My Possessive Twins

My Possessive Twins
57 : Kamu Tidak Akan Pergi Kan?



Devina Berlian Wijaya


Saat nama itu disebut orang-orang pasti akan tertuju pada satu hal, si manja dari keluarga Wijaya. Sejak kecil Devina memang dikenal dengan sikap manjanya karena bisa dibilang dia dua kali lipat lebih manja dari pada Sahara. Dikelilingi orang-orang yang selalu bersikap lembut padanya dan tidak pernah sekalipun membentak membuat Devina tumbuh sebagai anak yang manja.


Hanya saja Devina bukan termasuk anak orang kaya yang suka pamer atau memanfaatkan kekayaannya bahkan bisa dibilang gadis itu cukup sederhana. Saat beranjak remaja orang tua dan Kakak serta kembarannya benar-benar menjaga Devina dengan hanya memberikan sedikit ruang untuk gadis itu menghabiskan waktu bersama orang lain.


Waktu masih kecil Devina pernah hampir diculik hanya karena sebuah janji akan dibelikan permen dan setelah kejadian itu Daffa benar-benar menjaga anak-anaknya. Tanpa sepengatahuan istri dan anaknya Daffa menyadap ponsel anak-anaknya dan mengawasi mereka selama di sekolah.


Benar Devina memang terlalu polos dan mudah percaya bahkan dengan orang asing.


"Kamu pacar anak saya kan?"


Saat menjelang malam Ziko datang ke rumah untuk menjemput kekasihnya karena mereka memang sudah ada janji sebelumnya dan pertanyaan itu adalah kalimat sambutan untuknya. Sedikit gugup Ziko menganggukkan kepalanya, tapi sorot matanya penuh ketegasan seolah mengatakan bahwa dia memang kekasih Devina.


"Ada janji sama Vina?" Tanya Daffa lagi


"Iya Om saya mau ajak Vina makan malam." Kata Ziko dengan sopan


Mengangguk faham Daffa mengajak Ziko untuk masuk ke dalam lalu menyuruhnya menunggu di ruang tamu, tidak lupa dia meminta Bi Santi untuk membawakan minuman. Sekarang Ziko sangat gugup, tapi perlakuan Daffa mulai biasa dan tatapan matanya tidak setajam dulu ketika Ziko pertama kali datang ke rumah ini.


"Vina mungkin masih siap-siap dia cukup lama kalau bersiap." Kata Daffa


Ziko mengangguk singkat lalu mereka berdua terdiam untuk sesaat sampai suara Fahisa terdengar.


"Ehh udah dateng? Vina nya masih ganti baju tunggu ya?" Kata Fahisa


"Iya Tante"


"Inget kan harus antar pulang jam berapa?" Tanya Daffa


"Inget jam sembilan sudah sampai rumah." Kata Ziko membuat Daffa tersenyum mendengarnya


Sebenarnya Daffa sudah tau kalau Ziko sangat baik dan perhatian kepada anaknya karena seperti yang kalian tau Daffa tau semua yang dilakukan anaknya di sekolah. Rasa bersyukur menguasai diri Daffa ketika kedua anaknya memiliki orang-orang baik disekelilingnya.


"Kamu sudah lama pacaran sama anak saya?" Tanya Daffa


Ziko mengerjapkan matanya ketika mendengar pertanyaan itu membuat Fahisa ingin tertawa melihatnya, tapi kemudian Ziko berdeham pelan dan menjawab pertanyaannya.


"Lumayan lama Om, tapi saya dan Devina sudah berteman sejak awal masuk sekolah." Kata Ziko


"Saya tau"


Daffa memang tau kalau pria itu sudah dekat dengan anaknya sejak awal masuk sekolah.


Sudah Daffa bilang dia tau semua yang dilakukan anak-anaknya selama di sekolah.


Di sisi lain Devina sedang bersiap dia sedikit terburu-buru karena Devano belum datang dan dia langsung memakai dress di atas lutut. Menurut Devina tidak ada masalah dengan itu semua karena mereka akan makan nanti dan kali ini dressnya cukup panjang, tidak seperti celana yang sangat pendek seperti sebelumnya.


Saat tengah menyisir suara pintu terbuka terdengar dan Devina tidak perlu menebak itu siapa karena sudah jelas Devano jawabannya. Terlihat raut wajah tidak suka disana dan Devano langsung menghampiri Devina lalu melihat penampilannya dari atas hingga bawah.


