
Salah satu hal yang paling mengesalkan bagi Devina adalah sikap posesif kembarannya yang terkadang sangat-sangat berlebihan hingga membuat dia ingin memukul Devano karena gemas. Seperti sekarang ketika dia sudah mulai masuk sekolah Devano tidak berhenti memberikan peringatan untuknya bahkan dia di suruh memakai jaket yang sangat tebal.
Ayolah Devina ini sakit karena alergi dan sekarang sudah sembuh, tapi kembarannya itu masih saja cemas berlebihan.
Sejak berangkat ke sekolah wajah Devina terlihat sangat cemberut dan ketika motor Devano berhenti di parkiran dia langsung membantu kembarannya untuk melepaskan helm. Padahal Devina bisa sendiri, tapi Devano tidak suka dibantah karena dia akan dimarahi nantinya.
"Nanti ke kantinnya bareng aku." Kata Devano sambil meletakkan helmnya di motor
"Sama yang lain aja." Kata Devina
"No! Sama aku aja nanti biar aku yang pesankan makanan, kamu tidak boleh makan yang aneh-aneh dulu." Kata Devano membuat Devina menghela nafasnya pelan
"Jaketnya lepas aja ya?" Pinta Devina
"Jangan!" Kata Devano galak
"Ihh panasss." Keluh Devina
"Nanti lepasnya di kelas." Kata Devano
Devina hanya mengangguk patuh dan membiarkan Devano yang sekarang menggenggam tangannya. Mereka berjalan beriringan ke kelas dengan banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka, selalu begitu kalau mereka jalan bersama.
Semua orang tau betapa posesifnya Devano karena ada beberapa pria yang terang-terangan ingin mendekati Devina, tapi dilarang olehnya. Berbeda dengan para pria yang menganggap Devano halangan untuk mendekati Devina maka lain halnya dengan para wanita yang merasa semakin terpesona dengan sikap posesifnya.
Memang beda kalau Devano melakukan apapun tetap banyak yang masih menyukainya.
"Nanti kalau sakit lagi bilang ya? Ke uks aja istirahat disana." Kata Devano membuat Devina berdecak kesal
"Aku udah sembuh Devanoooo." Kata Devina sebal
Tidak peduli dengan protes yang dilayangkan Devina dia hanya diam dan tetap mengantar kembarannya itu kembali ke kelas.
Sampai di kelas Devano menatap kembarannya itu sebentar lalu mengusap puncak kepalanya dengan lembut dan mengatakan sesuatu yang membuat Devina mengangguk lesu, tidak ada pilihan untuk berkata tidak.
"Nanti istirahat tungguin!" Kata Devano
Setelah memastikan Devina memasuki kelas barulah Devano melangkahkan kakinya menuju kelas di sebelah dan masuk ke dalam. Kembali di kelas Devina yang mana gadis itu langsung disambut dengan penuh kebahagiaan oleh teman-temannya.
Mereka memeluk Devina dengan senang membuat wajah cemberut Devina hilang dan digantikan dengan senyuman. Selesai berpelukan Devina meletakkan tasnya lalu melepas jaket tebal yang membuatnya gerah bukan main.
Baru saja duduk tepukan dibahunya membuat Devina menoleh dan tersenyum sangat lebar ketika melihat wajah kekasihnya.
"Udah sembuh?" Tanya Ziko
"Udah dong makanya aku sekolah." Kata Devina senang
Tangan Ziko terulur untuk menyentuh dahi Devina yang sudah tidak panas lalu tersenyum, tapi beberapa saat setelahnya dia tersenyum jahil dan mencubit pipi Devina hingga membuat kekasihnya itu merengek.
"Ihh jangann dicubitt!" Kata Devina galak
"Oke, berarti udah sembuh soalnya udah galak lagi." Kata Ziko membuat Devina menatapnya dengan kesal
"Tolong ya baru masuk gak usah romantis-romantisan di kelas." Sindir Mona
Mendengar hal itu Devina mendongak untuk menatap sahabat baiknya lalu menunjukan cengirannya dan menarik tangan Mona agar dia duduk.
"Iri ya? Cari pacar dong." Kata Ziko membuat Mona melotot ke arahnya
Devina tertawa dan langsung memarahi Ziko lalu kembali menatap Mona dan mengajaknya bicara.
"Gimana duduk gak ada aku?" Tanya Devina
"Biasa aja"
"Ihh jahat!" Kata Devina sambil mengerucutkan bibirnya sebal
"Bercanda, sepi Vin gak ada yang cerewet dan ngerecokin gue waktu pelajaran jadi ngantuk deh." Kata Mona disertau tawa kecilnya
"Vin lo beneran alergi sama udang ya? Separah itu sampai merah-merah yang kayak yang lo fotoin itu?" Tanya Cessa penasaran
Dia tidak menyangka kalau alergi bisa sampai separah itu, Devina memang sempat mengirimkan gambar wajah memerahnya ketika dia pertama kali izin tidak masuk sekolah.
