My Possessive Twins

My Possessive Twins
70 : My Beloved Twins



"Udah dong Vinn"


Perkataan itu Devina abaikan dia masih terus memoleskan blush on ke pipi kembarannya sambil menahan tawa. Saat Devano kembali meminta maaf Devina mengatakan kalau dia akan memafkan dengan satu syarat dan pria itu langsung setuju.


Akhirnya Devina meminta Devano untuk menunggu dan dia mengambil alat-alat make up yang selama ini selalu dia sembunyikan. Tadi wajah Devano terlihat terkejut dan dia langsung menolak, tapi setelah Devina memasang wajah kesal pria itu menghela nafasnya pelan lalu mengatakan kalau Devina boleh melakukan apapun yang dia mau.


Sudah hampir setengah jam dan Devina sudah memainka wajah Devano dengan alat-alat make up yang dia punya. Selama ini tidak ada yang tau kalau dia menyimpan banyak alat make up karena Devina selalu membelinya diam-diam dan menyembunyikan di dalam lemari, tepat di bawah tumpukan bajunya.


Tentu saja dia sembunyikan karena Devano dan Daffa tidak pernah mengizinkan dia untuk memakainya.


"Kamu bisa make up?" Tanya Devano yang tetap pasrah dengan semua perlakuan Devina



"Bisaa aku kan jarang keluar rumah, jadi kadang-kadang suka belajar pake laptop terus pernah di ajarin Kak Ara juga." Kata Devina


Senyumnya mengembang ketika selesai menghias wajah Devano dengan alat make upnya.


"Yes selesai sekarang aku mau foto." Kata Devina sambil mengeluarkan ponselnya


Melihat hal itu Devano langsung menutup kamera ponsel Devina yang mengarah ke wajahnya dan hal itu membuat Devina mengerucutkan bibirnya karena kesal.


"Jangan Vin nanti ada yang lihat." Kata Devano dengan penuh kelembutan


"Ihh gak aku kasih tau siapa-siapa cuman aku foto untuk aku simpan aja." Kata Devina


Menghela nafasnya pelan akhirnya Devano menurunkan tangannya dan teraenyum ke arah kamera. Setelah mengambil gambar satu kali Devina langsung terlihat senang dan tentu saja hal itu juga membuat Devano ikut merasa senang.


"Vano paket komplit bisa ganteng sama cantik." Kekeh Devina


Menggelengkan kepalanya pelan Devano mendekatkan tubuhnya dan mengusap puncak kepala Devina dengan sayang.


"Masih marah?" Tanya Devano


Dengan cepat Devina menggelengkan kepalanya lalu memeluk tubuh Devano dengan erat.


"Kamu punya banyak alat make up?" Tanya Devano


Melepaskan pelukannya Devina mengangguk dengan semangat lalu berjalan ke lemari dan mengambil semua alat make upnya. Saat alat make up itu diletakkan di hadapan kembarannya Devano membelakkan matanya karena kaget.



Dia bertanya-tanya kapan Devina membeli itu semua?


"Aku sumputin di bawah baju yang paling bawah biar gak ada yang tau." Kata Devina sambil menunjukkan cengirannya


Tertawa kecil Devano mencubit pipi Devina dengan gemas.


"Bandel banget"


"Ya dulu kan suka bosan Vano kalau di rumah teruss, tapi sekarang udah jarang aku pake soalnya kan aku sekarang sering keluar rumah." Kata Devina senang


"Bosan ya di rumah terus?" Tanya Devano yang dijawab dengan anggukan oleh kembarannya


"Bosan apalagi kamu jarang ngajakin ngobrol." Kata Devina


Devano hanya tersenyum menanggapinya.


Terkadang dia suka bingung harus bicara apa dan biasanya Devina yang memulai percakapan. Biasanya kalau Devano sedang bosan dia bermain game atau gitar, tapi berbeda dengan Devina gadis itu maunya di ajak mengobrol atau jalan-jalan.


"Ini udah boleh di hapus?" Tanya Devano sambil menunjuk wajahnya


Devina tersenyum dan mengangguk lalu beranjak dari tempat duduknya dan mengambil tissue juga beberapa botol yang entah Devano tidak tau itu apa.


"Itu apa?" Tanya Devano


"Micellar water untuk hapus make up." Kata Devina


Tidak sulit untuk menghapus make up di wajah Devano karena dia hanya membuat pulasan tipis yang mudah dihapus. Di tempatnya Devano hanya diam sambil memejamkan matanya dan membiarkan Devina membersihkan wajahnya.


Setelah selesai Devina membuang tissue yang tadi dia gunakan juga menaruh semua alat make up yang dia keluarkan ditempatnya lalu duduk dihadapan Devano lagi. Senyumnya mengembang dengan lebar ketika wajah Devano terlihat seperti semula.


