My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (52)



"Eh Vin sini biar aku aja"


Devina sedikit menggeserkan tubuhnya ketika teman sekelasnya mendekat dan mengambil alih laptop yang mereka gunakan untuk presentasi. Sedikit canggung Devina menatap ke teman-teman sekelasnya lalu tersenyum dan berdeham pelan sebelum mulai menjelaskan hasil kerja kelompoknya bersama dengan Niko yang sekarang sibuk menatapnya.


Memilih untuk tidak ambil pusing Devina terus berbicara sambil sesekali menoleh dan menunjuk ke layar yang ada di belakangnya, menjelaskan semua pada teman-temannya. Kebanyakan pria yang ada di dalam kelas justru fokus pada Devina yang terus bicara dari pada layar yang berisikan tulisan.


"Devina"


Panggilan dari dosennya membuat Devina berhenti bicara lalu menatap wanita paruh baya yang sedang menatapnya juga.


"Iya Bu?"


"Kamu mengerjakannya sendirian?" Tanya Resti yang merupakan dosennya


"Berdua sama Niko." Kata Devina jujur


Dia memang mengerjakannya berdua dan tentu saja dengan ditemani oleh Ziko karena kekasihnya itu tidak akan membiarkan Devina berdekatan dengan pria lain.


"Baik sekarang Niko silahkan kamu bantu Devina menjelaskan." Kata Resti


Niko terdiam sejenak lalu tersenyum dan menggantikan Devina untuk menjelaskan.


Sekarang Devina yang mengambil alih laptop dan menggeser ke slide selanjutnya setiap kali Niko selesai menjelaskan. Sampai ketika dia melihat ke arah pintu ada sosok Ziko yang menatapnya dan melambaikan tangannya pada Devina membuat senyumnya mengembang dengan sempurna.


Terlalu larut menatap kekasihnya Devina tidak sadar kalau Niko sudah selesai membaca dan menunggu dia mengganti slide selanjutnya.


"Vin? Ganti slide nya." Kata Niko membuat Devina tersentak


"Ehh iya Niko maaf." Kata Devina


Sekitar lima menit setelahnya Devina dan Nika selesai, tidak ada sesi tanya jawab hingga mereka kini diperbolehkan untuk duduk. Setelah kembali duduk di depan bersama dengan kedua temannya Devina menatap ke arah pintu dan tersenyum pada Ziko.


Kembali pada Ziko yang sekarang memilih untuk duduk di depan kelas Devina dan beberapa kali di lirik oleh orang-orang di sekitarnya. Seharusnya Ziko masih ada satu mata kuliah, tapi dosennya berhalangan hadir dan diganti besok makanya dia menghampiri Devina.


Mengeluarkan ponselnya Ziko ingin bermain game sambil menunggu Devina keluar kelas, tapi niatnya terhalang ketika merasa kalau seseorang duduk disampingnya. Wajah Ziko berubah tidak bersahabat begitu melihat Lucas yang duduk disampingnya.


"Kenapa?" Tanya Ziko ketus


"Gak boleh gue duduk disini?" Kata Lucas


"Mau nemuin Devina lagi? Udah gue bilang jangan keganjenan sama cewek gue." Kata Ziko dengan penuh penekanan


"Kenapa sih? Takut banget gue rebut Devina ya?" Tanya Lucas dengan tatapan meremehkan


"Takut? Enggak! Gue gak akan mungkin biarin Devina jatuh ke tangan cowok kayak lo." Kata Ziko


"Yakin banget." Kata Lucas


"Harus, gue udah bukan sekedar pacar lagi, tapi gue tunangannya." Kata Ziko


"Devina dia berhasil narik perhatian gue sejak pertama kali dia nabrak gue sampai jatuh." Kata Lucas


"Gue gak ada nanya sama lo." Ketus Ziko


"Dia selalu ngejauh kalau gue deketin." Kata Lucas


"Ya dia selalu bilang setiap kali lo deketin dia." Kata Ziko


"Gimana kalau gue berhasil rebut dia dari lo?" Tanya Lucas


"Gue rebut lagi." Kata Ziko


Keduanya saling menatap dengan tajam hingga suara Devina terdengar dan membuat keduanya mendongak. Bukan hanya Devina, tapi teman sekelas mereka juga menatap keduanya dengan bingung.


