
Awalnya dia fikir melupakan seseorang itu mudah karena berkali-kali dia telah menghapus banyak orang dari hatinya, tapi ternyata untuk yang kali ini salah terlalu sulit untuk melupakannya. Kembali bertatapan saja sudah membuat jantungnya menggila dan berbicara dengannya saja membuatnya senang bukan main.
Mungkin ini yang dikatakan karma dulu dia sering memainkan hati wanita meninggalkan mereka semaunya tanpa ada rasa bersalah dan sekarang dia yang ditinggalkan. Memiliki fikiran bahwa gadis itu akan selalu mencintainya ternyata adalah sebuah kesalahan besar.
Benar
Wanita itu butuh kepastian bukan hanya kata-kata manis yang bisa hilang dalam sekejap mata.
Benar
Sesuatu yang kamu remehkan sering kali membuatmu terkejut akan kenyataan.
Alexander terjebak dalam perasaan cinta kepada kembaran sahabat baiknya, Devina gadis lugu yang memiliki senyuman manis dan tatapan yang begitu polos.
Sudah dari lama Alex tau kalau gadis itu menyukainya, tapi dia bersikap acuh dan memilih untuk menanggapinya nanti. Mungkin karena dia sudah terbiasa dengan barisan para wanita yang mengantri untuk bisa menjadi kekasihnya, tapi ternyata tidak dengan Devina.
Seseorang berhasil membuat hati gadis itu beralih dan melupakan perasaannya.
Sekarang Alex sedang memperhatikan Devina dalam diam ketika mereka sedang latihan seperti biasa gadis itu akan duduk dipinggir lapangan. Saat semuanya tengah sibuk bermain Alex justru berjalan kesana lalu duduk disamping Devina dan membuat gadis yang tadinya fokus pada ponselnya itu menoleh.
Senyum Devina mengembang membuat jantung Alex berdetak tidak karuan.
"Kamu kenapa gak main?" Tanya Devina
Suaranya begitu lembut dan Alex sangat suka mendengar Devina berbicara.
"Capek"
"Tumben banget, kenapa lagi ada masalah ya?" Tanya Devina
Alex tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan lalu menatap lurus ke depan, andai waktu bisa diulang.
"Kamu tau gak Vin?" Tanya Alex
"Tau apa?" Tanya Devina sambil menatap pria yang tetap memandang lurus ke depan
Alex tersenyum tipis sebelum mengatakan sesuatu yang membuat Deviba diam dan mentapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ada banyak banget cewek yang aku putusin sepihak dan rata-rata dari mereka pasti maki aku bilang kalau aku pria brengsek terus juga bilang kalah suatu saat nanti aku bakal ngerasaiin apa yang namanya sakit hati,"
Ada jeda yang Alex berikan, dia ragu untuk mengatakan hal ini pada gadis disampingnya, tapi entah kenapa dia terus bicara.
"Ternyata mereka bener Vin aku ngerasaiin sakit hati juga dan gini rasanya sakit banget." Kata Alex sambil tertawa kecil
Setiap hari Alex selalu berusaha menghindar dari Devina dan enggan untuk melihatnya agar perasaan ini bisa hilang, tapi dia selalu melihat Devina.
Keluar kelas sering kali melihat Devina.
Pergi ke kantin juga selalu melihat Devina.
Apalagi ketika sedang latihan pasti ada Devina dan Alex akui hal itu membuatnya hampir frustasi karena tidak bisa melupakan Devina, malah selalu terbayang gadis itu setiap waktu.
"Kenapa susah banget lupaiin kamu Vin?" Tanya Alex
Devina diam wajahnya berubah sendu lalu dia menundukkan kepalanya enggan menatap wajah Alex, dia juga tidak mau kalau pria itu merasa tersakiti olehnya.
Dia harus apa?
"Tapi, kamu jangan minta maaf karena ini bener-bener bukan kesalahan kamu Vin." Kata Alex
Devina lalu mendongak dan melihat mata yang kini menatapnya dengan begitu tulus.
"Kamu orang yang begitu tulus Vin dan aku bahagia dengan kenyataan bahwa kamu pernah mencintai aku." Kata Alex
Perlahan senyum Devina terbentuk, dia juga tidak menyesal pernah mencintai Alex.
"Kamu juga harus bahagia Alex kalau aku bukan untuk kamu itu artinya ada orang lain yang lebih baik dari aku untuk kamu." Kata Devina sambil tersenyum
Alex ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya singkat, entahlah dia belum memikirkan hal itu untuk sekarang.
Saat ini Alex hanya ingin menghabiskan waktunya untuk hal lain dan wanita bukan salah satunya, dia memang tidak berpacaran lagi setelah putus dari Hara. Beberapa orang mengira kalau dia belum bisa move on dari Hara, tapi kenyataannya dia belum bisa melupakan Devina.
