My Possessive Twins

My Possessive Twins
Devano (30)



Sama sekali tidak pernah terbayang oleh Adara bahwa dia akan duduk berdua bersama dengan ibu tirinya tanpa ada tatapan sengit atau perdebatan seperti biasanya. Waktu terus berjalan sebentar lagi dia akan menikah lalu atas izin Juan dia tinggal di rumah yang selama ini selalu dia hindari dan karena dia tinggal di sini juga Julian pergi untuk tinggal di rumah temannya.


Sebenarnya Adara masih tidak suka dengan Hellena entah kenapa dia masih merasa kesal apalagi kalau mengingat semua makian wanita itu kepada Bunda nya dulu dan jangan lupakan perlakuan kasarnya juga, tapi tidak masalah dia bisa menahannya untuk tiga hari ke depan. Masih tidak ada percakapan sejak lima belas menit keduanya duduk berhadapan bahkan Adara sendiri terus mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Sampai akhirnya Hellena sendiri yang memulai pembicaraan dan membuat mata Adara menatap ke arahnya.


"Adara"


Hanya gumaman pelan yang ada berikan.


"Semua persiapannya sudah selesai kan?" Tanya Hellena


Adara mengangguk singkat sebagai jawaban.


"Syukurlah saya senang mendengarnya." Kata Hellena


"Terima kasih." Kata Adara singkat


"Adara ada yang mau saya bicarakan." Kata Hellena


"Iya?"


"Saya minta maaf." Kata Hellena


"Maaf?"


"Iya saya mau minta maaf." Kata Hellena lagi


"Untuk?"


"Untuk semuanya perlakuan buruk saya dan semua perkataan tidak pantas yang pernah saya ucapkan." Kata Hellena


"Oh iya enggak papa." Kata Adara


Ayolah dia sudah mau menikah, jadi untuk apa memikirkan hal itu kan?


"Saya juga minta maaf untuk Julian salah kami yang sejak kecil sudah menanamkan rasa benci di hati Julian untuk kamu." Kata Hellena


"Iya enggak masalah." Kata Adara dengan senyuman tipis di wajahnya


Meskipun hatinya terasa sesak, tapi semua juga sudah berlalu dan tidak perlu lagi dia ingat.


Hellena tersenyum dia mengusap pelan pundak Adara membuat gadis itu tersentak atas perbuatannya.


"Semoga kamu bahagia." Kata Hellena


Hanya senyuman yang bisa Adara tunjukan dan dia menatap wanita paruh baya itu yang sekarang berjalan menjauh. Begitu Hellena menghilang dari pandangannya Adara menghela nafasnya pelan lalu mengeluarkan ponselnya untuk melihat apa ada pesan dari Devano atau tidak dan ternyata ada.


Pria itu memberi kabar bahwa Devina ada di rumah untuk menginap sampai hari pernikahan dan hal itu membuat Adara tersenyum ketika membacanya. Jujur dia terkadang iri melihatnya karena Adara juga pernah memiliki keinginan yang sama.


Waktu kecil dulu Adara sempat berharap dia dan Julian bisa menjadi saudara yang dekat karena mereka juga memang anak dari Juan meskipun berbeda Ibu, tapi ternyata salah jangankan dekat Adara bahkan di benci olehnya.


'Julian Julian kata Bunda kita itu saudara kamu anaknya Ayah juga'


'Sana! Aku gak mau liat kamu disini! Harusnya kamu pergi jangan ke rumah aku sama Ayah lagi!'


Kebencian yang Julian punya bahkan semakin besar ketika Kakek mereka lebih menyayangi Adara dan meluangkan banyak waktu untuknya.


Ya, sudahlah mungkin hubungan mereka memang tidak bisa baik.


°°°°


Dalam diam Devano memperhatikan kembarannya yang tertidur dengan sangat lelap membuat senyumnya perlahan mengembang dengan sempurna. Di usapnya pipi Devina dengan perlahan agar tidak mengganggu tidur lelapnya.


Sudah lama mereka tidak seperti ini dan Devano sangat senang bisa melihat lagi kembarannya yang tertidur di kamarnya. Secara perlahan Devano mengurai pelukannya lalu beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar untuk pergi ke dapur karena dia merasa haus.


