
"Kita mau kemana Van?"
Pertanyaan itu hanya Devano tanggapi dengan senyuman dia tidak memberikan jawaban dan malah memakaikan sabuk pengaman untuk Adara lalu melajukan mobilnya meninggalkan area rumah Adara. Sekitar pukul sepuluh Devano pergi ke rumah Adara dan memaksanya untuk ikut ke suatu tempat, tapi Devano tidak mengatakan kemana.
Sekarang Adara hanya duduk diam sambil memperhatikan kekasihnya yang sedang fokus membawa mobil dengan senyuman tipis di wajahnya. Awalnya Adara berniat untuk mengerjakan tugas, tapi tidak jadi karena Devano datang dan lagi tugasnya masih dikumpul tiga hari lagi.
Dia tidak bisa menolak permintaan kekasihnya.
"Van mau kemana? Jawab dong aku penasaran." Kata Adara lagi
Devano hanya tersenyum sambil menoleh sebentar untuk menatap kekasihnya.
"Hm ke pantai." Kata Devano
"Pantai? Ngapain? Masih pagi tau Van." Kata Adara
"Jalan-jalan aja sayang dan lagi ini gak pagi kita pasti sampai sana nya siang karena ini kan jam sepuluh." Kata Devano
"Kamu gak ada tugas?" Tanya Adara
"Udah selesai semua makanya aku mau habisin waktu bareng sama kamu Ra." Kata Devano
"Kangen ya?" Canda Adara
"Iya"
"Aku juga Van." Kata Adara sambil tersenyum tulus
"Iya tau aku kan ngangenin." Kata Devano membuat Adata berdecak kesal ketika mendengarnya
"Van mauu tau gak? Dulu aku sering bilang kamu itu sok kegantengan, tapi ternyata kamu memang ganteng." Kata Adara
Devano tertawa kecil ketika mendengarnya, dia sudah tau karena Devina pernah mengatakan hal itu padanya.
"Karma"
"Ish apaan sih? Kalau kamu pertama ngeliat aku gimana? Kesannya gimana?" Tanya Adara penasaran
"Awal ketemu kamu gak ada kesan apa-apa, tapi aku mulai sering merhatiin kamu setelah melihat Ayah kamu yang datang ke sekolah dan marahin kamu di dekat gudang." Kata Devano
"Kamu lihat?" Tanya Adara kaget
"Hmm lihat dan dengar semuanya." Kata Devano
"Apa kamu deketin aku cuman karena kasihan?" Tanya Adara
"Enggak, setelah kejadian itu aku sering merhatiin kamu Ra dan aku gak tau kenapa aku bisa sepeduli itu sama kamu, tapi jujur aku deketin kamu karena aku suka bukan karena kasihan." Kata Devano jujur
"Waktu lihat Ayah marahin aku apa yang kamu fikirin?" Tanya Adara
"Gak ada, aku cuman lihat seorang Ayah yang marahin anaknya, tapi waktu dengar percakapan kalian entah kenapa aku merasa sesak sama seperti aku mendengar seseorang yang berbicara buruk pada Devina." Kata Devano
"Kalau disuruh pilih antara aku atau Devina kamu bakal pilih siapa?" Tanya Adara
"Gak ada yang aku pilih karena kalian sama-sama berarti, kamu harus tau Ra bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa kamu bandingkan dan pilih salah satunya." Kata Devano
"Iya aku cuman nanya dan gak ada niat juga untuk buat kamu milih di antara aku atau Devina." Kata Adara membuat Devano tertawa kecil mendengarnya
"I know"
"Kamu dewasa banget Van, cara kamu berfikir itu beda banget dari aku rasanya kamu berfikiran lebih luas sementara aku enggak." Kata Adara
"Jangan bandingin diri kamu sama orang lain Ra gak baik." Kata Devano
"Iya Vano cerewett." Kata Adara
Devano hanya tersenyum menanggapinya lalu kembali fokus pada jalanan di hadapannya.
"Kamu kenapa mau ajak aku ke pantai?" Tanya Adara
"Hm gak ada alasan aku rasa kita jarang habisin waktu berdua makanya aku ajak kamu ke pantai mumpung kita berdua sama-sama libur." Kata Devano
"Iya ya Van semenjak kuliah kita jarang habisin waktu berdua biasanya kamu ke rumah aku terus." Kata Adara
"Iya apalagi waktu itu kamu hindarin aku." Sindir Devano membuat Adara mengerucutkan bibirnya sebal
"Ish gak usah di bahas lagi." Keluh Adara
"Iya maaf kadang masih suka sebel Ra kalau ingat." Kata Devano
"Maaf"
"Iya udah gak usah dilanjutin, sekarang aku mau nanya Ayah kamu gimana? Masih suka hubungin kamu lagi?" Tanya Devano
Adara tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Terakhir dia ajak ketemu di cafe terus minta maaf jujur aku kaget Van, tapi aku gak mau ambil pusing dan Ayah udah gak pernah hubungin lagi cuman anak laki-laki Ayah yang beberapa hari ini chat aku." Kata Adara
"Untuk apa?" Tanya Devano tidak suka
"Katanya Ayah sakit." Kata Adara pelan
"Terus?"
