
"Adara?"
Suara Devano terdengar di rumah yang belakangan ini sering dia kunjungi dan disebelahnya ada Devina karena mereka memang memiliki janji untuk makan malam dengan Adara, tapi ketika sampai rumah terlihat begitu gelap. Saat menarik knop pintu juga terbuka karena tidak dikunci dan hal itu membuat Devano cemas dia bergegas membuka pintu lalu menerobos masuk ke dalam.
Tangan Devina memegang ujung baju kembarannya dan mengikuti setiap langkah Devano yang membuka beberapa pintu. Matanya menjelajah ke sekitar meskipun lampu sudah menyala, tapi tetap saja Devina merasa sangat takut.
Berbeda dengan kembarannya yang merasa takut Devano justru merasa begitu cemas dan langsung mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Adara, tapi sialnya tidak ada jawaban. Sekali lagi Devano menjelajah seisi rumah untuk mencari keberadaan gadisnya, tapi hasilnya tetap sama.
Tidak ada siapapun.
Apa Ayah gadis itu datang kembali?
"Vano kenapa?" Tanya Devina ketika melihat raut wajah penuh kecemasan kembarannya
Apa Adara pergi?
"Adara kemana? Dia gak bilang kalau mau pergi dan rumah juga gak di kunci sama sekali." Kata Devano cemas
Dia masih terus berusaha untuk menelpon membuat Devina memperhatikannya dalam diam, kembarannya terlihat sangat cemas.
Devina selalu melihat kecemasan itu kalau salah satu dari keluarga mereka jatuh sakit atau terkena masalah, tapi untuk pertama kalinya Devano merasa cemas untuk orang asing.
Tidak, mungkin bukan orang asing, tapi orang yang berarti di hidup Devano.
Umpatan Devano terdengar ketika dia tidak bisa menghubungi Adara sama sekali, panggilannya tidak di angkat dan dia memijat dahinya pelan berusaha untuk berfikir kemana kira-kira Devano pergi.
Seakan sadar sesuatu Devano menggenggam tangan kembarannya dan membawa Devina keluar dari rumah.
"Mau kemana Van?" Tanya Devina
"Kita coba ke rumah sakit mungkin Adara ada disana." Kata Devano
"Dia sakit?" Tanya Devina yang dijawab dengan gelengan kepala oleh kembarannya
"Dia sama Bunda nya ada jadwal check up ke rumah sakit hari ini tadi di sekolah dia bilang." Kata Devano
Keluar dari rumah Devano langsung menutup pintu dan pergi ke mobilnya, ya dia membawa mobil karena tidak mau kembarannya kedinginan karena angin malam. Meskipun itu hanya kekhawatiran belaka, tapi tetap saja Devano enggan karena kembarannya itu baru saja sembuh.
Saat di perjalanan ponsel Devano berbunyi yang buru-buru pria itu lihat dan ketika nama gadisnya tertera disana dia langsung mengangkat panggilan itu tanpa fikir panjang.
"Halo Dar lo dimana? Gue sama Vina ke rumah, tapi lo gak ada." Kata Devano cepat
Bukan jawaban, tapi yang dia dengar adalah sebuah isakan dan hal itu membuat Devano semakin cemas juga Devina yang terlihat bingung.
"Dar lo dimana? Kenapa nangis?" Tanya Devano cemas
Dengan suara terputus-putus Adara menjawabnya membuat Devano menahan nafasnya sebentar lalu menambah laju kecepatan mobilnya.
"Gue kesana tunggu"
Panggilan dimatikan dan raut wajah Devano benar-benar terlihat cemas membuat Devina menatapnya dengan bingung.
Dia juga ikut cemas melihat kembarannya.
"Vano kenapa?" Tanya Devina lagi
"Kita ke rumah sakit dulu ya Vin?" Kata Devano tanpa menjawab pertanyaan kembarannya
Merasa kalau Devano enggan bicara Devina hanya mengangguk singkat lalu menggenggam tangan kembarannya yang mengepal dengan kuat. Menolehkan kepalanya Devano berusaha untuk tersenyum di depan kembarannya, Devina pasti cemas kalau melihatnya seperti ini.
Selama perjalanan hanya ada keheningan hingga mobil Devano terparkir di area rumah sakit dia langsung menggenggam tangan Devina dan mengajaknya untuk ke dalam, mencari Adara. Dalam diam Devina hanya mengikuti langkah kaki kembarannya sampai mereka melihat sosok Adara yang terduduk di lantai rumah sakit sambil bersandar ke dinding.
