
Keadaan mendadak canggung setelah Daffa menegur Ziko meskipun pria paruh baya itu sudah kembali ke atas tetap saja Ziko merasa sangat canggung apalagi Devina hanya diam. Sekarang Ziko merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisa melakukan hal itu di rumah kekasihnya untuk dia tidak sampai mencium Devina kalau hal itu sampai terjadi bisa habis dia dengan Daffa.
Sama halnya dengan sang kekasih Devina juga merasa malu sekali sekarang dia berkali-kali melirik Ziko berharap pria itu akan bicara padanya, tapi tidak Ziko juga diam. Tadi jantung Devina berdegup dengan kencang dia takut sekali kalau Daddy nya sampai marah.
Semua karena Ziko sekarang Devina canggung sekali jadinya, tapi dia juga tidak betah diam untuk waktu yang lama begini.
"Vin"
"Ziko"
Mengatakan dengan bersamaan keduanya saling bertatapan lalu Ziko tersenyum padanya.
"Untung Daddy kamu gak marah." Kata Ziko
"Ish kamu sih jangan kayak gitu makanya kalau Daddy tau yang tadi malam dia bisa marah besar." Kata Devina
"Maaf aku tidak akan melakukannya lagi." Kata Ziko
"Lagian Ziko aneh banget sih biasanya Vina juga pakai liptint kamu biasa aja." Kata Devina
"Jangan pakai lagi deh Vina nanti aku khilaf lagi cium kamu kayak kemarin." Kata Ziko membuat Devina berdecak kesal lalu memukul lengannya
"Vina malu kepikiran teruss." Kata Devina jujur
"Mau lagi ya?" Goda Ziko
"Ish kan nyebelinnn!" Keluh Devina sambil memukul lengan Ziko lagi
"Aku mau lagi." Kata Ziko membuat Devina melotot
"Bilang lagi coba Vina pukul nanti!" Kata Devina galak
Ziko tertawa lalu memeluk Devina dengan erat membuat gadis itu terdiam.
"Iya maaf aku gak bakal gitu lagi kalau kita belum nikah." Kata Ziko
Melepaskan pelukannya Devina menatap Ziko dengan senyuman lalu mengajaknya untuk pergi ke taman belakang rumah. Menurut saja Ziko mengikuti langkah kaki kekasihnya hingga mereka sampai di taman belakang yang dipenuhi dengan tanaman hias milik Fahisa.
Membawa kekasihnya untuk duduk di ayunan kayu Devina tersenyum lalu menggenggam tangan Ziko dengan sayang.
"Mama juga suka banget sama bunga." Kata Ziko
"Mungkin kalau Mama Ziko gak kerja pasti bakal kayak Mommy." Kata Devina
"Iya Vin"
"Mommy kadang kalau sudah disini sampai lupa waktu." Kata Devina
"Gak papa lah Vin selagi masih di rumah." Kata Ziko
"Heem Daddy juga bilang gitu." Kata Devina
"Aku juga kalau menikah sama kamu nanti tidak akan melarang, kamu sukanya apa?" Tanya Ziko
"Em baca buku"
"Kalau gitu nanti aku bakal buat perpustakaan sederhana untuk kamu." Kata Ziko
"Vina sukaaa"
"Hm aku catat." Kata Ziko sambil tersenyum
"Ziko gak sabaran banget." Kata Devina
"Memang Vin kalau udah dikasih izin aku nikahin kamu sekarang juga." Kata Ziko dengan penug keyakinan
"Memang Ziko yakin gak bakal bosan sama Vina?" Tanya Devina
"Enggak akan pernah." Kata Ziko
"Vina juga." Kata Devina senang
"Pinky promise dulu." Kata Ziko sambil mengangkat jari kelingkingnya
Tersenyum senang Devina menautkan jari kelingkingnya dengan Ziko, dia tidak akan pernah merasa bosan dengan Ziko.
Tidak akan pernah.
¤¤¤
"Vano aku bisa sendiri"
Devano mengabaikan perkataan kekasihnya dan kembali menyuapi Adara dengan makanan yang gadis itu masak sendiri. Sudah sejak tadi Devano melakukan hal itu serta mengabaikan perkataan Adara dan dia tidak punya pilihan lain selain membuka mulutnya, menerima suapan yang kekasihnya berikan.
