My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (41)



"Ishh jangan pegang-pengang! Aku marah ya?!"


Perkataan Devina dengan raut wajah sebalnya membuat Ziko tertawa karena kekasihnya terlihat begitu menggemaskan. Mereka baru saja selesai makan setelah perdebatan singkat karena Devina yang terus mengajak pulang, kesal sekali dengan Ziko.


Saat keluar dari tempat makan Devina menepis tangan Ziko yang mau merangkulnya karena masih sebal, tapi hal itu malah membuat Ziko tertawa dan meraih tangannya untuk digenggam. Berusaha melepaskannya Devina diam sambil mengerucutkan bibirnya sebal ketika Ziko berbisik pelan ditelinganya.


"Kalau di lepas aku cium ya?"


Begitu sampai di parkiran Devina melepaskan tangannya dan meminta Ziko untuk membuka pintu mobil. Setelah keduanya berada di dalam Ziko tidak langsung melajukan mobilnya, tapi diam sambil menatap wajah menggemaskan Devina.


"Kenapa lihatin Vina! Cepetan jalan! Pokoknya Vina marah!" Kata Devina


Merasa gemas Ziko mengacak rambut kekasihnya dan membuat Devina berdecak kesal lalu memukul lengannya.


"Ihh nyebelin! Aku marah! Ziko aku marah!" Kata Devina


"Gemes banget Vin." Kekeh Ziko


"Aku marah kok malah bilang gemas!" Kata Devina kesal


"Ya kamu memang gemesin, cium ya?" Kata Ziko


"Tuh kann! Malas ah sama Ziko!" Kata Devina sambil mencubit pelan lengan kekasihnya


"Iya maaf cantikk." Kata Ziko


Devina mengerucutkan bibirnya sebal, tapi diam dan menatap wajah Ziko ketika pria itu mengusap pipinya dengan lembut.


Tatapan teduh itu selalu berhasil menghanyutkan Devina dan membuat dia merasa tenang juga senang.


"Ziko jangan gitu lagi nanti kalau dilihat orang gimana?" Kata Devina


"Iya enggak, maafin aku ya?" Kata Ziko


Devina tersenyum lalu mengangkat jari kelingkingnya.


"Janji dulu." Kata Devina


Menautkan jarinya disana Ziko dapat melihat kekasihnya tersenyum senang dan setelah kedua jari mereka terlepas Ziko mengusap puncak kepala Devina dengan sayang.


"Mau kemana lagi?" Tanya Ziko


"Emm mau pulang lagian ini udah mau sore tau." Kata Devina


"Oke kita pulang." Kata Ziko sambil tersenyum


Menghidupkan mobilnya Ziko meninggalkan area mall dan pergi menuju rumah Devina untuk mengantarkan kekasihnya itu pulang. Sebenarnya dia masih ingin berlama-lama dengan Devina, tapi benar ini sudah sore yang artinya mereka telah menghabiskan seharian bersama.


Sayangnya Ziko merasa seharian itu masih sangat sebentar.


"Vin"


"Emm"


"Kita kapan mau cari cincin?" Tanya Ziko


"Kapan yaa? Gimana kalau minggu depan?" Kata Devina


"Hmm hari kamis aja gimana? Kamu kan cuman ada satu mata kuliah." Kata Ziko


"Boleh juga terserah Ziko aja." Kata Devina sambil tersenyum


"Aku gak sabar mau pasang cincin di jari manis ini." Kata Ziko


Tangan Devina di raih lalu dicium oleh kekasihnya.


"Akuu sayang bangettt sama Ziko." Kata Devina


Ziko menoleh dan melihat kekasihnya yang bersandar pada jok mobil sambil menatapnya dengan senyuman.


