My Possessive Twins

My Possessive Twins
Devano (18)



Jantung Adara berdetak dengan sangat cepat ketika Devano mengatakan bahwa kedua orang tua pria itu ingin bertemu dengannya dan mengundang dia untuk makan malam bersama. Sekarang Adara masih berada di kampus dan sebentar lagi jam kuliahnya berakhir yang artinya dia akan segera ikut Devano ke rumahnya.


Sejak tadi Adara sudah mulai tidak fokus pada perkuliahan, tapi beruntung dia tidak di marah oleh Dosen yang sedang mengajar hanya mendapat teguran saja. Sebenarnya Adara memang sudah siap, tapi dia gugup sekali jika harus bertemu dengan orang tua Devano dan membahasnya.


Apa harus secepat itu?


"Ra"


Tersentak kaget Adara menoleh ketika pundaknya di tepuk dan begitu menatap ke sekitar dia baru sadar bahwa pelajaran telah usai.


"Balik gak?" Kata Raffa


"Hah? Balik kok Vano udah nungguin di bawah." Kata Adara


"Yaudah gue duluan." Kata Raffa yang hanya ditanggapi dengan senyuman tipis oleh Adara


Menggelengkan kepalanya pelan Adara memasukkan beberapa bukunya ke dalam tas lalu melangkahkan kakinya keluar dari kelas yang sudah cukup sepi. Sambil berjalanan Adara juga terus memikirkan perkataan Devano dan dia benar-benar gugup membayangkan akan bertemu dengan orang tua kekasihnya.


Meskipun bukan kali pertama bertemu, tapi kali ini mereka bertemu untuk pembahasan yang berbeda dan Adara benar-benar merasa gugup. Akibat tidak fokus Adara yang sudah sampai di parkiran tanpa sengaja bertabrakan dengan seseorang yang membuat dia terjatuh.


"Duh gimana sih?"


Adara langsung melihat banyaknya kertas berserakan dan membuat dia langsung bangun dan membantu wanita yang dia duga Kakak tingkatnya itu merapihkan kertas yang berserakan.


"Maaf Kak"


Begitu berhasil mengumpulkan semua kertas yang berserakan Adara meminta maaf sekali lagi lalu menghela nafasnya pelan ketika wanita itu berjalan menjauh. Baru saja ingin melangkahkan kakinya Adara melihat Devano yang berdiri tidak jauh darinya.


Tersenyum tipis Adara berlari kecil menghampiri Devano.


"Gak fokus kayaknya, kenapa?" Tanya Devano begitu Adara berdiri di hadapannya


"Hah? Enggak kok Van." Kata Adara


"Bener?" Kata Devano


Adara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban lalu bersama dengan Devano masuk ke dalam mobil.


"Ada yang sakit gak tadi jatuh?" Tanya Devano sebelum melajukan mobilnya


Adara tersenyum dan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Enggak ada kok." Kata Adara


"Udah makan?" Tanya Devano


Terdiam sejenak Adara menggelengkan kepalanya pelan lalu menunjukkan cengirannya pada pria yang sekarang memasang wajah kesalnya.


"Yaudah makan dulu, kamu mau makan apa?" Tanya Devano


"Pulang aja deh mau makan mie." Kata Adara


"Lagi?"


"Gak lagi Van kan udah seminggu gak makan mie aku masak terus tau." Kata Adara sebal


"Yaudah iya kita langsung pulang aja nanti malam aku langsung jemput kamu." Kata Devano


"Gak mau mampir dulu?" Tanya Adara


Devano tersenyum lalu menghidupkan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan area kampus.


"Di suruh temani Mommy belanja." Kata Devano


"Ih terus kenapa malah jemput aku dulu?" Kata Adara


"Ya gak papa lagian Mommy bilang nanti aja habis makan siang." Kata Devano


"Sekarang udah lewat makan siang Van." Kata Adara


"Gak papa Mommy juga gak telpon lagian Mommy itu gak buru-buru kok orangnya, santai aja Ra." Kata Devano


Adara bergumam pelan lalu bersandar di jok mobil dan menatap Devano dari samping dengan senyuman di wajahnya.