Seakan mengerti Devina melepaskan tangannya dan membiarkan Devano menghampiri Adara yang terduduk sendirian di dekat ruang ICU.
Entah kenapa Devina ikut merasa sedih apalagi ketika Devano menghampiri gadis itu dan membuatnya mendongak dengan air mata yang berurai lalu memeluk kembarannya dengan erat.
Rasanya semua luka dan rasa sedih ikut menjalar ke hati Devina hingga dia ikut merasa sesak lalu melangkahkan kakinya mendekat.
Di tempatnya Adara menumpahkan tangisnya di pelukan Devano membiarkan pria itu melihat semua lukanya. Sesaat setelah pemeriksaan sore tadi Ella mendadak merasakan sakit lalu darah segar keluar dari hidungnya.
Rasanya dunia Adara runtuh ketika Bunda nya kembali pingsan dan langsung ditangani, tapi ketika sekali lagi Ella masuk ke dalam ruangan itu Adara merasa harapannya telah hilang.
Waktunya berhenti saat itu juga.
Ditambah lagi perkataan dokter yang mengatakan bahwa sudah tidak ada harapan lagi penyakit yang menggerogoti Bunda nya sudah sangat parah.
Adara tidak bisa berkata apapun lagi hanya bisa menangis dalam pelukan Devano dan dia bisa merasakan usapan di punggungnya yang membuat dia mendongak lalu melihat Devina di sampingnya.
Beruntung masih ada mereka berdua.
"Gue disini Dar, gue disini jangan takut." Bisik Devano sambil memeluknya dengan sangat erat
Adara tidak menanggapi masih terus terisak di dalam pelukannya membuat Devano benar-benar tidak tega melihatnya.
Wanita yang selalu disebut kasar dan tak punya hati oleh teman-teman sekolah mereka kini menangis dengan pilu di dalam pelukannya.
Memperlihatkan luka yang telah menyakitinya dengan begitu dalam hingga dia tidak bisa melakukan apapun selain menangis.
"Bunda"
Hanya satu kata itu yang keluar dengan susah payah dari bibir Adara yang bergetar, dia takut sangat takut untuk ditinggalkan.
Sampai akhirnya seorang perawat yang keluar dengan terburu-buru membuat mata Adara membulat dan dia segera bengkit melepaskan pelukan Devano. Jantungnya berdetak semakin cepat ketika seorang dokter bergegas memasuki ruangan, dia tidak akan ditinggalkan bukan?
Devina merangkul gadis itu dengan lembut, berusaha memberikan ketenangan.
"Semua pasti baik-baik aja Dara." Kata Devina yang sayangnya tidak berhasil membuatnya merasa tenang
Cukup lama Adara memandang kosong ke arah pintu sampai akhirnya ketika dokter keluar dari sana dia segera berlari menghampirinya.
Dia tidak mengucapkan apapun hanya memandang dokter itu dengan penuh harap.
Berharap dia mengatakan bahwa Bunda nya baik-baik saja dan akan segera sadar.
Tapi, ketika sebuah kata keluar dari bibir pria berjas putih itu ditambah raut wajah penuh penyesalan Adara merasa hancur.
Dunianya runtuh saat itu juga.
Satu-satunya hal yang dia dengar adalah namanya sebelum semua mendadak gelap.
Dia kehilangan kesadaran.
Hanya sesaat dunia membiarkannya bahagia bersama Bunda sebelum semuanya kembali direnggut.
Takdir kembali mempermainkan kehidupannya.
¤¤¤
Kumpulan orang dengan pakaian hitam berkumpul di rumah duka untuk menyampaikan rasa berbela sungkawa juga kata-kata yang diharapkan bisa menguatkan Adara, gadis yang ditinggalkan. Ada banyak guru-guru disekolahnya yang datang karena meskipun dia anak yang badung dan suka membuat masalah, tapi dia tetap siswa mereka.
Di sampingnya ada Devano yang merangkulnya dengan sayang membiarkan kepalanya bersandar dibahunya. Pemakaman sudah selesai di lakukan beberapa jam yang lalu dan sekarang Adara masih harus duduk dengan pandangan kosong karena masih banyak orang-orang yang datang.
Ella adalah orang yang baik dan akrab dengan para tetangga juga teman-temannya hingga ada banyak sekali orang yang datang lalu memeluknya mengatakan kepada Adara untuk bersabar atas semua yang menimpanya.
Orang tua Devano juga ada disini tadi Adara menangis di dalam pelukan Fahisa yang membuat wanita paruh baya itu ikut menangis dan memberikan kekuatan untuknya.
