
"Vina kamu beneran mau pergi sama Alex?"
Percayalah bahwa pertanyaan itu sudah diajukan oleh Devano sebanyak lima kali sejak Devina bersiap untuk pergi makan malam bersama dengan Alex, dia tidak mengerti kenapa Devano harus bertanya sampai berkali-kali. Sampai sekarang juga Devano masih di kamarnya memperhatikan Devina yang sedang mencari baju di dalam lemarinya lalu seperti biasa Devano langsung mendorong tubuh kembarannya sedikit dan mencari pakaian yang pantas untuk dipakai.
Menggelengkan kepalanya pelan Devina hanya bisa menerima pakaian yang kembarannya itu pilihkan karena hanya itu kuncinya agar dia diizinkan pergi. Memang benar kata Alex kembarannya itu sangat sensi dan penuh kecurigaan terhadap Alex bisa dibilang Devano sangat tidak percaya dengan Alex.
"Aku bisa cari sendiri Van, janji deh bakal pakai yang panjang." Kata Devina
Seakan tidak perduli Devano mengeluarkan sweater panjang serta celana jeans lalu mencarikan kaos kaki untuk dipakai Devina dan setelah selesai dia menatap kembarannya dengan tatapan yang seolah bicara.
'Pakai yang sudah aku siapkan'
Menghela nafasnya pelan Devina mengambil pakaian yang sudah Devano keluarkan lalu pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Sudah ketentuan mutlak kalau Devina mau pergi keluar kembarannya akan mengatur pakaian yang harus dia pakai dan jam pulangnya juga.
Mau protes karena Devano terlalu banyak mengatur dia tidak bisa karena orang tuanya juga sangat mendukung kembarannya.
Apalagi Daddy nya yang malah mengatakan.
'Bagus dong sayang berarti Vano peduli sama kamu dan menurut Daddy semua yang dia lakukan itu memang baik untuk kamu'
Ya, Devina bisa apa kalau sudah begitu.
Sekitar sepuluh menit Devina keluar dari kamar mandi dan masih mendapati kembarannya yang sedang memainkan ponsel miliknya.
"Sebentar lagi Alex sampai." Kata Devano
Dia mendongak dan menatap Devina dari atas sampai bawah lalu meletakkan ponsel kembarannya di atas ranjang dan menghampiri Devina yang sedang berkaca.
"Jangan dikuncit Vin udah berapa kali di kasih tau juga." Kata Devano sambil melepas ikat rambut kembarannya
"Panas tau Van apalagi aku pakai sweater." Keluh Devina
Menghela nafasnya pelan Devano mengikat rambut kembarannya pendek tidak setinggi yang Devina lakukan.
"Gini aja." Kata Devano
Mengerucutkan bibirnya sebal Devina berbalik lalu mencubit pipi Devano dengan gemas.
"Aku mau potong rambut aja." Kata Devina
"Jangan!" Kata Devano dengan wajah galaknya
"Habisnya gak boleh diikat terus kan panas." Kata Devina
"Kalau di rumah boleh." Kata Devano santai
Baru akan protes suara Fahisa yang memanggil membuat Devina mengurungkan niatnya dan mengambil tas miliknya lalu keluar dari kamarnya diikuti dengan Devano yang berjalan dibelakangnya.
Saat sampai di bawah sudah ada Alex yang duduk bersama orang tuanya, mungkin sedang meminta izin untuk mengajaknya keluar. Setelah selesai meminta izin Devina berjalan keluar bersama dengan Alex dan masih diikuti Devano yang berjalan dibelakangnya.
Sesampainya di luar Devano menghampiri mereka berdua dan menatap Alex dengan tajam, memberi peringatan.
Matanya seolah bicara pada Alex.
'Jangan macam-macam sama Devina'
Alex tersenyum geli lalu menghampiri Devano dan menepuk pelan pundaknya, temannya yang satu itu selalu berburuk sangka padanya.
"Elah Van sensi bener sama gue." Kata Alex
"Jam sembilan sampai rumah." Kata Devano tegas
"Iya Van iya lo di chat juga bilang sampe berkali-kali." Kata Alex
Devano memilih untuk tidak menanggapi dan menyuruh keduanya untuk segera berangkat agar tidak pulang terlalu malam.
