
"Papaa aku lapall"
Nadhin masuk ke dalam ruang kerja milik Daffa yang mana ada Devano juga Daffa di dalam sana. Anak itu berjalan dengan wajah cemberut menghampiri Devano yang membuat pria itu tersenyum tipis.
Dia mengangkat tubuh anak itu dan mendudukkannya di pangkuannya.
"Mama mana?" Tanya Devano.
Nadhin mendongak dan menatap Papanya itu dengan bibir mengerucut sebal.
"Mama tidul cama Athan juga." Kata Nadhin.
"Kenapa Nadhin enggak tidur juga sayang?" Tanya Daffa pada cucunya itu.
Nadhin menggelengkan kepalanya pelan sebagai tanggapan.
"Aku maunya makan bukan tidul." Kata Nadhin yang berhasil membuat Devano dan Daffa tertawa mendengarnya.
"Mau makan apa sayang?" Tanya Devano sambil mencium pipi anak itu dengan sayang.
"Aku mau mie goleng." Kata Nadhin.
"Sama Oma ya? Minta masakin Oma." Kata Daffa yang kembali membuat Nadhin cemberut.
"Tapi, aku maunya dicuapin Papa." Katanya dengan wajah sedih.
Daffa tersenyum tipis melihatnya, "Iya yang masakin Oma nanti yang suapin Papa kan Papa Nadhin enggak bisa masak."
Nadhin langsung mendongak dan menatap mata Papanya.
"Iya sama Oma ya?" Kata Devano.
"Aku enggak belani bilangnya." Kata Nadhin yang membuat Daffa tertawa.
"Vano udah kamu temani Nadhin dulu." Kata Daffa.
Tersenyum canggung Devano mengusap tengkuknya pelan.
"Sebentar ya Daddy." Kata Devano yang merasa tidak enak karena mereka sedang membahas pekerjaan.
"Iya Devano, udah kasian itu cucu Daddy lapar." Kata Daffa sambil mencubit pelan pipi Nadhin.
Nadhin malah menyengir lucu. Dia menggandeng tangan Devano dan mengajaknya keluar kamar.
Sejak pagi tadi Adara memang sedikit lemas karena itu Devano menyuruhnya beristirahat dan ternyata Nathan ikut tidur bersama Adara dan malah si kecil Nadhin yang tidak mau tidur.
Begitu sampai di dapur secara kebetulan ada Fahisa juga disana.
"Mommy"
Devano memanggil Maminya itu seperti anak kecil. Hal itu membuat Fahisa menoleh lalu tersenyum.
"Kenapa sayang? Ehh ada Nadhin." Kata Fahisa.
"Nadhin mau makan mie hehe aku enggak bisa masaknya, Adara lagi tidur Mom sama Nathan ini si kecil malah keluyuran." Kata Devano sambil mengusap pelan kepala Nadhin.
Fahisa langsung tersenyum. Dia mendekat dan menundukkan kepalanya di dekat Nadhin.
"Mau mie apa sayang?" Tanya Fahisa.
"Mie goleng." Kata Nadhin disertai senyuman lebarnya.
"Sebentar ya? Vano mau nungguin?" Tanya Fahisa ketika Devano masih berada di tempat.
Devano mengangguk sebagai jawaban.
"Aku mau dicuapin Papa." Kata Nadhin dengan raut wajah yang begitu menggemaskan.
Fahisa langsung tersenyum. Nadhin memang anak Papa sekali.
Dengan ditemani oleh Devano dan Nadhin kini Fahisa memasak mie goreng untuk cucunya. s
Seharusnya bisa Bibi yang melakukan, tapi baru saja Bibi selesai mencuci piring kotor di dapur.
Jadi, Fahisa saja yang masak.
Menantunya itu juga sejak tadi malam kesulitan tidur. Fahisa tau karena ketika tengah malam dia bangun untuk mengambil minum Devano sedang menemani Adara yang tidak bisa tidur.
Dia cukup senang ketika tau menantunya bisa istirahat.
Butuh waktu sekitar dua puluh menit hingga Fahisa selesai dan memberikan sepiring mie goreng lengkap dengan telur yang membuat mata Nadhin berbinar senang.
"Yee Papa cuapin akuu." Kata Nadhin dengan penuh semangat.
"Mommy makasih ya?" Kata Devano.
"Ya ampun untuk apa bilang makasih? Kamu ini ada saja, sudah sana suapi Nadhin dulu Mommy mau samperin Daddy kamu." Kata Fahisa.
