
"Vina makan dulu ya?"
Perkataan itu sudah berkali-kali Fahisa ucapkan pada anaknya yang tetap mendapat jawaban yang sama, penolakan. Anaknya itu menolak untuk makan dan memilih diam sambil bergelung dengan selimutnya membuat Fahisa berkali-kali menghela nafasnya pelan.
Sungguh dia tidak mengerti dengan orang-orang yang selalu mengincar Devina kasihan anaknya dia sampai ketakutan dan jadi diam begini. Sekarang sudah malam Devina masih belum mau makan meski hanya sedikit padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Fahisa tidak bisa memaksa dia tidak tega Devina terlihat begitu tidak bersemangat. Gadis itu berbaring dengan posisi menyamping dan menyandarkan kepalanya di bantal.
Saat merasakan sentuhan di pundaknya Fahisa mendongak lalu menggelengkan kepalanya pelan pada Devano yang membuat anak itu meminta Fahisa untuk membiarkannya membujuk Devina. Beranjak dari tempatnya Fahisa membiarkan Devano mengambil alih tempatnya.
"Vina"
"Em"
"Makan dulu ya?" Kata Devano dengan penuh kelembutan
"Enggak"
"Nanti kamu sakit Vin ini udah malam." Kata Devano
"Vina gak mau makan." Kata Devina lagi
"Sedikit aja, mau ya?" Bujuk Devano
Devina menggelengkan kepalanya pelan lalu memutar tubuhnya membelakangi keduanya membuat Fahisa kembali menghela nafasnya pelan.
"Vina sayang makan ya? Vina mau makan apa? Vina mau apa hmm?" Tanya Fahisa sambil mengusap kepala anaknya dengan sayang
"Vina mau sendirian gak mau diganggu." Kata Devina
"Vina kamu harus ma..."
"Vina gak mau makan!" Kata Devina
"Vin.."
"Vina gak mau makan! Mommy sama Vano keluar aja jangan masuk kamar Vina!" Kata Devina lagi
"Devina sayang..."
"Vina gak mau makan Mommy!" Sentak Devina membuat Fahisa terkejut mendengarnya
Sekarang Devina bangun sambil menatap keduanya dengan nafas memburu dan bersamaan dengan itu Daffa masuk ke dalam kamar setelah dia selesai menelpon pihak kampus.
"Vin kamu...."
"Kenapa orang-orang jahat sama Vina? Vina gak pernah jahat sama mereka bahkan gak kenal sama mereka, tapi kenapa mereka ngelakuin ini ke Vina? Salah Vina apa?" Tanya Devina membuat mereka diam mendengarnya
Mata Devina terlihat penuh luka bahkan air mata mulai menggenang disana.
"Daddy sama Vano bilang bakal jagaiin Vina, tapi bohong... Daddy sama Vano bohong." Kata Devina
"Vina..."
"Kenapa harus Vina?! Kenapa? Apa karena Vina manja? Apa karena Vina lemah? Apa karena itu makanya mereka jahat sama Vina?" Tanya Devina
Air mata Devina perlahan turun, dia menangis membuat Devano berniat untuk memeluknya.
"Kenapa harus Vina? Daddy jahat katanya Daddy bakal jagaiin Vina dan gak bakal biarin Vina luka lagi, tapi bohong Daddy bohong." Kata Devina
Mendengar hal itu Daffa merasa semakin bersalah dia masuk ke dalam kamar lalu menghampiri Devina dan naik ke atas ranjang membuat Devina menatapnya.
"Daddy bohong." Kata Devina pelan
Daffa tidak mengatakan apapun dia membawa anaknya itu ke dalam pelukannya membuat Devina kembali menangis sambil memukul-mukul Daddy nya dengan pelan.
"Daddy jahat"
"Iya Daddy jahat maafin Daddy sayang." Kata Daffa sambil mengusap kepala Devina dengan sayang
Cukup lama berpelukan Daffa melepaskan pelukannya lalu mengusap kedua pipi anaknya dengan penuh kelembutan.
"Maafin Daddy." Kata Daffa lagi
Devina masih terisak tanpa ada air mata, tapi dia tidak mengatakan apapun hanya diam dengan mata menatap ke bawah.
"Makan dulu ya?" Kata Daffa
Devina menggelengkan kepalanya dan masih menolak untuk makan.