Sebelum motor milik Alex melaju pergi Devina melambaikan tangannya pada Devano lalu berpegangan di kedua pundak Alex ketika pria itu mulai melajukan motornya.
Pertama kalinya Devina pergi bersama Alex.
Dulu ini merupakan salah satu hal yang sangat dia inginkan, pergi dan menghabiskan waktunya bersama Alex, tapi sekarang perasaannya terasa biasa tidak berbunga-bunga seperti dulu yang hanya memikirkannya saja dia sudah sangat bahagia.
Alex, cinta pertamanya, tapi apa cinta itu masih berlaku sampai sekarang?
Karena Devina tidak yakin dengan perasaannya sekarang.
Apa hatinya masih berlabuh untuk orang yang sama atau sudah berganti ke yang lainnya?
¤¤¤
Sial sial sial sial!
Berkali-kali Ziko mengumpat ketika melihat foto yang dikirimkan Gio dimana gadisnya dan Alex sedang makan malam bersama, berdua. Malam ini Gio memang sedang pergi keluar bersama teman-temannya lalu dia tanpa sengaja melihat Devina bersama dengan Alex dan langsung memberi tau pada temannya.
Hanya satu alasan Gio melakukannya, agar Ziko mengerti bahwa jika dia hanya diam dan tidak melakukan tindakan apapun maka Devina akan jatuh ke tangan orang lain.
Sama halnya dengan Mona dan yang lainnya Gio juga merasa sangat kesal dengan sahabatnya yang terlihat seperti pengecut karena tidak mau mengungkapkan perasaannya.
Gue udah bilang Ko jangan kebanyakan mikir
Semakin lama waktu yang lo habisin maka semakin besar juga kesempatan buat dia merebut Devina dari lo
Gentle dikit lah Ko masa gak bisa sih nyataiin perasaan?
Rentetan pesan dari Gio membuat Ziko menghela nafasnya kasar lalu meraih kunci motornya dan pergi ke tempat Gio dan yang lainnya berada.
Baiklah Ziko akan bertindak sekarang.
Setelah meminta izin pada Mama nya Ziko segera menghidupkan motornya lalu melaju ke tempat Gio dan teman-temannya berada.
Rasanya menyebalkan kalau harus berdiam diri di rumah dan memikirkan hal-hal apa saja yang dilakukan gadisnya dengan pria lain.
Akan lebih baik kalau dia berkumpul bersama yang lainnya.
¤¤¤
Tawa Devina pecah ketika Alex bercerita tentang masa kecilnya yang sangat lucu, dia mengatakan bahwa dulu dia melawan perkataan orang tuanya untuk tidak bermain, tapi akhirnya dia terkena karma dengan jatuh ke selokan. Saat ini mereka berdua sedang menikmati makan malam di salah satu restoran dengan design yang sederhana, tapi sangat menenangkan dan nyaman.
Sejak tadi mereka bercerita tentang banyak hal mulai dari kegiatan yang biasa dilakukan Devina sampai hal-hal yang sering dialami Alex selama dia bermain basket. Ternyata Alex sangat suka bermain basket sejak dia masih kecil pantas saja pria itu sangat pandai bermain basket.
"Terus kaki kamu gimana waktu itu?" Tanya Devina
"Terus aku gak dibolehin Mami main basket lagi, tapi aku bandel sih jadi pas udah gak kerasa sakit ya main lagi." Kata Alex sambil tertawa kecil
"Pantesan sampai sekarang bandel ternyata dari dulu memang udah bandel." Kata Devina
"Aku gak terlalu suka di atur Vin apalagi kalau disuruh berhenti ngelakuin apa yang aku suka." Kata Alex jujur
Mengangguk faham Devina menyeruput teh hangat miliknya lalu kembali menatap Alex.
"Kamu mau tau kenapa aku sama Hara putus? Bukan karena kamu, tapi karena aku gak suka dia banyak ngatur sering ngelarang ini itu dan aku gak suka." Kata Alex sambil tersenyum tipis
Devina hanya diam dan tidak memberikan tanggapan apapun, dia bingung harus mengatakan apa.
"Kamu udah gak marah kan masalah Hara yang waktu itu?" Tanya Alex
Menggelengkan kepalanya pelan Devina tersenyum manis, dia tidak pernah marah.
