
Devina mendorong pelan tubuh Ziko ketika dia hampir kehabisan nafas dan begitu keduanya menjauh Ziko mengusap pelan bibir bawahnya membuat Devina menunduk karena merasa gugup bahkan dia yakin wajahnya sudah semerah tomat. Sungguh Devina tidak menyangka Ziko akan melakukannya dan karena merasa sangat gugup juga malu Devina dengan wajah menunduk mengatakan kalau dia harus segera pulang.
Menatap sebentar wajah Ziko yang tersenyum Devina langsung membuka pintu mobil dan berlari masuk ke dalam meninggalkan Ziko yang terdiam lalu memukul pelan kepalanya. Bodoh sekali dia tidak bisa menahan diri hanya karena sejak tadi melihat Devina dengan bibir sedikit memerah, gadisnya itu memakai liptint dan entah kenapa Ziko tidak bisa fokus hingga akhirnya melakukan hal tadi.
Ya ampun dia pasti sudah gila bisa habis dia dengan Devano dan Daffa kalau kedua pria itu sampai tau.
Kembali pada Devina yang masuk ke dalam lalu bersandar pada pintu rumah dan memegang dadanya merasakan jantungnya yang berdetak dengan sangat cepat. Jangan sampai orang tuanya atau Devano tau dia bisa habis kena marah atau yang lebih buruk mereka akan membatasi Devina dan Ziko lagi.
"Vina kamu ngapain sayang?"
Tersentak kaget Devina langsung menurunkan tangannya dan berjalan mendekat pada Daffa yang berdiri tak jauh darinya.
"Em Daddy"
"Kapan kamu pulangnya?" Tanya Daffa
"Barusan aja sampai Daddy." Kata Devina
"Eh Vina udah pulang." Kata Devano membuat Devina mendongak dan menatapnya
"Em udah"
"Kamu ngapain berdiri di pintu gitu?" Tanya Daffa lagi
Devina menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu mengatakan kalau dia tidak papa.
"Em gak papa kok cuman capek aja." Kata Devina beralasan
"Yaudah sana ke kamar tidur." Kata Daffa
Devina menganggukkan kepalanya lalu berlari ke kamarnya dan meningglkan kedua pria itu di bawah. Masuk ke dalam kamar Devina menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang lalu menendang-nendang kakinya.
"Ihh Zikoo nih kenapa kayak gitu sih? Vina kepikiran terus nanti gak bisa tidur." Keluh Devina
Menghela nafasnya panjang Devina kembali bangun lalu melepas sepatu dan pergi ke lemari untuk mengambil piyama tidurnya. Sungguh sepertinya malam ini Devina akan mengalami kesulitan untuk tidur karena ulah kekasihnya.
Bagaimana bisa Ziko melakukannya?!
Pria itu memang beberapa kali menciumnya tepat di bibir, tapi tidak sampai seperti tadi. Menggelengkan kepalanya dengan cepat Devina masuk ke kamar mandi lalu mengganti pakaian dan membasuh wajahnya.
Menatap lama pantulan dirinya di cermin tangan Devina terulur untuk menyentuh bibirnya, tadi dia hampir kehabisan nafas.
"Zikoo gara-gara kamu Vina kepikirannn"
Menghentakkan kakinya kesal Devina kembali ke ranjang lalu meraih ponselnya yang dia taruh di dekat bantal dan membukanya ternyata ada pesan dari Ziko.
*Vina maaf ya
Tadi.. maaf aku gak tahan sih lihat kamu
Nanti kalau keluar sama aku gak usah pakai merah-merah dibibir lagi ya sayang
Jangan pokoknya*
Mengerucutkan bibirnya sebal Devina membalas pesan itu dengan cepat.
^^^Iya Ziko^^^
^^^Yaudah Vina mau tidur dulu^^^
Mimpi indah dan selamat malam sayang
^^^Iya Ziko juga♡^^^
Selesai membalas pesan kekasihnya Devina meletakkan lagi ponselnya lalu berbaring di ranjang, tapi ketika akan memejamkan mata dia kembali terbayang lagi.
Bagaimana Ziko mendekatkan wajahnnya lalu mencium dan menggigit pelan bibir bawahnya.
"Vina Vina gak boleh gitu jangan dipikirin!"
Devina berkali-kali mengatakan hal itu pada dirinya sendiri lalu memejamkan matanya dan mencoba untuk tertidur.
Kekasihnya itu benar-benar meresahkan.
¤¤¤
Pagi yang cerah untuk hari ini Devina sudah bangun lebih awal dia juga sudah mandi dan mengganti pakaiannya. Sekarang Devina melangkahkan kakinya ke dapur lalu melihat Daddy nya yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya serta menikmati secangkir kopi.
