
Sejak pulang ke rumah Devina tidak mau lepas dari kembarannya dan terus menempel hingga membuat Devano hanya bisa diam tanpa melayangkan protes apapun. Tadi mereka bertemu Fahisa yang merasa senang karena kedua anaknya sudah berbaikan dan Fahisa juga mengatakan pada Devano kalau semalaman Devina menangis hingga tidak mau makan malam.
Tentu saja hal itu membuat Devano mendadak merasa bersalah, harusnya dia tidak sampai menginap di rumah Alex dan membuat Devina hingga tidak makan malam. Semua tau bahwa Devina tidak boleh melewatkan sekali pun makannya karena kalau sampai Devina melewatkan makan dia bisa jatuh sakit.
Devina memang sensitif sekali entah perasaan atau tubuhnya.
Devina tidak tegaan dia lebih mengutamakan perasaan orang lain dibanding dirinya sendiri dan Devina itu mudah sakit dia harus benar-benar menjaga kesehatannya. Makanya sejak tadi Devano tidak melayangkan protes apapun dan hanya membiarkan Devina yang terus memeluknya.
"Vanoo jangan marah lagi ya?" Kata Devina sambil mengeratkan pelukannya
"Iya Vin enggak." Kata Devano
"Vano jangan nginap lagi." Kata Devina
"Iya aku tidur di rumah." Kata Devano
"Vano jangan diemin Vina lagi." Kata Devina
"Iya Devina"
Devina tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya membuat Devano hanya bisa tersenyum sambil mengusap puncak kepalanya dengan sayang. Sungguh dari kemarin dia juga merasa tidak tenang dan terus kefikiran Devina, tapi egonya sangat tinggi hingga Devano benar-benar mengabaikan tangisan kembarannya.
Kemarin itu pertama kalinya dan semoga yang terakhir juga.
"Udah ya? Kamu bentar lagi ada jam kan? Siap-siap dulu nanti aku antar ke kampus." Kata Devano
"Enggak mau ke kampus." Kata Devina
"Kenapa?" Tanya Devano
"Mau disini aja sama Vano nanti Vano pergi lagi." Kata Devina membuat Devano tersenyum ketika mendengarnya
"Enggak Vin aku bakal di rumah aja." Kata Devano
"Pokoknya gak mau berangkat kuliah." Kata Devina lagi
Menghela nafasnya pelan Devano berusaha membujuk kembarannya lagi.
"Jangan gitu ah Vin kamu kan kuliah, janji aku gak bakal kemana-mana kalau gak percaya aku tungguin deh kamu di kampus sampai selesai kuliah." Kata Devano
"Gak mauuu"
"Vina nanti kena marah Daddy." Kata Devano
Devano berusaha melepaskan pelukan kembarannya, tapi Devina terus mengeratkan pelukannya.
"Vano gak mauuu"
"Vina nanti kena marah sama Daddy, kamu kuliah dulu ya? Nanti habis kuliah boleh peluk aku lagi sepuas kamu." Kaya Devano
Setelah berhasil melepaskan pelukannya Devano menangkup wajah Devina dan mencium keningnya dengan lembut. Tawa kecil Devano terdengar ketika kembarannya itu memasang wajah cemberut.
"Kenapa gak mau kuliah? Takut sama Yuna? Perlu aku buat dia minta maaf lagi?" Tanya Devano
Dengan cepat Devina menggelengkan kepalanya.
"Yaudah aku kuliah, tapi Vano antar sama jemput ya?" Kata Devina
"Iya aku tungguin juga, cuman satu kelas kan?" Kata Devano
"Heem Vano kok bisa tau?" Tanya Devina
"Aku ada jadwal kuliah kamu di hp." Kata Devano
"Kok bisa ada?" Tanya Devina lagi
"Aku kirim dari hp kamu, sengaja biar tau jadwal kamu kuliah." Kata Devano membuat Devina tersenyum dan memeluknya lagi
"Nanti malam Vano temenin aku tidur." Kata Devina
"Iya"
Melepaskan pelukannya Devina tersenyum lalu mencium pipi kembarannya lama dan berjalan ke lemari untuk mengambil baju. Melihat hal itu Devano keluar dari kamar dan mengatakan kalau dia akan menunggu Devina di luar.
