My Possessive Twins

My Possessive Twins
32 : Pelukan Hangat Devano



Motor kesayangan Devano berhenti setelah memasuki halaman rumah Adara, dia sudah memiliki janji untuk pergi jalan-jalan bersama dengan Adara dan tentu saja dia akan meminta izin terlebih dahulu. Setelah mematikan mesin motornya Devano melangkahkan kakinya menuju pintu utama lalu mengetuknya dan tak butuh waktu lama untuk pintu itu terbuka, menampilkan Adara dengan baju rumahannya.


Senyum Devano mengembang sebelum dia menyapa seorang wanita paruh baya sudah menyapanya lebih dulu membuat Devano ikut tersenyum lalu melangkah masuk. Setelah mencium punggung tangan wanita paruh baya itu dia duduk di ruang tamu dan menunggu Adara yang katanya sedang pergi ke dapur.


Selagi Adara ke dapur Devano berbincang sedikit dengan Ella, pastinya meminta izin untuk mengajak anak gadisnya keluar.


"Bagaimana kabar Bunda sekarang?" Tanya Devano


"Baik, terima kasih untuk semuanya ya? Adara sudah menceritakan semua yang kamu lakukan." Kata Ella sambil tersenyum


Devano mengangguk singkat, dia merasa ucapan terima kasih itu tidak perlu.


"Tidak perlu berterima kasih Bunda." Kata Devano


Melirik sebentar ke arah dapur Ella menatap Devano penuh arti dan mengatakan hal yang cukup mengejutkan.


"Bunda titip Adara ya?" Kata Ella


Baru saja Devano ingin bicara wanita paruh baya itu sudah lebih dulu mengeluarkan suaranya.


"Bunda hanya takut kalau tiba-tiba harus pergi dan semisal Bunda memang harus pergi Bunda gak mau sampai Adara harus terluka dan sendirian." Kata Ella


Devano tidak ingin bertanya lebih jadi dia hanya menganggukkan kepalanya dan mengucapkan hal yang membuat Ella tersenyum senang.


"Bunda bisa percaya sama Vano"


Sesaat setelahnya Adara datang sambil membawa minuman lalu ikut mendudukkan dirinya disebelah Ella dan menatap Devano.


"Bunda kalau boleh Vano mau minta izin untuk ajak Dara keluar sebentar." Kata Devano


Ella tersenyum dan langsung memberikan izin, tapi dia meminta agar keduanya tidak pulang terlalu malam.


"Yaudah sekarang Dara siap-siap dulu sana pakai jaket diluar dingin." Kata Ella


Adara mengangguk lalu melangkahkan kakinya ke kamar meninggalkan Bunda nya bersama dengan Devano yang kembali mengobrol.


"Dara kalau di sekolah nakal ya? Dia sering berantem?" Tanya Ella


Devano terdiam sebentar karena merasa ragu untuk menjawab jujur, tapi dia juga tidak mungkin berbohong.


"Sebenarnya Dara itu pintar Bunda, tapi dia memang sedikit malas dan masalah berantem Bunda jangan khawatir sekarang dia sudah tidak pernah lagi ada Vano yang menjaganya." Kata Devano membuat Ella tersenyum senang mendengarnya


Dia harap kehidupan anaknya akan jauh lebih baik darinya dan dia harap Adara akan selalu bahagia jangan sampai dia terluka atau menangis lagi, Ella tidak sanggup melihatnya.


"Adara melalui banyak hal Bunda harap kamu tidak akan menyakiti Adara dan selalu membuatnya tersenyum." Kata Ella


Devano tersenyum tulus lalu berbicara dengan penuh ketegasan.


"Bunda bisa percaya kalau Vano tidak akan melakukan hal seperti itu pada Adara." Kata Devano


"Bunda percaya"


Keduanya saling melemparkan senyum sampai akhirnya Adara keluar dari dalam kamar dan menghampiri keduanya. Sebelum pergi keduanya mencium punggung tangan Ella dan mengatakan bahwa mereka tidak akan lama.


"Bunda jangan bukain pintu kalau bukan Adara yang ketuk ya? Pintunya kunci semua terus kalau ada apa-apa telpon Adara aja nanti Adara langsung pulang." Kata Adara dengan cepat membuat Ella tersenyum mendengarnya


Tangannya terulur untuk mengusap sayang puncak kepala anaknya, sudah lama sekali dia tidak pernah melakukannya.