"Iya aku tau"


"Dulu Vina suka kesel sama Ziko soalnya Ziko nyebelinn banget suka mainin rambut Vina terus cubit pipi dan nyontek jawaban Vina!" Kata Devina membuat Ziko terkekeh mendengarnya


"Terus kenapa kamu bisa suka sama aku?" Tanya Ziko


"Em karena Ziko baik banget sama aku terus perhatian banget dan Vina gak tau kenapa setiap kali Ziko natap Vina atau godaiin aku jadi salting padahal biasanya enggak." Kata Devina


"Kalau aku udah dari awal suka sama kamu Vin dari pertama kali kamu senyum sama aku." Kata Ziko


Matanya tetap menatap ke depan, tapi bibir Ziko membentuk sebuah senyuman.


"Kenapa? Kenapa banyak yang suka sama senyuman Vina? Vano sama Daddy juga bilang kalau mereka suka lihat senyum Vina." Kata Devina


"Senyuman kamu penuh ketulusan Devina dan lagi kamu beratus kali lipat lebih cantik ketika kamu tersenyum." Kata Ziko


"Makasihh"


Devina tersenyum manis lalu mengambil ponsel Ziko dan memainkannya.


"Ziko aku mau main game." Kata Devina


"Hmm"


Ziko hanya bergumam pelan karena sebelumnya Devina memang mendownload game kesukaannya di ponsep Ziko agar dia bisa main disana juga.


Selama perjalanan mereka diam karena Devina sibuk dengan game nya bahkan hingga mereka sampai di rumah keluarga Wijaya kekasihnya itu masih sibuk main, tidak sadar bahwa mobilnya sudah berhenti. Akhirnya Ziko memilih diam dan tidak memberi tau apapun sampai sekitar sepuluh menit Devina selesai lalu menatapnya kemudian melihat ke sekitarnya juga.


Dia tertawa kecil ketika sadar bahwa mereka sudah sampai dan Devina menatap kekasihnya yang kini menggelengkan kepalanya pelan.


"Biar kamu sadar sendiri kalau udah sampai." Kata Ziko


Devina menunjukkan cengirannya lalu mencubit pelan pipi Ziko karena gemas.


"Ziko mau masuk dulu?" Tanya Devina


"Langsung aja ya? Gak papa kan?" Kata Ziko yang dijawab dengan anggukan oleh kekasihnya


"Yaudah Vina turun dulu ya? Ziko hati-hati jangan lupa kabarin aku." Kata Devina


Melepaskan sabuk pengamannya Devina hendak pergi keluar dari dalam mobil, tapi Ziko menahan lengannya dan ikut melepaskan sabuk pengaman.


"Vin"


"Iya? Kenapa Ziko mau..."


Mata Devina melotot kala Ziko mencium bibirnya apalagi ketika Ziko menjauhkan sedikit wajahnya dan mengusap pipi Devina dengan lembut lalu melakukannya sekali lagi.


"Ziko"


Wajah Devina memerah sempurna dan membuat Ziko semakin senang melihatnya. Menarik kekasihnya ke dalam pelukannya Ziko memejamkan matanya sebentar.


"Ziko nakal!"


¤¤¤


Cukup lama tidak menghabiskan waktu bersama Adara membuat Devano ingin berlama-lama dengan gadis itu sekarang bahkan meskipun hari sudah semakin sore, tapi Devano masih ingin menghabiskan waktunya bersama Adara. Sekarang Devano berada di rumah kekasihnya dan mereka menghabiskan banyak waktu berdua, tidak jangan berfikiran yang aneh-aneh.


Tadi mereka mencoba untuk memasak dengan bekal vidio dari youtube dan ya hasilnya lumayan masih bisa untuk di makan. Selain itu mereka menonton film sambil memakan cemilan yang sebelumnya sudah mereka beli dan bercerita.


Adara menceritakan banyak hal pada Devano tentang perkuliahannya atau pekerjaannya di butik Kakak kekasihnya yang semakin hari semakin menyenangkan. Sekarang Adara juga sudah memiliki beberapa teman dan dia sudah merasa semakin baik.