Tentu saja Devano sudah kembali bersikap biasa karena dia tidak pernah bisa bermarahan lama dengan Devina apalagi kalau sudah melihat wajah sedih serta suara isak tangisnya, Devano tidak pernah tahan. Kemarin itu hal yang cukup luar biasa bagi Devano karena dia berhasil mengabaikan Devina hingga tidak peduli dengan tangisannya.
Bukan tidak peduli sebenarnya karena Devano terus kefikiran selama dia di rumah Alex apalagi ketika orang tua Alex mengatakan bahwa tadi ada yang menjemputnya juga pesan dari Daffa yang meminta dia untuk segera pulang karena Devina terus menangis.
Saat tengah menunggu Devina bahunya ditepuk pelan dan ternyata itu adalah Fahisa yang langsung duduk disamping Devano sambil meminta pria itu menghadapnya. Menurut Devano berputar dan menghadap Fahisa yang langsung menangkup wajahnya sambil tersenyum.
"Jangan kayak gitu lagi sama Vina ya?" Kata Fahisa dengan lembut
Devano tersenyum dan mengangguk singkat.
"Maaf Mom"
"Vina nangis semalaman bahkan dia tidak makan malam meskipun Daddy udah minta Devina untuk makan dan tadi pagi dia juga cuman sarapan sedikit." Kata Fahisa membuat Devano memasang wajah sedihnya
"Iya Vano salah kemarin maaf." Kata Devano
"Mommy tau yang kamu lakuin pasti ada alasannya karena kamu gak pernah semarah itu sama Devina, tapi sayang jangan sampai nginep di rumah teman gitu Vina jadi mikir yang aneh-aneh takutnya kamu benci sama dia." Kata Fahisa
"Gak mungkin Mom kemarin aku takutnya malah gak bisa kendaliin emosi dan bentak Vina lagi." Kata Devano
"Iya sayang Mommy tau kok, sekarang udah baikan kan? Jangan sampai berantem lagi ya?" Kata Fahisa sambil mengusap pipi Devano dengan lembut
"Iya Mom"
"Inget ya kalau lagi marahan jangan nginep di rumah teman lagi lebih baik kamu kunci kamarnya aja, boleh kok kalau kamu mau nginep asal jangan pas lagi berantem sama Vina kayak kemarin." Kata Fahisa
"Iya Mommy cantik." Kata Devano membuat Fahisa tertawa kecil dan mencubit pipi anaknya dengan gemas
Kemarin dia sedikit terkejut karena Devano yang malah pergi dan membiarkan Devina menangis.
"Mommy mau tau, kemarin ada masalah apa sama Vina?" Tanya Fahisa
Devano terdiam dia ingin menjawab, tapi teringat dengan perkataan Devina tadi.
'Vano jangan kasih tau Mommy sama Daddy ya? Kan udah selesai Kak Yuna udah minta maaf dan kita udah baikan aku gak mau nambah masalah lagi'
Belum sempat mengatakan apapun Devina sudah turun dengan kemeja serta celana panjangnya. Tidak seperti tadi pagi sekarang Devina tersenyum lebar membuat Fahisa ikut senang melihatnya.
"Mau kuliah?" Tanya Fahisa
Devina menganggukkan kepalanya lalu merangkul tangan Devano dan mengajaknya untuk berangkat.
"Mommy aku berangkat ya?" Kata Devina sambil memeluk dan mencium kedua pipi Fahisa
Tapi, belum sempat pergi Fahisa malah menempelkan tangannya di dahi Devina yang terasa sedikit hangat.
