
Sebelum pergi dari Villa untuk pulang Ziko lebih dulu mengajak kekasihnya berjalan-jalan dan tidak terlalu jauh juga karena mereka berdua hanya berjalan saja. Letak Villa yang berada di daerah penuh kehijauan membuat Devina senang karena hawanya yang sejuk, tapi kalau malam pasti dingin sekali.
Sudah meminta izin pada Devano yang melarang mereka berdua untuk terlalu lama Ziko mengajak Devina untuk pergi ke taman. Tidak banyak yang dilakukan hanya berjalan sambil tangan yang saling menggenggam juga sesekali terlibat obrolan.
Sebenarnya hanya berdua dengan Ziko saja sudah menyenangkan bagi Devina bahkan meski mereka tidak melakukan apapun, menatap wajah kekasihnya itu saja sudah membuatnya senang. Dulu Devina selalu bucin sama Alex rasanya setiap kali melihat pria itu Devina merasa tidak ada orang yang lebih tampan dari Alex, tapi ternyata salah.
Sekarang bagi Devina kekasihnya yang paling tampan, tapi tidak ada kembarannya juga yang menyusul.
"Sini duduk yuk." Ajak Ziko ketika melihat bangku yang kosong
Devina hanya menurut dan duduk disamping kekasihnya sambil menatap lurus ke depan.
"Waktu kecil aku suka kesini sama Mommy dan Daddy kita main di taman sama Vano juga, tapi Vano dulu nakal." Kata Devina ketika mengingat masa kecilnya
"Iya?"
"Iyaa Vano dulu suka buat aku nangis terus kamu tau gak dia bilang apa kalau dimarahin?" Tanya Devina
"Enggak, memang bilang apa?" Tanya Ziko sambil menatap kekasihnya yang sekarang memasang wajah cemberut
"Dia bilang aku lucu kalau nangis, jadi dia suka." Kata Devina
Ziko tertawa mendengarnya, tapi kekasihnya itu ketika masih kecil memang sangat menggemaskan bahkan dia juga memiliki fotonya yang dapat dia ambil diam-diam dari album foto di rumah kekasihnya. Sejak dulu Devina memang menggemaskan apalagi ketika masih kecil pipinya sangat tembam.
"Nyebelin kann? Aku dulu berantem terus sama Vano, tapi sekarang dia baik dan gak suka kalau aku nangis malah marah kalau ada yang buat aku nangis." Kata Devina sambil tersenyum
"Kamu itu spesial Vin dan bukan hanya Vano bahkan aku sendiri gak suka kalau kamu nangis." Kata Ziko
"Spesial? Kenapa aku spesial?" Tanya Devina penasaran
"Ya karena aku sama Vano sayang banget sama kamu, jadi kamu itu spesial banget buat aku sama Vano dan tentunya sama keluarga kamu juga." Kata Ziko
Senyum Devina mengembang dengan sempurna dan dia menyandarkan kepalanya di bahu Ziko.
"Ziko tau gak?" Tanya Devina
"Tau apa?"
"Emm tau kalau Ziko itu pas lagi serius gantengnya nambah berkali-kali lipattt." Kata Devina membuat kekasihnya itu tertawa
"Dulu kamu bilang yang paling ganteng itu Alex." Kata Ziko
Devina menjauhkan wajahnya dan menatap Ziko dengan sebal, itu kan dulu.
"Ya kan dulu kalau sekarang enggak Ziko yang paling ganteng sama Vano juga berdua eh sama Daddy juga, jadi bertiga." Kata Devina
Menggelengkan kepalanya pelan Ziko mencubit pipi kekasihnya itu dengan gemas.
"Kamu tuh gemesin banget sih Vin." Kata Ziko
"Kenapa kalau Ziko, Vano, sama yang lainnya bilang kalau aku gemesin, tapi kalau orang lain bilangnya aku lebay terus ada yang bilang nyebelin juga?" Kata Devina
"Karena mereka gak kenal kamu Devina sayang, coba mereka kenal dan temenan sama kamu pasti tau deh kalau kamu itu gemesin." Kata Ziko
Devina tersenyum lalu menghadap ke depan dan menghela nafasnya panjang.