Perasaan nyata yang untuk pertama kalinya dia miliki untuk seorang wanita.
"Kamu deket sama Mona ya?" Tanya Devina membuat Alex terkejut mendengarnya
Dia tertawa kecil lalu menggelengkan kepalanya pelan.
Dia dan Mona hanya sering bertukar cerita saja memang kadang mereka jalan bersama, tapi baik Alex ataupun Mona tidak memiliki fikiran lain untuk lebih dari seorang teman.
"Cuman teman aku sama dia sering cerita dan ya ada banyak kesamaan di antara aku sama Mona mungkin karena itu ngobrol sama dia gak ngebosenin." Kata Alex
Devina mengangguk faham, dia juga tidak mau bertanya lebih hanya penasaran saja.
"Kamu sama Ziko baik-baik aja kan?" Kata Alex yang dijawab dengan anggukan oleh Devina
Dia tersenyum lalu menghela nafasnya pelan dan beranjak dari tempat duduknya.
"Aku kesana ya Vin." Kata Alex
Setelah mengatakan hal itu Alex berlari memasuki lapangan dan meninggalkan Devina yang terus menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, dia harap seseorang akan bisa memasuki hati seorang Alexander.
Cinta bukan hanya tentang bersama, tapi juga tentang merelakan dan berkorban untuk sebuah bahagia.
Alex mencintai Devina, tapi dia merelakan gadis itu untuk bahagia bersama orang lain.
Tak selamanya seseorang mau menunggu ditengah ketidakpastian karena setiap orang butuh kejelasan.
Devina pernah menunggu, tapi dia pergi ketika lelah menghampiri.
Takdir memang sering kali mempermainkan, tapi manusia terlalu sering meremehkan.
¤¤¤
"Kamu tunggu disini sampai dijemput ya?"
Devina hanya mengangguk sebagai jawaban dari perkataan kembarannya barusan, latihan telah usai, tapi Devano diminta untuk tetap tinggal oleh pelatihnya dan dia tidak mungkin membiarkan Devina menunggu lebih lama. Sekarang sudah pukul lima terlalu sore Devina harus segera pulang, jadi dia memutuskan untuk menelpon Daddy nya saja dan meminta agar Pak Hadi menjemput Devina ke sekolah.
Baru saja ingin beranjak dari duduknya ponsel Devano kembali berbunyi dan ternyata Daffa yang menelpon. Tanpa fikir panjang Devano langsung mengangkatnya dia tidak mungkin meninggalkan Devina sebelum gadis itu dijemput apalagi di lapangan ada banyak sekali siswa yang belum pulang.
"Halo Daddy"
'Vano ternyata Pak Hadi sedang keluar tadi Mommy kamu menyuruhnya untuk pergi ke super market bersama Bi Santi, memang kamu masih lama di sekolahnya?'
"Tidak tau Dad." Kata Devano sambil menghela nafasnya pelan
'Sebenarnya Daddy bisa saja menjemput, tapi Daddy masih di kantor'
"Tidak papa Dad jangan khawatir Vina akan sampai rumah sebentar lagi." Kata Devano
'Daddy matikan ya? Daddy harus segera menghadiri rapat'
Setelah panggilan telponnya mati Devano menatap kembarannya yang tengah melihatnya dengan raut wajah bingung.
"Telpon Ziko tanya apa dia bisa jemput kamu atau tidak." Kata Devano
"Aku nunggu kamu aja gak papa Van." Kata Devina sambil tersenyum
Devano menggelengkan kepalanya pelan lalu mengusap pipi Devina dengan lembut, terlalu lama biasanya kalau pelatihnya sudah mengajak bicara pasti ada sesuatu yang penting.
Mungkin akan ada pertandingan dalam waktu dekat.
"Coba telpon Ziko." Kata Devano lagi
Devina hanya mengangguk patuh lalu mencoba untuk menelpon kekasihnya dan tidak ada jawaban bahkan hingga tiga kali.
"Gak diangkat biasanya kalau jam segini dia memang gak pegang hp." Kata Devina yang sangat tau kebiasaan kekasihnya
Biasanya Ziko sedang kumpul bersama Gio dan yang lainnya atau sedang di studio untuk latihan musik.
"Ehh belum pulang"
Suara itu membuat mereka berdua menoleh dan ada Alex bersama dengan Erick yang baru saja datang dari arah kantin. Terlihat seperti sedang berfikir akhirnya Devano meminta temannya untuk mengantar Devina pulang ke rumah.
