My Possessive Twins

My Possessive Twins
Devano (32)



Sejak tadi Adara berdiam diri di kamar mandi tampak ragu untuk keluar karena merasa takut dengan Devano, tidak bukan takut, tapi dia bingung harus ngapain kalau keluar nanti dan melihat Devano yang menunggunya. Makan malam baru saja selesai Devano juga sudah selesai mengganti pakaiannya bahkan pria itu memakai baju di hadapannya, berbeda sekali dengan Adara yang mengganti pakaian di kamar mandi dan sekarang malah tidak berani untuk keluar.


Sungguh Adara takut dia benar-benar tidak mau keluar dari kamar mandi dan bertemu dengan Devano yang baru beberapa saat lalu mengetuk pintu kamar mandi. Terhitung sudah setengah jam Adara berada di kamar mandi dan sepertinya Devano sangat tidak sabar hingga dia kembali mengetuk pintu kamar mandi.


Astaga bawa Adara pergi sekarang juga!


Sebenarnya tidak ada masalah Adara hanya memakai piyama tidurnya yang biasa dia pakai ketika di rumah, tapi tetap saja Adara takut.


"Ra? Aku dobrak ya pintunya kalau kamu gak keluar?" Kata Devano


"Ih iya sebentar." Kata Adara


Menggigit pelan bibir bawahnya Adara berdiri di dekat pintu sambil menghela nafasnya pelan sebelum akhirnya menarik kenop pintu kamar mandi dan keluar dari sana. Tepat begitu dia membalikkan tubuhnya Adara di buat tersentak dengan kehadiran Devano yang membuatnya memundurkan langkah hingga terpojok ke pintu kamar mandi.


"Kenapa hm?" Tanya Devano pelan


"Enggak enggak ayuk tidur." Kata Adara canggung


Adara sangat yakin kalau wajahnya sudah memerah sekarang.


"Nanti Ra"


Devano mengurung tubuhnya dengan kedua tangan membuat Adara menahan nafasnya kala pria itu mendekatkan wajahnya.


"Van"


Devano malah semakin mendekat bahkan bibir pria itu sudah menyentuh telinganya membuat Adara merinding sendiri.


"Van"


"Hm"


"Ayuk tidur." Kata Adara pelan


"Hm belum ngantuk." Kata Devano


Tangan Devano membelai wajahnya lalu menyampirkan rambutnya ke belakang telinga.


"Vann jangan sekarang yaa? Jangan sekarang ya?" Kata Adara panik


Devano menahan tawanya dia menatap wajah Adara yang memerah sempurna.


"Jangan sekarang apanya?" Tanya Devano pura-pura tidak mengerti


"Ya jangan sekarang kita tidur aja." Kata Adara pelan


"Kenapa jangan sekarang?" Tanya Devano


"Kamu pasti capek...."


"Enggak aku enggak capek." Kata Devano dengan cepat


"Vann aku takut nanti aja." Kata Adara membuat Devano tertawa kecil mendengarnya


"Takut kenapa?" Tanya Devano


"Van jauhan." Pinta Adara


"Hm enggak mau." Kata Devano


"Van takut beneran jangan sekarang ya?" Kata Adara lagi


"Apanya yang jangan sekarang?" Tanya Devano


"Vann kamu tau maksud aku." Kata Adara dengan suara yang sangat pelan


"Kenapa enggak boleh sekarang?" Tanya Devano


"Takut Van aku..."


Devano menghentikan ucapan itu dengan menyatukan bibir mereka dan kedua tangannya kini berubah melingkar di pinggang ramping Adara, sedangkan Adara menahan tubuh Devano agar tidak semakin menempel dengannya.


Devano semakin memperdalam ciuman mereka dan menyingkirkan tangan Adara yang menahan dadanya lalu membawa kedua tangan itu untuk melingkar di lehernya. Perlahan Adara terhanyut sendiri dalam permainan Devano hingga kini dia mengusap pelan tengkuk pria itu dan membuat Devano mengerang.


Menjauhkan sejenak wajahnya Devano mencium sekilas bibir Adara lalu turun dan berhenti di leher jenjangnya membuat Adara langsung mendongak, memberikan akses untuk Devano melakukan lebih.


"Van"


"Hm aku gak akan buat di tempat yang terlihat." Bisik Devano


Devano menuju belakang lehernya setelah menyampirkan rambutnya ke samping dan dia memberikan kecupan di sana membuat Adara menahan nafasnya sambil mencengkram baju yang Devano kenakan.


