
Awalnya Devina fikir kekasihnya hanya bercanda ingin mengajaknya ke rumah, tapi ternyata Ziko serius karena ketika sampai di parkiran dia langsung menghampiri kembarannya dan meminta izin. Meskipun sempat menolak Devano tetap mengizinkan pada akhirnya membuat Devina kini berakhir di boncengan kekasihnya dalam perjalanan ke rumah Ziko.
Sepanjang perjalanan senyum manis Devina benar-benar tidak pernah luntur, dia senang sekali karena Ziko mengajaknya untuk pergi ke rumahnya menemui orang tua pria itu yang jujur Devina belum pernah melihatnya. Sebenarnya ada rasa takut yang Devina rasakan, dia takut kalau orang tua pria itu tidak menyukainya.
Bagaimana kalau ternyata Ziko sudah dijodohkan?
Bagaimana kalau nanti dia disuruh untuk menjauhi Ziko?
Mulai sibuk dengan fikirannya sendiri Devina sampai tidak sadar kalau sekarang motor Ziko telah memasuki halaman rumah yang cukup besar. Saat motor berhenti barulah Devina sadar dan langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling lalu tersenyum ketika Ziko membantunya untuk membuka helm yang melekat di kepalanya.
"Ziko aku takut"
Perkataan Devina membuat Ziko mengerutkan dahinya bingung lalu tertawa beberapa saat setelahnya.
"Mama gak makan orang kok." Canda Ziko membuat kekasihnya itu berdecak kesal
"Takut, Mama kamu galak gak? Nanti dia gak suka sama aku." Kata Devina sambil menahan Ziko yang ingin mengajaknya masuk ke dalam
"Enggak Vin tenang aja Mama aku gak galak kok." Kata Ziko dengan senyum manisnya
Menatap kekasihnya itu dengan ragu Ziko menganggukkan kepalanya singkat sambil tersenyum membuat Devina akhirnya diam ketika mereka berjalan masuk.
Saat sampai di pintu utama Devina mengeratkan genggaman tangannya membuat Ziko tersenyum lalu mengusap lembut pergelangan tangannya dengan ibu jari dan membuka pintunya. Memasuki rumah yang cukup besar itu mata Devina menjelajah ke sekitar sampai akhirnya suara seruan terdengar membuat Devina secara refleks mengalihkan pandangannya.
Seorang wanita paruh baya yang terlihat masih cantik itu berjalan ke arah mereka membuat Devina langsung melepaskan genggaman tangannya.
"Ya ampun anak Mama udah pulang"
Cukup lama wanita paruh baya itu memeluk anaknya sampai matanya menangkap sosok Devina yang menatapnya dengan wajah yang sedikit memerah.
"Ehh kamu bawa siapa Ziko?" Tanya Nazwa dengan suara lembutnya
Setelah pelukannya terlepas Ziko langsung tersenyum dan membawa Devina mendekat ke arahnya. Baru akan memberitau Nazwa sudah lebih dulu berbicara dan mendekat ke arah Devina sambil menatapnya dari atas hingga bawah.
Devina terlihat canggung dan malu membuat Nazwa tersenyum lalu memeluknya.
"Pasti pacarnya Ziko ya?" Tebaknya membuat Ziko tertawa mendengarnya
Tanpa diberitau ternyata Mama nya sudah bisa menebak sendiri.
Sesaat setelahnya Nazwa menjauhkan diri dan menatap Devina dengan senyuman manis.
"Ini Devina Ma dan Mama benar dia pacar aku." Kata Ziko yang semakin membuat Devina malu
"Halo Tante." Sapa Devina sambil tersenyum
Kedua pipinya merona membuat Nazwa ingin tertawa melihatnya, ternyata pacar anaknya pemalu.
"Sini duduk dulu biar Tante ambilkan minum." Kata Nazwa ramah
Dia merangkul Devina dan memintanya untuk duduk di ruang tamu lalu bergegas pergi ke dapur meninggalkan Devina yang langsung menatap Ziko setelahnya.
"Gak galak kan?" Kata Ziko
Devina tersenyum lalu menggelengkan kepalanya cepat membuat Ziko merasa gemas melihatnya.
"Aku mau ganti baju sebentar, kamu tunggu disini ya?" Kata Ziko yang kembali dijawab dengan anggukan oleh kekasihnya
Berjalan ke kamarnya Ziko meninggalkan Devina yang tengah sibuk memperhatikan rumahnya, ada cukup banyak foto yang terpajang di dinding dan foto yang pastinya foto Ziko membuat Devina tersenyum. Sesaat setelahnya Nazwa datang sambil membawa nampan berisi minuman juga beberapa makanan ringan, dia terlihat senang.