"Iya Mom"
Setelah itu Devano mengajak Nadhin ke ruang tengah karena anak itu ingin makan sambil menonton film.
Sampai di sana Nadhin langsung menghidupkan televisi dan duduk anteng di atas karpet.
Devano tersenyum mendengarnya. Dia segera duduk lalu memberikan suapan demi suapan untuk anaknya.
Untuk si kecil Nadhin.
Anak manjanya yang selalu nangis kalau dia tinggal kerja.
••••
"Aaa Vano maafin aku ketiduran kamu jadi jagain anak kita sendirian"
Adara mengatakan itu dengan mata berkaca-kaca karena merasa bersalah, tapi hal itu malah membuat suaminya tersenyum. Bukan marah Devano malah memeluk istrinya itu dengan sayang.
Si ibu hamil ini sangat sensitif sekali.
"Vano maafinnn"
Devano tertawa lalu mengusap-ngusap kepala Adara dengan penuh kasih sayang. Kemudian dia menciumi puncak kepala istrinya itu hingga berkali-kali.
"Enggak papa sayang aku kan lagi libur, jadi ini waktunya aku main sama anak-anak, kenapa minta maaf hm?" Tanya Devano dengan penuh kelembutan.
"Aku tidurnya lama banget pasti kamu capek jagain anak-anak sendirian." Kata Adara.
Raut wajah wanita itu terlihat begitu sedih membuat Devano tersenyum melihatnya.
"Aku enggak capek sayang lagian Nathan sama Nadhin enggak rewel apalagi Nathan dia juga baru bangun." Kata Devano.
Devano tersenyum tipis seraya mengusap pipi istrinya itu dengan sayang.
"Baby twins enggak sabar mau ketemu Mama sama Papa ya?" Kata Devano sambil mengusap perut buncit istrinya itu dengan sayang.
Adara melepaskan pelukan suaminya dan menatap Devano yang kini menunduk lalu mencium perut buncitnya berkali-kali.
"Vano"
"Kenapa istriku yang paling cantikk?" Tanya Devano yang membuat Adara kini tersenyum.
"Nah gitu makin cantik kalau senyum, bidadari pasti kalah cantik sama istri aku." Kata Devano gombal.
Adara langsung tertawa mendengarnya. Hal itu membuat Devano tersenyum karena berhasil menghilangkan kesedihan ibu hamil kesayangannya itu.
"Nathan sama Nadhin sekarang mana?" Tanya Adara pada suaminya itu.
"Ikut Mommy keluar dan aku yakin nanti mereka pulang bawa jajanan atau mainan." Tebak Devano.
Kedua anak itu kalau sudah keluar tidak mungkin pulang dengan tangan kosong. Entah itu mainan atau makanan pasti keduanya bawa.
Soalnya setiap kali melihat ada toko mainan mereka pasti sudah heboh sendiri minta berhenti. Begitu juga ketika melihat supermarket pasti heboh minta turun dan beli jajan.
Apalagi Nadhin, jangan tanya tentang anak itu.
"Nathan sama Nadhin hobinya jajan." Kata Adara.
"Kayak kamu"
"Enggak, aku enggak gitu." Elak Adara.
"Dulu, tapi kalau sekarang gitu apalagi kalau lagi hamil kayak sekarang." Kata Devano yang membuat Adara langsung cemberut.
"Vanooo"
"Malam ini mau makan apa istriku cantik?" Tanya Devano dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya.
"Emm"
Adara langsung berubah antusias ketika ditanya seperti itu. Dia langsung memikirkan makanan apa yang harus dia beli.
"Sate ayam!"
Adara terlihat begitu bersemangat ketika mengatakannya.
"Siap bumil nanti malam kita beli."
Lalu keduanya tertawa bersama dan kembali berpelukan. Devano memberikan ciuman di seluruh wajah istrinya.
Bahagia sekali dengan pernikahannya bersama dengan Adara.
Tidak sabar menanti si kembar lahir lagi dan menambah kebahagiaan di keluarga kecil mereka.
Pasti akan sangat menyenangkan.
••••
Yeyeyeyeye aku updateee🤗
Siapa yang setuju kalau aku buat cerita tentang anak-anak Devano dan Adara???
Setelah baby twins lahir aku bakal tamatin cerita yang disini, jadi kalau kalian masih mau baca lanjutan kisah mereka bisa lewat sequel di kisah anak-anak mereka❣️
Kalau mau aku bakal buat hehe barengan sama cerita anak-anak Devina dan Ziko jugaa yang bakal aku publish di awal-awal puasa😚
Menurut kalian gimana? Yes or no untuk sequel??