My Possessive Twins

My Possessive Twins
S2 (20)



Raut wajah penuh kebingungan terlihat jelas di wajah Adara kala motor Devano terparkir di sebuah gedung pesar yang merupakan perusahaan keluarga Wijaya. Langit senja mulai nampak, tapi bukannya mengajak pulang Devano malah membawanya kesini dan Adara tidak ada pilihan lain selain hanya mengikuti langkah kaki kekasihnya saja.


Gedung ini sangat tinggi entah berapa lantai dan ketika masuk ke dalam Adara pun kagum melihatnya tidak hanya besar, tapi perusahaan ini sangat luas juga. Besarnya perusahaan ini saja seolah membuktikan betapa kayanta keluarga Wijaya yang sekali lagi membuat dia merasa takut serta cemas kalau suatu saat nanti Devano meninggalkannya.


Beberapa orang yang mengenali Devano menunduk ketika melihat pria itu hingga keduanya masuk ke dalam lift dan Devano menekan tombol ke lantai teratas. Tangan Adara digenggam dengan erat dan sesekali dia juga menoleh lalu tersenyum.


"Kita mau ngapain?" Tanya Adara


"Melihat sesuatu yang akan bikin kamu senang." Kata Devano


Adara tersenyum lalu kembali diam hingga akhirnya lift berhenti dan terbuka dengan sendirinya membuat mereka berdua keluar. Sekali lagi Adara hanya mengikuti langkah kaki kekasihnya hingga Devano membuka pintu lalu mereka naik beberapa anak tangga dan sampai di pintu lagi.


Tidak terkunci karena Devano langsung membukanya dan begitu masuk senyumnya mengembang dengan sempurna.


Rooftop


Luas sekali ada beberapa bangku kosong untuk duduk juga tanaman yang ada disana.


"Suka?" Tanya Devano


"Sukaa"


"Sini ikut aku." Ajak Devano


Devano mengajak Adara untuk duduk dan mereka sama-sama menatap ke depan dimana gedung-gedung tinggi terlihat serta awan yang berubah warna.


Langit senja semakin nampak.


"Dulu aku sering kesini kadang sampai malam." Kata Devano


"Enggak takut?" Tanya Adara


"Enggak disini ada beberapa satpam dan beberapa ob juga yang tinggal di belakang perusahaan biasanya jam sembilan mereka baru pulang." Kata Devano


"Kamu kalau kesini sendirian?" Tanya Adara lagi


"Kadang sendirian, tapi biasanya ngajak Devina juga apalagi waktu kami masih SMP aku sering banget ngajak dia kesini dan dulu ditemenin sama Daddy." Kata Devano


"Disini tenang Van." Kata Adara


Devano tersenyum dan mengangguk setuju lalu dia menyampirkan rambut Adara ke belakang telinganya.


"Kamu tau Adara? Ada banyak wanita di dunia ini, tapi cuman kamu yang berhasil bikin aku jatuh cinta," Kata Devano.


Dalam diam Adara menatap mata Devano yang juga menatapnya dengan penuh ketulusan.


"Aku gak pernah mempersalahkan latar belakang kamu atau apapun itu karena Adara cinta tumbuh tanpa memperdulikan itu semua, aku hanya jatuh cinta pada seseorang yang sekarang ada disamping aku." Kata Devano


Senyum Adara mengembang dengan sempurna, hatinya menghangat ketika mendengar itu semua. Tidak pernah dia merasa begitu dicintai seperti sekarang.


"Van"


"Hmm"


"Makasihhhhh"


Setelah mengatakan hal itu Adara memeluk kekasihnya dengan erat membuat Devani tertawa dan membalas pelukannya.


"Akhir pekan besok kamu gak sibuk kan Dar?" Tanya Devano


"Enggak"


"Aku mau ajak kamu keluar ya?" Kata Devano


"Kemana?" Tanya Adara


"Ada"


"Ih ya kemana?" Tanya Adara sebal


"Ada rahasia." Kata Devano


Melepaskan pelukannya Devano menangkup wajah Adara dan mengusap pipinya dengan lembut lalu dia menjauhkan tubuhnya sambil menatap lurus ke depan. Matahari mulai menghilang, tapi belum gelap dan pemandangan yang mereka lihat masih indah.


Langit senja diantara gedung-gedung tinggi.


"Bunda pasti ada di atas sana dan lagi lihat kita." Kata Adara sambil menunjuk ke atas langit


"Hmm dia pasti bahagia melihat kamu sekarang." Kata Devano


"Bunda rindu aku gak Van?" Tanya Adara


"Pasti sama seperti kamu merindukan Bunda." Kata Devano membuat Adara tersenyum


Menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih Adara tersenyum senang, dia merasa seperti hidup kembali. Perlahan langit menggelap membuat Devano berdiri lalu mengajak Adara untuk pergi ke tembok pembatas.



Mereka melihat ke bawah dimana motor dan mobil terlihat beralu-lalang di jalanan serta beberapa orang yang ada di bawah.


