
Waktu berjalan dengan cepat hingga malam ini pertunangan Devano dan Adara akan dilangsungkan, rumah keluarga Wijaya sudah dipenuho dekorasi indah untuk pesta pertunangan nanti malam. Semua orang sibuk mempersiapkan banyak hal mulai dari memeriksa makanan hingga minuman yang akan dikeluarkan.
Hanya tinggal beberapa jam sebelum acara dimulai dan sekarang Devano ada di kamarnya bersama dengan Devina yang terlihat sangat antusias bahkan sejak tadi dia terus melirik jam. Hal itu membuat Devano tersenyum memang Devina yang justru terlihat sangat antusias dengan pertunangannya padahal Devano tampak biasa.
Oh iya Adara juga sudah ada disini lebih tepatnya di kamar Devina bersama dengan Sahara yang sedang memakaikam make up untuknya dan Devano dilarang melihat sebelum acara dimulai.
"Ish Vano ganteng banget pakai jas." Kata Devina dengan senyuman manisnya
"Iyalah makanya kembaran aku cantik." Kata Devano sambil mencubit gemas pipi Devina
"Em sebentar lagi Vano bakal tunangan pasti Vano senang ya?" Tanya Devina
"Senang Vin akhirnya Adara mau juga padahal aku udah ada niat untuk ngajak dia tunangan dari lulus sma." Kata Devano
"Dia malas sama Vano karena nakal." Kata Devina membuat Devano tertawa kecil mendengarnya
"Enak aja bilang aku nakal." Kata Devano
"Iya kok nakal suka cium bibirnya Adara." Kata Devina
Memasang wajah kesalnya Devano mencubit pipi Devina karena merasa gemas membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya sebal.
"Kamu sama Ziko yang lebih nakal ciuman di depan umum." Kata Devano
"Ih enggak di depan umum, tapi di dalam mobil." Kata Devina tidak terima
"Iya tapi orang-orang bisa lihat buktinya Daddy aja lihat." Kata Devano
"Ishh nyebelin." Kata Devina
"Dasar gak sabaran." Kata Devano
"Bukan aku Ziko dia yang cium duluan." Kata Devina jujur
"Tapi, kamu pasti pernah cium dia duluan kan?" Tebak Devano
"Ih enggak"
"Iya pasti itu mukanya merah." Kata Devano membuat kembarannya itu merengek pelan dan memukul lengannya
"Vanooo"
"Iya kan?" Kata Devano lagi
"Ish nyebelin! Gak mau sama Vano!" Kata Devina kesal
Dengan raut wajah cemberut Devina berjalan ke arah pintu sambil menghentakkan kakinya membuat Devano tertawa lalu menahan tangannya.
"Ngambek"
"Ya Vano nyebelin ngeledekin Vina terus." Kata Devina sebal
"Iya maaf." Kata Devano sambil mengacak-ngacak gemas rambutnya
"Jangan gitu." Kata Devina
Tertawa kecil Devano mengangguk lalu mengajak Devina untuk duduk di sofa dan merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Vanoo"
"Em"
"Vina mau nanya ya?" Kata Devina dengan senyuman
"Mau nanya apa?" Tanya Devano
"Kemarin waktu ke rumah Mona mereka bilang Vina mau di unboxing itu maksudnya apa?" Tanya Devina lugu
Devano menatapnya dengan tidak percaya begitu pertanyaan itu terlontar dari bibir kembarannya, bisa-bisanya teman Devina mengatakan hal itu pada kembarannya yang masih polos begini.
"Enggak ada Vin udah jangan dipikirin." Kata Devano
"Mereka bilang itu terus Vina penasaran." Kata Devina
"Enggak ada maksudnya udah." Kata Devano
"Kenapa?" Tanya Devina
"Udah nanti kalau kamu udah nikah juga tau." Kata Devano
Meskipun Devina masih cukup penasaran.
¤¤¤
Sahara menatap puas Adara yang sudah selesai dia pakaikan make up tipis sesuai permintaan gadis itu dan sekarang dia terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna merah maroon yang dipakai. Akhirnya selesai juga dia yakin Devano akan sangat terpesona ketika melihat Adara sekarang karena gadis yang biasa memakai kemeja dan jeans itu kimi memakai gaun serta make up.