Mereka bukan tidak tau siapa dua pria yang ada disana sekarang.


Tanpa banyak bicara Ziko berdiri lalu memasukkan ponselnya ke saku celana dan menghampiri Devina.


"Ada jam lagi kapan?" Tanya Ziko


"Emm udah gak ada lagi." Kata Devina


"Yaudah kita pulang." Kata Ziko sambil merangkul Devina


Tidak bisa menolak Devina hanya diam dan melambaikan tangannya pada Intan juga Hanifa lalu mengikuti langkah kaki Ziko. Raut wajah Ziko terlihat tidak bersahabat membuat Devina bingung sendiri, tapi dia tidak mau bertanya dan terus mengikuti langkah kaki Ziko saja.


Saat sampai di parkiran Ziko membuka pintu mobil untuknya dan Devina tanpa banyak bicara masuk lalu menoleh ketika Ziko masuk melalui sisi lain pintu mobil. Kekasihnya itu hanya diam lalu menghela nafasnya pelan dan menatap Devina dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Nikah aja yuk Vin." Kata Ziko membuat Devina melongo tidak percaya


Kenapa Ziko tiba-tiba mengatakan hal seperti itu padanya?


"Kamu kenapa Ziko? Kaka Lucas bilang apa memangnya?" Tanya Devina dengan lembut


"Kenapa sih meskipun kita udah tunangan masih ada aja yang ganggu kamu? Bukan cuman ganggu bahkan berniat merebut kamu dari aku." Kata Ziko kesal


"Zikoo jangankan tunangan bahkan orang yang sudah menikah juga masih ada yang suka mengganggu, kamu kenapa hmm? Kita kan bakal saling percaya." Kata Devina


"Aku percaya kamu, tapi enggak sama cowok brengsek kayak Lucas." Kata Ziko


"Eh Ziko jangan ngomong gitu." Kata Devina


"Kenapa? Kamu gak suka?" Tanya Ziko


"Bukan gitu, tapi Ziko ngomongnya kasar gak boleh." Kata Devina pelan


"Dia ngeselin banget sih Vin! Aku gak suka kalau ada cowok yang berniat ngerebut kamu dari aku." Kata Ziko


"Vina juga gak suka, denger Ziko bukan cuman Vina kamu juga sama kan? Enggak ingat Tiara? Dia juga ganggu kamu terus." Kata Devina


"Iya Vin, tapi kan....."


"Zikoo yang penting kita saling percaya bukan cuman tunangan kok bahkan orang yang sudah menikah juga masih ada yang suka ganggu dan berniat merusaknya." Kata Devina


Mendengar hal itu Ziko tersenyum karena kekasihnya berfikiran begitu dewasa sekarang dan membuat dia jadi ingin menikahinya saja.


"Ke rumah aku ya?" Ajak Ziko


"Em boleh, tapi nanti sore pulang ya? Aku kena marah Daddy karena pulangnya mau malam terus katanya Vina udah bosan di rumah makanya pergi terus." Kata Devina membuat Ziko tersenyum mendengarnya


Lihat kan?


Memasangkan sabuk pengaman kekasihnya Ziko lebih dulu mencium pipi Devina sebelum melajukan mobilnya dan membuat Devina merona karena malu.


"Ziko cium pipi Vina terus." Kata Devina


"Sebenernya mau di bibir, tapi gak mau sering-sering deh nanti kelepasan." Kata Ziko


"Ihh Zikooo"


Ziko tertawa kecil karena melihat wajah Devina yang semakin memerah karena malu.


Menggemaskan sekali kekasihnya.


¤¤¤


Tersenyum senang Devina kembali mencoret wajah Ziko menggunakan bedak ketika pria itu kalah dalam permainan uno. Sejak tadi Ziko selalu kalah dan Devina suka sekali mencoret wajah Ziko menggunakan bedak bahkan sekarang wajah Ziko sudah dipenuhi bedak.