"Jangan dipaksaiin kalau kamu memang gak mau." Kata Devano
Adara menghela nafasnya panjang lalu menganggukkan kepalanya, jauh di dalam hatinya dia merasa cemas dan ingin melihat keadaan Juan, tapi batinnya menolak dengan keras.
'Kamu ingin bersimpati pada pria yang bahkan tidak peduli ketika Bunda kamu telah tiada? Pria yang bahkan tidak datang di hari pemakaman Bunda?'
Dan Devano benar dia tidak akan memaksakan dirinya untuk datang.
Nanti kalau dia memang ingin maka dia akan datang dengan sendirinya tanpa diminta.
¤¤¤
Senyuman manis Adara mengembang dengan sempurna ketika dia melihat hamparan birunya air laut dihadapannya dengan angin yang menerpa wajahnya serta suara debur ombak yang menenangkan. Sekarang dia sudah sampai di pantai bersama dengan Devano dan duduk di atas pasir sambil menatap lurus ke depan.
Meski sudah siang, tapi matahari tidak terlalu terik dan lagi mereka duduk di dekat pohon. Ada cukup banyak pengunjung mengingat ini adalah akhir pekan, tapi Adara sama sekali tidak masalah.
Tangan Devano merangkul sayang kekasihnya dan membuat Adara menyandarkan kepalanya di bahu Devano.
"Van"
"Hmm"
"Kata Bunda aku gak boleh nyimpen dendam ke siapapun, tapi kalau aku ada dendam sama Ayah gimana?" Tanya Adara
"Kalau bisa hindarin." Kata Devano
"Aku benci Ayah karena dia selalu sakitin Bunda dan gak datang di hari kematin Bunda padahal gak pernah sekalipun Bunda jelekin Ayah di depan aku." Kata Adara
"Jangan bahas hal yang bisa bikin kamu sedih." Pinta Devano
"Bunda selalu bilang kalau Ayah sayang sama aku, tapi nyatanya enggak dan Bunda selalu bilang kalau Ayah gak sejahat yang aku bayangin katanya Ayah hanya butuh waktu." Kata Adara lagi
"Bunda pasti berfikir sejahat dan seburuk apapun Om Juan dia tetap Ayah kamu." Kata Devano
"Hm kenapa aku gak bisa berfikiran kayak gitu Van?" Tanya Adara
"Bukan gak bisa, tapi belum bisa." Kata Devano
"Kemarin istrinya Ayah chat aku untuk bilang kalau Ayah masuk rumah sakit aku memang sedih, tapi aku gak pernah mau jengukin Ayah." Kata Adara
"Ra kalau kamu memang gak mau itu gak masalah, kamu berhak melakukannya." Kata Devano
"Tapi, gimana kalau sesuatu terjadi sama Ayah? Dia memang gak pernah sekali pun sayang atau peluk aku, tapi dia tetap Ayah aku kan? Aku tetap sedih." Kata Adara
"Aku kira kamu bukan orang yang kayak gitu karena dulu kamu sering ngomong hal yang menyakitkan ke orang lain." Kata Devano
"Aku beruntung banget punya kamu Van karena sekarang aku punya lebih dari sekedar teman untuk cerita." Kata Adara
"Aku itu apa untuk kamu?" Tanya Devano
Adara menjauhkan tubuhnya dan menatap Devano dengan senyuman lalu mengacak rambutnya gemas.
"Penyelamat"
Tersenyum senang Devano mencubit pelan pipi Adara dan mengajaknya untuk berjalan-jalan. Setelah berdiri dan membersihkan celananya dari pasir Devano mengulurkan tangannya, tapi di luar dugaan dia mendengar permintaan tak biasa dari Adara Alexander.
Permintaan yang sering diminta Devina.
"Gendong Van"
Menundukkan tubuhnya Devano dapat melihat Adara mendekat lalu melingkarkan tangannya di leher Devano.
Menggendong Adara di belakang Devano tersenyum karena semakin hari Adara semakin terbuka padanya, tidak lagi takut untuk bercerita.
Menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya Adara memejamkan matanya, dia bahkan tidak peduli dengan tatapan mata yang mengarah pada mereka.
"Mau kemana?" Tanya Devano
"Em kesana dulu aku mau foto sama kamu." Kata Adara
Mengangguk singkat Devano membawa Adara ke tempat yang gadis itu inginkan lalu menurunkannya dan meminta seseorang untuk mengambil foto mereka. Mendekatkan tubuhnya Adara melingkarkan tangannya di pinggang Devano lalu mendongak untuk menatapnya dan tersenyum.
Beberapa kali mengambil foto Devano mengucapkan terima kasih dan bersama Adara mereka melihat hasil foto yang tadi.
Adara tersenyum senang dia melingkarkan tangannya di leher Devano dan memeluknya dengan erat.
"I love you Devanoo"
Tak bisa menahan senyumnya Devano membalas pelukan itu lalu mencium puncak kepala Adara dengan sayang.
"Love you too baby"
¤¤¤
Gak bohong kannn😌
Part ini khusus Devano sama Adara yaaa😄