"Kalian ada yang bisa anterin Vina pulang?" Tanya Devano
"Kalau gue enggak bisa Van soalnya nyokap barusan telpon." Kata Erick yang dijawab dengan anggukan singkat oleh Devano
Lalu Devano menatap Alex dan pria itu mengangguk sebagai jawaban, sebenarnya dia sudah ada janji, tapi setidaknya dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
"Pulang sama Alex ya Vin? Kalau udah sampai rumah kabarin." Kata Devano
Devina hanya mengangguk lalu melambaikan tangannya pada Devano yang berlalu pergi menghampiri pelatihnya.
Sesaat setelahnya Devina menatap kedua teman Kakaknya itu sambil tersenyum kemudian mengikuti langkah kaki mereka menuju parkiran. Sebenarnya dia tidak masalah meskipun harus menunggu kembarannya, tapi hari yang sudah semakin sore dan cukup banyak siswa yang masih berada dilapangan membuat Devano menolaknya.
Lebih baik Devina pulang.
Sampai di parkiran Erick pamit lebih dulu dan setelahnya Alex menemani Devina untuk mengambil helm di motor Devano.
"Biasanya kalau udah dipanggil pelatih kayak gitu bakal lama Vin makanya Vano minta kamu untuk pulang duluan." Kata Alex
Devina mengangguk faham sambil mengikuti langkah kaki Alex menuju motor pria itu dan beruntung pria itu sedang membawa motor mattic.
"Memang biasanya bicaraiin apa?" Tanya Devina penasaran
"Banyak, mungkin soal pertandingan atau turnamen dan bisa juga soal anggota tim." Kata Alex
Sekali lagi Devina mengangguk faham lalu dia menunggu Alex mengeluarkan motornya dan segera naik ketika pria itu sudah menghidupkan mesin motornya. Sepanjang perjalanan mereka diam dan tidak ada yang bicara, sibuk dengan fikirannya masing-masing.
Devina yang merasa sedikit cemas kalau Ziko sampai tau dan marah.
Alex yang merasa bahagia juga bersalah karena membatalkan janji secara sepihak agar bisa mengantar Devina pulang.
Sekitar dua puluh menit motor Alex berhenti di rumah keluarga Wijaya dan Devina segera turun lalu melepas helmnya. Senyum manisnya mengembang bersamaan dengan ucapan terima kasih yang Devina ucapkan.
"Makasih Alex"
Alex hanya mengangguk sebagai jawaban sambil terus menatap Devina yang terlihat sangat cantik sekarang.
"Hati-hati ya?" Kata Devina ketika Alex kembali menutup kaca helmnya
Sekali lagi Alex mengangguk dan tanpa mengatakan apapun lagi motornya berlalu pergi meninggalkan rumah keluaga Wijaya.
Tersenyum tipis Devina melangkahkan kakinya ke dalam dan dia langsung disambut dengan Fahisa yang memeluknya.
"Kamu pulang sama siapa?" Tanya Fahisa
"Sama Alex." Kata Devina
"Yaudah mandi dulu gih keburu makin sore nanti dingin." Kata Fahisa
Devina mengangguk patuh lalu bergegas pergi ke kamarnya, tapi dia tidak langsung mandi dan malah merebahkan dirinya di atas ranjang. Bersamaan dengan itu ponselnya berdering, telpon dari Ziko dan Devina langsung mengangkatnya.
'Vin kenapa tadi nelpon? Ada sesuatu? Kamu butuh sesuatu?'
"Enggak kok tadi mau minta jemput ke sekolah soalnya Vano bakal lama disana." Kata Devina
'Terus kamu udah pulang? Tadi hp aku di cas'
"Udah ini baru sampai di rumah." Kata Devina
'Terus kamu pulang sama siapa jadinya?'
Pertanyaan itu membuat Devina diam sebentar, tapi tetap memberikan jawaban.
"Sama Alex"
Hening
Tak ada sautan Ziko hanya diam, tapi panggilannya tetap berlanjut.
Pria itu tidak akan marah kan?
"Zikoo marah yaa?" Tanya Devina ketika pria itu tak lagi mengeluarkan suara
'Enggak kok'
"Bohong! Marah yaa? Aku gak ngapa-ngapain kok pas udah sampai rumah langsung pulang." Kata Devina
Lalu tawa kecil Ziko terdengar di telinga Devina.
'Enggak Vin cuman kesel aja, tapi sedikit'
Devina tersenyum mendengarnya, dia kira Ziko akan marah.
'Aku lagi belajar untuk gak cemburuan Vin, tapi tetep kalau kamu deket-deket sama cowok lain aku cemburu!'
Devina tertawa dan mengatakan kalau hal itu tidak akan pernah terjadi.
'Karena?'
Tersenyum manis Devina mengatakan hal yang membuat Ziko juga ikut tersenyum.
"Karena Vina cuman cinta sama Ziko"
Ya, seharusnya alasan itu sudah cukup untuk membuat Ziko percaya.
¤¤¤
Tenang masih ada satu lagii😋