My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (29)



Penampilan baru Devina ternyata malah semakin membuat gadis itu menjadi pusat perhatian karena nyatanya Devina dengan rambut pendek terlihat lebih menggemaskan dan cantik. Belum lagi sekarang Devina juga sering berangkat kuliah menggunakan rok dari pada celana jeans, ya meskipun sering mendapatkan omelan.


Hanya saja rok yang Devina pakai juga merupakan rok yang kembarannya pilihkan untuk dia pakai karena tentu saja Devano harus tetap memperhatikan kembarannya itu bahkan meski Devina sudah cukup dewasa. Bedanya Devano lebih memberi kebebasan untuk Devina keluar bersama teman-teman atau kekasihnya, dia tidak banyak melarang.


Menurut Devano di usia sekarang Devina sudah harus diberi sedikit kebebasan, tapi tentu saja setiap akan pergi Devano atau Daffa akan bertanya pada Devina karena bagaimanapun juga Devina seorang wanita.


"Vin"


"Iya Vano?"


Devina menoleh ketika dia ingin turun dati mobil dan Devano malah memanggilnya.


"Nanti pulang sama siapa?" Tanya Devano


"Emm nanti mau ke kostan Intan dulu pulangnya Vani jemput yaa?" Kata Devina


"Iya nanti telpon aja." Kata Devano


Devina mengangguk singkat lalu mencium kening Devano sebentar dan pergi keluar dari mobil. Meninggalkan Devano yang tersenyum sambil menatap Devina yang berjalan memasuki kampus.


Terlihat rambut Devina yang pendek itu bergerak kesana kemari setiap kali kembarannya itu melangkahkan kakinya. Kembali pada Devina yang terlihat begitu bersemangat karena hari ini dia dan kedua temannya akan menghabiskan waktu di kostan Hanifa dengan menonton film.


Kalau sudah begini dia pasti merindukan Mona dan yang lainnya.


Jujur Devina ingin sekali mengajak mereka bertemu atau kumpul, tapi di grup chat mereka sering mengeluh dengan tugas yang banyak atau apapun itu yang membuat Devina jadi segan. Dia sangat merindukan Mona dan yang lainnya padahal dulu mereka selalu bersama, tapi ini semua juga karena keadaan.


Namanya kuliah dosen mereka pasti bermacam-macam dan mungkin dosen teman-temannya sering memberikan tugas yang banyak.


"Vinaaa"


Panggilan itu membuat Devina menoleh lalu tersenyum karena melihat Intan yang berlari kecil menghampirinya.


"Kamu kapan sampainya?" Tanya Devina


"Baru aja nih hari ini gue diantar sama Papa soalnya kan kita mau ke kostan Hanifa." Kata Intan


"Iya dong masa nanti aku sama Hanifa jalan kamu naik motor, jahat." Kata Devina membuat Intan tertawa mendengarnya


"Boti aja kita." Canda Intan


"Ish gak mau bahaya tauu." Kata Devina


"Ya bercanda Vin gue juga kan gak bawa motor sekarang." Kata Intan


Devina hanya tersenyum menanggapinya dan mereka bersama-sama pergi ke kelas dimana nanti perkuliahan dilaksanakan. Hari ini hanya ada satu mata kuliah makanya Devina setuju ketika Intan mengajaknya untuk pergi ke kostan Hanifa.


Memasuki kelas seperti biasa Devina selalu mendapatkan perhatian dari para pria, tapi dia tidak peduli dan memilih untuk langsung duduk saja di depan bersama dengan Intan.


"Vin lo cocokan rambut pendek deh." Kata Intan


"Iya? Tapi, Daddy sama Vano gak bolehin kata dia kalau udah panjang gak boleh di potong lagi." Kata Devina


"Loh kenapa?" Tanya Intan penasaran


"Emm mungkin karena Daddy sama Vano lebih suka kalau rambut aku panjang, habis potong rambut ini aja aku diomelin." Kata Devina


"Ya ampun perhatian banget Papa gue sih bodo amat mau gue jungkir balik juga." Kata Intan membuat Devina tertawa mendengarnya


"Ih gak boleh ngomong gitu sama Papa sendiri." Kata Devina


"Bener Vin! Lo gak tau aja Papa gue itu cuek banget orangnya." Kata Intan


"Tetap aja Intan secuek-cueknya orang tua dia pasti tetap perhatian dan jagaiin anaknya." Kata Devina


"Iya Vin lo mah orangnya positif banget." Kata Intan


"Kata Vano kamu harus mikirin hal-hal yang baik jangan mikirin hal yang buruk apalagi yang bikin sedih." Kata Devina dengan senyuman manisnya


"Tau gak sih Vin? Kayaknya lo temen yang paling baik dan paling bawa pengaruh baik untuk gue deh." Kata Intan membuat Devina tertawa mendengarnya


"Kok gitu?" Tanya Devina


"Gue jujur nih ya? Temen-temen gue dulu bukan gak baik sih mereka baik-baik banget, tapi maksud gue tuh kalau lo nih ya selalu bawa pengaruh yang baik kayak ngajak nugas atau masuk kelas atau jangan pake rok pendek-pendek." Kata Intan


"Memang temen kamu yang dulu gak gitu?" Tanya Devina


"Enggak malah nih ya gue kayak gini karena pergaulan sama mereka bahkan gue udah pernah masuk ke club malam." Kata Intan


"Hah?! Masa? Memang boleh kan kamu masih belum cukup umur." Kata Devina


"Boleh Vin gue satu tahun lebih tua dari lo dulu gue telat masuk sd." Kata Intan membuat Devina mengangguk faham


"Tapi, sekarang udah enggak....."


