My Possessive Twins

My Possessive Twins
Devano (21)



Adara menatap orang yang duduk di hadapannya dengan raut wajah tanpa ekspresi, dia Julian dan pria itu katanya datang untuk meminta maaf karena sudah bicara hal buruk padanya. Sebenarnya Adara malas sekali menanggapinya hanya saja melihat wajah pria itu yang penuh luka sudah sedikit membuatnya merasa puas.


Saudara tirinya itu datang bersama dengan Juan dan Adara hanya bisa mengangguk seraya mengatakan bahwa dia memaafkan lalu meminta mereka untuk melupakan semuanya. Akibat perkelahian antara Julian dan Devano akhirnya Juan memutuskan untuk melangsungkan acaranya di rumah ini saja.


Dia tidak mau membuat masalah dan untuk Julian dia tidak akan memaksa anaknya itu untuk datang, tapi yang jelas Juan sudah benar-benar memberikannya peringatan agar tidak membuat kekacauan.


"Udah kan Pa? Aku boleh pergi sekarang?" Kata Julian


"Silahkan, tapi ingat pesan Papa jangan buat keributan atau semua fasilitas kamu Papa cabut." Kata Juan


Julian menghela nafasnya pelan dan mengangguk sebagai jawaban lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah Adara.


"Ayah minta maaf ya Ra? Ayah jadi merasa tidak enak dengan keluarga Vano." Kata Juan


Adara hanya bergumam pelan karena jujur dia juga merasa tidak enak.


"Ayah bisa jamin kalau setelah ini gak akan ada masalah lagi." Kata Juan


"Iya Yah"


"Yaudah sini peluk Ayah dulu." Kata Juan


Adara tersenyum lalu berpindah tempat duduk dan memeluk Juan dari samping, dia tidak menyangka akan bisa sedekat ini dengan Ayahnya yang dulu sangat dia benci.


"Ayah merasa bersalah sekali sama kamu dan Ayah tidak mau lagi membuat kamu bermasalah apalagi dengan Julian." Kata Juan


"Adara enggak nyangka bisa sedekat ini sama Ayah." Kata Adara


"Harusnya sejak dulu ya? Maaf ya Adara." Kata Juan


Adara hanya bergumam pelan sebagai jawaban dan cukup lama berada di dalam pelukan Ayahnya Adara menjauhkan diri ketika suara sering ponsel Juan terdengar. Pria itu berjalan menjauh lalu mengangkat telpon dan berbicara sebentar sebelum akhirnya kembali mendekat.


"Ayah ada urusan mendadak, jadi harus langsung pergi." Kata Juan


"Iya Yah enggak papa hati-hati di jalan." Kata Adara sambil tersenyum


Mencium singkat kening anaknya Juan bergegas pergi dan meninggalkan Adara yang menatapnya dalam diam hingga dia menghilang dari balik pintu. Begitu Juan pergi Adara mengunci pintu rumahnya dan pergi ke kamar.


Berbaring di atas ranjangnya Adara mengeluarkan ponsel nya dan mengecek pesan yang ternyata ada cukup banyak pesan masuk dari kekasihnya.


Gimana sama Julian?


Dia udah gak ganggu kamu lagi? Kalau masih ganggu kamu bilang nanti aku kasih dia pelajaran


Kamu lagi apa sih Ra?


Lama banget balesnya


Raaa


Adaraaa


*K*emana sih?


Adara tertawa kecil dia suka sekali kalau Devano sudah mengirim banyak pesan untuknya.


Maaf


Ayah baru aja pulang makanya aku baru buka HP


Tak butuh waktu lama bagi Adara untuk membalas pesan karena Devano seolah memang sudah menunggu pesan darinya.


Mau ke rumah boleh gak?


Kangen kamu Ra


Mau kesini sekarang?


Ya iya masa besokk


Haha yaudah ih kalo mau kesini


Otw


Mau nitip sesuatu gak sayang?


Hm enggak Van


Adara hanya tersenyum saja dan memilih untuk tidak membalas pesan terakhir yang Devano kirimkan untuknya.


Apa kalian tau?


Adara bahagia sekali memiliki Devano dia tidak menyangka akan berubah sejauh ini hanya karena Devano padahal dulu dia sangat jutek pada pria itu, tapi lihat sekarang Adara tidak pernah bisa bahkan untuk sekedar bilang tidak padanya.


Benar kata teman-temannya Devano itu memiliki pesona yang luar biasa hebatnya.


'Ini makan dulu Ra'


'Makannya pelan-pelan aja Ra'


'Kamu mau aku bawain sesuatu gak?'


'Gak ada yang gangguin kamu kan di kampus?'


'Aku sayang kamu Ra'


Mengingat semua itu saja sudah membuat senyum manis Adara mengembang dengan sempurna.


Dia jadi ingin memeluk Devano.


°°°°


"Sayangg"


Adara tertawa ketika Devano masuk ke dalam rumahnya lalu memberikan pelukan hangat untuknya dan dengan senyuman manis Adara membalas pelukan itu dengan erat seraya mengusap punggungnya. Setelah merasa puas Devano melepaskan pelukannya lalu mengajak Adara untuk duduk.


Keduanya saling berhadapan dan melemparkan senyuman satu sama lain membuat hati mereka menghangat hanya karena sebuah tatapan. Tak banyak yang Adara inginkan untuk sekarang karena satu-satunya hal yang begitu dia inginkan adalah Devano.


Dia ingin Devano menjadi miliknya.


"Tadi Om Juan kesini?" Kata Devano


"Hm sama Julian." Kata Adara


"Sama Julian?!" Kata Devano


"Dia mau minta maaf." Kata Adara


"Oh bagus menang seharusnya dia minta maaf." Kata Devano membuat Adara tersenyum mendengarnya


"Ayah bilang dia jadi gak enak sama kamu dan orang tua kamu Van." Kata Adara


"Kenapa? Aku baik-baik aja kok Mommy sama Daddy juga ah dan Vina juga." Kata Devano


"Vina? Vina tau?" Kata Adara


"Aku sama dia kembar Ra kemarin tiba-tiba Vina ada di rumah dan waktu di tanya ternyata dia cari aku karena katanya perasaannya gak enak." Kata Devano


"Dia gak marah?" Tanya Adara


"Enggak, udah jangan cemas." Kata Devano


Adara mengangguk singkat sebagai jawaba lalu menatap Devano dan menyentuh pelan luka di dahinya.


"Masih sakit enggak?" Tanya Adara


"Udah enggak kerasa." Kata Devano santai


"Makasih ya?"


"Makasih?"


"Karena udah sangat perhatian sama aku." Kata Adara


"Itu hal yang harus aku lakukan Adara gak ada yang boleh bicara buruk tentang cantiknya Devano." Kata Devano sambil mengacak pelan rambutnya


Adara hanya bisa tersenyum lalu mendekat dan memeluk Devano dengan sayang, dia sangat mencintai pria itu sekarang.


Devano memang selalu berhasil membuat Adara jatuh cinta.


°°°°


Aku updateeee🥰