My Possessive Twins

My Possessive Twins
45 : Hujan dan Teh Hangat



"Terus salah aku gitu?"


Suara kekesalan Devina terdengar ketika dia dan kembarannya terpaksa berteduh di salah satu ruko bersama banyak orang yang sama-sama terjebak hujan deras. Sebelumnya cuaca memang sudah terlihat gelap dan tadi Devano sudah mengajak kembarannya untuk bergegas, tapi Devina malah minta untuk diantarkan ke perpustakaan.


Sekarang baru setengah perjalanan dan hujan mulai turun bahkan semakin deras seiring berjalannya waktu membuat Devano mengatakan kalau ini semua karena Devina. Akhirnya gadis itu merajuk sekarang padahal dia ke perpustakaan karena harus meminjam buku untuk pelajaran pertama besok, tapi karena kehujanan Devano malah menyalahkannya.


Merasa kesal Devina bergeser menjauh dari Devano membuat pria itu menghela nafasnya pelan dan mendekat, tapi Devina kembali bergeser hingga Devano merangkul lalu menariknya mendekat.


"Sini aja"


"Udah sana kamu pulang aja duluan kan ada mantel hujan." Ketus Devina


"Cuman satu." Kata Devano pelan


Suaranya terdengar sangat pelan karena hujan deras, tapi Devina masih dapat mendengarnya dengan jelas.


"Ya kamu aja yang pulang! Tinggalin aku aja kan kamu kehujanan karena nungguin aku." Kata Devina kesal


Menghela nafasnya pelan Devano memilih untuk tidak menanggapi dan malah membuka jaketnya lalu meminta Devina untuk memakainya agar tidak dingin. Namun, kembarannya itu menolak dan memasang wajah kesalnya hingga Devano memilih untuk menyampirkan jaketnya ke tubuh Devina.


"Nanti kamu sakit." Kata Devano lembut


Devina diam dan tidak menanggapi apapun, tapi memang benar kalau sekarang dia mulai merasa dingin.


Hari ini Devano memang membawa motor karena mobilnya sedang ada di bengkel tadinya Daffa mengatakan kalau dia boleh membawa mobil milik Daffa, tapi Devano menolak dan sekarang dia sedikit menyesal. Sebenarnya bukan masalah kalau dia kehujanan hanya saja Devina gadis itu mudah kedinginan dan sakit sama seperti Sahara.


Saat hujan semakin deras Devano melirik kembarannya yang sedang menggosokkan kedua tangannya agar merasa hangat lalu menempelkannya ke pipi.


"Dingin ya Vin?" Tanya Devano


Kali ini Devina menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


"Pakai duku jaketnya jangan disampirin kayak gitu." Kata Devano


Sekali lagi Devina mengangguk dan memakai jaket milik kembarannya yang terasa hangat ditubuhnya, tapi Devano nanti kedinginan.


"Kamu gak dingin?" Tanya Devina


Devano tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku telpon Daddy aja ya? Biar Pak Hadi jemput kamu." Kata Devano


"Enggak mau"


"Kenapa?" Tanya Devano lembut


"Nanti kamu sendirian aku disini aja kita tunggu sampai hujannya reda." Kata Devina sambil tersenyum


"Gak papa nanti aku bisa pakai mantel yang penting kamu gak kehujanan." Kata Devano


Sekali lagi Devina menggelengkan kepalanya dia akan merasa sangat jahat kalau meninggalkan Devano dan pulang bersama supirnya, lebih baik mereka menunggu sampai hujan reda lalu pulang bersama-sama.


"Nanti aja sama kamu Van." Kata Devina


Tidak bisa memaksa Devano menghela nafasnya pelan lalu merangkul dan menarik kembarannya agar mendekat.


"Kalau hujannya lama gimana?" Tanya Devano


"Kita main hujan aja pasti seru kayak waktu kecil dulu." Kata Devina yang mendadak sangat bersemangat


Berdecak kesal Devano mencubit pipi kembarannya itu dengan gemas, bisa habis dia dimarahi Daffa kalau sampai mereka pulang hujan-hujanan.


"Daddy bakal marah." Kata Devano membuat Devina mengerucutkan bibirnya


"Enggak papa kita hujan-hujanan aja Van." Kata Devina lagi


"No! Buku dan ponsel kita bisa basah semua selain itu kamu bisa sakit nanti." Kata Devano


"Ihh gak papa aku gak bakal sakit kan aku kuat." Kata Devina dengan penuh percaya diri dan malah membuat kembarannya menahan tawa


"Kamu kuat?" Ledek Devano


Melihat raut wajah Devano yang meledeknya Devina langsung merasa kesal dan menepis tangan kembarannya yang ada di bahu.