Di luar masih hujan dan cukup deras dengan suara petir yang sesekali terdengar. Beruntung Devina sudah sampai rumah kalau dia masih diluar gadis itu pasti akan ketakutan dan Devano akan semakin merasa bersalah kalau sampai hal itu terjadi.


"Kenapa tadi perginya sendirian? Kenapa gak minta temani Ziko?" Tanya Devano yang masih penasaran


Yang dia tau Devina sangat tidak suka sendirian bahkan dia biasanya merengek untuk ditemani agar tidak sendirian.


"Hmm mau coba aja pergi sendirian, tapi ternyata enggak enak." Kata Devina sambil mengerucutkan bibirnya


Dia yang biasanya selalu mengobrol setiap dalam perjalanan harus diam dan terus diam sampai pulang lagi karena tidak ada teman untuk diajak bicara.


"Vanoo"


"Hmm"


Tersenyum singkat Devina memeluk tubuh kembarannya dengan erat.


"Maaf ya? Maaf kalau aku egois dan manja banget." Kata Devina


"Kamu gak egois Devina dan aku malah suka kalau kamu manja." Kata Devano sambil membalas pelukannya


Devina tidak mengatakan apapun hanya diam karena merasa begitu hangat berada di pelukan saudara kembarnya.


"Kemarin memang aku yang salah dan kalau hal itu bikin aku ataupun kamu sedih, bagaimana kalau kita lupakan saja?" Kata Devano


Terdiam untuk sesaat Devina mengangguk dan bergumam pelan di dalam pelukan Devano.


'Jangan mengingat sesuatu yang membuat kamu sedih'


Baiklah kita lupakan saja itu semua karena yang penting Devano masih tetap peduli padanya.


"Aku enggak enak sama Adara dia sampai chat aku untuk minta maaf, aku jahat ya Van?" Tanya Devina sambil mendongak dan menatap kembarannya dengan sedih


Menggelengkan kepalanya pelan Devano mengatakan kalau dalam hal ini Devina sama sekali tidak salah.


Semua salahnya harusnya Devano bisa membagi waktunya dengan baik dan meskipun ada Adara dia tidak boleh melupakan apalagi mengabaikan Devina.


"Enggak usah diingat lagi ya?" Kata Devano sambil mengusap pipinya dengan lembut


Sekali lagi Devina mengangguk dan melepaskan pelukannya lalu menarik tangan Devano, mengajak pria itu untuk pergi keluar kamar.


"Hari ini kita gak boleh pegang hp, oke?" Kata Devina


"Pengecualian kalau ada telpon, kita boleh angkat dan kalau tidak penting baru langsung dimatikan, oke?" Kata Devano


Devina mengangguk setuju dan mengajak Devano ke ruang tengah lalu menghidupkan tv.


"Sekarang kita nonton tv!"


Baiklah mari habiskan satu hari bersama dengan saudara kembarnya.


¤¤¤


Setelah menghabiskan cukup banyak waktu dengan kembarannya kini Devina yang baru saja selesai makan malam langung kembali ke kamarnya dan berbalas pesan dengan kekasihnya. Sebelumnya dia sudah mengirim pesan pada Adara dan meminta maaf yang gadis itu balas dengan begiu ramah, Adara bilang kalau dia tidak salah.


Baiklah lupakan masalah itu.


Sekarang Ziko sedang merajuk karena tau kalau Devina tadi pergi sendirian dan pria itu mengomel. Ternyata Ziko tau dari Devano yang menelponnya ketika tidak mendapati Devina di rumah dan dia terharu.


Devano sangat peduli padanya.


Ziko is calling


Berniat mengabaikannya, tapi Devina tidak mau kalau pria itu semakin merajuk.


"Halo Zikooo"


Bukan menyapa Ziko langsung mengatakan hal itu dengan nada penuh kekesalan, baiklah Devina akan menjawabnya.


"Aku cuman mau sendirian Ziko lagian aku gak mau nge...."


'Ngerepotin? Aku gak pernah ngerasa direpotin Devina'


"Aku kan lagi mau sendirian lagian aku udah pulang dengan sehat selamat sentosa tanpa kurang suatu apapun." Kata Devina membuat Ziko menghel nafasnya


'Awas ya sampai kamu pergi sendirian lagi!'


"Hmm iya gak gitu lagi janji." Kata Devina sambil beranjak dari tempat tidurnya


Mendudukkan dirinya di meja rias Devina menghidupkan speaker di ponselnya dan memakai night creamnya sambil berbicara dengan kekasihnya.


