo! Aku nangis yaaa?" Kata Devina sambil memasang wakah cemberutnya
"Siapa yang suruh kalian cium-ciuman?! Gak boleh Devina kamu masih kecil." Kata Devano
"Udah mau kuliah bukan anak kecil lagi." Balas Devina
"Ya sama aja gak boleh cium-ciuman apalagi disini." Kata Devano sambil menyentuh bibirnya lagi
"Katanya Ziko refleks makanya dia cium aku." Kata Devina polos
Ziko maafkan pacar kamu yang terlalu polos.
"Vinaaa"
"Vano coba aja sama Adara juga." Kata Devina masih dengan wajah polosnya
"Vin kamu bener-bener yaaa." Kata Devano
Dengan gemas dia mencubit kedua pipi Devina kuat hingga membuat kembarannya itu meringis kesakitan dan memukul-mukul tangannya.
"Cuman nempel doang kok terus udah gak lama." Kata Devina
Devano benar-benar tidak faham dengan kembarannya.
Dia mengambil ponsel Devina yang ada di meja lalu mencari nomor telpon Ziko disana membuat Devina berseru dan mencoba merebutnya. Namun, Devano yang terlalu tinggi mengangkat ponselnya dengan dering yang terdengar karena dia menghidupkan loadspeaker.
Telponnya diangkat membuat Devano tersenyum sedangkan Devina panik bukan main.
'Kenapa Vinaa?'
"Ziko! Berani-beraninya lo cium Devina?! Gue bolehin dia kesana untuk ngerayaiin ulang tahun!" Kata Devano
'Vano ya? Refleks Van sumpah habisnya Devina gemesin mukanya polos banget'
"Terus?! Tetap aja gak boleh! Lo bener-bener ya Ziko!" Kata Devano kesal
'Elah Vano kayak lo gak pernah aja, kalian kan sering berduaan malah lo sering ke rumahnya kan?'
"Kenapa bahas gue?!" Tanya Devano kesal
'Ya lo kayak gak pernah aja'
"Memang gak pernah!" Sentak Devano membuat pacar kembarannya itu tertawa
Devina bersyukur karena mereka bicara lewat telpon coba kalau bertemu langsung Ziko pasti sudah dipukul.
'Coba makanya Van'
"Awas lo kayak gitu lagi ke Devina! Gak gue kasih izin buat pergi sama dia lagi." Kata Devano sambil mematikannya secara sepihak
Setelah itu Devano melemperkan ponsel kembarannya ke kasur dan menatap kembarannya lalu mencubit pipinya lagi.
"Awas ya Vin kayak gitu lagi! Aku bilangin Daddy!" Ancam Devano
Devina baru akan bicara, tapi suara yang terdengar membuat mereka berdua menoleh.
Suara Daffa dia baru saja masuk ke dalam kamar Devina ketika Devano mengucapkan itu padanya.
Devina langsung menatap kembarannya dengan raut wajah sedih meminta agar pria itu tidak memberi tau apapun.
"Vina Dad"
"Iya kenapa Vina?" Tanya Daffa sambil masuk ke dalam kamar anaknya
"Vano jangannn"
"Kenapa jangan? Katakan saja Vano ada apa?" Tanya Daffa
"Devina dia..."
"Vanooo"
"Devina diam biarkan Vano bicara." Kata Daffa membuat Devina menundukkan kepalanya
"Devina dia daftar beasiswa di kampus Korea Selatan." Kata Devano membuat Devina mendongak dan menatapnya dengan senyuman tipis
"Apa? Kenapa kamu tidak bilang!? Siapa yang kasih izini?" Tanya Daffa
"Sudah tinggal tahap terakhir, tapi gak dia lanjutin karena takut dimarahin makanya Devina baru bilang sama Vano tadi." Kata Devano
Kali ini Daffa merasa lega dan langsung menghampiri Devina lalu memeluknya.
"Jangan jauh-jauh disini aja Daddy gak tenang kalau kamu jauh disana." Kata Daffa
Devina tersenyum dan membalas pelukan Daffa lalu menganggukkan kepalanya.
"Iya Dad"
Dia juga menatap Devano sambil tersenyum yang dibalas dengan senyuma juga oleh kembarannya.
Devano tidak terlalu menyebalkan ternyata.
¤¤¤
"Vanoo"
Sebuah pelukan Devano dapatkan ketika dia sampai di rumah kekasihnya dan ketika masuk ke dalam dia dapat melihat kalau kekasihnya itu habis membersihkan rumah. Ada sapu serta beberapa lap yang membuat Adara menunjukkan cengirannya lalu bergegas membereskan semuanya.
Tertawa kecil Devano melangkahkan kakinya dan duduk di sofa sambil melihat beberapa foto mereka yang bertebaran disana. Iya, foto Devano dan Adara yang beberapa kali mereka ambil bersama ketika sedang pergi atau jalan-jalan.
Ternyata Adara cetak semuanya.
"Mau aku masukin ke album foto aku udah beli." Kata Adara sambil tersenyum dan duduk disamping kekasihnya
Devano ikut tersenyum dan mengusap puncak kepalanya dengan sayang.
"Mana? Sini kita pasang bareng-bareng." Kata Devano
Adara tersenyum lalu memgambil album foto yang dia letakkan di laci dan menaruhnya di atas meja berdekatan dengan foto yang berserakan disana. Album itu bergambar hati dengan ukuran yang tidak terlalu besar, tapi cukup tebal.
Bersama-sama mereka menyusun foto itu ke dalam album dan ketika selesai Adara tersenyum lalu memeluk albumnya.
"Sekarang aku bisa lihat ini terus." Kata Adara
Dia mengeluarkan album lain dari laci dan meletakkan disamping album yang berisikan foto mereka.
"Ini foto aku sama Bunda dan yang ini foto kita berdua." Kata Adara senang
Devano tersenyum dan memeluknya lagi yang langsung Adara balas dengan tidak kalah erat.
"Van aku mau masak mie kamu mau?" Tanya Adara setelah mereka berpelukan cukup lama
"Hmn aku udah sering makan mie kamu aja yang makan." Kata Devano
"Yaudah kalau gitu ikut aku ke belakang aja kamu temenin aku makan sambil nyemil." Kata Adara
Devano mengangguk dan mengikuti langkah kaki kekasihnya lalu duduk sambil menunggu Adara memasak mie instannya. Sambil menunggu air mendidih Adara membuka laci dan mengambul beberapa makanan ringan.
"Jangan sering makan mie." Kata Devano
"Hmm enggak kok aku udah lama gak makan mie." Kata Adara
"Aku mau ke kamar mandi sebentar." Kata Devano yang dijawab dengan gumaman oleh Adara
Sekitar lima menit Devano kembali dan melihat kekasihnya itu yang sedang makan sambil menatap ke luar jendela.
Tersenyum singkat Devano mengeluarkan ponselnya lalu mengambil gambar kekasihnya yang sedang makan dari samping.
Mendudukkan dirinya disamping sang kekasih Adara menoleh dan tersenyum senang.
Mendadak Devano diam matanya mengerjap berkali-kali ketika fokusnya berada pada bibri Adara.
'Vano coba aja sama Adara'
'Coba makanya Van'
Menggelengkan kepalanya dengan cepat Devano merasa kalau dia sudah gila sekarang.
"Kenapa Van?"
Dan matanya masih terfokus pada bibir Adara.
Sadar Devano, batinnya berteriak
Devano tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan lalu mengalihkan pandangannya.
Semua karena Devina dan Ziko!
¤¤¤
Haha Devano mulai terpengaruhh😂