My Possessive Twins

My Possessive Twins
29 : Aku Cinta Kamu



Sebelum mengantar Adara pulang ke rumah Devano mengajak gadis itu pergi ke salah satu kedai ice cream yang biasa dia dan Devina kunjungi, meskipun awalnya menolak Adara tetap diam ketika motor Devano berhenti disana. Masalah Devina tenang saja dia pulang bersama Ziko tadi Ziko juga mengatakan kalau dia ingin mengajak Devina pergi sebentar lalu mengantarnya pulang ke rumah.


Setelah memastikan kalau Devina aman Devano ingin mengajak Adara berjalan-jalan sebentar sebelum mengantarnya pulang ke rumah, dia cukup kesal karena pria bernama Satria itu datang ke kelas mereka saat sudah pulang. Beruntung Devano langsung melarang Adara untuk pulang bersama Satria dan langsung mengatakan kalau Adara akan pulang bersamanya.


'Gue sama Dara udah janjian tadi'


'Adara pulang sama gue, iya kan Dar?'


Sudah Adara bilang berkali-kali kan kalau dia tidak bisa menolak Devano meskipun sudah berusaha keras tetap saja anggukan atau kata iya yang akan dia berikan. Akhirnya disinilah Adara berada, kedai ice cream bersama Devano dan ternyata tidak buruk seperti yang dia bayangkan.


"Van"


"Hmm"


"Jangan terlalu deket sama gue dong kalau di sekolah, malu tau diliatin orang-orang." Kata Adara sambil menyendokkan ice cream ke mulutnya


Selain malu dia juga kesal karena sering ada orang-orang terutama penggemarnya Devano yang menggunjing tentang dia dan hal itu benar-benar membuatnya sebal.


"Biarin aja mereka kan punya mata." Kata Devano membuat Adara berdecak kesal ketika mendengarnya


"Vano gue serius ihh!" Kata Adara kesal


"Memang gue bercanda?" Kekeh Devano


"Van gue tuh malu diliatin orang-orang apalagi anak kelas sama fans lo tuh kalau ngeliatin sampe matanya mau keluar." Kata Adara


"Gak usah liatin mereka, liatin gue aja." Kata Devano


Menghela nafasnya pelan Adara memilih untuk diam dan memakan ice creamnya dengan penuh kekesalan.


Susah sekali bicara sama Devano karena pria itu sangat keras kepala dan tidak mau mendengarkan.


Sekali tidak ya tidak.


Sial! Ternyata begini rasanya menghadapi orang yang keras kepala.


"Adara dengar, gue gak bisa berhenti peduli sama lo apalagi lo ada dihadapan gue, gimana bisa gue cuek?" Kata Devano ketika melihat wajah kesal gadisnya


Baru akan bicara ponsel Adaa berbunyi dan ketika melihat bahwa salah satu perawat Bunda nya yang menelpon Adara langsung mengangkatnya dengan jantung yang berdetak sangat cepat. Ada rasa cemas yang menghantui Adara ketika menerima telpon karena hanya ada dua kemungkinan, kabar baik atau kabar buruk.


Tapi, mendengar kata demi kata yang perawat itu ucapkan Adara tersenyum senang hingga menangis membuat Devano menatapnya dengan cemas dan penuh rasa ingin tau.


Setelah mematikan telponnya Adara menatap Devano dengan senyuman lebar serta mata berkaca-kaca dan ketika dia bicara Devano ikut tersenyum mendengarnya.


"Bunda udah sadar Van! Gue mau ke rumah sakit sekarang." Kata Adara dengan buru-buru memakai tasnya


Baru akan bergerak Devano menahan langkahnya dan mengatakan bahwa dia akan mengantar Adara ke rumah sakit, dia meminta gadis itu untuk menunggu di parkiran. Selesai membayar Devano bergegas ke parkiran dan bersama dengan Adara dia pergi ke rumah sakit dimana orang tua Adara dirawat.


Dari kaca spion Devano dapat melihat senyum manis yang terukir di bibir gadisnya, senyuman yang selalu dia suka.


Menempuh perjalanan selama tiga puluh menit motor Devano terparkir di area rumah sakit dan dia berlari kecil mengikuti langkah kaki Adara yang sudah lebih dulu pergi, gadisnya terlihat begitu bersemangat. Saat sampai di ruang ICU dokter mengatakan bahwa Bunda nya sudah dipindahkan ke ruang rawat dan hal itu membuat senyum manis Adara semakin mengembang.


Setelah di beri tau letak ruangannya Adara bergegas masuk dan air matanya langsung turun melihat mata saya itu sudah terbuka dan menatap ke arahnya.


Devano memilih untuk menunggu diluar karena tidak mau mengganggu waktu keduanya, dia bahagia melihatnya.


"Bundaa"


Pelukan hangat yang sudah lama tidak Adara rasakan kita kembali dia rasakan bahkan lebih hangat dan lebih membuatnya tenang.


