
Sudah tiga hari berlalu setelah kejadian mengerikan yang menimpa Devina dan sudah selama itu juga Devina masih belum membaik, dia lebih banyak diam serta menghabiskan waktunya di dalam kamar. Setiap diajak bicara Devina juga hanya menanggapi seadanya tidak seperti biasa dimana Devina akan menyapa semua orang dengan senyuman manisnya atau bertingkah manja pada kedua orang tua serta kembarannya.
Selama tiga hari mereka kehilangan keceriaan Devina bahkan gadis itu sering kali melamun dengan pandangan kosong ke depan juga berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut. Setiap kali Devano datang dan berusaha untuk menghiburnya atau mengajak bicara Devina hanya akan menunjukkan senyum paksanya lalu menanggapi seadanya.
Mereka kehilangan sosok ceria juga manja Devina, tapi gadis itu sedikit berbeda kalau Ziko sudah datang dia sedikit banyak bicara meskipun hanya duduk diam di dalam kamarnya. Masalah makan Devina juga cukup mengkhawatirkan karena dia hanya makan sedikit sekali tidak pernah sampai habis.
Mau memaksa juga tidak bisa.
Sekarang hari sabtu Devano tidak ada perkuliahan, jadi dia memutuskan untuk menemani Devina dan kemarin dia pergi ke toko buku untuk membeli novel.
Mungkin Devina akan senang.
Membawa tiga buah novel yang kemarin dia beli Devano perlahan membuka pintu kamar Devina dan masuk ke dalam, dia melihat kembarannya itu sedang duduk diam sambil menatap ke luar jendela.
"Vina"
Panggilan itu membuat Devina menoleh sebentar lalu kembali mengalihkan pandangannya. Padahal biasanya kalau Devano datang Devina akan menyambutnya dengan ceria lalu berlari menghampirinya dan memberikan pelukan hangat.
'Vanooo'
Bahkan Devano tidak bisa menatap mata Devina yang terlihat kosong. Menghela nafasnya pelan Devano berjalan mendekat lalu menyentuh pelan bahu Devina.
Sekarang Devina sudah tidak takut atau memberontak ketika ada yang menyentuhnya dan hal itu sudah cukup membuat mereka lega.
"Vina"
"Emm"
"Kamu ngapain?" Tanya Devano dengan lembut
"Enggak"
"Sini bentar yuk." Ajak Devano
Devina hanya diam dan menurut saja ketika Devano mengajaknya untuk duduk di atas ranjang.
"Kemarin aku beliin ini untuk kamu sehabis pulang kuliah, kamu pasti bosan kan? Makanya aku beli..."
"Iya Vano taruh aja di meja nanti aku baca." Kata Devina
Devano terdiam lalu menangkup wajah Devina dan meminta gadis itu untuk menatap matanya.
"Jangan kayak gini Vin aku gak bisa lihat kamu kayak gini terus." Kata Devano pelan
Tidak ada jawaban Devina hanya diam sambil tersenyum tipis dan membawa tangan Devano untuk dia genggam.
"Vano gak pergi sama Adara? Ini kan hari minggu." Kata Devina
"Dan ninggalin kamu? Enggak, aku akan disini nemenin kamu." Kata Devano
"Makasih udah mau nemenin Vina." Kata Devina pelan
"Kamu mau apa Vin? Mau ke kedai ice cream? Nonton bioskop? Mau makan ice cream? Ke taman? Main sepeda?" Tanya Devano
Devina menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak mau melakukan apapun.
"Kamu mau apa? Bilang sama aku." Kata Devano dengan lembut
"Vina gak mau apa-apa." Kata Devina
"Vin aku gak bisa lihat kamu kayak gini, biasanya kamu senyum terus, tapi sekarang..."
"Sekarang juga senyum." Kata Devina sambil menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman
"Kamu tau maksud aku Devina, bibir kamu bisa berbohong membentuk sebuah senyuman, tapi mata kamu enggak bisa bohong." Kata Devano
Devina diam sambil memainkan tangan Devano yang ada digenggamannya. Cukup lama mereka saling mendiamkan hingga Devina mulai bicara.
"Waktu sendirian Vina terus manggilin Vano sama Daddy dan berharap kalian akan datang untuk nolongin Vina, makasih udah tolongin Vina dari mereka." Kata Devina
"Aku gak pernah mau kamu terluka Devina." Kata Devano
"Tapi, hari itu Vina terluka mereka kasih Vina luka yang sangat sakit sampai Vina gak tau apa luka itu bisa sembuh atau enggak." Kata Devina
"Maaf"
"Vano gak salah dan Daddy juga gak salah." Kata Devina
"Apa yang masih sakit Vin?" Tanya Devano
Devina terdiam sebentar lalu menunjuk hatinya dan tersenyum tipis.
"Ini di dalam sini masih sangat sakit, mereka pukul, dorong, dan jambak rambut Vina semuanya masih berbekas." Kata Devina
"Apa yang harus aku lakuin supaya kamu bisa lupaiin semuanya?" Tanya Devano pelan
"Vina juga gak tau." Kata Devina pelan
Devano menghela nafasnya pelan lalu membawa Devina ke dalam pelukannya membuat kembarannya itu memejamkan matanya sambil membalas pelukan itu dengan cukup erat.
Saat tengah asik berpelukan pintu kamar terbuka dan Fahisa yang masuk ke dalam sambil membawa makanan membuat keduanya melepaskan pelukannya.