"Ayo"


Devano membawa Adara ke ranjang dan mereka berdua berbaring di sana, tapi Adara terus mengalihkan pandangannya.


"Ra"


Adara bergumam pelan, dia sangat merinding sekarang apalagi ketika Devano menyentuh wajahnya.


Devano bangun lalu di depan Adara dia membuka lagi pakaian yang tadi dia kenakan membuat Adara menahan nafasnya untuk sesaat.


Sialan!


Tubuh Devano sangat menggoda mungkin karena sejak dulu pria itu suka berolahraga mulai dari lari pagi hingga basket Devano tidak pernah melewatkannya.


"Van"


"Hm"


"Mau pegang boleh gak?" Tanya Adara tampa sadar


Devano tertawa mendengarnya dan dia hanya mengangguk seraya membawa tangan Adara untuk menyentuh dada hingga perutnya.


Memejamkan matanya untuk sesaat Devano menahan tangan Adara lalu menariknya pelan dan membuat Adara berseru kaget ketika kini dia berada dalam dekapan Devano.


Menundukkan wajahnya Devano kembali mencium leher Adara dan membuat istrinya itu menggigit pelan bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara apapun dan hal itu membuat Devano penasaran sendiri. Menoleh sejenak untuk menatap Adara dia dibuat tersenyum ketika melihat Adara yang masih menggigit bibir bawahnya.


"Jangan di gigit sayang." Kata Devano sambil mengusap bibir bawah Adara


Adara semakin merasa malu dia memeluk Devano dan menyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya.


"Adara"


"Malu Van." Rengek Adara


"Kamu bahkan masih berpakaian lengkap." Kekeh Devano


"Van jangan sekarang." Rengek Adara lagi


"Kenapa?"


"Nanti kalau besok aku gak bisa jalan gimana?" Tanya Adara membuat Devano tidak bisa lagi menahan tawanya


"Aku gak bakal sekasar itu Ra." Kekeh Devano


"Vann"


"Sst kamu diam aja." Kata Devano


Tangan Devano menyusup masuk ke dalam piyama tidur istrinya dan mengusap punggungnya dengan lembut lalu terus naik ke atas.


"Van"


"Sst"


Adara semakin mengeratkan pelukannya ketika Devano melepaskan kaitan bra yang masih dia kenakan bahkan tanpa sadar Adara menahan nafasnya untuk sejenak.


"Sini"


"Aaa enggak mau Van malu." Rengek Adara yang semakin mengeratkan pelukannya


"Adara"


"Harus impas masa aku aja yang gak pakai baju." Kata Devano


"Ya kamu pakai lagi bajunya." Kata Adara yang masih belum mau melepaskan pelukannya


"Hm gak mau." Kata Devano dengan tangan yang terus mengusap punggungnya


Cukup lama hingga Adara menyerah dan melepaskan pelukannya dengan wajah yang menunduk karena malu. Melihat hal itu Devano tersenyum dia menarik pelan dagu Adara agar menatapnya lalu mencium sekilas bibirnya.


"Trust me"


Adara tidak memberikan penolakan apapun dan membiarkan Devano membuka satu per satu kancing dari baju yang dia kenakan dan meloloskan pakaiannya.


Wajah Adara semakin memerah dia kembali memeluk Devano begitu pakaiannya terlepas.


"Vannnn"


Adara terus merengek karena malu, tapi hal itu malah membuat Devano gemas sendiri dan perlahan mendorong tubuh mereka untuk berbaring di atas ranjang dengan Devano yang berada di atas tubuh istrinya.


Tangan Devano bergerak nakal dan membuat Adara mengeluarkan suara yang sejak tadi dia tahan, tapi tak lama setelahnya Devano menjatuhkan dirinya ke samping lalu membawa Adara ke dalam dekapannya.


"Besok kita ke Villa kita lanjutin di sana"


Adara merasa lega mendengarnya meskipun dia sudah mulai menikmati, tapi tidak jangan hari ini dia akan sangat malu ketika keluar kamar besok.


"Tapi, aku mau sesuatu." Kata Devano


Adara baru ingin bertanya, tapi dia mengerang pelan kala bibir Devano menyentuh dadanya.


Astagaaa Adara mau pingsan sekarang!


°°°°


Author mau melarikan diri dari readers yang menyangka part ini adalah part untuk malam pertama, lariiiii💃💃