"Kak Jeni namanya Van kamu tau gak? Dia kerja di butik Kakak kamu udah lama banget dan dia itu baik sama aku waktu habis gajian dia pernah traktir aku makan dan nganterin aku pulang juga karena rumah kita searah." Kata Adara


"Iya aku pernah ketemu waktu beberapa kali ke butik Kak Ara." Kata Devano


"Makasih banget ya Van, semua karena kamu aku bisa dapat rumah ini lagi terus gak digangguin sama Ayah dan kasih aku pekerjaan di butik Kakak kamu." Kata Adara sambil menatap kekasihnya dengan senyuman


"Gak capek bilang makasih terus?" Tanya Devano


Adara tersenyum lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Enggak aku justru maunya bilang makasih setiap hari karena tanpa kamu aku gak mungkin masih ada disini Van." Kata Adara


"Adara semua itu bukan hanya karena aku, tapi karena diri kamu sendiri juga kamu yang mau membuka hati dan percaya dengan orang lain serta gak menutup diri lagi." Kata Devano


Adara tersenyum lalu meminta Devano untuk menunggu dia sebentar dan tanpa mengatakan apapun Adara berlari kecil ke kamarnya. Menatap kekasihnya dengan raut wajah bingung Devano hanya menunggu hingga Adara keluar dari kamar dan menghampirinya sambil menyembunyikan sesuatu di balik tubuhnya.


Saat kembali duduk Adara tersenyum pada Devano dan menatapnya dengan penuh ketulusan membuat Devano merasa begitu tenang. Tatapan itu sangat berbeda dengan tatapan ketika mereka pertama kali bertemu.


"Van"


"Hmm"


"Aku punya sesuatu." Kata Adara membuat Devano menatapnya dengan alis bertaut


"Apa?" Tanya Devano


Tersenyum manis Adara memberikan kotak yang tadi dia taruh di belakang tubuhnya dan memberikan pada Devano. Mengambil kotak itu dari tangan kekasihnya Devano langsung membukanya dan melihat sebuah jam tangan di dalam sana.


Menatap Adara yang kini menatapnya dengan penuh harap membuat Devano tersenyum.


"Maaf itu bukan jam mahal." Kata Adara pelan


"Gak masalah aku suka." Kata Devano


"Aku pakein ya?" Kata Adara yang dijawab dengan anggukan oleh Devano


Meraih tangan kekasihnya Adara memakaikan jam tangan yang dia beli dengan gaji yang dia dapatkan dari bekerja di butik. Senyum Adara mengembang dengan sempurna kala melihat jam itu melingkar manis di tangan kekasihnya.


"Kamu kapan belinya?" Tanya Devano sambil menatap jam yang ada di tangannya


"Em udah seminggu, tapi malu dan lagi waktu itu Devina kan habis kena musibah makanya aku simpan dulu." Kata Adara


"Makasih aku suka." Kata Devano


"Aku takut kamu gak suka karena itu bukan jam mahal." Kata Adara membuat Devano tertawa mendengarnya lalu mencubit pelan pipi kekasihnya


"Mahal gak mahal sama aja Adara, sama-sama untuk melihat jam dan yang paling penting ini dari kamu yang artinya jam ini sangat berarti untuk aku." Kata Devano


"Kamu sering banget aku kasih sesuatu rasanya aku gak bisa balas itu semua." Kata Adara


"Bisa, mau tau dengan apa?" Tanya Devano


"Apa?"


"Menikah dengan aku setelah kita lulus nanti." Kata Devano dengan penuh keyakinan


Adara menatapnya dengan senyuman dan ketika ingin mengatakan sesuatu Devano mencium bibirnya sekilas.


"Ciuman ini balasan untuk jam tangannya"


¤¤¤


Ziko sama Devano meresahkan sekali yaa :)


Aku yang nulis aku yang baper aku yang mau punya pacar kayak mereka berdua😭