"Makan ya?" Pinta Fahisa
"Suapin"
"Vano aja." Kata Devano membuat Fahisa tersenyum lalu menyerahkan sarapan yang tadi dia bawa
"Daddy mana?" Tanya Devina
"Daddy ke persidangan." Kata Fahisa
Devina diam lalu menganggukkan kepalanya. Kemarin harusnya dia datang untuk memberikan pernyataan, tapi Devina belum mau keluar rumah hingga akhirnya seseorang datang untuk bertanya padanya di rumah.
"Makan ya?" Kata Devano
Devina tersenyum dan kembali mengangguk membuat Devano perlahan menyuapinya.
"Habis ini Mommy obatin lagi ya kakinya?" Kata Fahisa
"Kan cuman sebentar." Kata Fahisa
"Iya Mom"
"Mommy minta maaf ya? Kamu pasti trauma." Kata Fahisa sedih
Devina hanya tersenyum menanggapinya dan kembali membuka mulutnya ketika Devano menyuapinya makan.
"Orang-orang itu gak akan datang lagi kan?" Tanya Devina dengan penuh harap
"Enggak Vin mereka gak akan pernah datang lagi." Kata Devano yakin
"Vano bakal jagaiin aku?" Tanya Devina
"Kita semua bakal jagaiin kamu termasuk Ziko." Kata Devano
Perlahan senyuman manis Devina terukir, dia bukan marah, tapi Devina hanya ingin diam.
Entah kenapa dia malas melakukan apapun.
¤¤¤
"Eh maaf Vina kebangun ya?"
Devina berguman pelan sebagai jawaban tadi dia tengah tidur hingga tidurnya terganggu ketika merasakan usapan di pipinya dan ternyata itu ulah Daddy nya yang sekarang duduk ditepian ranjang sambil mengusap pipinya. Memang belakangan ini Daddy nya selalu datang ke kamarnya terkadang hanya untuk menanyakan keadaan Devina atau meminta maaf yang sebenarnya itu tidak perlu.
Devina tau kalau mereka tidak menginginkan hal itu sampai terjadi semuanya terjadi di luar kehendak mereka. Siapa yang menyangka kalau Devina akan hilang seperti itu?
Seharusnya dia bersama Ziko akan mencari cincin untuk pertunangan mereka, tapi mungkin pertunangan itu akan diundur sementara dulu, menunggu hingga keadaan Devina membaik.
"Daddy sudah pulang?" Tanya Devina
"Sudah, kamu sudah makan siang?" Tanya Daffa
"Emm belum tadi Mommy masih masak, jadi Vina tidur." Kata Devina
Devina bangun dari tidurnya lalu duduk dan bersandar pada kepala ranjang sambil menatap Daddy nya dengan senyuman.
"Daddy akan balas mereka semua, jangan takut hal seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi." Kata Daffa
Hanya anggukan yang Devina berikan lalu dengan hati-hati dia memeluk Daddy nya dari samping.
"Vina mau apa?" Tanya Daffa
"Enggak mau apa-apa." Kata Devina
"Devina mau apa?" Tanya Daffa lagi
Devina terdiam sebentar lalu mengatakan sesuatu yang membuat Daffa tersenyum, dia tau apa maksudnya.
"Vina gak punya hp sekarang, jadi gak bisa telpon sama Ziko." Kata Devina pelan
"Nanti sore Daddy belikan ya?" Kata Daffa
"Emm makasih hp Vina yang lama dimana Daddy?" Tanya Devina
"Ada, layarnya sudah pecah akan butuh waktu kalau mau diperbaiki." Kata Daffa
"Vina gak mau pakai itu lagi." Kata Devina
"Iya, sekarang Vina makan ya?" Kata Daffa
Devina mengangguk sebagai jawaban, tapi ketika Daffa ingin turun untuk mengambil makan Devina menahan tangannya.
"Vina mau makan dibawah sama yang lain"
Kalimat itu sudah cukup membuat Daffa tersenyum dan merasa sedikit lega, tanpa diminta Devina mau keluar dari kamarnya.
¤¤¤
Kedatangan Ziko sudah cukup untuk membuat Devina merasa lebih baik apalagi kali ini Ziko datang bersama Mama nya dan sekarang mereka sedang ada di ruang tamu. Ada Fahisa juga Daffa disana kalau Devano dia sedang dikamarnya.
Fahisa tersenyum penuh arti ketika melihat Nazwa yang terlihat begitu mencemaskan anaknya dan Daffa pun merasakan hal yang sama. Mereka sudah mengobrol sebentar tadi dan sekarang hanya diam sambil memperhatikan Nazwa yang mengajak Devna bicara.
"Gimana keadaan kamu Vina?" Tanya Nazwa cemas
"Em lebih baik." Kata Devina
"Mama cemas sekali sama kamu." Kata Nazwa
Devina tersenyum lalu dia kembali mengingat gelangnya yang hilang.
"Ma"
"Iya?"
"Maaf, gelang yang Mama kasih hilang." Kata Devina dengan raut wajah menyesal
"Ya ampun sayang jangan difikirkan kamu tidak dengan sengaja melakukannya yang penting sekarang kamu baik-baik saja." Kata Nazwa
Mereka kembali terdiam hingga Daffa membuka suaranya dan mengatakan bahwa pertunangan itu mungkin akan diundur untuk beberapa minggu ke depan.
"Jangan lama"
Perkataan singkat Devina itu membuat mereka semua mendongak dan menatap Devina.
Hingga Devina mengatakan apa yang dia inginkan.
"Jangan lama-lama diundurnya"
Perkataan itu membuat mereka tersenyum sambil menatap Devina.
¤¤¤
Vina nya gak mau lama-lamaa dia mau cepet tunangan😂 Pasti sayang banget dehh sama Zikoo😌