"Kalau kamu lelah kamu bisa istirahat Dara"
Kalimat serta sentuhan di pundaknya membuat Adara mendongak dan menatap Fahisa yang menatap ke arahnya.
Dia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya dan membiarkan Fahisa merangkulnya lalu mengantar dia ke kamar.
Sampai di kamar Fahisa mendudukkan dirinya di dekat Adara lalu memberikan pelukan hangat untuknya, pelukan yang sama hangatnya seperti pelukan Bunda. Sekali lagi Adara menangis dia menumpuhkan semua rasa sakitnya di dalam pelukan Fahisa.
"Sekarang... Adara.. sendirian..."
Susah payah Adara mengatakannya dia menahan rasa sesak serta isakan hebat yang menyerangnya.
"Tidak sayang kamu tidak sendirian, ada Tante dan Vano sama Vina yang akan selalu ada untuk kamu, kita keluarga." Kata Fahisa dengan lembut
Dia tidak pernah tega melihat seorang anak yang menangis pilu seperti ini rasanya Fahisa ingin selalu memeluknya dan memberikan kekuatan serta mengatakan bahwa dia akan ada untuknya.
"Terima kasih"
Mengangguk singkat Fahisa mengusap puncak kepala Adara dengan sayang, merapihkan rambut gadis itu lalu menciun keningnya lama membuat air mata kembali mengalir di mata indahnya.
"Jangan pernah merasa sendirian, ada Tante yang bisa kamu jadikan sandaran." Kata Fahisa
Adara mengangguk lalu menghapur air matanya dengan cepat membuat Fahisa tersenyum dan mengusap pipinya.
"Tante keluar dulu ya?" Kata Fahisa
Sesaat setelah wanita paruh baya itu keluar Devano masuk ke dalam dan menghampiri Adara yang terdiam dengan pandangan lurus ke depan. Saat namanya dipanggil dia mendongak dan kembali menangis, rasanya hari ini hanya akan dipenuhi dengan tangisannya.
"It's oke Ra gue disini jangan takut." Kata Devano sambil membawa gadis itu ke dalam pelukannya
"Gue... sendirian.. Van..."
"Sst lo gak pernah sendirian gue selalu ada untuk lo Adara." Kata Devano sambil mengusap puncak kepalanya dengan sayang
"Gue.. sayang Bunda.. Van"
"Bunda juga sayang lo Adara dan dia gak mau ngeliat lo nangis kayak gini, jangan nangis hmm?" Kata Devano dengan lembut
"Kangen Bunda..."
"Kita bisa pergi ke makam Bunda kapanpun lo mau dan gue bakal selalu temani lo." Kata Devano
"Jangan... tinggalin gue.. Van"
Pelukan Adara mengerat dia benar-benar takut kalau Devano juga akan meninggalkannya suatu saat nanti dan dia akan benar-benar sendiri.
Sendiri tanpa seorangpun.
"Gue gak akan pernah ninggalin lo Adara apapun yang terjadi gue bakal selalu ada disamping lo." Kata Devano
Pelukan Devano mengerat dia benar-benar tidak suka melihat gadisnya menangis sampai seperti ini dan mendadak perkataan Ella beberapa waktu lalu terngiang.
'Bunda takut kalau Bunda harus pergi dan ninggalin Adara sendirian'
Tapi, Ella tidak meninggalkan Adara sendirian karena ada Devano yang akan selalu menemaninya.
Entah berapa lama Adara berada dipelukannya sampai akhirnya Devano merasa sudah tidak ada lagi isakan dan nafas gadis itu mulai teratur. Dengan hati-hati Devano melepaskan pelukannya dan melihat Adara yang sudah tertidur membuat Devano perlahan membaringkan tubuh gadis itu di ranjang.
Setelah menarik selimut hingga menutupi setengah tubuhnya Devano bertumpu di dekat ranjang dan memandangi wajah Adara yang sedikit pucat.
Gadis itu terlihat hancur dan kacau.
Perlahan Devano mendekatkan wajahnya dan mencium kening itu cukup lama.
"Gue disini Dar jangan takut"
Tangan Devano terulur untuk mengusap pipinya dengan lembut sebelum dia benar-benar keluar dari kamar itu dan membiarkan gadisnya beristirahat.
Bahkan Juan serta keluarganya tidak datang sampai sekarang.
Mereka mungkin malah berbahagia melihat Adara yang hancur, tapi tenang saja Devano akan membuat gadis itu kembali bangkit.
Devano akan memenuhi hidup Adara dengan banyak warna.
Dia akan membuat gadis itu tersenyum tanpa beban.
¤¤¤
Hai haii aku update nihh😂
Tungguin terus yaa aku upatee😉