"Jangan lihatin aku kayak gitu." Kata Devano


Terkekeh pelan Adara tidak mau berhenti dan terus menatap wajah Devano dari tempatnya.


"Van"


"Hmm"


"Sebenarnya dari tadi aku kepikiran." Kata Adara


"Mikirin apa?" Tanya Devano


"Gak tau gugup aja mau ketemu orang tua kamu." Kata Adara


"Kenapa gugup? Udah biasa ketemu juga apalagi sama Mommy." Kata Devano


"Iya tapi kan beda Van nanti malam kan mereka pasti mau tanya masalah itu." Kata Adara


"Masalah apa hm?" Kata Devano


"Masalah itu lah ish kamu pasti tau maksud aku apa." Kata Adara


"Aku gak tau." Kata Devano


"Tau ish"


Tertawa kecil Devano meraih tangan Adara dan menciumnya sekilas.


"Udah ih lepas tangan akunya." Kekeh Adara


Devano menurut dan melepaskan tangannya lalu kembali fokus pada jalanan dihadapannya tanpa banyak bicara dan membiarkan Adara terus menatapnya sepanjang perjalanan.


Tak ada percakapan lagi hingga mobil Devano benar-benar berhenti di area rumah kekasihnya dan sebelum pergi dia menatap Adara sebentar.


"Kamu mau beli sesuatu gak?" Tanya Devano


"Enggak Van"


"Gak papa kan aku langsung pulang?" Tanya Devano lagi


"Beneran gak mau beli sesuatu sebelum aku pulang?" Tanya Devano lagi


"Enggak ada Devano di rumah aku ada camilan terus kulkas juga penuh kemarin Ayah habis ajak aku ke super market." Kata Adara


"Yaudah aku pulang dulu." Kata Devano


Adara hanya menganggukkan kepalanya singkat lalu sebelum pergi dia memeluk singkat kekasihnya dan melambaikan tangannya.


Baiklah sepertinya Adara harus bersiap untuk nanti malam.


°°°°


Menatap pantulan dirinya di cermin Adara berkali-kali menghela nafasnya karena merasa sangat gugup bahkan tangannya sampai berkeringat, dia bingung kira-kira penampilannya malam ini cukup sopan atau tidak. Begitu ponselnya bergetar Adara tersentak dan langsung menatap benda itu yang ternyata pesan dari Devano.


Pria itu sudah sampai di depan dan Adara semakin gugup, tapi dia juga tidak mungkin membatalkan karena Adara sendiri sudah bersiap bahkan dia sampai berusaha merias wajahnya sendiri dengan barang-barang yang tadi dia beli. Sekali lagi Adara menghela nafasnya lalu meraih tas yang ada di meja dan berjalan keluar kamar.


"Tenang Adara"


Keluar dari pintu masuk rumahnya Adara langsung mengunci pintu dan menghampiri Devano lalu masuk ke dalam mobil.


"Udah si...."


Devano terdiam begitu melihat Adara yang terlihat sangat cantik malam ini dengan riasan tipis di wajahnya.


"Duh Van berantakan banget penampilan aku ya?" Kata Adara ketika Devano menatapnya


"Kamu cantik banget." Kata Devano membuat Adara yang sekarang terdiam


"Serius ih Van." Kata Adara


"Memang siapa yang bercanda? Kamu cantik banget." Kata Devano dengan senyuman yang begitu tulus


"Van aku beneran deh takut mau ketemu orang tua kamu." Kata Adara


"Takut kenapa coba? Mommy sama Daddy udah kenal kamu bahkan kamu sama Mommy juga dekat." Kata Devano


Adara hanya bergumam pelan dan menatap Devano yang mulai melajukan mobilnya menjauh dari rumahnya. Selama perjalanan Adara benar-benar hanya diam dengan tangan yang saling bertautan untuk menghindari rasa gugup yang menyerangnya.


Dia takut juga cemas di waktu yang bersamaan membayangkan orang tua Devano akan berbicara dengannya mengenai hal yang serius. Apalagi sebelumnya Devano bilang bahwa Daddy nya berniat mengundang Juan juga, tapi Devano minta untuk bicara dengan Adara lebih dulu.