Berbeda dengan Devina yang senang Ziko hanya bisa memasang wajah masamnya karena sekarang wajahnya benar-benar seperti badut. Beruntung yang melakukannya adalah Devina kalau orang lain dia pasti sudah mengomel.


"Yeee aku mau foto Zikoo." Kata Devina


"Vin jangann." Pinta Ziko membuat wajah Devina langsung cemberut


"Ihh kan foto nya gak di kasih tau siapa-siapa." Kata Devina dengan raut wajah menggemaskan


Menghela nafasnya pelan Ziko akhirnya tidak bisa menolak.


"Yaudah satu kali aja ya?" Kata Ziko yang langsung dijawab dengan anggukan oleh kekasihnya


"Zikonya senyummm"


Sekali lagi Ziko menurut dia tersenyum dan membiarkan Devina mengambil fotonya lalu tersenyum senang.


"Hehe sayang Ziko." Kata Devina


Setelah itu Devina mengambil tissue dan mengusap wajah Ziko dengan penuh kelembutan membuat pria itu memejamkan matanya. Sesekali Devina meniup wajahnya hingga Ziko tidak merasakan usapan lagi dan dia membuka matanya melihat Devina yang berada dekat sekali dengannya.


Devina tersenyum manis dengan mata yang menatapnya penuh cinta.


"Vin aku serius kita nikah aja yuk?" Ajak Ziko lagi


Devina terdiam lalu menggelengkan kepalanya pelan.


"Kenapa kamu gak mau nikah sama aku?" Tanya Ziko


"Em Zikoo sebenernya Vina takutt." Kata Devina


"Hah? Takut apa?" Tanya Ziko bingung


"Takut ituuu"


"Itu apa?" Tanys Ziko tidak mengerti


"Ishh itu loh Zikoo." Kata Devina


"Iya itu apa sayang? Aku mana tau apa maksudnya." Kata Ziko


"Emm itu Vina takut kalau sudah menikah terus.. terus katanya..."


"Kenapa sih Vin?" Tanya Ziko bingung


"Vina takut katanya... katanyaa sakit." Kata Devina yang malah semakin membuat Ziko tidak mengerti


"Kamu ngomong apasih Vin? Sakit apa?" Tanya Ziko


"Ihh Zikoo itu kann kalau habis nikah nanti... nantii..."


Terdiam sejenak Ziko tertawa setelah mengerti maksud ucapan Devina, jauh sekali fikiran kekasihnya.


"Ya ampun Vinaa ternyata itu." Kata Ziko sambil tertawa


"Ihh Ziko jangan ketawaiin aku." Kata Devina kesal


"Kamu lucu sih lagian mikirnya sampai kesana." Kata Ziko masih dengan tawanya


"Zikoooo"


"Kenapa kamu mau itu ya?" Tanya Ziko


"Zikooooo!"


Wajah Devina memerah sempurna dia melempar kekasihnya itu dengan bantal kursi lalu pergi sambil menghentakkan kakinya.


"Vin"


"APA?! Vina gak mau ngomong sama Ziko!" Kata Devina kesal


Ziko kembali tertawa lalu mengejar Devina dan merangkulnya yang membuat gadis itu mendorong tubuhnya.


"Sanaaaa"


"Ngambek yaa? Iya enggak bahas itu lagi bahasnya nanti aja pas udah nikah." Goda Ziko


Devina kembali merengek dan memukul lengan Ziko cukup kuat.


"NYEBELIN!"


¤¤¤


Itu apasih Vin coba diperjelas😂


Aku belum ada niat tamatin cerita ini sebenernya, tapi udah ada niat mau bikin cerita khusus Vina sama Ziko gitu hehe😂


Gak tau kenapa aku yang nulis ini bucin banget sama Ziko😭


Mau bikin khusus Vina sama Ziko, tapi pas mereka udah menikah hehe mau buat judulnya Istri Manja Ziko.


Cuman masih mau lanjutin yang disini dulu nanti kalau udah tamat baru deh buat😆