"Kenapa kamu pakai...."


"Vanoo boleh yaaa? Sekali aja kan cuman makan malam." Pinta Devina dengan raut wajah memelas


Devano diam dan tidak memberikan tanggapan apapun, tapi raut wajahnya terlihat sangat datar ketika menatap kembarannya.


"Vanoo cuman makan malam aja kok bukan ke pasar malam." Kata Devina lagi


Menghela nafasnya pelan Devano akhirnya mengangguk membuat Devina berseru senang lalu memeluk kembarannya itu dengan sayang. Tersenyum tipis Devano membalas pelukan itu untuk kali ini dia akan mengalah karena pakaian yang adiknya pakai sudah cukup panjang, hanya sedikit melanggar dari aturannya.


Rambut Devina juga tetap digerai dan dia tidak memakai riasan apapun di wajahnya, jadi Devano akan mengalah dengan membiarkan Devina memilih sendiri pakaian yang ingin dia pakai.


"Inget gak harus pulang jam berapa?" Tanya Devano ketika pelukan mereka terlepas


Devina mengangguk dengan cepat, mana mungkin dia bisa lupa.


"Jam sembilan kalau bisa lebih cepat." Kata Devina memebuat Devano tersenyum dan mencubit pipinya pelan


"Jangan lupa"


"Jangan lupa apa?" Tanya Devina penasaran


Devano tersenyum jahil lalu mengatakan hal yang membuat bibir Devina langsung mengerucut sebal.


"Minta beliin case phone sama Ziko biar gak ngambek lagi." Kata Devano


"Ihh nyebelinn!"


Menghentakkan kakinya karena kesal Devina langsung berlalu pergi membuat Devano tertawa lalu mengikutinya dan dari atas mereka dapat melihat Ziko yang tengah mengobrol dengan orang tua mereka. Tersenyum kecil Devano mendekat dan merangkul kembarannya lalu membisikkan sesuatu yang membuat senyum manis Devina mengembang dengan pipi yang sedikit merona.


"Udah akrab tuh pacarnya sama Mommy dan Daddy"


Bersama Devano dia turun ke bawah lalu berlari kecil menghampiri mereka membuat Daffa langsung mendongak dan menatapnya, tapi matanya memicing ketika melihat pakaian anaknya. Melirik Devano sebentar anaknya itu hanya mengangguk singkat sambil tersenyum membuat Daffa akhirnya faham.


Sekali saja mereka harus menuruti keinginan Devina.


Mereka memang tidak bisa selalu mengekangnya kan?


"Mau kemana sih cantik kayak gini?" Tanya Daffa


Devina tersenyum senang dan mencium kedua pipi Daffa dengan sayang membuat pria paruh baya itu tertawa kecil.


"Mau keluar sama Ziko boleh kan?" Kata Devina


"Inget kan pulangnya jam berapa?" Tanya Daffa yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Devina


"Hati-hati ya sayang." Kata Fahisa


Kembali menganggukkan kepalanya Fahisa tersenyum lalu mengusap puncak kepala Devina dengan sayang.


"Vina berangkat dulu ya?" Kata Devina


Mereka mengangguk sambil tersenyum dan Devina langsung menghampiri Ziko yang ada didekatnya. Dengan sopan Ziko berpamitan sambil mencium kedua tangan orang tua kekasihnya lalu mengajak Devina untuk segera pergi agar tidak terlalu malam.


Baru beberapa langkah suara Devano terdengar, tapi perkataan pria itu kembali membuat Devina merasa kesal sedangkan yang lainnya tertawa.


"Ko jangan lupa beliin case phone yang kembaran biar dia gak ngambek." Kata Devano


"IHH VANOO!"


Mengerucutkan bibirnya sebal Devina langsung menarik Ziko agar pria itu mempercepat langkah kakinya. Melihat hal itu Ziko hanya menahan tawanya dan mengikuti Devina hingga keluar.


Saat di luar Ziko baru sadar dengan pakaian yang gadis itu kenakan dan dia berani bersumpah Devina terkihat cantik sekali malam ini hingga Ziko terpana untuk yang kesekian kalinya. Beruntung Ziko membawa mobil dan bukan motor yang akan membuat kaki kekasihnya terlihat jelas.