'Udah baikan sama Vano?'


"Hmm udah tadi aku kerjaiin Vano." Kata Devina


'Kerjaiin apa?'


"Aku make up in mukanya hehe." Kata Devina sambil tertawa


'Jahil banget'


"Ihh biarin kapan lagii coba bisa jahilin dia." Kata Devina


'Memang kamu bisa pakai make up?'


Mendengar pertanyaan itu Devina jadi sedikit sebal, tentu saja bisa dulu ia sering dijdikan bahan percobaan oleh Kakaknya dan Devina jadi berniat untuk belajar juga.


Meskipun harus diam-diam.


"Bisa dong, kamu belum pernah lihat ya?" Kata Devina


'Belum kamu kalau keluar gak pernah pakai kayak gitu'


"Iya soalnya gak boleh aku aja beli alat make upnya diam-diam terus kalau belajar pas malam-malam soalnya kalau Daddy tau nanti dimarahin." Kata Devina panjang


'Bagus'


"Ihh nyebelin." Ketus Devina


Setelah mengatakan hal itu Devina mematikan telponnya dan mencari salah satu foto selfienya lalu mengirimkan pada Ziko.



^^^Cantik enggak kalau kayak gini?^^^


Tak butuh waktu lama Devina langsung mendapat balasan yang membuat senyumnya mengembang dengan sempurna.


Cantik bangettt pacar akuuu😚


Jangan keluar kayak gitu yaaa? Nanti banyak yang lihatinn😢


Dengan senyum manisnya Devina kembali membalas pesan dari kekasihnya.


^^^Mau keluar kayak gini lahhh^^^


Vinaaa jangannn


^^^Hehe bercandaaa Zikoo mana boleh aku keluar jam segini😂^^^


Cantik bangettt❤


^^^Makasih Ziko yang gantengg😚^^^


Kalau aku gak balas pesan kamu berarti aku pingsan


Devina tertawa ketika membaca pesannya lalu mengirimkan foto yang lainnya pada Ziko lagi.



^^^Mau tidurr^^^


Udah mau tidur? Tumben cepet :(


Yaudah mimpi indah yaa sayangnya Ziko


See you❤


^^^Kamu juga mimpi indah❤^^^


Setelah membalas pesan itu Devina pergi untuk mengisi batrai ponselnya yang tinggal beberapa persen lagi. Selesai itu Devina langsung pergi untuk tidur, tapi belum sempat dia memejamkan matanya pintu kamarnya terbuka.


Ternyata Fahisa.


Saat Fahisa duduk di tepian ranjangnya Devina tersenyum senang dan memeluk wanita paruh baya itu dari samping.


"Sudah baikan sama Vano?" Tanya Fahisa


Devina mengangguk dengan semangat kalau dia bertengkar dengan kembarannya kedua orang tuanya akan ikut turun tangan dan membantu mereka berbaikan.


"Sudahh"


"Mau tidur?" Tanya Fahisa


Devina kembali mengangguk sebagai jawaban, dia memang sudah sangat mengantuk karena kemarin tidur malam sekali.


"Yaudah Mommy ke kamar dulu"


Setelah Devina melepaskan pelukannya Fahisa mencium kening anaknya dengan lembut lalu pergi dari kamarnya dan membiarkan gadis itu untuk tidur.


Dia ikut senang kalau kedua anaknya sudah berbaikan.


Kalau mereka bertengkar rumah akan terasa sepi karena Devina akan menjadi pendiam.


¤¤¤


Sekitar pukul sepuluh Devano dengan hati-hati memasuki kamar kembarannya yang sekarang sudah tertidur dengan lelap. Tumben sekali gadis itu tidak mematikan lampu kamarnya, mungkin lupa nanti Devano akan mematikan lampu kalau keluar dari kamar.


Dalam diam Devano memperhatikan Devina lalu tersenyum dengan tangan yang mengusap rambut kembarannya pelan, tidak mau mengusik tidurnya.


"Jangan marah sama aku lagi ya Vin?"


Tentu saja tidak ada jawaban.


"Aku sayang banget sama kamu Vin dan aku gak bisa kalau kamu diemin aku kayak kemarin"


Mencium sekilas kening kembarannya Devano tersenyum ketika gadis itu menggeliat pelan dan bergerak menyamping.


"Kita udah terbiasa bersama Devina"


Setelah mengatakan hal itu Devano berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar, tidak lupa dia juga mematikan lampu lebih dulu.


"Good night my beloved twins"


¤¤¤


Yesss updateeee😉


Masih Vano Vina yaaaaa😊 Hari ini belum tau bakal double up atau enggak soalnya dari pagi kuliahh😂


Kalau up lagi agak maleman mauu??