
"Awhh"
Devina meringis kesakitan ketika tubuhnya di dorong hingga membentur tembok kamar mandi, dihadapannya ada dua orang Kakak tingkat yang menatapnya dengan tajam dan Bella teman sekelasnya. Sebelum kelas dimulai Devina memang pergi ke kamar mandi, tapi begitu keluar dari bilik kamar mandi tiba-tiba Devina di dorong begitu saja.
Mendadak ingatan Devina kembali ketika masa SMA dulu dimana Hana menamparnya di toilet sekolah dan sekarang entah apa yang akan ketiga orang itu lakukan pada Devina. Kedua temannya belum datang tadi ketika Devina chat Hanifa sedang menunggu Intan yang katanya ingin menjemputnya.
"Dia?"
Salah satu Kakak tingkatnya itu bicara pada Bella dan teman sekelasnya itu mengangguk sebagai jawaban. Wanita berjalan mendekat membuat Devina memundurkan langkahnya hingga dia terpojok ke tembok.
Jantung Devina berdetak sangat cepat dan dia tersentak ketika rahangnya dicengkran dengan kuat.
"Jadi lo cewek yang keganjenan sama Lucas?" Tanyanya geram
Devina menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu berusaha melepaskan tangan yang mencengkram rahangnya.
"Shit! Lucas gak pernah jauhin gue apalagi sampe minta putus dan karena lo dia berubah." Kata wanita itu lagi
Dengan paksa dia mengambil ponsel Devina yang ada di saku.
"Jangan"
Terlambat wanita itu sudah mengambil ponselnya dan membuka ponsel Devina yang tidak dikunci.
"Oh udah punya pacar juga? Udah punya pacar masih keganjenan ya?" Sindirnya
"Lihat Yun." Kata temannya dan Bella
Yuna, wanita yang tadi mencengkram rahang Devina dengan kuat memberikan ponsel itu kepada temannya.
"Lihat chat dia ada chat dari cowok gue apa enggak kalau gak ada lihat di arsip atau kontak yang diblokir." Kata Yuna
Devina menggelengkan kepalanya pelan dan berusaha merebut ponselnya, tapi sekali lagi dia dorong hingga jatuh.
"Enggak ada apa-apa disana! Bukan salah aku cowok Kakak yang deketin aku." Kata Devina marah
Dia tidak suka ponselnya diperiksa sembarang orang.
"Oh berani jawab?" Kata Yuna
Devina berdiri dan menatapnya dengan tajam.
"Ya aku enggak salah." Kata Devina
Yuna berdecak kesal dan kembali mencengkram rahang Devina hingga membuat dia kembali meringis.
"Ada, nomornya di blokir Lucas memang chat dia terus." Kata Bella
Melepaskan tangannya Yuna mengambil ponsel itu dari tangan Bella membuat Devina kembali berusaha untuk merebutnya.
"Cakep juga cowoknya, mau tukeran? Gue kasih Lucas, tapi lo kasih dia." Kata Yuna tanpa dosa
Wajah Devina memerah dia mencoba untuk mengambil ponselnya lagi.
"Balikin! Harusnya Kakak marah sama Kak Lucas dan periksa hp dia bukan hp aku! Mungkin bukan cuman aku yang dia chat." Kata Devina
"Kita lupaiin Lucas dan omongin cowok lo yang ganteng ini, gimana kalau dia buat gue?" Tanya Yuna dengan alis bertaut
"Jangan beranii deketin Zikoo!" Bentak Devina
Tidak boleh ada yang merebut Ziko darinya Devina tidak akan membiarkan.
"Sini ponsel akuu"
"Nanti gue mau ambil nomornya dulu." Kata Yuna
Wajah Devina semakin memerah dia mengambil paksa ponselnya dan mendorong tubuh Yuna hingga jatuh. Di genggamnya ponsel itu dengan sangat erat, tidak ada yang boleh berani mendekati kekasihnya.
Ziko hanya miliknya.
"LO!"
"Vinn"
Ketukan di kamar mandi membuat Yuna menggeram kesal dia mendekati Devina dan mendorongnya balik.
"Denger jangan bilang apa-apa! Jangan berani lo bilang ke Lucas atau siapapun kalau gue nemuin lo!" Kata Yuna dengan penuh penekanan
Yuna meminta Bella untuk membuka pintu kamar mandi yang tadi di kunci lallu keluar dari sana bersama-sama. Mata Hanifa menatap nyalang ke mereka lalu dia dan Intan bergegas masuk ke dalam untuk melihat Devina.
Devina diam pipinya sedikit memerah dan rambutnya juga cukup berantakan dengan tangan yang terkepal kuat.
"Vin mereka ngapainn?" Tanya Intan heboh
Devina menggelengkan kepalanya pelan dan menyimpan ponselnya di saku lalu berjalan ke arah kaca untuk membenarkan rambutnya yang berantakan.
Dia tidak menangis karena sekarang Devina sedang belajar untuk tidak cengeng.
"Mereka ngapain Vin? Perlu gue bilang kembaran lo?" Tanya Intan lagi
Devina langsung menatapnya dan menggelengkan kepala pelan.