Sampai di dapur ternyata ada Fahisa yang baru saja selesai merapihkan piring kotor bekas makan siang mereka bersama dengan Bibi.


"Mom"


"Eh Vano kok sendirian?" Tanya Fahisa


"Vina tidur." Kata Devano


"Oh kamu mau apa sayang? Mau minum?" Tanya Fahisa pada anaknya


"Iya haus." Kata Devano


Fahisa mengangguk lalu mengambilkan minum untuk anaknya.


"Padahal Vano bisa ambil sendiri." Kata Devano sambil tersenyum dan mengambil minum yang di ambilkan oleh Fahisa untuknya


"Eh tadi Daddy cariin kamu suruh ke temuin dia." Kata Fahisa


"Daddy dimana sekarang?" Tanya Devano


"Ada di ruang kerjanya kamu ke sana aja." Kata Fahisa


Saat menaiki tangga Devano berpapasan dengan Ziko yang sepertinya sedang mencari keberadaan Devina.


"Vina ada di kamar gue Ko ke sana aja." Kata Devano


"Gak papa nih?" Tanya Ziko ragu


Pertanyaan itu membuat Devano tertawa mendengarnya, tentu saja bukan masalah.


"Ya gak papa lah memang kenapa? Ke kamar aja udah agak lama juga dia tidur mungkin sebentar lagi bangun." Kata Devano


"Ah oke lo mau kemana?" Tanya Ziko


"Nemuin Daddy." Kata Devano


Setelah mengatakan hal itu Ziko kembali menaiki tangga begitu juga dengan Devano yang langsung pergi ke ruang kerja untuk menemui Daddy nya yang terlihat sedang fokus dengan pekerjaannya.


"Dad"


Daffa mendongak lalu menatap anaknya yang baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Kemari Vano duduk." Kata Daffa


Devano mengangguk patuh lalu duduk di dekat Daddy nya yang sekarang memberhentikan sejenak pekerjaannya.


"Kata Mommy tadi aku suruh temui Daddy." Kata Devano


"Iya ada yang mau Daddy bicarakan." Kata Daffa


"Apa Dad?" Tanya Devano


"Pernikahan kamu tiga hari lagi kan?" Kata Daffa


"Iya Dad"


"Kamu mau kemana? Tempat untuk liburan berdua dengan Adara." Kata Daffa


"Hah?"


"Iya kalian berdua mau kemana? Memang kalian tidak mau liburan berdua?" Tanya Daffa mengulangi pertanyaannya


"Mauu Dadddd." Kata Devano dengan antusias membuat Daffa berdecak pelan


"Mau kemana?" Tanya Daffa lagi


"Nanti tanya Adara dulu." Kata Devano senang


"Tiga hari Daddy kasih waktu kalian liburan tiga hari atau kamu mau lebih?" Tanya Daffa


"Enggak Dad udah cukup tiga hari." Kata Devano


"Oke nanti beri tau Daddy kamu mau kemana biar Daddy urus sisanya." Kata Daffa


"Makasih Daddyyy." Kata Devano senang


Daffa tertawa kecil lalu menganggukkan kepalanya dan dia sedikit tersentak kalau Devano memeluknya.


"Astaga anak ini sudah sana Daddy sudah selesai bicaranya." Kata Daffa sambil mengusap punggung anaknya dengan sayang


"Makasih Dad nanti aku kasih cucu yang banyak." Kata Devano


"Heh kamu masih kuliah ajak Adara bicara kalau mau membahas masalah itu." Tegur Daffa


"Iya iya"


"Yaudah sana." Kata Daffa


"Ke rumah Adara ya Dad?" Kata Devano membuat Daffa menatapnya dengan tajam


"Tiga hari lagi Devano bersabarlah diam di rumah." Kata Daffa kesal


"Iya iya Daddy cerewet." Kata Devano


"Bilang apa kamu?" Kata Daffa


Devano tertawa kecil lalu berjalan menjauh sambil mengatakan hal yang membuat Daffa menghela nafasnya pelan.


"Enggak Dad enggak Vano enggak bilang apa-apa"


Astaga dasar anak Daffa!


°°°°


Akhirnya update jugaaaa🥰 Baru ada kuota haha🤣