My Possessive Twins

My Possessive Twins
75 : Aku Wanita Lemah



Flu


Akibat kehujanan kemarin Devina mengalami flu, tapi gadis itu tetap memaksa untuk berangkat ke sekolah karena tidak mau kebosanan di rumah meskipun orang tuanya juga Devano meminta dia untuk tidak sekolah dulu Devina tetap keras kepala. Hari ini Devano berangkat menggunakan mobil dia juga meminta kembarannya untuk menakai sweater tebal agar tidak kedinginan, sebenarnya sedikit berlebihan untuk Devina.


Dia hanya pilek dan juga batuk serta sedikit pusing, tapi Devano juga kedua orang tuanya sangat-sangat berlebihan makanya Devina tetap keras kepala memaksa untuk sekolah. Lagi pula dia tidak akan kenapa-kenapa meskipun sekolah dan semisal kepalanya pusinh dia bisa pergi ke uks kan?


Selama perjalanan ke sekolah Devano juga terus mengomel dan membuat telinga Devina sakit ketika mendengarnya. Kesannya Devina lemah sekali jadi wanita dan dia tidak suka meskipun memang benar sih.


"Aku kan bilang kamu gak usah sekolah Vin lagian kemarin kamu juga harusnya jangan hujan-hujanan tunggu dulu sampai hujannya reda baru pulang." Kata Devano


"Hmmm"


Sejak tadi Devina hanya menanggapi celotehan kembarannya dengan gumaman, dia kesal.


"Dengerin aku gak sih Vin? Jangan hujan-hujanan makanya kamu itu kalau udah kehujanan pasti gini untung aja gak demam." Kata Devano


"Iyaaaaa"


Saat Devano ingin berceloteh lagi Devina membesarkan suara musik yang sedang berputar dan mengalihkan pandangannya. Wajah Devano semakin muram dia langsung mematikan musik yang berputar dan menoleh ke arah kembarannya.


"Vin aku lagi ngomong." Kata Devano kesal


"Ya kamu ngomongin itu terus! Aku udah tau iya aku gak bakal gitu lagi." Kata Devina kesal


"Kenapa sekarang kamu kayak gitu?" Tanya Devano


"Kayak gitu gimana? Aku tuh cuman flu Vanoo bukan mau mati juga." Kata Devina membuat Devano yang mendengarnya semakin marah


"Kamu apaan sih Vin ngomong gitu?!" Tanya Devano dengan suara yang mulai meninggi


Devina memajamkan matanya dan menghela nafasnya pelan.


"Aku gak papa Vano cuman flu doang." Kata Devina berusaha tenang


"Jangan ngomong kayak gitu lagi! Kamu tau gak sih omongan itu doa!" Kata Devano marah


"Iya maaf"


Setelah itu tidak ada percakapan lagi karena keduanya tidak mau memperpanjang masalah apalagi sampai ribut. Berkali-kali Devina terbatuk dan mengusap hidungnya bahkan hidungnya terlihat memerah sekarang.


Kepalanya sedikit pusing, tapi Devina masih bisa menahannya.


Saat sampai di sekolah keduanya segera turun dan Devano merangkul kembarannya itu dengan sayang meskipun awalnya Devina menolak, tapi gadis itu diam juga. Ada beberapa pasang mata yang menatap mereka dan Devina berfikir mereka pasti menganggapnya aneh karena datang ke sekolah dengan sweater yang cukup tebal.


"Pusing gak?" Tanya Devano


Devina menggelengkan kepalanya pelan, dia lagi malas bicara.


"Nanti kalau sakit ke uks aja ya?" Kata Devano yang ditanggapi dengan gumaman singkat oleh kembarannya


Devina ingin segera sampai di kelas dan duduk.


Saat memasuki kelas Devano mengantarnya sampai ke tempat duduk dan mengusap puncak kepala Devina dengan sayang membuat banyak pasang mata menatap ke arah mereka. Sebelum pergi dia mengatakan sesuatu pada Mona agar mengantar Devina ke uks semisal dia sakit.


"Aku ke kelas dulu." Kata Devano


Devina mengangguk singkat dan memperhatikan kembarannya yang berjalan keluar kelas.


Setelah itu dia mendongak dan menatap teman-temannya yang juga sedang menatap ke arahnya, dia benci tatapan itu. Tadinya Devina berharap kekasihnya sudah datang, tapi ternyata belum.


"Lo sakit karena kemarin Vin?" Tanya Mona


Devina hanya bergumam pelan.


"Karena kehujanan kemarin?" Tanya Cessa lagi


"Iya dan ditambah lagi aku makan ice cream setelah pulang ke rumah." Kata Devina dengan suara seraknya


Teman-teman Devina jadi merasa tidak enak harusnya kemarin mereka menunggu sampai hujan reda saja. Namun, berbeda dengan mereka Devina juga merasa tidak suka dan takut kalau setelah itu teman-temannya jadi tidak mau mengajak dia pergi keluar bersama.


Mana tau mereka tidak mau mengajak Devina yang lemah ini.