"Aku gak pernah marah masalah itu." Kata Devina
Alex tersenyum senang lalu menggenggam tangan Devina yang ada di atas meja dan membuat gadis itu tersentak kaget sambil menatap wajah Alex dengan bingung.
"Vin"
"Iya?"
"Aku mau bicara sesuatu yang penting sama kamu, boleh?" Tanya Alex
Devina mengangguk singkat, tapi sambil berusaha menarik tangannya yang sama sekali tidak berhasil membuat Alex melepaskannya.
Bukan melepaskan Alex justru mengusap tangannya dengan lembut, entah kenapa hal itu malah membuat Devina merasa tidak nyaman.
"Vin aku..."
Perkataan Alex terputus ketika ponsel Devina yang ada di meja berdering dan dengan tidak rela dia melepaskan tangannya karena Devina ingin mengangkat telpon.
"Halo Vano"
'Masih dimana?'
"Masih di restoran sama Alex, kenapa?" Tanya Devina sambil melirik jam ditangannya
Ternyata sudah jam setengah sembilan, pantas saja kembarannya itu pasti mau mengatakan kalau sebentar lagi dia harus segera pulang.
'Udah mau setengah sembilan, kasihin Alex telponnya aku mau ngomong sama dia'
Menghela nafasnya pelan Devina menyerahkan ponselnya pada Alex dan berkata bahwa Devano ingin bicara padanya.
"Kenapa Vano?" Tanya Alex malas
'Udah setengah sembilan, inget ya gue bilang jam sembilan sampai rumah'
"Lamaiin dikit lah Van." Kata Alex
Ayolah, dia bahkan belum jadi berkata jujur tentang perasaannya.
'Jam sembilan kalau lebih dari jam sembilan jangan ajak Devina keluar lagi'
Berdecak kesal Alex akhirnya mengatakan iya lalu kembali menyerahkan ponsel itu kepada Devina.
Setelah mematikan panggilan telponnya Alex menatap Devina yang sedang memasukkan ponsel ke dalam tas dan dia penasaran akan satu hal.
"Vina"
"Iya?"
"Mau nanya sesuatu boleh?" Tanya Alex membuat Devina mendongak lalu menganggukkan kepalanya
"Kamu kalau keluar malam-malam sama Ziko pulangnya jam berapa?" Tanya Alex
Devina mengerutkan dahinya bingung, tapi dia tetap menjawab pertanyaannya dengan jujur.
"Jam sembilan juga sama." Kata Devina
Alex mengangguk faham, berarti peraturan itu bukan hanya berlaku untuk Alex saja.
Baiklah dia harus mengurungkan niatnya untuk bicara jujur pada Devina dan mengatakannya di lain waktu.
"Yuk pulang"
Setelah membayar makanannya Alex mengajak Devina untuk pulang dan ketika di parkiran Alex memakaikan helm untuknya membuat Devina tersenyum lalu mengucapkan terima kasih.
Sepanjang perjalanan Devina hanya diam begitu juga dengan Alex yang fokus pada jalanan.
Jalanan yang tidak terlalu ramai membuat Alex hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di rumah keluarga Wijaya dan ketika Devina turun lalu melepaskan helmnya dia tersenyum senang.
"Makasih Alex"
Alex tersenyum lalu mengusap puncak kepala Devina dengan lembut.
"Sama-sama Vina"
Sebelum masuk Devina melambaikan tangannya dan meminta Alex untuk berhati-hati di perjalanan pulang.
Tapi, baru akan melangkah Alex sudah menahan lengannya dan mengatakan sesuatu yang tidak pernah dia duga sebelumnya.
"Aku sayang kamu Vin"
Setelah mengatakan hal itu Alex kembali mengusap sayang puncak kepalanya lalu benar-benar menghidupkan motornya dan berlalu pergi.
Aku sayang kamu Vin
Aku sayang kamu Vin
Aku sayang kamu Vin
Devina terdiam ketika suara Alex terus terngiang di telinganya dan tanpa dia minta batinnya berbicara.
apa aku masih sayang sama kamu juga Lex?
¤¤¤
Yahhh Ziko sihhh lamaaa😶
Gimana yaaa kira-kira jadinyaaaa😋