My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (44)



Devano hampir celaka!


Satu-satunya hal yang bisa membuat Daffa begitu marah adalah Devano yang hampir celaka karena ulah Juan, orang tua Adara yang berusaha mencelakakan Devano. Awalnya Daffa sama sekali tidak tau hanya saja siang tadi Adara datang ke kantornya sambil menceritakan semua kelakuan Ayahnya sambil menangis.


Daffa marah!


Dia sangat marah karena Devano sama sekali tidak mau cerita padanya padahal dia selalu mengatakan pada kedua anaknya untuk selalu menceritakan masalah mereka, tapi ketiga anaknya sama saja selalu menyembunyikan masalah mereka sendiri. Rasanya dada Daffa sesak apalagi ketika Devano tadi mengatakan kalau ada yang mengikuti mobilnya hingga membuat dia hampir terlibat kecelakaan.


Tidak ada yang bisa membuat emosi Daffa hilang untuk sekarang karena dia benar-benar sangat marah.


'Om saya minta maaf... ini semua karena saya... udah tiga hari belakangan ini Ayah saya selalu datengin Vano diam-diam dan saya baru tau kemarin...'


'Kemarin waktu Vano ada di rumah Ayah saya datang lalu dia hampir memukul Vano dan mengancamnya, saya sangat takut Ayah saya itu orang yang nekat dan Vano juga melarang saya untuk bicara, tapi saya takut'


Beruntung Adara memberi tau hal itu padanya karena kalau tidak dia mungkin akan terlambat untuk tau dan Devano tidak akan pernah bercerita.


"Apa maksud kamu Devano?! Jawab Daddy! Apa maksud kamu sembunyiin hal itu dari Daddy?!" Bentak Daffa lagi


"Maaf Dad aku fikir aku bisa selesain sendiri ma...."


"Selesain sendiri apa Devano?! Kamu tau kalau kamu dalam bahaya bahkan tadi kamu hampir celaka!" Kata Daffa marah


"Daddy aku...."


"Bagaimana kalau kejadian itu benar-benar terjadi?! Kamu mau apa? Bagaimana dengan kami? Bagaimana dengan Adara? Devina?" Tanya Daffa


Devano diam sambil menatap Daddy nya yang kini terlihat begitu gusar.


"Daddy bisa gila kalau begini! Kenapa semua anak-anak Daddy pada tertutup dan tidak pernah mau menceritakan masalahnya?" Tanya Daffa pelan


"Daddy...."


"Semua fasilitas kamu mulai dari mobil, motor dan kartu atm akan Daddy sita satu bulan ke depan." Kata Daffa dengan tegas


Devano terlihat ingin protes, tapi wajah Daffa begitu tidak bersahabat membuat dia jadi mengurungkan niatnya. Sungguh Devano tidak tau kalau orang tua kekasihnya akan sampai segitunya hingga menyuruh orang lain sampai mengikutinya.


"Dad aku..."


"Diam! Daddy tidak mengizinkan kamu untuk bicara!" Kata Daffa


Devano masih ingin bicara, tapi pintu kamar Devano diketuk dengan begitu kuat dari luar hingga berkali-kali.


"Daddy bukaa! Bukaiinn pintunya! Jangan marahin Vano!"


Tentu saja siapa lagi yang melakukan hal senekat itu ketika Daffa marah kalau bukan Devina.


"Satu bulan Devano! Selama satu bulan Daddy tidak akan izinkan kamu pergi kemanapun tanpa izin dan pengawasan Daddy!" Tegas Daffa


"Tapi, Daddy...."


"Apa?! Mau membantah lagi?" Tanya Daffa


"Tapi, Adara...."


"Dia akan aman cukup percaya sama Daddy!" Kata Daffa


"Dad...."


"Kamu hampir celaka! Apa kamu tau?! Hari ini kamu hampir celaka Devano kalau saja kamu tidak bisa mengendalikan mobil kamu pasti sudah ada di rumah sakit sekarang!" Kata Daffa marah


"Iya Dad baik Vano akan menurut." Kata Devano


Menghela nafasnya kasar Daffa mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang lalu keluar dari dalam kamar anaknya membuat Devina langsung berlari masuk ke dalam.


"Pak Hadi siapkan mobil sekarang kita pergi ke rumah Juan Alexander"


Perkataan itu masih dapat Devano dengar hingga membuat dia menghela nafasnya kasar dan mengepalkan tangannya kuat.


"Vanoo kenapa? Kenapa Daddy marah? Vano jawab Vina." Kata Devina tidak sabaran


"Enggak ada Vin." Kata Devano pelan


"Ih kenapa? Gak mungkin Daddy marah pasti ada sesuatu kan? Kenapa? Vano kenapa?" Tanya Devina lagi


"Aku gak papa Vin." Kata Devano


"Vanoo jawab aku tau Vano bohong, kenapa? Bilang sama Vina kenapa? Kenapa Daddy marah?" Tanya Devina


Devano memijat pelan dahinya dia sedang tidak mau bercerita.