"Iya merah banget sumpah." Tambah Nayla
"Heem aku alergi dan memang sampai kayak gitu apalagi kalau makannya banyak bisa lebih parah, memang udah nurun sama Daddy." Kata Devina membuat ketiga temannya mengangguk faham
"Lo kemarin makan banyak?" Tanya Mona
"Makan dua kayaknya." Kata Devina sambil berusaha mengingat
"Dua? Cuman makan dua sampai kayak gitu?" Tanya Nayla tidak percaya
Devina mengangguk membenarkan pertanyaan yang Nayla ajukan.
Setelah berbagai pertanyaan Devina jawab sekarang giliran dia yang bertanya pada teman-temannya masah pelajaran yang dia tinggalkan dan ketika masih asik mengobrol bersama Mona suara Gio membuat Devina menoleh. Sangking asiknya dia bahkan tidak sadar kalau Gio sudah berangka dan sudah duduk disamping kekasihnya.
"Ehh Gio udah dateng?" Tanya Devina sambil tersenyum
Melihat hal itu Gio ikut tersenyum secara refleks dan membuat Ziko tak suka karena pria itu menatap kekasihnya dengan penuh kekaguman.
"Gak usah diliatin terus." Kata Ziko sambil menoyor kepalanya
Berdecak kesal Gio menepis tangan sahabatnya itu lalu kembali menatap Devina dan mengatakan sesuatu yang membuat Ziko melotot mendengarnya.
"Kemarin ada adek kelas yang deketin Ziko sambil bawa coklat lagi Vin." Kata Gio
Mata Devina membulat sempurna dia menatap Gio dengan penasaran juga kesal, kekasihnya tidak mengatakan apapun.
"Yo apaan sih?" Ketus Ziko
"Apa? Gue kan ngasih tau cewek lo kalau ada adek kelas yang ngedeketin lo kemaren." Kata Gio dengan raut wajah menyebalkan
Dia tidak bohong memang kemarin ada seorang adik kelas yang datang menemui mereka lalu memberikan sebuah coklat untuk Ziko dengan wajah malu-malu.
"Beneran? Cantik gak?" Tanya Devina
"Iya Vin, tapi kita gak ngobrol kok dia langsung pergi gitu aja." Kata Ziko
"Cantik Vin namanya Claudia kalau gak salah." Kata Gio membuat Ziko benar-benar ingin memukulnya sekarang
"Emm gitu ya? Terus respon Ziko gimana? Dia seneng ya?" Tanya Devina tanpa mau menatap wajah kekasihnya
"Enggak Vin"
"Ya gitu dia gak bilang apa-apa cuman nerima coklatnya terus diem sambil kebingungan." Kata Gio membuat Devina mengangguk faham
Alasan Gio mengatakan hal ini agar Devina tau kalau sekarang sudah mulai banyak wanita yang terang-terangan mendekati Ziko.
Pernah dengar kan kalau orang sudah ada yang punya biasanya kecantikan dan ketampanannya bertambah hingga berkali-kali lipat.
"Awas aja kalau dia macam-macam aku aduin sama Devano." Kata Devina membuat Ziko tersenyum dan langsung mengacak gemas rambutnya
"Enggak bakal sayang kamu aja udah cukup"
Teman-teman mereka hanya bisa mengelus dada melihatnya.
Kembalilah pasangan baru yang masih bucin-bucinnya.
¤¤¤
Rasanya Devina ingin memukul kepala kembarannya yang sama sekali tidak mau mendengar keinginannya dan malah datang dengan sepiring nasi sayur, dia tidak mau makan. Wajah Devina sudah sangat masam, tapi kembarannya itu menatap dengan tajam dan menyuruhnya untuk segera makan.
Sekarang Devano bergabung bersama teman-teman kembarannya dan dia membawa Adara juga agar menemaninya. Sudah berkali-kali Devina merengek dan mengatakan kalau dia tidak mau makan nasi, tapi Devano terus memaksanya.
"Gak mau!"
"Makan Devina!" Kata Devano dengan mata yang menatapnya tajam
"Gak mah makan ini maunya bakso." Kata Devina sambil melotot
"Vin makan itu aja dulu nanti pulang sekolah kita makan bakso hmm?" Bisik Ziko
"Ngapain kalian bisik-bisik?" Tanya Devano galak
Devina mendengus kesal, dia benar-benar ingin memukul Devano sekarang.
"Yaudah aku makan, tapi mau pakai ayam juga beliin!" Kata Devina
Mengangguk faham Devano membawa piring Devina lagi dan meninggalkan kembarannya yang sekarang menatap sang kekasih dengan antusias.