"Ziko gak pernah bawa perempuan kesini makanya Tante langsung bisa nebak kalau kamu pasti pacarnya." Kata Nazwa membuat Devina hanya menanggapinya dengan tawa kecil
Mendudukkan dirinya disamping Devina mata Nazwa terus menatap kekasih anaknya itu dengan serius, lucu sekali.
Wajahnya begitu polos dan senyumannya terlihat begitu manis di matanya pantas saja anaknya suka.
"Kalian satu sekolah?" Tanya Nazwa
"Emm satu kelas juga." Kata Devina membuat mata Nazwa semakin berbinar
"Ziko disekolah gimana? Nakal gak? Dia pernah berantem gak?" Tanya Nazwa penasara
Devina terdiam sebentar lalu tersenyum tipis sebelum memberikan jawaban.
"Ziko baik kok Tante cuman agak bandel sedikit aja kalau ngerjaiin tugas suka di sekolah, tapi dia gak nakal kok." Kata Devina jujur
Memang benar Ziko tidak nakal hanya sedikit bandel saja, seperti mengerjakan tugas di sekolah atau membuat keributan di kelas hingga di marahi dan di usir dari kelas.
Masalah berantem rasanya Devina tidak pernah mendengar kalau Ziko berantem mungkin kalau Gio sudah sangat sering.
Satu-satunya yang sering Ziko lakukan adalah tidur di kelas atau membuat keributan dan jangan lupa selalu berisik setiap upacara hingga anak-anak osis sampai bosan menasehatinya.
"Kalian udah lama pacaran?" Tanya Nazwa lagi
"Emm belum lama Tante, tapi aku sama Ziko udah sahabatan sejak kami masih kelas sepuluh." Kata Devina membuat senyum Nazwa semakin mengembang lebar
"Kamu sering-sering main ke sini kalau Tante di rumah ya? Tante sering kesepian apalagi Ziko kerjaannya main terus sama teman-temannya." Kata Nazwa yang hanya dijawab dengan anggukan olehnya
Setelah itu mereka mengobrol tentang banyak hal seperti tentang keluarga Devina juga sekolahnya. Sampai akhirnya Ziko turun setelah selesai berganti baju dan menghampiri keduanya.
Entah kenapa saat ini Ziko terlihat sangat tampan padahal pria itu hanya memakai kaos putih berlengan pendek dan celana jeans, tapi percayalah dia terlihat sangat tampan apalagi ketika tersenyum ke arahnya.
"Ya ampun tumben banget rapih biasanya kalau di rumah acak-acakan." Kata Nazwa sambil tertawa membuat Ziko langsung memasang wajah masamnya
Dia mendudukkan dirinya disamping Devina membuat Nazwa yang faham langsung memilih untuk pergi dan membiarkan keduanya menghabiskan waktu berdua.
"Nanti jangan pulang dulu kalau belum makan ya? Tante bakal masakin sesuatu untuk kamu." Kata Nazwa
Devina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Setelah wanita paruh baya itu pergi Ziko menatap kekasihnya dengan senyuman manis membuat Devina ikut tersenyum.
"Gimana? Masih takut sama Mama?" Tanya Ziko
Devina menunjukkan cengirannya lalu menggelengkan kepalanya pelan, menggemaskan sekali.
"Mama kamu baik." Kata Devina senang
"Iyalah bisa dilihat dari anaknya." Kata Ziko bangga
Berdecak kesal Devina memukul lengan pria itu pelan membuat Ziko tertawa karena perbuatannya.
Devina masih tetap diam ketika Ziko meraih tangannya dan mengajak kekasihnya itu ke salah satu ruangan yang saat di buka ternyata adalah tempat pria itu bermain musik.
Ada beberapa gitar disana juga rak berisi buku serta ada ranjang kecil di sudut ruangan. Mungkin bisa dibilang tempat ini merupakan tempat bersantai untuk Ziko kalau sedang di rumah.
Memasuki ruangan Ziko membuka gorden hingga cahaya semakin terang dan meminta kekasihnya untuk duduk.
"Kenapa ada kasur disini Ziko?" Tanya Devina penasaran
Mengangguk faham Devina berjalan ke sudut ruangan dan mengintip keluar jendela, terlihat jajaran rumah serta jalanan yang sepi dari sini. Menjelajah ruangan ini Devina tersenyum, enak sekali memiliki tempat untuk bersantai seperti ini pasti Ziko lebih sering menghabiskan waktu disini dari pada di rumah.