"Lo memang kayak gitu ya Vin kalau kehujanan?" Tanya Nayla penasaran


Sekali lagi Devina hajya bergumam pelan lalu menelungkupkan wajahnya di meja ketika rasa pusing kembali menyerangnya.


Dia jadi mau menangis karena merasa sangat lemah.


Hanya kehujanan saja sampai begini, kenapa dia tidak seperti teman-temannya?


Devina mau seperti Mona yang pemberani atau Cessa yang tangguh bahkan ketika terjatuh dia masih sanggup tertawa atau seperti Nayla yang lemah lembut, tapi begitu kuat dan tidak mudah rapuh.


Devina merasa iri.


Suara Ziko masuk ke dalam pendengarannya, tapi Devina tidak mau mendongak dia malas sekali apalagi kepalanya pusing. Saat memasuki kelas dahi Ziko berkerut ketika melihat kekasihnya yang memakai sweater tebal serta menelungkupkan wajahnya di meja.


"Vina kenapa?" Tanya Ziko pelan


"Sakit"


Perkataan itu sudah cukup untuk membuat Ziko cemas dan langsung menarik kursi lalu memanggil Devina dengan suara pelan.


"Vina"


"Emm"


Devina menjawabnya hanya dengan gumaman, tapi tidak mengubah posisinya sama sekali.


"Kenapa?" Tanga Ziko lembut


"Enggak papa." Kata Devina


Rasanya Devina ingin berteriak kalau dia tidak papa dan hanya flu serta sakit kepala biasa.


Kenapa orang-orang sangat berlebihan?


"Sakit apa dia Mon?" Tanya Ziko


"Flu, kemarin kita-kita kehujanan di jalan." Kata Mona


Mengangguk faham Ziko mengusap rambut Devina dengan lembut.


"Gak mau ke uks?" Tanya Ziko


"Enggak orang aku gak papa cuman pusing aja." Kata Devina


Ziko tidak bisa membantah dan akhirnya dia kembali ke tempat duduknya sambil memperhatikan sang kekasih dari belakang.


'Ziko aku gak mau dimanjaiin terus entah sama Mommy dan Daddy atau Devano atau juga kamu, aku gak mau jadi wanita lemah'


Kekasihnya pernah mengatakan hal itu padanya di telpon Devina bilang dia memang manja, tapi tidak mau kalau terlalu diperlakukan layaknya seorang putri.


Dia mau seperti teman-temannya.


Bebas memakai pakaian dan main bersama teman-teman meskipun sampai malam.


'Aku ngerasa jadi cewek lemah banget dikit-dikit sakit dan dikit-dikit nangis, aku gak mau kayak gini terus'


Suara Devina terdengar sedih ketika mengatakan hal itu.


'Aku gak mau kamu ataupun Vano cuek, tapi aku juga gak mau kalau kalian terlalu posesif'


Ya, mungkin dia juga Devina harus sama-sama belajar dan mencoba untuk mengerti satu sama lain.


Bukan hal yang mudah bagi Devina untuk mengatakan hal itu padanya karena dia sangat tau bahwa Devina tidak pernah bercerita tentang hal-hal pribadi.


Devina mudah rapuh dan gadis itu juga mengakuinya.


¤¤¤


"Brengsek banget gue gak bisa main basket"


Umpatan itu tak berhenti keluar dari bibir Alex ketika dia tau bahwa pekan depan akan ada pertandingan dan orang tuanya serta Pak Jay sudah melarang keras dia untuk ikut. Salah satu hal yang tidak Alex suka adalah dikekang, tapi untuk kali ini dia juga tidak bisa memberontak karena ketika pergi ke dokter dia malah mendapat ancaman yang serius.


Katanya kalau terlalu sering cedera bisa berakibat fatal untuknya dan tentu saja Alex tidak mau kalau hal itu sampai terjadi. Memang kalau bermain basket dia sedikit bar-bar bahkan Alex mengakui kalau beberapa kali dia mendorong lawan mainnya karena kesal.


"Udah lo jadi penonton aja sama gue." Kata Adara sambil merangkul Alex dan hal itu membuat mata Devano membulat


Secara refleks dia menjauhkan tangan Adara dari bahu temannya.


"Dar apaan sih?" Kata Devano tidak suka


Bukan hanya Adara, tapi yang lainnya juga ikut tertawa karena melihat tingkah Devano yang cukup posesif. Jangankan merangkul seperti itu bahkan ketika Adara membicarakan pria lain saja Devano sudah sangat kesal.


Posesif Devano bukan hanya untuk Devina, tapi juga untuk Adara.


"Boleh lah Dar kita nonton berdua duduknya sampingan ya? Nanti kita beli makan sama minum untuk berdua terus nontonnya paling depan." Kata Alex membuat Devano mendengus kesal


"Berani lo?" Tanya Devano galak


"Ampun Bang bercanda." Kekeh Alex


Sekarang sudah masuk pelajaran kedua dan mereka tengah menunggu guru selanjutnya masuk ke dalam kelas.


"Kenapa sih Van? Kok lo jadi lebay?" Kata Adara sambil tertawa


"Lo?"


