My Possessive Twins

My Possessive Twins
Devano (50)



Devano keluar dari ruangan Daffa dengan satu tangan yang dia masukkan ke saku celana dan kedatangan pria itu membuat banyak pasang mata kini menatap ke arahnya dengan penuh kekaguman. Selama ini keluarga Wijaya memang selalu berhasil menarik perhatian banyak pasang mata, begitu juga dengan Daffa dulu sekarang Devano pun sama.


Sosok pria itu selalu berhasil menjadi pusat perhatian di kantor meskipun Devano baru saja mulai bergelut di dunia perkantoran, tapi bisa di bilang pria itu sudah cukup faham bahkan bukan sekali dua kali Daffa meminta anaknya itu untuk menggantikan dia menghadapi rapat penting. Raut wajahnya yang jarang menunjukkan senyuman justru menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang ketika melihat Devano.


Rasanya semua gadis yang bekerja di sana selalu ingin memandang wajah Devano.


Devano pergi ke bawah untuk menyambut tamu yang kata Daffa sangat penting makanya Devano bergegas melangkahkan kakinya. Sampai di lobi Devano sudah melihat beberapa mobil yang berhenti di arena kantor dan langsung saja Devano pergi ke sana.


Seorang pria paruh baya keluar dari sana dengan setelan jasnya dia melihat ke sekitar sebelum akhirnya melangkahkan kakinya dan Devano langsung mendekat.


"Devano?"


Devano mengangguk sebagai jawaban.


"Daffa sudah bilang anaknya akan turun, kamu mirip dengan dia"


Devano tersenyum tipis lantas mengantar pria paruh baya itu ke ruangan Daddy nya yang terletak di lantai lima.


"Jangan terlalu canggung saya bukan sekedar rekan kerja, tapi teman ayah kamu." Kata pria paruh baya yang Daffa bilang bernama Tristan itu


"Iya Pak"


"Pak? Jangan panggil saya Pak panggil Om Tristan saja." Kata Tristan


"Iya Om"


Begitu lift berhenti di lantai lima Devano membawa Tristan ke ruangan Daddy nya dan membuka pintu agar mereka berdua bisa masuk ke dalam. Melihat itu Daffa langsung berdiri dia menghampiri salah satu rekan kerjanya yang juga merupakan teman dekatnya lalu menjabat tangan dan memeluknya singkat.


Devano memperhatikan dalam diam lalu ketika kedua orang itu duduk Devano berdiri di dekat Daffa duduk.


"Duduk Devano." Kata Daffa


Devano mengangguk patuh dan duduk di antara kedua orang yang ada di dekatnya.


"Kali ini apa?" Tanya Daffa


"Hotel"


"Hotel?"


"Iya sebuah hotel bintang lima." Kata Tristan


"Tempatnya?"


"Sudah aku tentukan saat ini kami sedang berbincang dengan beberapa pemilik tanah agar mau menjual tanah mereka." Kata Tristan


Daffa mengangguk singkat lalu menatap anaknya sejenak.


"Akan aku serahkan pada Devano." Kata Daffa


"Kamu serius Daf?" Tanya Tristan


"Tentu saja." Kata Daffa sambil mengangkat bahunya acuh


"Ini proyek yang cukup besar." Kata Tristan


"Jangan ragukan kemampuan anakku." Kekeh Daffa sambil menepuk pelan pundak Devano


"Yaa dia kelihatannya sama seperti kamu." Kata Tristan


Daffa tersenyum bangga dan Devano hanya bisa tersenyum tipis menanggapi percakapan dua orang di dekatnya.


Saat tengah duduk diam tiba-tiba saja Devano merasa perutnya bergejolak dia seperti ingin muntah dan langsung saja Devano meminta izin untuk pergi ke kamar mandi. Begitu masuk ke dalam kamar mandi Devano benar-benar muntah dan cukup banyak membuat pria itu berusaha mengingat apa yang telah dia makan.


Devano tidak ada penyakit lambung seperti Devina dia biasa makan apa saja tanpa takut perutnya sakit atau alerginya kambuh, tapi kali ini Devano benar-benar merasa mual tidak karuan. Cukup lama Devano berada di kamar mandi hingga suara Daffa terdengar bersamaan dengan pintu yang di ketuk lalu terbuka.


"Ada apa Vano?" Tanya Daffa cemas


Pria itu mendekati anaknya sedangkan Devano masih diam sambil menunduk karena merasa mual.


"Kamu sakit? Kita pulang saja kalau begitu." Kata Daffa


Devano mengangguk singkat lalu menerima uluran tangan Daffa dan membiarkan Daddy nya itu memapahnya.