Tubuh wanita paruh baya itu lebih kurus dari sebelumnya dan setelah puas berpelukan Adara menjauhkan tubuhnya lalu menatap wajah Bunda nya dengan lama.


Senyuman terbentuk di wajah pucatnya dan tangan kecil itu terulur untuk mengusap air mata di pipi anaknya.


"Anak Bunda jangan nangis." Katanya pelan


"Bunda udah baik-baik aja kan?" Tanya Adara sambil terisak pelan


Dia mengangguk sambil tersenyum tipis berusaha membuat anaknya merasa lebih baik.


"Kamu baik-baik aja kan sayang?" Tanya Ella dengan lembut


Adara mengangguk sambil tersenyum dan dia menghapus jejak air matanya lalu kembali memeluk Ella dengan sayang.


"Dara kangen sama Bunda kangen banget sampai mau mati rasanya." Kata Adara sambil terisak keras


"Bunda disini sayang." Kata Ella


"Jangan sakit lagi Bunda." Kata Adara lirih


"Enggak Bunda sudah sehat sekarang." Kata Ella


Melepaskan pelukannya Adara kembali menatap wajah yang sudah lama tidak dia lihat, masih sama hanya sedikit lebih pucat dan kurus saja.


Tapi, tidak masalah asalkan mata indah itu kembali terbuka dan menatapnya.


"Ayah kamu tidak melakukan hal yang buruk kan?" Tanya Ella pelan


Adara menggelengkan kepalanya pelan karena tidak mau membuat Bunda nya merasa sedih, tapi luka disudut bibirnya menjelaskan semuanya.


Mata Ella berkaca ketika tangannya terulur untuk mengusap luka yang ada di sudut bibir anaknya.


"Ini kenapa?" Tanya Ella lirih


Adara tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Ayah kamu yang melakukannya?" Tanya Ella dengan air mata yang terjatuh dari mata indahnya


Dengan cepat Adara menghapus air mata itu dan tersenyum menenangkan.


"Enggak papa Bunda sudah tidak sakit lagi." Kata Adara


Tapi, hal itu sama sekali tidak membuat Ella tenang dia malah menangis dan menatap anaknya dengan sendu.


"Maafin Bunda sayang"


"Jangan minta maaf Bunda." Kata Adara cepat


"Semua karena Bunda"


"Tidak Bunda jangan menangis, jangan minta maaf, dan jangan menyalahkan diri Bunda sendiri." Kata Adara sambil menggenggam tangan Ella dan menempelkannya di pipi


"Bunda tidak bisa menjaga kamu sayang." Kata Ella sedih


"Bunda menjaga Dara dengan baik, jangan bicara begitu." Kata Adara


Menghapus air matanya Ella menatap anaknya dengan sendu, luka kecil itu benar-benar menyayat hatinya.


Anak kesayangannya diperlakukan dengan begitu buruk dan dia tidak ada disana untuk melindunginya pasti Adara sangat terluka.


"Bunda tadi Dara kesini sama teman." Kata Adara berusaha mengalihkan pembicaraan


Mendengar hal itu senyum Ella perlahan mengembang, pertama kalinya Adara membawa temannya.


Setau Ella selama ini Adara tidak pernah mengenalkan temannya bahkan dia tau kalau Adara selalu menutup diri, tapi mengetahui kalau anaknya memiliki teman Ella merasa lega.


Setidaknya Adara memiliki seseorang untuk dijadikan tempat bersandar ketika dia tidak ada.


"Dia yang antar Dara kesini Bunda." Kata Adara


"Terima kasih"


Devano tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana keadaan Tante sekarang?" Tanya Devano


"Sudah lebih baik, panggil Bunda saja." Kata Ella


Devano sedikit tersentak, tapi menganggukkan kepala setelahnya.


"Iya Bunda"


Setelah itu mereka mengobrol tentang banyak hal sambil sesekali tertawa bahagia.


Pertama kalinya Ella melihat Adara tersenyum senang selain karena dia.


Pertama kalinya Adara merasa begitu bahagia hingga dia ingin memberhentikan waktu sekarang juga.


Pertama kalinya Devano melihat Adara yang tidak berhenti menyunggingkan senyum manisnya.


Gadisnya sudah terbiasa untuk tersenyum.


¤¤¤


"Aku enggak mau pakai sweater!"


Perkataan Devina barusan seperti perintah yang harus Devano turuti dan dia menurut lalu mencari pakaian lain yang cukup tebal juga berlengan panjang pastinya. Malam ini Devina ingin pergi bersama Ziko dan seperti biasa Devano akan memilihkan pakaian untuk kembarannya, pakaian yang tertutup dan tidak terbuka.


Alasannya karena angin malam tidak baik untuk kesehatan dan Devano tidak ingin kalau mata-mata lelali kurang ajar menatap tubuh adiknya, tidak akan dia biarkan.