"Jangan"
Menepuk-nepuk celananya yang kotor Devina yang sudah merasa kalau penampilannya sama seperti tadi mengajak mereka untuk kembali ke kelas. Tidak banyak bertanya mereka hanya ikut saja, masih sungkan untuk bertanya karena mereka belum terlalu mengenal meskipun sudah dekat.
Begitu ingin masuk ke dalam kelas mata Devina melihat sosok Lucas yang juga menatapnya dan dengan memasang raut wajah datarnya Devina masuk ke dalam kelas. Selagi menunggu dosen yang masuk Devina mengeluarkan ponselnya dan melihat foto dia bersama dengan Ziko sambil mengusapnya pelan.
Ziko hanya miliknya tidak akan dia biarkan seorangpun merebut Ziko darinya.
¤¤¤
Selama di kelas Devano merasa tidak tenang entah karena apa punggung dan tangannya juga sakit tiba-tiba, satu hal yang terlintas difikirannya hanya Devina. Sejak dulu Devano seolah dapat merasakan apa yang kembarannya rasakan mungkin itu sebabnya sekarang Devano jadi tidak tenang.
Berkali-kali mencoba hingga Devina mengirim pesan untuknya.
Kenapa Vano?
Aku lagi di kelas nanti kena marah dosen
Ada yang penting? Kalau ada aku minta izin untuk keluar kelas
Membaca itu Devano menghela nafasnya lega dan membalas pesan Devina lalu kembali ke kelas.
^^^Enggak papa Vin^^^
^^^Gak tau aku tiba-tiba cemas takut kamu kenapa-kenapa^^^
^^^Yaudah semangat belajarnya ya^^^
Kembali ke dalam kelas dan duduk di tempatnya yang tadi lengan Devano disenggol oleh teman disebelahnya yang bertanya tanpa suara.
Kenapa?
Devano hanya menjawab dengan gelengan singkat membuat Alex mengangguk faham.
Iya, hanya dia dan Alex yang satu jurusan serta satu kelas.
Kembali berusaha untuk fokus entah kenapa Devano masih merasa cemas tanpa alasan.
Apa Devina benar-benar baik saja?
¤¤¤
"Kenapa Vin?"
Merasa aneh dengan tingkah kekasihnya yang mencengkram erat lengannya ketika Ziko menyusulnya ke kelas membuat Ziko penasaran dan khawatir. Matanya menjelajah untuk melihat apa ada yang memperhatikan mereka, tapi tidak dan Devina ketika ditanya juga hanya menjawab dengan gelengan singkat.
Sangking penasaran Ziko menghentikan langkahnya dan menunggu kedua teman Devina yang masih berjalan di belakang mereka. Dia tau Devina itu tertutup dulu saja semua hal yang menimpa Devina dia tau dari Mona.
"Apa ada sesuatu? Ada yang nemuin Devina atau ngelakuin sesuatu sama dia?" Tanya Ziko ketika kedua teman Devina berdiri dihadapan mereka
"Ziko enggak papa." Kata Devina
Tidak lupa Devina menatap kedua temannya dengan wajah memelas, jangan sampai Ziko atau Devano tau.
"Zikooo"
Ziko tetap diam dan menatap kedua teman Devina bergantian.
"Enggak ada"
Masih tidak percaya Ziko menghela nafasnya pelan dan mengajak Devina untuk pulang. Sampai di parkiran Ziko tidak langsung pergi dia meminta Devina untuk menatap matanya.
"Kenapa? Kamu kelihatan takut." Kata Ziko
Devina menggelengkan kepalanya pelan membuat Ziko menghela nafasnya dan membukakan pintu mobil untuk kekasihnya. Tanpa Devina minta Ziko memakaikan sabuk pengaman untuk kekasihnya dan menatapnya lagi.
"Lihat aku Vin"
Devina mendongak dan menatap Ziko sebentar.
"Lihat aku yang lama"
"Kenapa Ziko?" Tanya Devina pelan
"Ada apa?" Tanya Ziko
"Enggak ada"
"Vina jangan bohong." Kata Ziko
"Enggak bohong"
"Vina, kalau kamu bohong aku bakal diemin kamu ya?" Ancam Ziko
Devina langsung cemberut mendengarnya.
"Kenapa?" Tanya Ziko lagi
"Tadi pacarnya Kak Lucas dateng dia marah-marah sama aku." Kata Devina
Tangan Ziko langsung terkepal kuat ketika mendengarnya.
"Terus? Dia pukul kamu?" Tanya Ziko marah
"Enggak, tadi ada Hanifa sama Intan jadi gak ada masalah mereka kan galak kayak Mona sama Cessa." Kata Devina bohong
"Bener kan?"
"Heem bener"
"Kalau dia nemuin kamu lagi bilang aku." Kata Ziko
Devina mengangguk dan memeluk tubuh Ziko dengan erat.
Berani sekali wanita itu mau merebut Ziko darinya.
¤¤¤
Updateee yeee😚
Kemarin ngejer tugas makanya updatenya lama cuman satu lagiii😢