
Ujian hari terakhir baru saja selesai dan setelah ini kelas dua belas akan libur untuk waktu yang cukup lama hingga hari perpisahan serta prom night dilakukan. Setelah ujian selesai Devina tidak langsung pulang, tapi dia bersama teman-temannya memutuskan untuk pergi ke rumah Mona dan menghabiskan waktu disana.
Mereka baru saja sampai di rumah Mona dan sekarang tengah berbaring di ranjang besar milik gadis itu untuk menghilangkan lelah. Kamar Mona cukup luas hampir sama dengan kamar Devina dan kalau mereka sudah datang bisa dipastikan kamar ini akan sangat berantakan.
"Aaa sumpah lega banget udah selesai ulangan." Kata Cessa
"Iya bener banget Ces, tapi habis ini libur yaa? Gak bisa ketemu dong kita." Kata Nayla
"Heem bakal kangen pastii." Kata Devina
"Ya kita main dong sayang jangan kebingungan gitu kita kan satu kota tinggal janjian terus ketemu deh." Kata Mona sambil menguncit rambutnya tinggi-tinggi
"Bener harus sering main gak mau tau!" Kata Cessa
"Ehh kalian udah mikirin masalah kuliah?" Tanya Nayla
Mereka bertiga langsung diam mendengar pertanyaan Nayla padahal belum mau membahas hal itu sekarang.
"Ah Nayla mahh malah bahas itu nanti jadi sedihh." Keluh Devina
"Ya kan gue nanya aja siapa tau kita ada yang mau ngambil satu jurusan atau satu kampus." Kata Nayla
"Hmm kalau gue sih mau ambil jurusan management." Kata Mona
"Sama Mon gue juga." Kata Cessa
"Yah beda berarti kalau gue mau ambil ilmu komputer." Kata Nayla
"Ihh gak ada yang sama kayak akuu." Keluh Devina dengan bibir mengerucut
"Memang lo mau ambil jurusan apa Vin?" Tanya Mona
"Emm sastra"
Mereka langsung diam, tentu saja mereka tidak ada minat dan bakat di bidang sastra berbeda dengan Devina.
"Gak papa nanti kan ada teman pasti." Kata Cessa sambil menepuk-nepuk pundaknya
"Tapi, jangan lupain kita ya?" Kata Nayla
Devina menghela nafasnya pelan dan menunduk justru dia takut tidak bisa mendapat teman yang baik seperti mereka nantinya.
Bagaimana kalau tidak ada yang mau berteman dengannya?
Sejak dulu Devina selalu mendapat teman yang tidak tulus atau teman yang selalu memanfaatkan dia di berbagai keadaan. Sering kali Devina juga dituduh sebagai perebut pacar orang padahal dia tidak pernah melakukan apapun.
Waktu itu dia dituduh merebut pacar Bella karena kekasih gadis itu sering mengirim pesan pada Devina dan menghampirinya ketika di kantin.
Devina takut hal seperti itu terulang lagi.
"Kenapa sedih sih Vin? Kita kan masih bisa sering ketemu." Kata Mona sambil merangkul temannya itu dengan sayang
"Aku takut gak bisa dapat teman kalian kan tau aku gimana." Kata Devina murung
Ya, mereka tau Devina itu manjanya minta ampun termasuk dengan teman-temannya dia sering kali dibilang lebay oleh orang lain padahal memang sikap Devina sudah begitu.
"Pasti dapat Vinnn." Kata Cessa
"Udah ah gak usah difikirin kita kan mau seneng-seneng bukan malah sedih gini." Kata Mona
"Salah nih gue bahas kuliah." Ujar Nayla
"MEMANG!"
Nayla hanya tertawa kecil lalu memeluk Devina dengan sayang.
"Senyum dulu dong nanti gue kena marah sama Ziko kalau lo sedih." Kata Nayla
Tertawa kecil Devina memukul lengan Nayla pelan dan setelah melepaskan pelukan mereka sama-sama tersenyum.
Bagi Devina tidak ada yang bisa menggantikan ketiga sahabat baiknya.
Mereka yang terbaik selalu menghibur Devina dan ada setiap kali Devina membutuhkannya.
"Kalian mau minum apa? Jus, teh, atau air putih biasa?" Tanya Mona
"Air putih aja Mon, tapi yang dingin." Kata Cessa yang diangguki oleh yang lainnya juga
"Oke gue ambilin dulu." Kata Mona
Setelah itu Mona keluar dari kamarnya dan menuju dapur untuk mengambilkan minum serta beberapa makanan ringan untuk teman-temannya. Mereka memang paling suka ke rumah Mona karena yang paling dekat dari sekolah.
Selagi Mona pergi ke dapur mereka kembali mengobrol tentang ujian beberapa hari terakhir.
"Bahasa inggris lumayan sih gak sesusah biasanya." Kata Nayla
"Iya biasanya teksnya panjang-panjang, tapi kemaren malah banyak percakapan gitu." Kata Devina
"Gue bisa memperkirakan lah kalau nilai gue gak bakal merah." Kata Cessa
"Gak merah, tapi pas-pasan kalo gue sih." Kata Nayla
"Bener!"