Mengeluarkan baju yang cukup tebal dan jeans dari dalam lemari Devano menyerahkannya pada Devina yang langsung gadis itu ambil lalu dia bawa ke kamar mandi. Selagi adiknya berganti baju Devano membuka ponsel milik Devina dan melihat berbagai chat yang masuk ke dalamnya.


Dia tau maksud Ziko mengajak adiknya pergi, pria itu mengatakan padanya lewat chat.


Beberapa menit kemudian Devina keluar dengan pakaian yang tadi dia ambilkan dan Devano tidak protes atau meminta untuk berganti pakaian, sudah pas. Membiarkan rambutnya tergerai Devina mengambil ponselnya dari tangan Devano untuk memeriksa pesan.


"Vina"


"Emm"


"Pakai apa itu bibirnya?" Tanya Devano galak


Devina langsung mengatupkan bibirnya rapat agar Devano tidak melihatnya, meskipun terlambat.


"Pakai apa itu Vin?" Tanya Devano lagi


Mata pria itu melotot membuat Devina membuka bibirnya dan bicara jujur.


"Pakai liptint."


"Untuk apa pakai kayak gitu? Gak bagus dihapus aja." Kata Devano membuat Devina mengerucutkan bibirnya sebal


"Ihh Vano kan cuman sedikit biar kayak orang-orang juga." Kata Devina


Devano semakin menatap kembarannya dengan tajam.


"Jangan ngikutin orang Vin, kamu gak usah pakai kayak gitu." Kata Devano


"Sekali ini aja Vanoo beneran deh? Masa mau di hapus susah." Kata Devina


Menghela nafasnya pelan Devano akan membiarkan untuk kali ini, tapi awas saja kalau sampai menggunakan lagi.


"Awas kalau sampai make lagi ya?" Ancam Devano


"Iya Vanooo"


Senyum Devina mengembang ketika ponselnya berbunyi dan nama Ziko tertera disana.


Aku udah sampe Vin


Masuk dulu ya? Mau pamit sama calon mertua


Tawa kecil Devina terdengar membuat Devano penasaran dan mencoba untuk mengintip, tapi sayangnya Devina tau dan langsung menatapnya dengan kesal.


"Kepoo"


Merangkul kembarannya Devano mengangarnya turun ke bawah dan disana sudah ada Ziko yang tengah bicara bersama orang tua mereka.


Setelah meminta izin Ziko juga Devina berjalan keluar rumah bersama-sama dan ketika sudah ada dihalaman rumah Ziko mengambil helm lainnya. Saat Devina ingin mengambilnya tangan Ziko malah terulur untuk memakaikan helm itu dikepalanya dan membuat jantungnya berdetak dengan sangat cepat.


"Aku bisa sendiri Ziko." Kata Devina


Ziko tertawa kecil lalu menutup kaca helmnya dan meminta Devina untuk naik ke motor.


Setelah siap Ziko menghidupkan motornya dan melaju ke tempat tujuan mereka, cafe yang pernah dia dan Devina kunjungi. Sepanjang perjalanan tidak ada yang bicara mereka fokus pada fikirannya masing-masing dan mata Devina juga melihat ke arah jalan raya yang cukup ramai.


Dia suka sekali naik motor, ralat dibonceng karena dia tidak bisa naik motor.


Saat sampai di tempat yang mereka tuju Devina langsung melepaskan helmnya dan menyerahkan pada Ziko lalu tanpa pemberitahuan tangannya tiba-tiba digenggam. Mengerjapkan matanta berkali-kali Devina terlihat gugup dan malu wajahnya mulai memanas.


Memasuki area cafe Ziko mengajak Devina untuk duduk di depan berhadapan dengan tempat dimana dia dan yang lainnya akan bernyanyi.


Tanpa Devina sadari ada teman-temannya yang duduk dibagian belakang, sesuai permintaan Ziko mereka juga datang.


Selagi memesan keduanya saling tatap lalu tersenyum.


"Vina"


"Emm"


"Kamu tadi nanya kenapa aku kasih novel itu dan apa maksud sticky notes yang aku kasih kan?" Kata Ziko


Devina menganggukkan kepalanya dan menatap Ziko dengan penasaran.


"Aku bakal jawab." Kata Ziko


Tatapan mata Devina semakin dipenuhi rasa ingin tau, tapi ketika Ziko tersenyum dengan begitu manis dan mengatakan kalimat yang tidak pernah dia duga Devina langsung membeku.


"Aku cinta kamu Vin"


Tidak sampai disitu Ziko meraih tangan Devina dan menggenggamnya.


"Tetep duduk disini ya? Aku bakal nyanyi sebuah lagu spesial untu kamu"


Wajah Devina semakin memanas dan dia benar-benar mau dibuat jantungan ketika Ziko kembali bicara.


"Lagu untuk wanita yang aku cintai"


¤¤¤


Digantung dulu yaaaa😋