"Ziko"
"Hmm"
"Jangan berantem terus sama Alex masa dari kemarin berantem terus." Kata Devina
"Dih dia duluan yang mulai." Kata Ziko
"Ya kamunya jangan nanggepin." Kata Devina yang membuat Ziko menatapnya dengan sebal
"Jadi, kamu belaiin dia? Aku yang salah gitu?" Ketus Ziko
"Ishh apasih kok gitu ngomongnya." Kata Devina
"Ya kamu bilangnya gitu, belaiin Alex kan?" Tuding Ziko
Devina berdecak kesal lalu mencubit lengan kekasihnya pelan.
"Males ah sama Ziko orang dikasih tau juga." Kata Devina
"Vina yang salah itu Alex bukan aku! Dia yang mancing-mancing terus dikit-dikit bahas kamu dan bahkan godaiin kamu juga." Kata Ziko
"Kan cuman bercanda." Kata Devina
"Tuh kan belaiin Alex." Kata Ziko
Devina menghela nafasnya pelan lalu mencubit kedua pipi Ziko karena merasa gemas.
"Siapa yang belaiin sihh? Aku kan bilang jangan ditanggapin sama Ziko lagian kamu kayak takut aku bakal pergi aja." Kata Devina
"Memang! Aku takut nanti kamu baper terus suka sama Alex lagi." Kata Ziko jujur
Devina tertawa kecil lalu meraih tangan Ziko dan menautkan jari-jarinya disana.
"Siapa juga yang bakal suka sama Alex? Aku kan sukanya sama Ziko." Kata Devina
"Mana tau"
"Ishh Ziko mah ambekan." Keluh Devina
"Kamu sih bahas Alex kan kita lagi berdua." Kata Ziko
"Malah salahin aku lagiii." Kata Devina kesal
"Udah ah Vin jangan bahas dia, yuk jalan-jalan lagi." Kata Ziko mengalihkan pembicaraan
Tidak mau merusak suasana Devina hanya mengangguk patuh dan mengikuti langkah kaki kekasihnya. Mereka pergi ke tempat yang dipenuhi rerumputan hijau yang letaknya tidak terlalu jauh dari taman.
Meskipun sudah siang, tapi cuacanya tidak terlalu panas dan Devina suka senyumnya kembali terbit. Mereka berjalan dengan Ziko yang menghadap ke belakang dan berjalan mundur sambil menggenggam tangannya.
Berkali-kali Devina meminta agar kekasihnya itu menghadap ke depan saja dan mereka berjalan bersampingan, tapi Ziko tidak mau.
"Gak bakal Devina." Kata Ziko sambil tersenyum
Menggelengkan kepalanya pelan Devina hanya diam saja dan mereka melanjutkan langkah kakinya.
"Aku gak nyangka deh Vin bakal pacaran sama kamu tadinya aku fikir aku bakal jadi sadboy." Kata Ziko membuat Devina tertawa mendengarnya
"Aku juga gak nyangka soalnya kan aku tadinya biasa aja sama Ziko, tapi karena yang lain juga deh sering ledekin jadinya aku salting sendiri." Kata Devina
"Aku berani bilang cinta juga karena paksaan mereka Vin, dulu aku takut jujur karena aku khawatir kalau nantinya kita malah saling menjauh, aku takut kamu marah." Kata Ziko
"Aku gak mungkin marah bukan gak mungkin sih, tapi aku gak bisa marah apalagi ke orang-orang terdekat aku." Kata Devina
"Hmm mereka juga bilang gitu dan akhirnya setelah berhari-hari ngeyakinin diri sendiri aku nyataiin perasaan ke kamu waktu aku tampil di cafe." Kata Ziko
"Aku seneng banget." Kata Devina
"Aku lebih seneng karena akhirnya perasaan yang udah dua tahun lebih aku pendam berbalas juga." Kata Ziko
Membalik badannya Ziko kini berjalan lurus dan bersampingan dengan kekasihnya, mereka sama-sama menatap lurus ke depan.