Tersenyum manis Devina berlari kecil lalu duduk disamping Daffa membuat pria paruh baya itu tersenyum dan mencium puncak kepalanya dengan sayang. Menyapa Daddy nya dengan penuh semangat Devina memeluknya dari samping.
"Selamat pagi Daddy"
"Selamat pagi juga sayang, kamu ada acara apa untuk hari ini?" Tanya Daffa
"Em belum adaa"
"Tidak pergi sama Ziko?" Tanya Daffa
"Belum tau Vina belum kepikiran mau kemana." Kata Devina membuat Daffa mengangguk faham
Melepaskan pelukannya Devina menatap Daddy nya sebentar lalu melirik ponsel yang masih menyala.
"Kenapa hm? Daddy lagi lihat proyek pembangunan yang baru saja dikirim rekan kerja Daddy pagi ini." Kata Daffa
"Mau pinjam hp Daddy?" Tanya Daffa
Devina menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Enggak kok"
Daffa mengangguk faham lalu melihat lagi ponselnya dan Devina juga ikut melihat, dia tidak mengerti itu apa.
"Itu gambar apa Daddy?" Tanya Devina
"Ini rancangan apartemen yang akan dibangun sayang." Kata Daffa
"Em gitu siapa yang buat Daddy?" Tanya Devina lagi
"Arsiteknya sayang." Kata Daffa
"Yaudah Daddy lanjut lagi aja Vina mau ke kamarnya Vano." Kata Devina
"Iya yaudah"
Devina kembali menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar Devano tanpa mengetuk pintu bersamaan dengan itu juga Devano keluar dengan sudah memakai kaos serta celana pendeknya.
Tersenyum senang Devina melangkah masuk ke dalam lalu duduk di atas ranjang Devano yang sudah rapih, pria itu memang selalu merapihkan kamarnya setiap bangun tidur.
"Kenapa Devina?" Tanya Devano sambil duduk disampingnya
"Em enggak ada Vina cuman mau ke kamar Vano aja." Kata Devina
"Yaudah"
"Vano nanti mau kemana?" Tanya Devina
"Nanti? Belum tau mungkin ke rumah Adara." Kata Devano
"Kapan?"
"Siang mungkin memang kenapa?" Tanya Devano
"Gak papa nanya aja." Kata Devina sambil tersenyum
Menggelengkan kepalanya pelan Devano mengacak gemas rambut kembarannya terkadang Devina memang begitu suka bertanya banyak hal.
"Kemarin kemana aja sama Ziko?" Tanya Devano
"Pantai aja terus pulangnya makan nasi goreng." Kata Devina
Devano mengangguk faham lalu mengajak kembarannya untuk keluar kamar karena sebentar lagi waktunya sarapan.
¤¤¤
"Vina"
Devina tersenyum ketika melihat kekasihnya yang baru saja sampai di rumahnya tadi dia memang meminta Ziko untuk datang karena kembarannya lagi pergi dan dia tidak ada teman. Setelah mengajak Ziko masuk ke dalam rumah Devina memintanya untuk duduk lalu dia pergi ke dapur dan mengambilkan minum serta beberapa makana ringan.
Tidak butuh waktu lama Devina sudah kembali lalu meletakkan apa yang telah dia bawa di atas meja dan menatap Ziko lagi, tapi tiba-tiba saja mata Devina terfokus pada satu titik. Bibir kekasihnya yang juga membentuk sebuah senyuman membuat Devina terdiam ketika membayangkan apa yang terjadi kemarin.
Dia pasti sudah gila!
Masalahnya tadi sebelum kekasihnya datang ketika Devina ingin pergi ke kamar orang tuanya dan membuka pintu dia melihat kedua orang tuanya tengah berciuman. Hal itu membuat Devina kembali menutup pintu lalu berlari ke kamarnya.
Dan sekarang dia malah fokus melihat bibir Ziko.
"Vin kenapa?" Tanya Ziko
"Enggak enggak Vina enggak papa"
Ziko tertawa kecil lalu mendekatkan wajahnya membuat Devina tersentak dan memundurkan tubuhnya.
"Kenapa? Kamu ingat yang tadi malam ya?" Goda Ziko
"Enggak!" Kata Devina panik
"Ingat yang tadi malam kan? Iya kan?" Goda Ziko
Devina menggelengkan kepalanya pelan dan memundurkan tubuhnya lagi ketika Ziko mendekatkan wajahnya.
Mereka sangat dekat sebelum suara Daffa yang cukup kuat membuat Ziko langsung menjauhkan tubuhnya.
"Ziko!"
Ziko menatap orang tua kekasihnya itu dengan canggung lalu mendekat dan mencium punggung tangan Daffa dengan sopan.
"Jangan begitu sama Devina"
Dekat begitu saja sudah ditegur apalagi kalau Daffa tau apa yang dia lakukan tadi malam bisa habis dia.
¤¤¤
Hm Ziko gak inget tempat ya hampir terciduk kannn😶