Devano tertawa kecil melihatnya, tapi dia tidak salah bahkan menurut Devano kembarannya itu sangat lemah dalam artian mudah sekali sakit dan menangis. Mungkin itu salah satu penyebab kenapa Daffa sangat-sangat memperhatikan Devina bahkan sampai meminta Devano untuk terus bersamanya meskipun itu di sekolah.


Salah makan sedikit saja dia sakit dan terluka sedikit saja dia akan langsung menangis.


Saat Devano ingin bicara suara petir disertai kilat terdengar sangat keras membuat Devina secara refleks berteriak dan merapat kepada kembarannya. Satu hal lain yang perlu kaliam tau Devina juga sangat takut dengan petir dan melihat Devina yang ketakutan Devano langsung menariknya untuk sedikit mundur lalu merangkulnya dengan sayang.


"Vano takut"


"Gak papa Vin ada aku." Kata Devano


Ada beberapa pasang mata yang menatap ke arah mereka mungkin sebagian beranggapan kalau Devina sangat lebay atau terlalu berlebihan, tapi kalian harus tau kalau Devina benar-benar takut dengan petir bahkan sejak masih kecil.


"Vano aku mau pulang." Kata Devina pelan


"Aku telpon Daddy ya?" Kata Devano sambil mengeluarkan ponselnya


Tapi, belum sempat menghubungi Daddy nya ponsel itu sudah lebih dulu direbut Devina dan langsung dimatikan oleh kembarannya.


"Gak boleh main hp kalau lagi hujan." Kata Devina


Kalau ponsel Devina sudah sejak tadi mati karena batrainya habis, jadi dia tidak terlalu sibuk.


"Terus gimana? Katanya kamu mau pulang kayaknya hujannya bakal lama." Kata Devano


"Gak papa nanti aja udah gak ada petir lagi." Kata Devina


Menghela nafasnya pelan Devano membawa tangan Devina untuk dia genggam lalu mengusapnya dengan lembut membuat kembarannya itu tersenyum.


"Pasti Mommy sama Daddy nyariin." Kata Devina


"Hmm"


"Kaki aku pegel." Keluh Devina


"Gak ada tempat duduk." Kata Devano


"Iya aku tau kalau ada aku dari tadi udah duduk." Kata Devina membuat Devano tertawa kecil mendengarnya


"Vano"


"Hmm"


Menatap kembarannya dengan alis bertaut, Devano merasa bingung dengan pertanyaan yang dia ajukan.


"Kenapa nanya gitu?" Tanya Devano


"Hmm gak papa mau tau aja apa laki-laki memang kayak gitu sama pacarnya? Soalnya Ziko kayak gitu hehe aku kadang kesel." Kata Devina


Tersenyum tipis Devano mengangguk sebagai jawaban, dia memang sangat cemburu kalau Adara dekat dengan pria lain terutama kalau bersama Satria.


"Dia cemburu sama siapa memang?" Tanya Devano


"Sama Alex terus sama yang lainnya juga dia gak suka kalau aku nemenin kamu latihan katanya ada banyak cowok." Kata Devina membuat Devano tersenyum mendengarnya


Dia senang pada kenyataan bahwa Ziko menyukai kembarannya dengan begitu tulus hingga dia tidak rela kalau gadisnya ditatap pria lain.


"Terus kamu suka periksa ponsel Adara gak?" Tanya Devina lagi


Devano menggelengkan kepalanya pelan kalau masalah ponsel dia sangat jarang memeriksa karena menurut Devano itu termasuk privasi.


"Ziko sering buka ponsel kamu?" Tanya Devano


"Kadang-kadang aja." Kata Devina


Mengangguk faham Devano kembali mengalihkan pandangannya ke depan dan melihat kalau hujan sudah mulai reda.


"Hujannya udah mulai berhenti." Kata Devano


Devina ikut mengalihkan pandangannya ke depan dan tersenyum senang ketika melihat bahwa hujan memang mulai reda.


Setelah menunggu cukup lama akhirnya hujan sudah benar-benar reda dan Devano langsung mengajak kembarannya itu untuk segera pulang. Sepanjang perjalanan Devina merapatkan jaketnya karena merasa udara sangat dingin apalagi angin yang berhembus cukup kuat.