"Iya, kamu bersenang-senang saja Vano ya? Jangan cemaskan Bunda karena Bunda akan baik-baik saja." Kata Ella


Mengangguk singkat Adara memeluk tubuh Ella dengan sayang lalu pergi bersama Devano keluar dari rumah. Saat di halaman rumah Devano langsung memberikan helmnya pada Adara yang segera dipakai olehnya lalu mereka pergi dan tempat yang akan mereka kunjungi adalah pasar malam.


Mengingat kalau Devina sangat suka kesana karena ada banyak wahan juga makanan akhirnya Devano memutuskan untuk mengajak Adara kesana, mungkin gadis itu akan suka. Sepanjang perjalanan Devano dapat melihat senyum manis gadisnya dari spion, cantik sekali.


Sekarang Adara sudah mulai menerima keberadaannya dan tidak lagi malu untuk tersenyum serta mengeluh padanya. Saat sampai di pasar malam seperti Devina setiap kali pergi ke pasar malam senyuman Adara mengembang dengan sempurna dan dia menatap Devano dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Suka?" Tanya Devano


Adara menganggukkan kepalanya dengan mata yang berbinar.


"Gue selalu mau ke tempat ini." Kata Adara senang


Berhasil


Devano berhasil membuat gadis itu tersenyum dan bahagia, lagi.


Menggenggam erat tangan Adara yang terasa hangat Devano mengajaknya untuk menjelajah pasar malam. Hal pertama yang Adara inginkan adalah membeli harum manis, makanan kesukaannya ketika masih kecil.


"Lo suka makan itu Dar?" Tanya Devano sedikit tidak percaya


Adara mengangguk dan kembali memakan harum manisnya.


"Enak tau, lo mau?" Tanya Adara yang langsung dijawab dengan gelengan kepala olehnya


"Enggak usah Dar gue gak terlalu suka makanan manis." Kata Devano membuat Adara mengangguk faham


Saat melihat deretan penjual Devano mengajak Adara ke tempat penjual aksesoris yang malah membuat wajah gadis itu merengut. Ada banyak gelang, kalung, dan hiasan rambut yang tersedia disana.


"Ngapain kesini Van?" Tanya Adara


Catat ya dia tidak suka memakai hiasan rambut.


Tidak suka!


Sama sekali tidak suka!


"Lo gak mau beli apa-apa? Biasanya Vina suka banget beli jepitan atau bando." Kata Devano


Adara langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Tidak!


Memakai hiasan di rambutnya akan merusak image Adara sebagai bad girl yang juteknya minta ampun dan pastinya benda itu tidak akan cocok ketika dia pakai.


"Van, lo kan tau gue disekolah gimana kalau pakai kayak gitu bisa habis gue diledekin satu sekolah." Kata Adara membuat Devano tertawa mendengarnya


"Gak papa"


"Ihh gak mau!" Kata Adara dengan wajah galaknya


Devano hanya tersenyum menanggapinya lalu melihat beberapa gelang tangan yang ada disana dan mengambil sebuah gelang yang menarik perhatiannya.


Sederhana, tapi akan sangat indah kalau dipakai oleh Adara.


"Beli gelang aja mau?" Tanya Devano


Belum sempat Adara menjawab Devano sudah lebih dulu meraih tangannya dan memakaikan gelang itu ditangannya.


"Masa gue doang? Beli dua biar lo juga make." Kata Adara ketika Devano ingin membayar


Terdiam sebentar Devano tersenyum senang lalu mengambil gelang yang serupa dan memakai ditangannya.


"Maunya kembaran sama gue ya?" Kata Devano menyebalkan


Adara baru akan menjawab, tapi Devano sudah lebih dulu membayar.


"Cocok semoga kalian berjodoh ya?" Kata penjual itu membuat Devano dan Adara terdiam


"Ehh kita..."


"Makasih Bu." Kata Devano sambil tersenyum tipis


Setelah itu Devano mengajak Adara untuk pergi dan memakan berbagai makanan yang ada di pasar malam. Selain itu mereka juga memainkan banyak permainan dan terakhir Devano bertanya apa lagi yang gadis itu inginkan.


Dengan senyuman Adara menjawab.


"Mau naik bianglala"


Devano tersenyum mendengarnya lalu mengajak Adara untuk menaiki bianglala, persis seperti Devina yang tidak mau pulang kalau belum naik bianglala.


Kata kembarannya kalau tidak naik bianglala itu seperti tidak ke pasar malam.