"Vina gak papa kan?" Tanya Fahisa
"Enggak papa kan sekarang udah baikan sama Vano." Kata Devina dengan senyuman lebar
"Yaudah hati-hati ya? Nanti langsung pulang." Kata Fahisa yang dijawab dengan anggukan oleh anaknya
Setelah itu keduanya pergi keluar rumah dan Devano langsung membukakan pintu mobil untuk kembarannya lalu masuk ke dalam melalui pintu lainnya. Mengingat sudah pukul satu lewat Devano langsung melajukan mobilnya menuju kampus.
Mata Devina masih terlihat sembab karena semalaman menangis, tapi tidak masalah lagipula hanya satu pelajaran.
"Vin kamu udah makan siang?" Tanya Devano
"Kalau gitu makan dulu aja." Kata Devano
"Ya telat dong Van nanti aja makannya kalau udah keluar kelas lagian kan cuman satu setengah jam." Kata Devina
"Enggak lapar?" Tanya Devano
"Belum"
"Perutnya gak sakit?" Tanya Devano lagi
"Enggak kok kan tadi pagi sarapan." Kata Devina
Tidak bisa memaksa akhirnya Devano hanya diam dan mengantar Devina hingga ke depan kelasnya. Sebelum pergi Devano mengatakan kalau dia akan menunggu di perpustakaan.
Devano mengusap puncak kepala kembarannya itu dengan sayang dan memastikannya hingga masuk ke dalam kelas lalu pergi ke perpustakaan.
Nanti sepuluh atau lima menit sebelum Devina keluar dia akan kembali.
Beruntung Adara sedang libur hari ini dan dia tengah berada di butik Kakaknya, jadi Devano tidak merasa cemas atau takut Adara akan didekati lagi sama teman-teman kampus wanita itu yang ganjen.
Kadang Devano kesal sendiri.
¤¤¤
"Devina"
Suara itu membuat tubuh Devina menegang dan melangkahkan kakinya dengan cepat, dia keluar dari kelas lebih awal dan Hanifa serta Intan sedang diberi tugas oleh dosen yang tadi mengajar. Suara milik Lucas membuat Devina takut kalau sampai Yuna melihatnya lalu mengancam dia lagi dan yang lebih membuatnya takut adalah kalau Devano sampai lihat lalu marah lagi.
Namun, tetap saja secepat apapun langkah kakinya Devina tetap kalah cepat karena sekarang Lucas berhasil menggapai tangannya yang langsung Devina lepaskan. Beberapa orang melihat ke arah mereka dan Devina sedikit memberontak ketika Lucas menarik tangannya lalu mengajak dia untuk duduk di bangku yang tak jauh dari tempat mereka.
Bukannya duduk Devina malah mau pergi hingga Lucas memegang tangannya lagi.
"Devina aku mau ngomong sebentar aja." Kata Lucas
"Enggak, aku mau pulang lepasin." Kata Devina sambil berusaha melepaskan tangannya
Beruntungnya koridor sedang sepi sekarang hingga tak banyak yang melihat atau peduli.
"Aku cuman mau minta maaf." Kata Lucas
"Kak aku udah maafin, sekarang lepas aku gak mau Kak Yuna lihat." Kata Devina
Tangab Lucas terlalu kuat hingga membuat Devina kesulitan untuk melepaskannya.
"Maaf, aku gak tau kalau Yuna bakal kayak gitu aku sama dia udah putus." Kata Lucas
Devina ingin tertawa mendengarnya, jelas-jelas kemarin ketika melihat di ponsel Mona pria itu masih memasang fotonya bersama Yuna di akun media sosialnya.
Benar-benar buaya darat.
"Kak lepasin!" Kata Devina kesal
Dia lelah sekali kepalanya juga mulai pusing sekarang dan parahnya lagi dia kelaparan.
"Vina aku belum se...."