"Kamu semakin pintar memasak." Kata Devano
"Makasih aku senang kamu suka." Kata Adara
"Hm aku suka lain kali kamu harus masak berdua sama Mommy." Kata Devano
"Iya Van"
"Yaudah ini aaa"
Adara tersenyum dan kembali membuka mulutnya.
"Makan yang banyak Adara." Kata Devano sambil mengusap kepalanya dengan sayang
Tidak ada yang bisa Adara lakukan selain diam dan tersenyum pada kekasihnya.
"Kamu tau gak? Aku sering kepikiran kamu Ra takut banget kamu kenapa-kenapa karena kamu tinggal sendirian." Kata Devano
"Aku gak papa kok Van." Kata Adara
"Hm aku tau hanya ya perasaan itu datang sendiri." Kata Devano
"Jangan cemas ya? Aku bakal baik-baik aja." Kata Adara
"Iya Adara"
Keduanya saling melemparkan senyum dan Devano mengusap pipinya dengan lembut lalu beranjak dari tempat duduknya untuk menaruh lagi piring yang sudah kosong. Setelahnya Devano kembali duduk disamping kekasihnya yang baru saja selesai minum dan kemudian langsung memeluknya.
"Ra gimana sama Om Juan?" Tanya Devano
"Hm baik dia sering chat aku bahkan beberapa kali kesini kasih makanan malahan pernah kasih aku uang, tapi aku gak mau." Kata Adara
"Kamu udah maafin Om Juan?" Tanya Devano
"Enggak tau Van, tapi aku udah nerima dia setiap kali dia datang dan menerima pelukan yang dulu selalu aku harapkan." Kata Adara
"Kamu merasa senang?" Tanya Devano
"Senang Van karena akhirnya Ayah baik sama aku." Kata Adara
Devano tersenyum mendengarnya lalu dia mengusap sayang kepala Adara dan mencium puncak kepalanya dengan penuh kelembutan.
"Aku juga senang mendengarnya Adara"
¤¤¤
Ada banyak hal yang membuat Devina sangat mencintai kekasihnya dan salah satunya adalah Ziko yang selalu mau mengalah untuknya. Saat ini mereka sedang bermain play station di ruang tengah lalu Devina mengatakan kalau dia ingin menang dan Ziko mengangguk sebagai jawaban.
Benar saja Ziko mengalah dia membiarkan Devina menang hingga berkali-kali membuat gadis itu berseru senang karena berhasil mengalahkan kekasihnya. Sebenarnya Ziko selalu mengalah dalam hal apapun ketika mereka membeli makanan atau minuman berbeda lalu Devina meminta untuk ditukar dia melakukannya.
Atau ketika keduanya berdebat Ziko akan mengalah, tapi nantinya Devina akan meminta maaf karena sudah egois dan keras kepala.
Makanya Devina tidak pernah ingin melepaskan Ziko atau membiarkan pria itu lepas darinya.
"Vina menang"
Ziko hanya tersenyum saja ketika mendengar hal itu keluar dari bibir kekasihnya.
"Ziko em kita udahan aja mainnya, sekarang Vina mau ajakin Ziko lihat poto Vina waktu masih kecil." Kata Devina
Devina beranjak dari tempat duduknya lalu membuka laci dan mengambil sesuatu dari sana, sebuah album poto. Kembali duduk disamping kekasihnya Devina membuka album dan menunjukkan pada Ziko poto dia dan yang lainnya.
"Vina cantik gak?" Tanya Devina sambil menunjuk poto ketika dia berusia kurang lebih tiga tahun
"Kamu gemesin pipinya tembem banget." Kata Ziko
"Hehe sekarang juga tembem." Kata Devina sambil mencubit pipinya sendiri
Ziko tersenyum melihatnya.
"Iya, tapi disini kamu gendut." Kata Ziko
"Em cantikan dulu apa sekarang?" Tanya Devina
Ziko tersenyum sambil mencubit pelan pipi kekasihnya.
"Dulu atau sekarang kamu tetap cantik Devina"
¤¤¤
Satu part lagi untuk hari ini yaaa❤