
Menonton pertandingan basket Devano bukan lagi hal yang aneh bagi Adara karena dia bahkan menemani kekasihnya setiap latihan, bisa dibilang hal itu adalah kewajiban bagi Adara sekarang. Berbeda dengan dulu dimana Adara merasa sebal dengan Devano dan sering kali mendengus kesal ketika para wanita bersorak untuk Devano kali ini Adara merasa cemburu ketika mendengar banyak wanita yang memuji kekasihnya.
Selain itu Adara juga selalu terpesona dengan penampilan Devano yang memakai jersey ditambah lagi pria itu yang berkeringat juga rambut basah yang berantakan, sangat menawan. Rasanya Adara ingin memaki diri sendiri karena dulu sempat meremehkan Devano dan mengatakan kalau pria itu sok kegantengan.
PADAHAL MEMANG GANTENG!
Adara benar-benar terpesona apagi ketika Devano yang berhasil memasukkan bola ke ring menatapnya lalu tersenyum padanya. Bukan hanya Adara, tapi hampir seluruh gadis yang melihatnya merasa sangat terpesona dengan ketampanan Devano.
'Ya ampun Vano ganteng bangettt'
'Kenapa bisa ada orang seganteng itu?!'
'VANOOO SEMANGAT!'
'Vano semangatt sayangggg'
Kuping Adara benar-benar panas mendengarnya padahal dulu dia biasa saja, tapi sekarang mendengar orang lain memuji kekasihnya dia merasa sangat kesal. Sekarang dia mengerti kenapa Devano marah ketika dia berdekatan dengan Satria atau Alex dan yang lainnya karena Adara juga merasakan hal yang sama sekarang.
"Dara mukanya sebel banget ihh." Kekeh Devina membuat Adara menoleh dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"Sebel Vin." Keluh Adara
"Kamu gak tau ya? Setiap hari pasti bangak banget cewek yang chat Vano." Kata Devina
"Beneran Vin?" Tanya Adara
Devina mengangguk sebagai jawaban, memang banyak sekali bahkan Devano sering kali mengeluh.
"Iya biasanya gak dia balas atau baca kadang dia suka ngomel sendiri karena banyak banget chat yang masuk sampai chat dari aku atau teman-temannya yang lain tenggelam." Kata Devina
"Gue setiap lihat hp Vano gak pernah lihat chatnya sih." Kata Adara
"Heem Vano ngomel terus sampai mau ganti nomor, tapi aku bilang jangan soalnya itu nomor dia dari lama." Kata Devina
"Salahnya sih ganteng banget jadi banyak yang suka kan." Kata Adara membuat Devina tertawa mendengarnya
"Emang dulu ya banyak banget cewek-cewek yang nanyaiin nomor Vano ke aku." Kata Devina
"Enggak heran sih, ngomong-ngomong Vin pacar lo gak marah? Biasanya dia marah." Kata Adara
Devina tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan sekarang Ziko sudah tidak pernah marah lagi, mungkin hanya mengomel saja.
Selain itu ini pertandingan terakhir sebelum Devano kembali fokus pada ujiannya dan tidak lagi aktif di basket, jadi dia harus menonton.
"Enggak, nanti dia jemput aku kalau udah selesai." Kata Devina
"Bagus deh, enggak enak ya Vin dicurigain?" Kata Adara yang dijawab dengan anggukan oleh Devina
"Iyaa aku kesel sendiri kadangan." Kata Devina dengan wajah sebalnya
"Sama gue juga kadang gue cuman ngobrol sama Alex atau Erick aja Vano udah sibuk sendiri." Kata Adara
Devina tertawa lalu mereka kembali melihat pertandingan yang sudah mau selesai dengan tim sekolah mereka yang memiliki point unggul.
"Ehh lihat gak Vin cewek itu? Dia dateng sama Alex tadi." Kata Adara sambil menunjuk seorang wanita dua bangku di hadapannya
Seorang gadis dengan seragam yang sama, tapi Devina tidak tau sepertinya dia adik kelasnya.