Mendadak Devina jadi memikirkan kembarannya yang mungkin sekarang merasa kedinginan karena dia yang memakai jaket saja masih tetap dingin.


Bagaimana dengan Devano yang hanya memakai seragam sekolahnya bahkan sudah sedikit basah?


¤¤¤


Sampai di rumah keduanya langsung disambut dengan wajah cemas Fahisa bahkan wanita paruh baya itu langsung berlari menghampiri kedua anaknya yang sedikit basah karena kehujanan. Beruntung keduanya tidak terlalu basah karena hujan mengingat mereka langsung berteduh ketika hujan sudah mulai turun, tapi tetap saja pakaian mereka sedikit basah, terutama Devano.


Saat menatap anak perempuannya Fahisa terlalu cemas padanya karena dia tau kalau Devina sangat mudah jatuh sakit. Melihat kecemasan diwajah Mommy nya Devina tersenyum dan malah memeluknya dengan erat.


"Mommy"


"Ya ampun kalian bikin Mommy cemas kenapa tidak menelpon?" Tanya Fahisa cemas


"Tadi ada petir tidak boleh main hp Mommy." Kata Devina membuat Fahisa tersenyum mendengarnya


"Sekarang kalian ke kamar dulu ganti baju biar tidak sakit." Kata Fahisa sambil mengusap sayang wajah Devina


Mengangguk faham keduanya langsung pergi ke kamar masing-masing untuk mandi dan mengganti pakaian.


Memasuki kamarnya Devina langsung menaruh tasnya dan pergi ke kamar mandi untuk mandi dengan air hangat. Sekitar dua puluh menit Devina keluar dari kamar mandi dan telah mengganti pakaiannya dengan baju tidur.


Tersenyum lebar Devina langsung mengambil sebuah novel yang ada di meja belajarnya dan menjatuhkan dirinya di ranjang. Ponselnya masih di cas karena tadi memang mati total padahal Devina ingin menelpon kekasihnya, tapi tidak masalah nanti malam saja.


Saat tengah asik membaca pintu kamarnya terbuka dan Devano yang sudah beganti dengan pakaian rumahnya masuk ke dalam. Ada cangkir yang pria itu bawa dan ketika mendudukkan dirinya ditepian ranjang Devano menyerahkannya pada Devina.


"Ini teh hangat"


Tersenyum senang Devina menutup bukunya dan duduk lalu mengambil alih cangkir itu dari tangan kembarannya.


"Siapa yang buat?" Tanya Devina sambil meminum teh hangatnya


"Aku"


"Kamu? Memang bisa?" Tanya Devina meremehkan


"Kenapa gak bisa? Cuman masukin teh sama gula terus kasih air panas dan selesai." Kata Devano sambil mengangkat bahunya acuh


Mengangguk singkat Devina kembali meminum teh hangatnya yang cukup manis.


"Makasih Vanoo"


Devano tersenyum dan mengusap puncak kepalanya dengan sayang.


"Besok mau jogging sama aku?" Tanya Devano yang langsung dijawab dengan anggukan oleh kembarannya


"Mauuu"


Setelah menghabiskan teh hangatnya Devina meletakkannya di nakas lalu memeluk Devano yang duduk disampingnya.


"Habis jogging ke rumah Kak Ara, oke?"


Tersenyum manis Devano mengangguk lalu mencapit hidungnya dengan gemas.


"Oke"


Mereka memang terlalu manis hingga membuat banyak orang merasa iri karena kebanyakan dari mereka selalu bertengkar atau berdebat dengan saudaranya.


Tapi, mereka meskipun sering kali berdebat atau bertengkar tetap saja tidak bisa saling mendiamkan lebih dari setengah hari.


Devano dan Devina sangat menyayangi satu sama lain hingga tidak ada yang lebih mementingkan egonya ketika sedang marahan.


Mereka mudah bertengkar dan mudah berbaikan juga.


¤¤¤


Gak tau kenapa aku kalau nulis cerita selalu mau bikin yang akurr terus jarang berantem😂


Makasih yang udah dukung cerita ini entah cuman baca atau sampai kasih vote plus komentar❤


Aku juga gak tau kenapa setiap selesai nulis dan mau update pasti selalu mau bilang makasih😂


Gak tau kenapa, tapi pengen aja hehe


Soalnya cerita ini gak akan berarti tanpa pembaca seperti kalian yang selalu dukung dan koreksi aku kalau ada salah😚


Lah malah curhat maapin haha😋