"Waktu itu aku bingung banget Ziko karena kamu sama Alex itu deketin aku dan kasih perhatian juga, tapi gak ada satupun dari kalian yang mau bicara dan lagi temen-temen sekelas kadang bilang kalau aku suka kasih harapan palsu." Kata Devina sambil tertawa kecil
"Susah Devina untuk ngeyakinin diri sendiri karena diantara rasa cinta yang aku pendam disana juga ada rasa takut, takut bahwa rasa itu malah akan menghancurkan kedekatan kita." Kata Ziko
"Takut keluar dari zona nyaman." Tambah Devina
Ziko tertawa kecil lalu dia mengajak Devina untuk duduk di bawah pohon yang teduh dan sebelum itu mereka melepas alas kaki yang mereka gunakan untuk menjadi alas duduk. Menatap pemandangan indah di depan Devina tersenyum, dia suka mengingat masa dimana dia dan Ziko belum berpacaran.
Dulu Devina tidak mengerti kenapa teman-temannya selalu bilang dia tidak peka, tapi sekarang dia faham.
'Mau makan apa Vin? Nanti aku yang pesenin'
'Vin kamu udah belum tugasnya? Ini aku udah selesai'
'Vin kamu kayaknya sakit deh ke uks aja yuk?'
'Hati-hati Devina kamu bisa jatuh nanti'
Ziko terlalu perhatian untuk seorang teman dan harusnya Devina sudah sadar sejak dulu.
"Vin"
"Hmm"
"Menurut kamu Alex gimana?" Tanya Ziko
"Gimana apanya?" Tanya Devina bingung
"Ya dia sekarang gimana? Nambah ganteng atau gimana?" Tanya Ziko lagi
"Hmm gak gimana-gimana." Kata Devina sambil tersenyum
"Ganteng gak Vin dia? Terus baik gak?" Tanya Ziko penasaran
Devina menggelengkan kepalanya pelan ketika mendengar pertanyaan itu, tapi tetap menjawab juga.
"Ganteng lah makanya banyak yang suka sama dia dan dia juga baik kok meskipun banyak orang yang bilang Alex itu nyebelin, tapi sebenernya enggak dia baik banget sama aku." Kata Devina
"Baik ke kamu doang." Sewot Ziko
"Kok kamu marah?" Tanya Devina
"Enggak marah aku cumam bilang kenyataan." Kata Ziko
"Ish tapi, dia memang baik kok." Kata Devina
"Iya baik ke kamu." Kata Ziko
Devina tertawa kecil lalu mencubit pipi Ziko dengan gemas dan menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih.
"Vin"
"Hmm"
"Nikah aja yuk?"
Mendengar hal itu Devina langsung menjauhkan tubuhnya dan menatap Ziko dengan mata membulat.
"Mau gak Vin?"
Dengan cepat Devina menggelengkan kepalanya.
"Kok gak mau?" Tanya Ziko
"Ya kan masih kuliah." Kata Devina
Ziko terdiam sebentar dan terlihat seperti sedang berfikir hingga dia mengatakan sesuatu yang kembali membuat mata Devina membulat.
"Kalau gitu tunangan aja gimana? Biar gak ada yang gangguin kamu lagi karena nanti bakal ada cinci di jari manis kamu"
Astaga Devina mau pingsan!
¤¤¤
Daddy Daffa dan Devano mana?
Cepetan ini Ziko mau minta restu haha😂
Btw aku itu selalu bacaiin komentar makanya kadang kalau ada saran atau apapun itu selalu aku terima meskipun gak langsung😂
Jadi, jangan kapok-kapok kasih saran yaa😉
Memang gak aku balas komentar kalian, tapi selalu aku baca kok soalnya kan kalau gak ada kalian cerita ini gak bakal hidup jangan lupa vote aku di tim B yaaa heheee😚
Salam sayang dari si cantik Devina😍