"Tristan kita lanjutkan pembicaraan kita lain waktu." Kata Daffa yang meminta Devano untuk duduk sebentar


Devano bersandar di sofa sambil meringis pelan.


Melihat keadaan ini Tristan berusaha memahami dan langsung pamit untuk keluar dari ruang kerja Daffa mereka bisa membicarakan masalah bisnis besok karena bagi Daffa keluarganya adalah yang paling utama.


"Ayo minum dulu." Kata Daffa


Devano meminum air putih yang Daffa berikan.


"Perlu ke rumah sakit?" Tanya Daffa


Devano dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Yasudah ayo pulang biar kamu bisa istirahat di rumah." Kata Daffa


Begitu selesai membereskan semua barang-barangnya Daffa langsung membantu Devano berdiri dan memapahnya meskipun Devano bilang dia bisa berjalan sendiri.


Keluar dari ruangan semua mata langsung menatap keduanya dan para wanita merasa sedih melihat Devano yang terlihat sedikit pucat. Salah satu pegawai Daffa mendekat dan membantu dia untuk memapah Devano hingga luar.


Sampai di bawah Devano langsung masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Daffa yang tanpa menunggu lagi bergegas mengendarai mobilnya meninggalkan area kantor. Sesekali dia melirik Devano yang memegang kepalanya sambil meringis pelan karena merasa mual lagi.


Astaga bau mobil membuat Devano mau muntah.


Devano langsung membuka kaca mobil agar dia bisa mendapat udara segar.


"Kita ke rumah sakit saja atau ke klinik?" Kata Daffa


"Enggak mau Dad pulang aja." Kata Devano pelan


Daffa mengalah dia akhirnya mengendarai mobilnya menuju rumah dengan sedikit terburu-buru.


Kelihatannya Devano sangat lemas bibirnya sedikit pucat padahal tadi dia baik-baik saja.


°°°°


Masuk ke dalam rumah Devano yang merasa sedikit membaik jalan tanpa bantuan Daffa dan dia melihat Adara bersama dengan Fahisa yang tengah makan. Keduanya sedikit terkejut dengan kehadiran Devano dan Daffa yang pulang lebih awal, tapi Adara yang sama sekali tidak sadar bahwa suaminya sakit terlihat begitu senang.


Adara berlari mendekat menghampiri suaminya lalu mencium punggung tangan Devano juga mertuanya. Baru dia sadar ketika Adara mendongak dan melihat wajah Devano yang pucat membuat senyumnya pudar seketika.


"Van kamu sakit? Kamu kok pucat banget?" Kata Adara cemas


Devano hanya bergumam pelan sebagai tanggapan.


"Mau ke kamar Ra." Kata Devano


"Kamar? Ayok ke kamar kamu mau istirahat ya?" Kata Adara sambil merangkul suaminya


"Adara suruh Devano istirahat ya? Daddy akan telpon Dokter tadi dia muntah banyak sekali." Kata Daffa


Adara mengangguk lalu mengajak Devano untuk naik ke atas dan pergi ke kamar agar bisa berbaring.


Begitu masuk ke dalam kamar Adara membantu Devano berbaring di tempat tidur lalu menatap suaminya itu dengan sedih, dia mengusap kepala Devano dengan sayang.


"Vano"


"Mual banget aku Ra padahal aku gak makan apa-apa tadi juga makan siang pakai ayam." Kata Devano sambil memeluk lengan istrinya


"Perutnya sakit?" Tanya Adara


Devano menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Mual aja Ra gak tau deh tiba-tiba tadi mual banget dan akhirnya muntah." Kata Devano


Adara terlihat sedih dia masih terus mengusap kepala Devano dengan sayang.


"Kepalanya pusing ya?" Kata Adara lagi


Devano kali ini mengangguk sebagai jawaban.


"Yaudah kamu tidur aja ya? Nanti Daddy kamu telpon Dokter." Kata Adara


"Kamu udah makan?" Tanya Devano sambil mendongak dan menatap Adara dengan sayu


"Udah"


"Sini aja temenin aku Ra." Kata Devano manja


Adara mengangguk dia berpindah tempat lalu memeluk Devano dengan sayang dan membiarkan suaminya itu mendusal manja di lehernya.


Padahal Adara tidak pernah merasa mual semenjak kehamilannya dia terlihat biasa saja.


Kasihan suaminya dia terlihat pucat dan sekarang Adara menemaninya hingga dia tertidur lelap dalam dekapannya.


°°°°


Aku updateee hehe maaf ya baru bisa update🥰


Author nya lagi sakit gigi huhuuu😭