Wajah Devano semakin terlihat kesal dan membuat Adara jadi gemas lalu mencubit pipi pria itu pelan. Perbuatannya sontak saja membuat teman-temannya melongo tidak percaya dan merasa aneh dengan perbuatan Adara barusan.


"Gila merinding gue liatnya." Kata Erick


"Asli antara iri dan pengen ketawa." Kata Yuda sambil menggelengkan kepalanya pelan


Adara tertawa kecil, dia rasa sekarang urat malunya sudah putus.


"Ambekan banget ih Vano." Kata Adara


"Lo?"


Devano masih mempertanyakan hal yang sama dan itu membuat Adara benar-benar gemas.


"Iya enggak lo, tapi kamu." Kata Adara membuat teman-temannya semakin melongo


"Sumpah tenggelemin gue sekarang juga." Kata Alex


"Gue kira kalau Vano sama Dara pacaran mereka bakal debat terus, tapi ternyata enggak." Kata Erick


"Iya karena setau gue dia orang berdua sama-sama keras kepala, penasaran nih siapa yang biasanya ngalah?" Tanya Yuda


Devano mendengus kesal mendengar perkataan teman-temannya.


"Gak ada yang ngalah lah cuman sama-sama berusaha saling ngertiin aja." Kata Adara


"Adara kerasukan setan apa ini?" Tanya Erick


"Makanya pacaran biar ngerti." Kata Devano membuat mereka semua diam dengan wajah masamnya


Devano memang selalu tau cara untuk membuat mereka semua diam dan berhenti bicara.


Hanya satu, menyinggung status.


Karena hanya Devano yang memiliki kekasih.


"Kalo lo orang udah pada punya pasangan pasti bakal ngerti kok kalau pertahanin ego sendiri itu gak ada gunanya kadang kita perlu cari jalan tengah untuk sesuatu." Kata Adara lagi


"Sumpah Dardara kerasukan!" Kata Alex sambil menggebrak meja dan membuat teman sekelas mereka menoleh


"Intinya jangan tiru Alex yang kalau ada masalah sama pacarnya langsung bilang putus." Kata Devano


Wajah Alex langsung masam sedangkan yang lainnya tertawa, tapi benar Alex memang begitu.


Setiap ada masalah dengan kekasihnya dia akan meminta putus dengan alasan klasik.


Kita udah gak cocok


"Gue terus gue terus yang kenaaa"


Ya, Alex memang selalu jadi sasaran.


¤¤¤


Seiring berjalannya waktu kepala Devina terasa semakin berat bahkan dia berkali-kali ditegur karena terus menelungkupkan wajahnya di meja dan ketika bel istirahat berbunyi Devina lega sekali, dia bisa beristirahat. Kepalanya benar-benar terasa berat hingga Devina merasa dia tidak akan sanggup meski hanya sekedar mendongak dan hal itu membuat kekasihnya juga teman-temannya merasa cemas.


Sekarang Ziko menarik kursi ke dekat Devina dan membujuk gadis itu untuk istirahat di uks saja, tapi dengan suara seraknya Devina menolak. Memang begitu kalau sedang flu rasanya kepala sangat berat hingga dia enggan untuk sekedar duduk atau berdiri.


"Ke uks aja ya? Badan kamu juga panas Vin." Kata Ziko lembut


Devina kembali menolak.


"Gue panggilin Vano aja deh." Kata Mona yang sukses membuat Devina mendongak dan merengek


"Ihh jangannn"


Tapi, beberapa saat setelahnya Devina meringis dan memegang kepalanya yang terasa sangat berat.


"Ke uks aja ya Vin?" Kata Ziko lagi


Devina merasa suara di sekitarnya mulai menghilang, tapi dia berusaha mengumpulkan kesadarannya dan kembali menelungkupkan wajahnya di meja.


"Kalian ke kantin aja aku gak papa." Kata Devina pelan


Tidak ada yang beranjak sedikitpun mereka cemas melihat Devina apalagi Ziko.


"Vano lagi ke ruang guru." Kata Nayla yang tadi memang keluar kelas untuk memanggil Devano


Karena hanya dengan pria itu lah Devina akan menurut.


"Ke uks ya? Badan kamu sakit semua nanti." Kata Ziko


Cukup lama Devina diam hingga akhirnya dia mengangguk dan kembali mendongak.


Tangannya yang terasa panas meraih tangan kekasihnya dan berdiri, tapi tubuh Devina linglung seketika membuat Ziko secara sigap menahannya.


Kepala Devina terasa semakin berat sepertinya ini juga karena dia hanya minum susu tanpa memakan sarapannya ketika berangkat tadi.


Pandangannya mulai mengabur dan suara disekitarnya perlahan menghilang.


Sampai akhirnya mata Devina terpejam dan tubuhnya hampir jatuh kalau saja Ziko tidak menahannya.


"Vina!"


Ziko mendadak cemas dia langsung menggendong tubuh kekasihnya dan membawa ke uks diikuti dengan Cessa juga Mona, sedangkan Nayla pergi mencari Devano untuk memberi tau hal tadi.


Devina memang keras kepala.


¤¤¤


Yesss bisa updateeee😉