
Merasa ada yang aneh dengan dirinya tiga hari belakangan ini Adara sekarang duduk termenung di atas ranjang selagi dia hanya sendirian karena Devano sedang ikut Daffa ke kantor dan Fahisa juga lagi tidak ada di rumah. Mata Adara menatap layar ponselnya yang menunjukkan bahwa tanggal datang bulannya sudah lewat sepuluh hari padahal biasanya Adara datang bulan dengan teratur.
Menghela nafasnya pelan Adara beralih membuka internet lalu mencari tentang ciri-ciri wanita hamil dengan sedikit tidak tenang. Membuka artikel teratas Adara mulai membaca setiap baris yang ada di sana dengan jantung berdegup kencang.
Adara memang tidak mengalami mual, tapi belakangan ini mood nya sangat tidak baik bahkan sering kali Adara memarahi suaminya tanpa alasan yang jelas. Menggigit pelan bibir bawahnya Adara menaruh ponselnya di meja lalu mengambil sesuatu yang ada di lemari lebih tepatnya di bawah tumpukan bajunya.
Iya benar benda itu testpack Adara membelinya tanpa sepengetahuan siapapun.
"Aduh kok gue deg-degan ya? Gimana kalo ternyata enggak? Huft Adara tenang lo harus ngecek sendiri dulu jangan sampe ada yang tau karena lo sendiri belum yakin"
Menghela nafasnya pelan Adara pergi ke kamar mandi dengan membawa testpack yang ada di genggamannya.
Sejak kemarin Adara selalu saja mengomel pada Devano entah apa yang suaminya itu lakukan, tapi rasanya Adara sangat kesal bahkan termasuk masalah baju.
'Ya ampun Ra apalagi salah aku sayang?'
'Hah? Gak ada masalah sama baju aku Ra'
'Astaga masa pakai baju hitam di protes'
'Aku gak main HP terus Ra baru aja deh aku pegang hp'
'Astaga sayang iya iya aku taruh HP nya'
Devano selalu mengatakan hal itu ketika Adara mengomel pria itu tidak pernah marah dan hanya menerima saja.
Ah Adara jadi merasa bersalah.
Cukup lama berada di kamar mandi Adara menggenggam erat testpack miliknya dan belum berani melihat hasilnya. Sekarang Adara kembali duduk di tepian ranjang dia menghela nafasnya panjang.
"Ayo Ra lihat kalau bener Devano pasti bakal seneng banget." Kata Adara
Sekali lagi Adara menghela nafasnya lalu melihat benda yang ada di genggamannya dan untuk sesaat Adara terdiam tangannya mendadak bergetar. Benda itu menunjukkan dua garis di sana yang artinya benar, benar bahwa Adara tengah mengandung.
Adara tertawa lalu memeluk benda itu dan secepat mungkin dia meraih ponselnya untuk menelpon sang suami.
"HALO VANN"
Adara nyaris berteriak ketika menyapa sang suami di telpon.
'Iya sayang kenapa?'
"Van kamu dimana?! Aku ke sana ya?! Ke sana sekarang ya?!" Kata Adara dengan penuh antusias
'Hah? Aku bentar lagi pulang sayang ketemu di rumah aja ya?'
"Enggak bisa Van harus sekarang! Beneran deh Van harus sekarang aku ke sana aja." Kata Adara tidak sabaran
'Iya iya kamu ke sini sama Pak Mun ya?'
"Iyaaa aku ke sana sekarang kamu tungguin ya? Kamu dimana?" Tanya Adara lagi
'Nanti kalau udah sampai kamu bilang ya? Aku turun susul kamu di lobi'
"Iya tungguin yaa Vann." Kata Adara dengan penuh semangat
Tanpa menunggu tanggapan lagi Adara mematikan ponselnya dia lalu memasukkan ponsel itu ke dalam tas dan bergegas keluar rumah.
"Bibiii aku mau keluar sebentar"
Adara mengatakan itu lalu bergegas menghampiri Pak Mun untuk minta di antarkan ke kantor mertuanya.
Sekitar tiga puluh menit akhirnya mereka sampai dan Adara bergegas turun dia juga meminta Pak Mun untuk pulang lebih dulu karena nanti dia akan pulang bersama dengan Devano. Mengeluarkan lagi ponselnya Adara langsung menelpon Devano.
"Vann aku udah di depann." Kata Adara senang
'Iya tunggu aku turun sekarang'
Adara masuk ke dalam kantor dia juga menatap ke sekitar dan berdecak kagum dia langsung duduk di tempat yang di sediakan. Memainkan kakinya Adara menunggu hingga dia mendengar suara sang suami.
"Sayang"
Adara mendongak dia tersenyum senang.
"Vannnn"
Adara berlari pelan lalu memeluk Devano membuat pria itu terkejut bahkan ada banyak mata yang kini menatap mereka.
"Vann ayoo cepat aku mau bicara sama kamu berdua ini penting." Kata Adara dalam satu tarikan nafas
Devano tertawa kecil dia lantas menggenggam tangan istrinya dan mengajaknya untuk naik.
Devano terus menatap Adara yang kelihatannya sangat tidak sabar dan hal itu membuat senyumnya mengembang tanpa dia minta. Begitu sampai di ruangan Devano langsung menutup pintu dan mengajak istrinya masuk ke dalam.
Tidak bisa menghalau rasa senangnya Adara langsung menarik Devano mendekat dan mencium bibirnya dengan tangan yang melingkar di lehernya. Sesaat Devano diam, tapi setelahnya dia tersenyum dan membalas ciuman Adara juga membawa tangannya untuk menahan pinggang istrinya.
Adara terlihat begitu semangat dan dia baru menjauhkan wajahnya ketika hampir kehabisan nafas. Menatap lagi suaminya dengan senyuman Adara mengajak Devano duduk.
"Kamu kelihatannya senang banget Ra." Kata Devano
"MEMANG KAMU KALAU TAU PASTI SENENG JUGA." Seru Adara
"Ya ampun tenang sayang." Kekeh Devano
Dia mencubit gemas pipi istrinya.
"Kenapa hm? Ada kabar baik apa?" Tanya Devano
"Kamu tau kan Van belakangan ini aku nyebelin banget?" Kata Adara
Devano bergumam pelan sebagai tanggapan.
Adara tersenyum dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan memberikan pada sang suami.
"Anak kamu penyebabnyaaa"
Devano terdiam sambil menatap benda yang istrinya keluarkan lalu mengambilnya dan senyumnya mengembang dia tertawa pelan.
Devano nyaris menangis dia menatap Adara yang tersenyum manis padanya lalu memeluk lagi Devano dengan erat.
"Aku lagi hamil Vannn"
Adara terisak pelan dia memeluk Devano dengan erat dan menyandarkan kepala di bahunya.
Kebahagiaan yang tak terhingga akan segera datang.
°°°°
Aku updateeeee cepetan bacaaa🥰