Tersenyum tipis Adara mengucapkan terima kasih pada Sahara ketika dia menatap pantulan dirinya di cermin dan melihat betapa berbeda dirinya sekarang. Bahkan Adara sendiri pangling dengan penampilannya yang sangat berbeda dari biasanya.
"Ya ampun cantiknya sini duduk lagi sama Kakak." Kata Sahara
Adara menurut lalu kembali duduk di pinggiran ranjang Devina dan tersenyum senang.
"Makasih banyak Kak." Kata Adara
"Hey kenapa harus berterima kasih dengan calon kakak ipar kamu sendiri?" Kata Sahara membuat Adara tersenyum malu
"Kakak"
"Sudah sudah Kakak senang sekali kamu akan bertunangan dengan Devano." Kata Sahara
"Aku senang bisa bertemu dengan Vano dan keluarga ini." Kata Adara dengan senyuman tulusnya
Sahara tersenyum sambil mengusap kepala Adara dengan sayang membuat gadis itu tersenyum senang.
"Vano itu agak keras kepala dan suka maksa, jadi kamu harus maklum." Kata Sahara
"Iya Kak"
"Dia cerita sama Kakak kalau kamu beberapa kali menolak ajakan untuk bertunangan." Kata Sahara
"Hm aku hanya merasa tidak pantas Kak kalian itu keluarga terpandang, tapi aku hanya seorang anak yang keluarganya berantakan." Kata Adara
"Hey tidak ada masalah dengan itu Adara jangan pernah merasa begitu Devano sangat mencintai kamu." Kata Sahara
"Iya Kak"
"Sekarang senyum dong kan mau tunangan yang lebar senyumnya." Kata Sahara
Adara benar-benar bahagia sekarang dan senyuman manisnya mengembang dengan sempurna membuat Sahara merasa senang melihatnya.
Sesaat setelahnya suara pintu dibuka terdengar dan mereka dapat melihat Fahisa masuk ke dalam lalu duduk disamping Adara yang langsung menatapnya dengan senyuman.
"Ya ampun calon menantu Mommy cantik sekali." Kata Fahisa
"Makasih Mi"
Fahisa mengangguk lalu mengusap pipinya dengan penuh kelembutan.
"Vano bakal terpesona ini nanti." Kata Fahisa membuat Adara tersenyum mendengarnya
Keluarga Devano benar-benar menerima kehadirannya dan Adara sangat bahagia dengan hal itu.
Tidak ada keraguan di keluarga Devano untuk menerima kehadirannya di tengah-tengah keluarga mereka.
Terkadang memang begitu orang asing terlihat seperti keluarga dan keluarga terlihat seperti orang asing.
¤¤¤
Pesta pertunangan berlangsung Devano dan Adara berada di tengah-tengah tamu undangan yang turut bahagia untuk keduanya apalagi Devina yang sekarang berdiri disamping Ziko sambil menatap keduanya dengan penuh kebahagiaan. Saat ini keduanya akan memakaikan cincin di jari manis masing-masing dan sebelum itu Adara menatap yang lainnya satu per satu, dia tidak akan pernah melupakan malam ini.
Cincin yang sangat indah itu tersemat manis di jari tangannya membuat orang-orang bertepuk tangan dan ada juga yang memberikan godaan untuk keduanya. Senyum Adara mengembang dia menatap Devano yang tersenyum padanya lalu mendekat dan mencium keningnya membuat orang-orang bertepuk tangan semakin kencang.
Sesaat setelahnya keadaan hening semua orang menatap ke arah pintu termasuk Adara yang senyumnya langsung pudar begitu melihat Juan datang. Menatap Devano sebentar dia dapat melihat pria itu mengangguk dengan senyuman.
"Aku yang minta Om Juan datang, dia tetap Ayah kamu Adara." Kata Devano pelan
Adara terdiam lalu menatap pria paruh baya yang menatapnya dengan senyuman perlahan sudut bibirnya juga terangkat membentuk sebuah senyuman lalu langkah kakinya berjalan mendekat. Dengan senyuman Adara memeluknya membuat Juan tersenyum dan langsung membalas pelukan anaknya dengan sayang.
"Maaf karena Ayah terlambat datang"
Adara hanya bergumam pelan sebagai jawaban dan setelah merasa cukup Adara menjauhkan tubuhnya lalu menatap Devano dengan senyuman manisnya.
Devano benar-benar seorang pria sejati.
¤¤¤
Edisi spesial Devano😚