Di dalam bianglala Adara tersenyum dengan begitu lebar menunjukkan bahwa malam ini dia merasa sangat bahagia. Saat bianglala mulai bergerak senyum Adara semakin mengembang dan dia menatap Devano dengan dalam lalu berterima kasih dengan tulus.


"Makasih Van"


"Kembali kasih Dara"


Saling melemparkan senyum Adara mengatakan hal yang membuat Devano tersentak.


"Vano gue boleh peluk?" Tanya Adara


Bukan jawaban yang Devano berikan, tapi tangan yang dia rentangkan sudah cukup untuk membuat Adara memeluknya. Memejamkan matanya Adara merasa begitu nyaman berada di pelukan Devano.


"Dingin ya?" Tanya Devano


Adara dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Mau peluk aja." Kata Adara


Tersenyum senang tangan Devano terulur untuk mengusap rambut hitam Adara dengan lembut, menambahkan kenyamanan yang Adara rasakan.


"Mau tau gak Van? Dulu waktu masih kecil salah satu hal yang pengen banget gue lakuin adalah pergi ke pasar malam sama Ayah dan Bunda terus naik bianglala bertiga, tapi sampai gue beranjak dewasa keinginan kecil itu gak pernah terwujud." Kata Adara


Mendengar hal itu Devano merasa sedih, dia dan Devina serta Kakak perempuannya hampir setiap minggu pergi ke pasar malam.


Hidupnya ternyata sangat sempurna kalau dibandingkan dengan Adara.


Melepaskan pelukannya Adara menatap Devano dengan dalam lalu tersenyum tulus.


"Gue gak tau harus berterima kasih dengan cara apa, tapi gue seneng banget karena ada lo Van." Kata Adara


Devano ikut tersenyum lalu mengusap pipi gadis itu dengan lembut.


"Senyum terus jangan sedih lagi dan jangan pernah menjauh dari hidup gue." Kata Devano


Menganggukkan kepalanya Adara bersandar di bahu Devano dan kembali tersenyum.


Rasanya satu persatu masalahnya terselesaikan dan satu persatu juga kebahagiaan mulai datang menghampirinya.


Untuk Devano terima kasih karena telah membuat Adara merasa dicintai.


¤¤¤


Pukul setengah sembilan Devano mengantarkan gadisnya pulang ke rumah dan mereka membawa beberapa makanan juga. Senyum manis Adara masih belum menghilang dan dengan penuh semangat dia mengetuk pintu lalu memanggil Bunda nya.


Tidak butuh waktu lama Ella membuka pintu dan tersenyum melihat anaknya yang sudah pulang. Sedikit tersentak Ella tertawa setelah mendapat pelukan tiba-tiba dari anaknya.


"Bunda udah tidur belum tadi?" Tanya Adara


"Belum ngantuk." Kata Ella


Merasa kalau waktu sudah semakin malam Devano pamit untuk pulang dan mencium punggung tangan Ella lalu tersenyum pada Adara.


"Hati-hati dijalan Devano." Kata Ella


Devano menganggukkan kepalanya.


"Nanti kabarin kalau udah sampai." Kata Adara


Devano kembali mengangguk lalu melambaikan tangannya dan menghidupkan motornya.


Setelah Devano keluar dari halaman rumah Adara langsung mengajak Bunda untuk masuk ke dalam dan mengunci pintu rumah. Kemudian Adara menyerahkan beberapa makanan yang tadi dibelikan oleh Devano kepada Bunda nya sambil tersenyum.


"Kamu senang?" Tanya Ella


Adara mengangguk dengan senyum lebarnya.


"Sini biar Bunda taruh di dapur sekarang kamu tidur besok masih sekolah kan?" Kata Ella sambil mengusap sayang puncak kepala anaknya


Adara mengangguk lalu berjalan ke kamarnya dengan senyuman.


Memasuki kamar Adara langsung merebahkan dirinya di atas ranjang dan mengeluarkan ponselnya, menatap layar ponselnya Adara tersenyum senang.


Foto dirinya bersama Devano.


Wajah Devano yang datar membuat Adara ingin tertawa, lucu sekali.


Sebelum memejamkan matanya Adara membuka aplikasih chat dan mengetikkan pesan disana.


Vano makasih banyakkkk♡


Gue senang banget hari ini hehe sampai ketemu disekolah Vano♡


Tangan Adara mengusap gelang yang melingkar manis ditangannya.


Gue sayang lo Vano, batin Adara


¤¤¤


Uwuwww sayang Devano banyak-banyakkk❤