"Enggak jangan cemas terakhir gue kesana abis acara kelulusan nah malamnya." Kata Intan


"Bagus deh kamu jangan kesana lagi Intan." Kata Devina


"Iya enggak takut ketauan Papa bisa kena usir gue." Kata Intan


Devina tertawa dan ketika ingin menjawab Hanifa datang lalu duduk diantara keduanya.


"Ehh dateng juga Hanifa." Kata Devina


"Dih Vina doang yang disapa gue enggak." Sindir Intan


"Siapa ya?" Tanya Hanifa dengan wajah menyebalkan membuat Intan mendengus kesal


Devina hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan melihat kedua temannya yang sering sekali berdebat.


Devina senang karena menemukan Hanifa dan Intan di kelasnya kalau tidak mungkin dia akan sangat kesepian nantinya.


¤¤¤


Saat Devano mengatakan bahwa dia tidak bisa menjemput Devina tidak ada masalah dan duduk diam di kostan Hanifa sambil menunggu Pak Hadi datang. Tadinya dia ingin minta jemput Ziko, tapi ketika Devina chat kekasihnya dia bilang sedang kerja kelompok dan Ziko juga mengirim gambar dimana dia sedang ada di rumah temannya.


Tentu saja Devina tidak mau mengganggu dan memilih untuk menunggu Pak Hadi datang. Tidak butuh waktu lama supir pribadi keluarganya itu sudah berhenti di depan pagar kostan Hanifa dan Devina langsung melambaikan tangan pada kedua temannya sambil berjalan keluar lalu masuk ke dalam mobil.


Di dalam Devina mengeluarkan ponselnya untuk memberikan kabar pada kekasihnya bahwa dia sudah di perjalanan.


"Pak Hadi"


"Iya Non?"


"Emm Vano udah di rumah?" Tanya Devina


"Udah Non tadi dia pulang sekitar pukul empat." Kata Pak Hadi


Devina mengangguk faham lalu memainkan ponselnya selama perjalanan dan ketika sampai di rumah Devina bergegas turun. Berlari kecil memasuki rumah Devina melihat Fahisa yang sedang menonton tv membuat dia tersenyum senang dan menghampiri Mommy nya.


"Mommyyy"


Fahisa tersentak, tapi langsung tersenyum kala melihat anaknya yang baru saja pulang.


"Ehh udah pulang anak Mommy." Kata Fahisa sambil mencium kening anaknya dengan sayang


"Vano manaa?" Tanya Devina


"Di kamarnya Vina." Kata Fahisa


"Vina mau ke kamar Vano dulu." Kata Devina


Fahisa mendapat ciuman di kedua pipinya sebelum Devina pergi ke kamar kembarannya di lantai atas. Seperti biasa Devina akan masuk tanpa mengetuk pintu, tapi dia malah melihat Devano yang tertidur sambil menyelimuti tubuhnya.


Berjalan mendekat Devina duduk di tepian ranjang membuat mata Devano perlahan terbuka.


"Udah sampai?" Tanya Devano serak


Devina mengangguk lalu menyentuh dahi Devano yang terasa hangat.


"Vano kok panas?" Tanya Devina


"Enggak"


"Panas tau, Vano sakit?" Tanya Devina sedih


"Pusing aja Vin." Kata Devano


"Aku bilang Mommy." Kata Devina membuat Devano langsung menahan tangannya


"Gak papa Vin pusing aja kok tidur sebentar nanti sembuh." Kata Devano


Devina mengerucutkan bibirnya kesal lalu melepaskan tasnya dan menaruh di bawah sambil mengusap kepala kembarannya dengan sayang.


"Vina ambilin air hangat mau?" Tanya Devina


Devano mengangguk singkat membuat Devina berlari kecil keluar kamar untuk mengambilkan minum lalu buru-buru kembali ke kamar Devano dan memberikan air hangat untuk kembarannya.


Begitu bangun Devano memegang dahinya cukup kuat karena meras pusing.


"Tuh kan Vano sakitt aku bilang Mommy." Kata Devina


"Cuman pusing Vin." Kata Devano pelan


"Tapi, Vano nya sakitt." Kata Devina dengan wajah sedihnya


Devano tersenyum sambil mengambil gelas di tangan kembarannya dan meminum habis air hangat yang Devina bawakan.


Meletakkan tangannya di leher kembarannya Devina merasa hawa panas menyentuh kulitnya.


"Sakit kan?" Tebak Devin


"Enggak"


"Ihh ngeyel pokoknya Vina mau bilang Mommy." Kata Devina membuat Devano menghela nafasnya pelan


"Gak usah Vin"


Devina tidak peduli dia berlari kecil keluar kamar dan Devano dapat mendengar seruan Devina dari dalam yang membuatnya hanya bisa diam.


"MOMMY VANO SAKITT"


¤¤¤


Ututtuu Vano sini pelukk😇