"Kenapa gitar kamu ada banyak?" Tanya Devina lagi
"Gak papa, tapi aku paling suka gitar yang hitam." Kata Ziko
"Memang bedanya apa?" Tanya Devina bingung
"Gak ada bedanya sih, tapi aku suka aja soalnya itu gitar pertama yang aku punya." Kata Ziko membuat Devina mengangguk faham
Dia mengambil gitar itu dari tempatnya dan menyerahkan pada Ziko membuat kekasihnya menatap dia dengan bingung.
"Cepet nyanyi"
Melihat Devina yang terlihat bersemangat Ziko tersenyum dan langsung mengambil gitar itu lalu meletakkannya di pangkuan.
"Kok duduknya disitu?" Tanya Ziko ketika Devina malah duduk di bawah
"Gak papa kamu lebih ganteng kalau dilihat dari sini." Kata Devina membuat Ziko terdiam lalu tertawa
"Udah pinter gombal ya?" Kata Ziko
"Siapa yang gombal? Orang beneran kok." Kata Devina
"Iya percaya"
"Yaudah nyanyi." Pinta Devina dengan penuh semangat
"Nyanyi apa?" Tanya Ziko sambil bertumpu pada gitar di pangkuannya
"Emm terserah." Kata Devina sambil tersenyum
"Jangan terserah dong aku juga bingung mau nyanyi apa." Kata Ziko
Mengerucutkan bibirnya Devina mulai berfikir lagu apa yang harus dinyanyikan oleh kekasihnya, dia bingung, tapi dia mau mendengar Ziko menyanyi.
"Ihh gak tau aku juga bingung." Keluh Devina membuat Ziko tertawa mendengarnya
Terlihat berfikir Ziko menunduk dan mulai memetik gitarnya membuat Devina tersenyum menunggu pria itu mulai bernyanyi.
Tapi, ketika suara lembut pria itu mulai terdengar senyum manis Devina semakin mengembang dengan lebar, selalu saja memilih lagu yang seperti itu dan membuat Devina jantungan.
There goes my heart beating
Cause you are the reason
I'm losing my sleep
Please come back now
Kalian harus tau betapa Ziko menyayangi gadis dihadapannya ini entah karena apa, tapi Devina benar-benar berhasil membuat perasaan Ziko jungkir balik.
Sejak pertama pertemuan mereka Ziko merasa mata dan hatinya hanya tertuju untuk Devina saja, tidak ada yang pernah berhasil merebutnya.
Rasanya melupakan gadis itu adalah hal yang mustahil.
There goes my mind racing
And you are the reason
That I'm still breathing
I'm hopeless now
Setiap hari Ziko dipenuhi dengan Devina yang selalu berputar diingatannya dan dia sempat kehilangan harapan untuk bisa memiliki Deviba karena gadis itu sempat menyukai pria lain dulu. Namun, sekarang Devina sudah menjadi miliknya hanya untuk dia yang tidak boleh ada seorangpun yang merebut gadis itu dari pelukannya.
Hanya miliknya.
Devina hanya miliknya.
I'd climb every mountain
And swim every ocean
Just to be with you
And fix what I've broken
Oh, cause I need you to see
That you are the reason
Suara Ziko membuat Devina larut dalam lamunannya dan terus menatap kekasihnya itu dengan senyuman, bahagia sekali bisa memiliki kekasih seperti Ziko. Sesekali pria itu menatapnya dengan dalam dan tersenyum membuat Devina benar-benar merasa disayangi.
Setelah menyanyikan bait terakhir lagunya Devina langsung bertepuk tangan dan mendudukkan dirinya disamping Ziko lalu menepuk-nepuk pelan pundaknya.
"Keren banget"
Tertawa kecil Ziko mengacak rambut Devina dengan gemas.
"Zikooo"
"Emm kenapa?"
"Kamu gak akan ninggalin aku kan?"
Pertanyaan itu membuat Ziko terdiam dan menatap gadisnya dengan bingung.
"Enggak lah, kamu kenapa nanya gitu?" Tanya Ziko
"Enggak papa nanya aja aku takut kalau kamu pergi disaat aku udah sayang banget sama kamu"
Tersenyum manis Ziko mengusap sayang pipi gadisnya dan bicara dengan penuh kepastian.
"Gak akan pernah Devina, aku janji"
Kalau bersama Ziko rasanya waktu berhenti berputar dan Devina hanya ingin memandangi mata teduhnya.
¤¤¤
Double update untuk hari inii😉
Makasih semuanyaaa❤