"Cantik banget." Kata Ziko sambil menatap Devina dengan dalam


Pipi Devina merona ketika mendapat pujian itu dari kekasihnya apalagi Ziko menatapnya dengan begitu dalam dan lembut. Langkah kaki Devina bergerak mundur ketika Ziko memajukan langkahnya, tapi ternyata pria itu membuka pintu mobil membuat Devina tersenyum kikuk lalu segera masuk.


Tertawa kecil Ziko berjalan memutar dan duduk di kursi kemudi sebelum menghidupkan mesin mobilnya Ziko lebih dulu memakaikan sabuk pengaman untuk kekasihnya. Di sepanjang perjalanan mata Devina menatap lurus ke depan dengan senyuman manis yang tidak pernah pudar barang satu detikpun.


"Vin"


"Apaa?" Tanya Devina sambil menoleh dan menatap Ziko


Tidak menjawab Ziko malah mengambil sesuatu di dashboard mobil dan memberikannya pada Devina, tadi dia membelinya ketika ingin berangkat.


Mata Devina berbinar dia langsung merebut benda itu dari tangan Ziko dan tersenyum senang.


"Suka?" Tanya Ziko


"Sukaa bangett kamu kapan belinya?" Tanya Devina


"Tadi sebelum ke rumah kamu." Kata Ziko


Senyum Devina semakin mengembang dia meminta ponsel milik Ziko yang langsung pria itu ambil dari saku kemejanya dan memberikannya pada Devina. Memakaikan case phone itu ke ponsel kekasihnya Devina tersenyum senang lalu dia juga melakukan hal yang sama ke ponselnya.



Tapi, dia penasaran akan satu hal.


"Kamu gak papa pakai kayak gini? Nanti kamu diledekin sama temen-temen kamu apalagi Gio." Kata Devina


"Enggak papa Vin." Kata Ziko sambil tersenyum


"Tapi, warnanya pink kalau punya Vano warnanya hitam." Kata Devina


"Kamu bilang maunya yang warna pink." Kata Ziko dengan lambut


"Kemu beneran gak papa pakai kayak gini? Gak takut diledekin?" Tanya Devina membuat Ziko tertawa mendengarnya


"Lebih takut lagi kalau kamu ngambek terus diemin aku." Kata Ziko


"Ihh makasih pokoknya makasih sayang banget sama Ziko." Kata Devina sambil tersenyum senang


Mata gadis itu memancarkan kebahagiaan membuat Ziko juga ikut senang melihatnya.


Tidak masalah dia bisa melakukan banyak hal untuk Devina.


"Kalau gitu aku minta sesuatu boleh dong Vin?" Tanya Ziko yang langsung dijawab dengan anggukan oleh kekasihnya


"Boleh, Ziko mau apa?" Tanya Devina dengan lembut


Menunjuk sebelah pipinya Ziko mengatakan hal yang membuat Devina terdiam dengan wajah memerah karena malu.


"Cium"


Melihat kekasihnya yang terlihat malu Ziko tertawa dan mengatakan kalau dia hanya bercanda, meskipun sebenarnya dia berkata jujur, tapi dia tidak akan memaksa.


Mengerucutkan bibirnya sebal Devina mengalihkan pandangannya ke depan dan sisa perjalanan mereka dihiasi dengan keheningan juga alunan musik yang Ziko dengarkan.


Saat mobil milik Ziko berhenti di salah satu restoran Devina masih diam, dia seperti bingung mau melakukan apa dan ketika Ziko melepaskan sabuk pengamannya lalu mengajaknya untuk keluar Devina menahan tangannya. Beberapa detik mereka bertatapan dan Ziko melihat kalau wajah Devina semakin memerah hingga ke kupingnya, tapi dia dibuat terkejut bukan main ketika Devina mendekat dan bibir gadis itu mendarat di pipi kanannya.


Mengerjapkan matanya berkali-kali Ziko seolah tidak percaya, tapi ketika melihat Devina yang terlihat begitu salah tingkah dengan wajah memerah dia tersenyum.


"Satunya belum"


Ziko tertawa ketika melihat wajah kesal Devina dan rengekan gadis itu, wajahnya merah sekali.


"Zikooo"


Tersenyum manis Ziko membuka pintu mobil dan mengajak Devina untuk masuk ke restoran.