"Vinaa"
Suara Devano terdengar membuat Devina menoleh dan melihat raut wajah datar kembarannya. Saat Devano ada disampingnya dia langsung melepas paksa tangan Lucas dan menatapnya dengan tajam.
"Jauhin Devina!" Tekan Devano
"Kenapa harus? Gue gak mau." Kata Lucas membuat rahang Devano mengeras karena amarah
Melihat hal itu Devina langsung menggenggam tangan kembarannya dan mengajak dia untuk pulang saja.
"Jauhin Devina dan jangan pernah lagi deketin dia! Gue gak mau Devina sampai dikataiin apalagi disakitin sama cewek lo." Kata Devano marah
"Dia bukan cewek gue dan gue gak bakal jauhin Devina." Kata Lucas
"Vano udah, pulang aja yuk"
Devano tidak mendengarnya dia melepaskan tangan Devina lalu mencengkram kuat kerah kemeja Lucas yang langsung ditepis oleh pria itu.
"Jangan deket-deket sama kembaran gue!" Tekan Devano
Devano mendorong tubuh Lucas kuat lalu mengajak Devina untuk pulang masih dengan amarah.
Begitu sampai di parkiran Devano membukakan pintu untuk kembarannya dan dia juga masuk ke dalam lalu menghidupkan mobilnya. Meninggalkan area kampus Devano melirik Devina yang sejak tadi hanya diam.
"Vin, kamu kenapa?" Tanya Devano
"Lapar banget"
"Mau makan dimana?" Tanya Devano sambil menoleh sekilas
Wajah Devina sedikit memucat, dia memang tidak bisa telat makan.
"Di rumah aja." Kata Devina pelan
"Gak mau makan di tempat lain dulu?" Tanya Devano yang dijawab dengan gelengan singkat oleh kembarannya
Akhirnya Devano diam dan memilih untuk menambah kecepatan laju mobilnya agar segera sampai di rumah. Selama perjalanan Devina sesekali meringisi kesakitan, tapi tetap meminta untuk pulang saja dan sekarang mereka sampai di rumah.
Devano bergegas turun dan merangkul Devina dengan sayang sambil mengajaknya masuk ke dalam rumah. Tangan Devina begitu dingin lalu wajahnya juga terlihat pucat dan Devano langsung mengajaknya ke ruang makan.
Mengambilkan makan siang dengan makanan yang sudah Fahisa masak Devano meletakkan piringnya dihadapan Devina. Perlahan Devina menyendokkan makanan ke mulutnya dan mengunyah dengan pelan.
Perutnya sakit sekali karena tadi pagi dia hanya makan sedikit dan malamnya dia malah tidak makan. Baru sedikit sekali Devina makan, tapi dia jadi ingin muntah dan langsung berlari kecil ke dapur.
Semua makanan yang Devina makan kembali dia keluarkan dan sekarang perutnya perih sekali pandangannya juga sedikit mengabur.
"Vinaa"
"Ya ampun Vina kamu kenapa?"
Suara Devano juga Fahisa masih dapat dia dengar, tapi Devina tidak memberikan balasan apapun.
"Vina"
Devina tidak mengatakan apapun hanya memegang perutnya yang terasa sangat perih.
"Devina sayang ke kamar ya? Vano ayo bawa ke kamar saja nanti biar kita telpon Dokter Daniel." Kata Fahisa
Devano mengangguk patuh, dia terlihat sangat cepat dan Devano langsung menggendong tubuh Devina lalu membawanya ke kamar.
"Vina"
Wajah Devina semakin memucat hingga akhirnya mata Devina yang terpejam semakin membuat Devano juga Fahisa merasa panik.
"Vina"
¤¤¤
Bisa dong masa udah dua hari gak bisa-bisa jugaaa😭😭
Maaf ya sudah buat kalian menunggu😊
Semoga kalian suka part yang ini yaa😉