"Vina kamu harus makan." Kata Fahisa
"Vina enggak mau makan." Kata Devina entah untuk yang keberapa kalinya
"Vina meskipun kamu marah sama aku atau Daddy kamu harus tetap makan, kita semua khawatir sama kamu Vin." Kata Devano
Devina masih tetap diam tanpa mau memberikan tanggapan.
"Vina makan ya? Sedikit aja kamu belum makan apa-apa dari pulang kuliah tadi nanti kamu sakit." Kata Devano lagi
"Vin makan ya? Demi Mommy makan demi Mommy dia khawatir banget sama kamu Vina." Kata Devano lagi
Devina menatap Fahisa yang juga menatapnya penuh harap lalu dia melirik ke nampan yang sejak tadi Fahisa bawa. Ada bubur ayam disana lengkap dengan minumnya pasti Mommy nya sudah menyiapkan semuanya sejak tadi.
"Makan ya?" Pinta Devano lagi
"Sedikit aja." Kata Devina pelan
Devina dapat melihat senyuman di wajah Fahisa yang langsung mendekat padanya.
"Mommy suapin ya?" Kata Fahisa
Devina mengangguk sebagai jawaban lalu dia menerima suapan demi suapan yang Mommy nya berikan. Sungguh sejak tadi dia merasa sangat marah entah marah pada siapa, tapi yang jelas Devina marah.
Dia tidak mau bicara atau makan, tapi dia tetap tidak bisa menolak.
"Mommy"
"Iya Devina"
"Nanti Vina mau tidur sama Mommy." Kata Devina
"Iya nanti Mommy tidur disini." Kata Fahisa
Saat tersisa setengah Devina mengatakan cukup dan Fahisa tidak bisa memaksa, jadi dia hanya memberikan minum pada anaknya lalu pergi ke dapur. Di dalam kamar masih ada Devano dan Daffa mereka berdua sama-sama merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Devina.
Devina juga enggan untuk mendongak dia terus melihat ke bawah menatap tangannya yang saling bertautan hingga suara Daddy nya terdengar.
"Vina marah sama Daddy ya?" Tanya Daffa
Mendengar suara itu Devina mendongak lalu menatap mata Daddy nya yang terlihat begitu sedih.
"Enggak"
"Vina marah kan? Enggak papa kalau Vina marah sama Daddy." Kata Daffa
Devina hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Daddy udah telpon pihak kampus nanti mereka bakal selesain masalah ini." Kata Daffa
"Emm"
"Vina istirahat enggak papa kalau Vina marah sama Daddy, tapi Vina enggak boleh lupa makan dan jangan marah sama Mommy atau Vano mereka enggak salah." Kata Daffa
Daffa baru akan pergi, tapi Devina menahan tangannya lalu memeluk Daddy nya dengan erat sambil memejamkan matanya.
"Udah enggak papa, sekarang Vina tidur jangan mikirin apa-apa biar Daddy yang selesain semuanya." Kata Daffa
Melepaskan pelukannya Daffa mencium kening Devina lalu mengusap kepalanya dengan sayang sebelum keluar dari kamar anaknya. Setelah Daffa keluar kini hanya ada Devano dan Devina yang ada di kamar karena Fahisa belum kembali.
Kali ini Devina yang lebih dulu mendongak dan menatap mata kembarannya sambil meminta Devano untuk mendekat.
"Masih sakit?" Tanya Devano
Devina menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum tipis.
"Marah sama aku?" Tanya Devano
"Enggak"
"Kenapa tadi bisa sampai kejadian? Memang sepi?" Tanya Devano
"Em Vina habis dari ruang dosen terus lewat deket gudang dan terus kayak gitu." Kata Devina
Devano memeluk kembarannya itu dengan sayang sambil meletakkan dagunya di kepala Devina dan mengusap sayang punggungnya.
"Vano"
"Hmm"
Devina menahan nafasnya sebentar lalu memeluk kembarannya itu dengan sangat erat.
"Vina sayang sama Daddy sama Mommy sama Kak Ara dan Vano"
"Kita juga sayang sama kamu Vin." Kata Devano
"Em Vina tau"
"Kamu mau sesuatu?" Tanya Devano
Devina menggelengkan kepalanya dan kembali memeluk Devano dengan erat sambil memejamkan matanya.
Devina benar-benar tidak menginginkan apapun.
¤¤¤
Hayy aku update lagiii😆