Malam yang sangat indah bersama Devina.


¤¤¤


"Ziko gak bisa dateng lagi?"


Pertanyaan yang gadis itu ajukan dijawab dengan gelengan singkat oleh ketiga temannya dan membuat dia mendengus kesal, semenjak memiliki kekasih Ziko sangat jarang datang. Malam ini harusnya mereka latihan lagi karena besok malam mereka akan kembali tampil di tempat biasa, tapi untuk yang kesekian kalinya Ziko tidak bisa datang.


Saat pulang sekolah dia bilang tidak bisa datang karena harus mengantar kekasihnya pulang dan malam ini Ziko tidak datang juga dengan alasan memiliki janji dengan kekasihnya. Belakangan ini Adyra merasaha kehilangan karena mereka biasa bersama-sama, tapi selain itu ada sesuatu yang tidak bisa dia terima.


"Udahlah Dyr lagian besok masih bisa latihan kok Ziko mah gak latihan juga gak masalah." Kata Bastian


Adyra hanya bergumam pelan sebagai tanggapan, dia benar-benar merasa kehilangan sekarang.


'Gue gak ke sana dulu ya? Mau nganterin Vina pulang sekalian jalan-jalan sebentar'


'Gue gak bisa dateng udah ada janji sama Vina'


Sebenarnya yang lain merasa biasa saja dan berfikir itu hal biasa apalagi untuk Ziko yang baru berhasil mendapatkan cintanya. Namun, ada satu orang yang terus menggerutu dan merasa kesal karena ketidakhadiran Ziko dia adalah Adyra.


"Lo suka sama Ziko ya Dyr?"


¤¤¤


Katanya ketika kamu sedang bersama orang yang kamu cintai waktu berjalan dengan begitu cepat.


Ternyata benar karena ketika bersama Ziko waktu terasa begitu cepat berlalu bahkan dua jam terasa begitu singkat bagi mereka berdua. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul delapan dan Ziko serta Devina baru saja menyelesaikan malam malam mereka.


Ada satu hal yang paling Ziko suka ketika melihat Devina, senyum manisnya yang selalu berhasil membuatnya jatuh cinta.


Seperti sekarang ketika Devina menatap ke sekeliling sambil tersenyum, mungkin kekasihnya itu suka dengan tempat ini. Rasanya Ziko ingin segera lulus sekolah lalu menjadi orang sukses dan bisa melamar Devina untuk menjadi pendamping hidupnya.


Pasti menyenangkan ketika Devina menjadi miliknya seutuhnya dan ketika wajah Devina adalah wajah yang selalu Ziko lihat ketika ingin dan juga bangun tidur.


"Vina Mama minta aku ajak kamu ke rumah lagi." Kata Ziko membuat Devina langsung menatapnya dengan mata membulat


"Serius?"


"Seriuslah masa aku bohong." Kata Ziko


"Emm aku maluu." Kata Devina


"Kok malu?" Tanya Ziko


"Ya malu aja." Kata Devina membuat Ziko tertawa mendengarnya


"Mama suka sama kamu dia selalu nanya gini Ziko kamu kapan ajak pacar kamu ke rumah Mama mau ketemu sama dia lagi, gitu." Kata Ziko


"Bener? Bohong ya?" Tanya Devina sedikit tidak percaya


"Benerlah ngapain bohong, Mama kayak gitu karena kamu cewek pertama yang aku bawa ke rumah." Kata Ziko


"Sebelumnya gak pernah? Ajak Adyra mungkin?" Tanya Devina


"Enggak, dari dulu aku selalu mau ajak kamu main ke rumah bahkan sejak sebelum kita pacaran, tapi susah banget minta izin sama Vano." Kata Ziko sambil tertawa kecil


Devina tersenyum senang mendengarnya.


"Kalau gitu kamu gak akan pernah ninggalin aku kan?"


Terdiam untuk sesaat Ziko langsung tertawa kecil dan menjawab dengan perkataan yang membuat Devina ikut tertawa.


"Enggak akan pernah, kalau aku sampai lakuin itu buang aja case phone yang aku kasih"


Tentu saja Ziko tidak akan pernah meninggalkan Devina.


¤¤¤


Apakah apakah apakah?


Mau cerita ini tamat sampai bab berapaaa?