Karena orang tuanya takut Devano memaksa, jadi Devano minta mereka untuk bertanya langsung dengan Adara dan masalah pertemuan dengan Juan itu bisa nanti.


Terlalu sibuk dengan pikirannya Adara sampai tidak sadar bahwa mobil Devano sudah berhenti di rumah besar keluarga Wijaya yang membuat rasa gugup semakin menyerangnya. Sebelum turun Devano mengusap kepalanya dengan sayang dan tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


"Tenang Adara"


Menghela nafasnya panjang Adara tersenyum dan mengangguk singkat lalu bersama dengan Devano turun dari mobil. Tangan Devano melingkar manis di pinggangnya dan keduanya bersama-sama melangkahkan kakinya ke dalam.


Begitu masuk ke dalam rumah Adara langsung disambut dengan hangat oleh Fahisa yang membuat hatinya tenang seketika karena pelukan hangat yang wanita paruh baya itu berikan untuknya.


"Sini masuk sayang." Kata Fahisa


Adara tersenyum lalu mencium punggung tangan kedua orang tua Devano dengan sopan sebelum akhirnya melangkahkan kakinya ke dalam dengan Fahisa yang merangkulnya.


Mereka langsung pergi ke ruang makan dan Adara duduk tepat di samping Devano juga berhadapan dengan orang tuanya.


"Apa kabar sayang?" Tanya Fahisa


"Baik"


"Bagaimana kabar Ayah kamu?" Tanya Daffa


"Baik Ayah juga sering ke rumah." Kata Adara dengan senyuman


Perkataan itu membuat Fahisa juga merasa senang karena sebelumnya dia tau bahwa hubungan Adara dengan Ayahnya tidak baik.


"Sebelum makan malam ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan." Kata Daffa membuat Adara terdiam dan menatapnya


"Jangan takut Adara tenang saja." Kata Fahisa dengan senyuman


Adara hanya mengangguk singkat sambil membentuk sebuah senyuman tipis.


"Devano bilang kamu sudah bersedia untuk menikah, tapi saya masih mau memastikan kalau Devano tidak memaksa kan?" Kata Daffa


"Tidak Om sama sekali Devano tidak pernah maksa Adara." Kata Adara


"Tuh kan Dad gak percaya banget sama anak sendiri." Kata Devano membuat Daffa menatapnya dengan tajam


"Devano diam Daddy sedang tidak bicara sama kamu." Kata Daffa


"Galak banget"


"Vano"


"Iya Mom enggak." Kata Devano sambil tersenyum


"Ada hal lain yang mau saya tanyakan, kenapa kamu tiba-tiba berubah fikiran? Seingat saya kamu bilang bahwa kamu ingin menikah setelah lulus kuliah." Kata Daffa


"Sebenarnya Adara bilang seperti itu hanya untuk alasan karena jujur Adara bukan tidak siap, tapi takut dan merasa tidak pantas bersanding dengan Devano." Kata Adara pelan


Perkataan itu membuat kedua orang tua Devano menatapnya dalam diam.


"Adara dulu bukan anak yang baik bahkan sering buat masalah dan lagi orang tua Adara gak pernah akur satu sama lain, jadi Adara selalu berfikir bahwa ada wanita lain yang lebih pantas untuk Devano," Kata Adara.


Menghela nafasnya pelan Adara mendongak dan menatap Devano dengan senyuman.


"Tapi, sekarang udah enggak lagi Devano udah berhasil buat Adara hilangin semua fikiran itu." Kata Adara


Daffa mengangguk singkat dan menatap keduanya secara bergantian.


"Baik kalau gitu saya akan atur pertemuan dengan orang tua kamu"


Perkataan Daddy nya itu sudah cukup membuat senyuman Devano mengembang dengan sempurna.


Ah malam ini dia merasa sangat bahagia.


°°°°


Updatee Vano duluu🥰


Sekarang lagi mikirin visual untuk Adara nih, Kira-kira siapa yaa🤨