Devina tersenyum dan juga setuju dengan perkataan teman-temannya, dia paling takut dengan hasil ujian matematika.
"Seneng ya bentar lagi lulus." Kata Devina sambil tersenyum
Matanya menerawang ke masa-masa awal masuk sekolah dulu, ada banyak sekali hal yang mereka lalui.
"Hmm gue selalu ngebayangin jadi anak kuliahan." Kata Cessa
"Terus nanti pas kuliah ngebayangin jadi anak kantoran." Kata Nayla membuat kedua temannya tertawa
"Dan setelah itu malah mau balik lagi ke masa SMA." Kata Devina
"Itu yang paling bener." Kata Cessa
"Katanya masa SMA itu yang paling susah buat dilupaiin." Kata Nayla
"Memang dah Mona yang terbaik"
Mona hanya tersenyum lalu meminta mereka untuk turun dari ranjang dan duduk di karpet.
Ayolah dia tidak akan biarkan mereka makan di kasur bisa habis dengan semut nanti.
"Ngapain nih kita?" Tanya Mona
"NONTON!"
"Nonton? Oke gue ambil laptop dulu." Kata Mona
Gadis itu berjalan menuju laci belajarnya dan mengambil laptop yang ada di meja.
"Nah mau film apa?" Tanya Mona sambil menghidupkan laptopnya
"HORROR!"
Devina langsung melotot mendengarnya.
Dia penakut.
¤¤¤
"Vin kenapa sih?"
Pertanyaan itu Devano ajukan ketika dia yang ingin tertidur dikejutkan dengan kembarannya yang masuk ke dalam kamar. Tanpa banyak bicara Devina menarik selimut lalu memeluk Devano dengan sangat erat.
Sesaat Devano merasa cemas karena Devina terlihat ketakutan, tapi setelah tau alasannya dia tertawa dan membuat kembarannya itu kesal lalu mencubit pinggangnya.
"Awhh kok kamu malah nyubit aku sih?" Tanya Devano
"Abisnya nyebelinn!" Seru Devina
Gadis itu membuka selimutnya lalu duduk dan mengedarkan pandangannya membuat Devano menggelengkan kepalanya pelan.
"Memang nonton apa?" Tanya Devano
"Ada film Gonjiam itu film horror dan serem bangettt, jadinya takut." Kata Devina
"Kan cuman film." Kata Devano sambil mengusap rambut Devina dengan lembut
"Tapi, serem Vann mukanya ihh serem banget matanya melotot." Kata Devina sambil membulatkan matanya
Devano tertawa dan mencubit pipi Devina lalu mengatakan hal yang membuat gadis itu benar-benar melotot karena kesal.
"Lebih serem kamu." Kata Devano
"Ihh Vanoo! Pokoknya temenin aku tidur aku takut!" Kata Devina
"Males"
"Vanoooo"
"Itu kan film Devina sayang." Kata Devano
"Ihh yaudah aku mau minta temenin Mommy aja! Vano jahat!" Kata Devina sebal
Gadis itu beranjak dari ranjang kembarannya, tapi Devano malah menakutinya.
"Vin itu ada siapa dibelakang kamu?" Tanya Devano cemas
"Vanoo jangan bercandaaa." Rengek Devina
"Itu Vin pakai baju putih ehh dia mau pegang pundak kamu." Kata Devano
"VANOOO"
Devina berteriak dan menutup telinganya membuat Devano tersenyum lalu berjalan dengan perlahan.
Disentuhnya pundak Devina membuat gadis itu kembali berteriak dan Devano yang tertawa senang.
"Vanooo! Jahat banget sihh! Kalau gak mau nemenin aku tidurr jangan ditakutin!" Kata Devina sambil memukul lengan kembarannya
Kembarannya terlihat marah dan membuat Devano tersenyum lalu berniat mengusap rambut Devina, tapi ditepis dengan kasar.
"Ya ampun ngambek sini tidur sama aku." Kata Devano
"Gak mauu!"
"Yaudah, tapi awas kalau ada yang tidur juga disamping kamu." Kata Devano
"Ihh Vanooo!" Rengek Devina membuat kembarannya itu tertawa
"Makanya sini." Kata Devano
Dia merangkul Devina dan mengajaknya kembali ke kasur.
"Udah tidur gak bakal ada apa-apa." Kata Devano
"Takuttt masih kebayang hantunya serem banget." Kata Devina
"Gak usah takut." Kata Devano
Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh kembarannya hingga sebatas leher lalu meminta Devina untuk segera tidur.
Devina hanya mengangguk lalu memejamkan matanya dengan Devano yang mengusap kepalanya.
Devina memang sangat penakut.
¤¤¤
Hmm aku putuskan season 1 ini akan tamat setelah prom night dan lanjut ke season 2 dimana mereka udah kuliah.
Siapa setujuuu???