My Possessive Twins

My Possessive Twins
Devano (25)



Rencana untuk memberikan kejutan pada Mommy tidak terlalu berjalan lancar karena Mommy sakit dan harus pergi ke klinik, tapi pada akhirnya mereka tetap melakukan perayaan kecil itu di ruang makan tanpa Mommy yang memakan kuenya. Sejak tadi Devina juga terlihat tidak semangat karena merasa bahwa Mommy sakit karena dia, memang benar kalau sebelum pergi Mommy tidak terlalu sehat dan merasa pusing, tapi keinginan untuk pergi bukan hanya karena paksaan dari Devina melainkan Mommy juga mau bertemu dengan anak-anaknya.


Sekarang Devano ada di ruang tengah bersama dengan Adara sedangkan yang lain sudah kembali ke kamar mengingat waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Rasa kantuk belum menghampiri Devano makanya dia masih disini dan Adara juga bilang kalau dia belum mengantuk, tenang tidak akan terjadi apapun.


Devano tidak segila itu.


"Van"


"Hmm"


"Vina itu orangnya sensitif banget ya? Dia merasa bersalah banget sama Mommy kamu." Kata Adara


"Iya dia memang gitu Ra kalau merasa bersalah sama seseorang pasti kayak gitu sampai nangis susah di buat berhentinya." Kata Devano


"Sedih banget dia padahal waktu di dapur tadi dia semangat banget, tapi waktu makan malam kelihatan banget sedihnya." Kata Adara


"Sampai besok pasti masih gitu." Kata Devano


"Iya?"


"Iya pasti masih gitu malah mungkin sampai pulang." Kata Devano


"Kamu hibur dong Van biar gak sedih lagi gak tega juga liatnya dia sedih terus gitu." Kata Adara jujur


"Iya Ra"


Adara tersenyum lalu bersandar di bahu Devano dan menggenggam tangannya.


"Van"


"Hm ada apa sayang?" Tanya Devano


"Enggak hehe aku cuman gak sabar deh mau coba baju." Kata Adara


"Baju?"


"Iya baju yang udah kita pesan." Kata Adara


Mengerti maksud ucapan kekasihnya Devano tertawa mereka memang sudah memesan pakaian untuk pernikahan nanti.


"Kamu pasti cantik banget Ra." Kata Devano


"Cantik ya?"


"Iyalah cantik." Kata Devano sambil mencubit pelan pipinya


"Kamu sekarang gak pendiam lagi ya Van." Kata Adara


"Kalau sama yang lain masih." Kata Devano


"Kamu sayang aku gak Van?" Tanya Adara


"Sayang banget"


"Cinta aku gak?" Tanya Adara


"Cinta, kenapa hm?" Tanya Devano sambil menunduk dan menatap wajah Adara


"Hehe enggak papa aku cuman nanya takut perasaan kamu tiba-tiba berubah." Kata Adara


"Aneh banget." Kekeh Devano


"Kamu tuh orang pertama selain Bunda sama Kakek yang sayang sama aku." Kata Adara


"Iya?"


"Heem waktu Bunda koma di rumah sakit aku benar-benar gak ada semangat lagi rasanya mau nyerah aja, tapi kamu datang dan aku masih bertahan sampai sekarang." Kata Adara


"Kamu mau tau gak Ra kenapa aku bisa tiba-tiba care sama kamu?" Kata Devano


"Kenapa?"


"Waktu itu aku sempat lihat dan dengar percakapan kamu sama Om Juan setelah keluar dari ruang bk lalu aku ikutin kamu dan dengar kamu yang lagi nangis, entah kenapa Ra saat itu hati aku sakit padahal posisinya kita enggak dekat aku juga bukan tipe orang yang peduli sama orang lain." Kata Devano


Adara menatapnya dalam diam dan dia tersenyum kalau Devano mengusap sayang pipinya.


"Setelah hari itu aku selalu mau dekat sama kamu melindungi kamu dan kasih kamu banyak kebahagiaan serta membuat kamu selalu tersenyum, aku jatuh cinta Ra sama kamu, iya semudah itu." Kata Devano


"Makasih"


"Kamu beda dari Devina atau Kak Ara, tapi aku suka kamu yang mandiri meskipun kadang suka nyebelin karena gak mau aku bantu lalu kamu yang berusaha kuat padahal sedang rapuh, aku suka Ra dan aku selalu berjanji akan buat kamu bahagia, selalu." Kata Devano


"Kamu memang sudah buat aku bahagia Van." Kata Adara


Devano tersenyum dan mengacak gemas rambut Adara lalu mata mereka bertemu.


Tatapan penuh kelembutan yang membuat Devano juga Adara terdiam dengan jantung yang berdetak sangat cepat.


Wajah Devano mendekat membuat Adara memejamkan matanya ketika hidung mereka bersentuhan dan dalam hitungan detik bibir mereka bertemu, Devano menciumnya.


Tangan yang semula diam berpindah ke wajahnya Devano mengusap lembut pipinya membuat Adara semakin terlena.


Entah berapa lama, tapi Devano menjauh begitu sadar bahwa mereka butuh bernafas, dahi mereka masih bersentuhan dan keduanya kembali bertatapan. Sekali lagi Devano memberikan ciuman singkat di bibirnya sebelum akhirnya menjauhkan wajahnya dan mengusap lembut bibir bawahnya.


"Van"


"Hm"


"Gimana kalau ada yang lihat?" Kata Adara pelan


"Paling di nikahin." Canda Devano


Adara berdecak pelan dan menatap Devano yang tersenyum padanya.


"Rambutnya berantakan." Kata Devano sambil merapihkan rambut Adara dengan kedua tangannya


Adara terdiam dengan jantung yang berdetak sangat cepat, dia bukan hanya senang melainkan juga takut kalau ada yang melihat.


"Udah ngantuk?" Tanya Devano


Adara mengangguk, dia berbohong karena Adara belum mengantuk, tapi tidak dia tidak mau berlama-lama berdua di sini bersama dengan Devano apalagi sebagian lampu sudah di matikan.


Sangat berbahaya.


"Yaudah aku antar ke kamar." Kata Devano


Menerima uluran tangan kekasihnya Adara bersama dengan Devano menaiki tangga lalu berhenti di pintu kamar tempat Adara tidur.


"Kamu tidur ya? Maaf aku kelepasan tadi." Kata Devano sambil mengusap tengkuknya


Adara hanya bergumam pelan dia berjinjit dan mencium pipinya sebentar lalu setelahnya masuk ke dalam.


"Selamat malam Van"


Tidak, sepertinya Devano tidak akan bisa tertidur.


°°°°


Eyy aku updateee🥰


Nanti lebaran aku update banyakkk🤣


Salam sayang dari Adara💕