"Bener ya? Ajakin aku makan bakso nanti pulang sekolah." Kata Devina
"Iyaa"
Senyum Devina mengembang dengan lebar membuat yang lainnya menatap gadis itu dengan tidak percaya.
Semudah itu membuat moodnya kembali?
Beberapa saat setelahnya Devano kembali dan membawakan menu yang berbeda.
"Udah, sekarang makan." Kata Devano
"Cerewet"
"Aku bisa dengar!" Kata Devano
"Biarin memang sengaja biar kamu dengar." Ketus Devina
Yang lainnya yang bisa tertawa mendengar perdebatan saudara kembar yang biasanya selalu terlihat akur.
Selama makan teman-teman Devina merasa seperti obat nyamuk diantara Devano dan Devina yang sibuk dengan para kekasihnya. Seperti Devano yang melarang Adara untuk menuangkan terlalu banyak sambal lalu memberinya tissue ketika sudut bibir wanita itu kotor dan Devina bersama Ziko yang sejak tadi bertatapan lalu saling melemparkan senyum dengan Ziko yang secara refleks memberikan kekasihnya itu minum ketika makannya sudah habis.
"Gua gak mau lagi makan bareng kalian kalau pada bawa pasangan ya!" Kata Mona kesal
"Iya gak mau gue!" Kata Nayla dan Cessa
"Gue berasa sad boy banget disini." Kata Gio
Devina tertawa mendengar mereka semua sedangkan kembarannya itu terlihat acuh dengan ucapan mereka.
"Makanya cari pacar dong." Kata Ziko membuat yang lainnya mengumpat pria itu secara bersamaan
"Brengsek lo Ko!"
Ziko tertawa dan malah merangkul Devina lalu menariknya untuk mendekat membuat Devano langsung melotot ke arahnya.
"Tangannya!"
"Iya maaf saudara ipar." Canda Ziko membuat Devano menatapnya dengan malas
Sesaat setelahnya tiba-tiba saja Alex datang menghampiri mereka membuat Ziko menatapnya dengan tidak suka, dia masih sensitif mengenai Alex. Mengatakan sesuatu pada Devano ternyata Alex langsung pergi lagi, tapi dia menyempatkan diri untuk menyapa Devina dan tersenyum padanya.
Melihat hal itu tangan Ziko terkepal dan dia langsung mengambil ponsel kekasihnya di meja untuk mengalihkan pandangannya. Namun, hal yang dia dapatkan justru semakin membuatnya kesal karena melihat ada banyak sekali chat pria di ponsel kekasihnya.
"Vin aku mau ke kelas dulu kamu kalau udah selesai langsung balik ke kelas." Kata Devano
Devina mengangguk patuh dan tersenyum lalu melambaikan tangannya.
"Ada yang ngambek tuh Vin." Kata Mona sambil menunjuk Ziko dengan dagunya
Mengerutkan dahinya bingung Devina menoleh dan menatap Ziko yang terlihat sibuk dengan ponsel miliknya.
Merasa tidak mau menyaksikan kebucinan teman mereka yang lainnya langsung pergi ke kelas dan membiarkan Devina bersama dengan Ziko.
"Duluan ya Vin gue mau ke toilet dulu." Kata Cessa
Devina menganggukkan kepalanya.
Setelah teman-teman mereka pergi Ziko langsung mendongak dan menatap kekasihnya dengan raut wajah yang terlihat kesal.
"Kamu kenapa Ziko?" Tanya Devina bingung
"Memang sebanyak ini cowok yang chat kamu?" Tanya Ziko sambil menunjukkan layar ponselnya
Tersenyum kecil Devina menganggukkan kepalanya.
Tapi, dia tidak pernah membalas kok dan kalaupun dia balas pasti lama sekali membalasnya.
"Heem cuman aku jarang baca chat mereka." Kata Devina
"Masih sering chat Alex?" Tanya Ziko lagi
"Kadang-kadang aja." Kata Devina jujur
Mengangguk faham Ziko memberikan ponsel Devina kembali padanya.
"Marah ya?" Tanya Devina
Ziko tertawa dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku percaya kamu kok Vin"
Mendengar hal itu Devina tersenyum lalu mengajak kekasihnya untuk kembali ke kelas.
"Pulang sekolah jadi ya?"
"Jadi apa?"
"Ihh makan bakso"
"Haha iya Vin jadi"
"Kamu yang minta izin sama Vano ya?"
"Iya sayang"
Devina tersenyum lalu menggenggam tangan kekasihnya membuat Ziko tersentak dan tersenyum setelahnya.
Apalagi ketika sebuah kalimat meluncur dengan sempurna dari bibir kekasihnya.
"Makasih sayang"
¤¤¤
Sayang banget sama kalian hehe langgeng terus ya😂
Nanti malam up lagi😉