Sekarang Devano memikirkan Adara karena kekasihnya itu pasti merasa sangat bersalah padahal bukan salahnya dan dia juga tidak bisa kemana-mana.


"Vano kamu kenapa? Kasih tau...."


"Vin kamu kaluar aja." Kata Devano


"Vina gak mau kemana-mana!" Kata Devina galak


"Vin aku mau sen...."


"Vano selalu ada untuk Vina dan sekarang Vina juga bakal ngelakuin hal yang sama." Kata Devina


Devano tersenyum dan kembali memejamkan matanya ketika Devina mencium keningnya dengan sayang.


"Vin"


"Hmm"


"Bisa bantuin aku?" Tanya Devano yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Devina


"Bisa! Vano mau minta bantuin apa?" Tanya Devina


"Ke rumah Adara lihat keadaan dia kamu kesananya minta antar Ziko, biar aku yang telpon Ziko." Kata Devano


Tersenyum tipis Devina memberikan ponselnya dan membiarkan Devano berbicara dengan kekasihnya di telpon. Setelah selesai Devano mengembalikan ponsel kembarannya dan kembali memeluk Devina dengan erat.


"Vano tenang ya? Aku bakal ke rumah Adara." Kata Devina


Devano mengangguk dan mencium kepala Devina sambil mengeratkan pelukannya.


"Maaf ya Vin." Kata Devano


"Kenapa minta maaf?" Tanya Devina pelan


"Karena udah buat kamu sedih dan cemas." Kata Devano


Di dalam pelukan kembarannya Devina tersenyum sambil mengusap punggung Devano dengan lembut dan melepaskannya ketika ponsel dia bergetar. Ternyata Ziko dia pasti sudah ada di luar karena Ziko memang belum sampai rumah tadi.


"Vano jangan sedih nanti Vina telpon ya?"


Sebelum pergi Devina mencium kening Devano lagi dan membuat kembarannya itu tersenyum.


Devina memang selalu berhasil menenangkan hati dan fikirannya yang kacau.


¤¤¤


"Adara udah jangan nangis terus"


Devina mengatakannya dengan sedih sambil berusaha menenangkan Adara yang terus menangis sejak kedatangannya sepuluh menit yang lalu. Sekarang dia berada di kamar Adara dan Ziko menunggu di ruang tamu karena katanya tak ingin mengganggu kedua wanita itu bicara.


Tadi Adara sudah menceritakan semuanya pada Devina dan hal itu membuat Devina mengerti alasan Daddy nya marah. Namun, sejak tadi Adara terus menyalahkan dirinya sendiri dan membuat Devina merasa ikut sedih kalau kembarannya melihat dia pasti akan sangat terluka.


"Salah aku Vin... harusnya Vano jangan deket-deket sama... aku semuanya karena... aku." Isak Adara di dalam pelukan Devina


"Adara jangan ngomong gitu." Kata Devina sedih


"Dari awal... dari awal harusnya aku gak boleh deket... sama Vano... semuanya salah aku Vin." Kata Adara lagi


"Adara udah." Kata Devina


"Aku memang pembawa sial... semua orang... semua orang yang deket... sama aku... mereka pasti... bakal ikut... kena sial." Kata Adara


"Adara! Enggak ada yang namanya pembawa sial." Kata Devina


"Salah aku Vin.... lebih baik aku pergi... lebih baik aku pergi nyusul Bunda... aku gak mau... kayak gini terus Vin... cuman jadi beban buat orang lain." Kata Adara semakin terisak hebat di pelukan Devina


"Jangan ngomong gitu gak boleh." Kata Devina sambil melepaskan pelukannya dan menatap Adara dengan mata berkaca-kaca


Tangan Devina tergerak untuk menghapus air mata Adara menggunakan tangannya.


"Adara gak boleh ngomong gitu ada aku sama Vano." Kata Devina


"Vin... aku harus gimana? Kalau Ayah... Ayah ngelakuin sesuatu gimana?" Tanya Adara takut


"Adara jangan takut Daddy gak bakal biarin hal itu sampai terjadi." Kata Devina sambil tersenyum


"Aku takut Vin." Lirih Adara


"Ssst ada aku sama Vano jangan takut ya? Daddy gak mungkin biarin sesuatu terjadi sama kita." Kata Devina


Untuk sesaat Adara terlihat tenang hingga suara ketukan dengan keras terdengar bersamaan dengan terdengarnya suara Juan dari luar yang membuat keduanya tersentak.


Devina terlihat takut apalagi ketika Ziko masuk ke dalam kamar dan mengatakan bahwa ada orang tua Adara di luar, dia memang pernah melihat Juan ketika masih SMP dulu di sekolah ketika tengah memarahi anaknya.


"Ziko gimana?" Tanya Devina takut


Dia memeluk Adara dengan sangat erat ketika ketukan pintu itu semakin kuat.


"Adara buka atau saya dobrak pintunya!"


¤¤¤


Coba tebak gimana selanjutnyaa😂


Penasaran gakk😋