"Adara"


"Hmm"


"Kamu harus tau sesuatu." Kata Devano


"Tau apa?" Tanya Adara


"Tau kalau kamu itu adalah wanita spesial untuk aku"


Ada tidak bisa menahan senyumnya ketika mendengar itu semua.


¤¤¤


"Boleh ya Daddy?"


Daffa menatap wajah kedua anaknya yang permohonan membuat dia tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya pelan. Tadi dia sedang berada di ruang kerjanya sambil mengecek beberapa berkas hingga kedua anaknya masuk ke dalam lalu meminta izin untuk pergi ke villa yang ada di Bandung besok.


Awalnya Daffa menolak, tapi wajah anaknya terlihat kecewa apalagi Devina yang membuat dia jadi tidak tega. Ditambah lagi Devina yang menagih janjinya untuk mengabulkan apapun keinginannya.


"Kalian mau ngapain disana?" Tanya Daffa sambil meletakkan semua berkas-berkasnya


"Emm Vano mau buat kejutan untuk ulang tahun Adara." Kata Devano pelan


"Daddy boleh yaa? Kan rame-rame nanti ada teman-teman Vano terus teman-teman Vina juga." Kata Devina dengan penuh semangat


Sebelumnya Devano menghampiri Devina lalu mengatakan keinginannya dan tentu saja Devina selalu siap membantu kembarannya. Apalagi dia memang ingin sekali pergi ke villa bersama teman-temannya.


"Dua hari?" Tanya Daffa memastikan


"Iya Dad dua hari dan Vano janji gak bakal aneh-aneh terus bakal jagaiin Vina juga." Kata Devano yakin


Daffa tersenyum lalu menatap kedua anaknya bergantian, kalau sudah begini dia tidak bisa menolak.


"Yaudah boleh, tapi tetap bakal Daddy awasin kalian ya?" Kata Daffa


Keduanya mengangguk bersamaan dan Devina langsung memeluk kembarannya karena merasa senang.


"Sekarang bilang ke Mommy." Kata Daffa


"Siap Daddy laksanakan!" Kata Devina membuat Daffa tertawa melihatnya


"Sini peluk dulu." Kata Daffa


Kedua anaknya perlahan mendekat dan memeluk Daffa dengan sayang untuk beberapa saat. Setelahnya merek berdua keluar bersama-sama dan pergi ke kamar orang tuanya.


Disana ada Fahisa yang sedang menata baju ke dalam lemari dan ketika mereka memanggil Fahisa tersentak kaget hingga menatap anaknya dengan sedikit kesal. Namun, senyumnya mengembang kala Devina berlari kecil sambil memeluknya.


"Mommy"


"Ada apa ini anak-anak Mommy pada datang?" Tanya Fahisa


Dia mengajak kedua anaknya untuk duduk di sofa lalu menanyakan tujuan kedatangan mereka ke kamar.


"Mommy kami mau minta izin." Kata Devano


"Izin? Izin apa sayang?" Tanya Fahisa


"Kami mau ke villa yang di Bandung sama teman-teman juga." Kata Devina dengan semangat


"Sudah bilang Daddy?" Tanya Fahisa


"Sudah Mom." Kata Devano


"Berapa hari?" Tanya Fahisa


"Cuman dua, boleh kan Mommy?" Tanya Devina dengan penuh harap


Fahisa tersenyum lalu menganggukkan kepalanya membuat kedua anaknya tersenyum senang dan memeluknya dengan sayang.


"Besok pagi Mommy bantuin siapin keperluan ya?" Kata Fahisa


"Iya Mommy"


"Yaudah sekarang ke kamar terus tidur udah malam." Kata Fahisa


Keduanya mengangguk dan mencium pipi Fahisa sebelum keluar dari kamar. Saat keluar kamar Devina tidak berjalan ke kamarnya, tapi ke kamar Devano.


"Vina kenapa ke kamar aku?" Tanya Devano


"Mau tidur disini." Kata Devina sambil tersenyum


Devano menghela nafasnya pelan dan hanya membiarkan saja kembarannya itu naik ke atas ranjang lalu berbaring disana. Pergi ke samping kembarannya Devano menarik selimut untuk menutupi tubuh Devina lalu mengusap kepalanya dengan sayang.


"Vano belum mau tidur?" Tanya Devina


"Belum ngantuk, memang kenapa?" Tanya Devano


"Vano nyanyi buat aku." Kata Devina


Tersenyum singkat Devano berbaring disamping Devina dan membuat kembarannya itu menghadap ke arahnya. Sambil mengusap pipinya dengan lembut Devano bersenandung pelan hingga perlahan Devina memejamkan matanya.


Entah berapa lama, tapi ketika yakin Devima sudah tertidur Devano berhenti bernyanyi dan beranjak dari tempat tidur.


Dia ingin menyiapkan hadiahnya untuk besok.


¤¤¤


Haii aku updateee😂


Belum Vina-Ziko yaa part selanjutnya baru adaaa😉