"Kayaknya itu adik kelas ya?" Kata Devina
"Hmm anak kelas sebelas." Kata Adara
"Sekarang kamu suka gosip ya?" Kekeh Devina membuat Adara ikut tertawa mendengarnya
"Cuman sama lo doang Vin." Kata Adara
"Masa? Sama Vano juga pasti." Kata Devina
"Enggak, Vano mah gue ajakin gosip malah marah dan bilang jangan ngurusin orang atau yaudah biarin, jadi males gue." Kata Adara
"Vano memang gitu enggak suka kalau di ajak gosip, tapi aku suka maksa." Kata Devina
Suara sorakan membuat keduanya sedikit terkejut lalu menyadari kalau pertandingan telah selesai dan dimenangkan oleh tim sekolah mereka. Senyum Adara mengembang dengan sempurna, tapi dia langsung memasang wajah masamnya ketika Devano melepas jerseynya dan berjalan ke pinggir lapangan.
Otot pria itu terlihat dengan jelas dan membuat para siswi histeris apalagi bukan hanya Devano, tapi Alex juga.
Dua most wanted yang menunjukkan tubuh kekarnya.
"Sabar Dara sabar." Kata Devina sambul menepuk-nepuk bahu gadis itu pelan
Dia dapat melihat wajah penuh kekesalan Adara dan mereka berdua turun dari tempat penonton untuk menghampiri Devano juga yang lainnya. Saat melihat Devano yang menyampirkan jerseynya di pundak Adara mendengus kesal dan menghampirinya.
"Sok kegantengan banget sih Van lepas-lepas baju! Mau tebar pesona ya?" Kata Adara kesal
Teman-teman Devano tertawa melihatnya, padahal Devano biasa melakukannya setiap selesai pertandingan karena merasa panas.
"Singanya bangun"
"Vano nyari mati"
Devina juga ikut tertawa biasanya dia membawa kipas, tapi kipasnya rusak dan dia belum beli yang baru.
"Kenapa Dar?" Tanya Devano tanpa rasa berdosa
"Lo tuh ihh nyebelin banget sih! Pake bajunyaaa." Kata Adara sambil melotot
"Adara kayak emak-emak yang lagi marahin anaknya gak sih?" Tanya Alex membuat mereka tertawa
"Biarin lah Dar mau ngasih pemandangan dia." Kata Erick
Adara menoleh dan menatap mereka dengan sangat tajam lalu kembali melihat Devano yang hanya diam.
Ayolah Vano panas sekali sekarang ditambah lagi lapangan yang cukup padat membuat hawa semakin panas.
"Van ihh pakeee"
Bukan memakai jerseynya Devano malah menarik tangan Adara agar duduk disampingnya dan hal itu membuat kekasihnya diam.
"Langsung diem." Kata Alex sambil tertawa
"Ihh Vanoo bilangin Mommy yaaa?" Kata Devina dengan mata memicing
"Bilangin Vin anaknya nakal gitu buka-buka baju di lapangan." Kata Erick membuat Devano mendengus kesal
"Panas Vin kamu kenapa gak bawa kipas?" Tanya Devano
"Kan rusak Vano belum temenin buat beli lagi." Kata Devina
"Sini aku temenin Vin." Kata Erick
Devina tertawa karena wajah Erick terlihat lucu.
"Sama aku aja deh Vin." Kata Yuda
"Sama Ziko aja." Kata Devina sambil tertawa
"Emang enak lo berdua!" Kata Adara membuat keduanya menatap Adara dengan sebal
Merasa haus Devano berdiri dan mengambil minum lalu menenggak habis minumannya. Dalam diam Adara memperhatikannya sambil mengumpat pada fikiran tak tau dirinya.
Sialan seksi banget!
"Kedip neng." Kata Alex membuat Adara merasa kesal dan memukul lengannya cukup kuat
Devina tertawa meilihatnya apalagi Alex sampai meringis kesakitan.
"Makanya Alex jangan jahil." Kata Devina
"Habis ini masih ada lagi enggak Vano?" Tanya Devina
Devano menggelengkan kepalanya pelan.
"Udah gak ada, kenapa?" Tanya Devano sambil menghampiri kembarannya
"Enggak papa kalau udah mau selesai aku mau minta jemput Ziko." Kata Devina dengan senyuman
"Udah enggak ada kok." Kata Devano sambil mengusap puncak kepala kembarannya dengan sayang
Kenapa Devina tidak terlihat gugup sama sekali?
Mungkin karena sudah sering melihat Devano seperti itu, tapi beda cerita kalau Adara yang ada disana dia pasti sudah pingsan.
Dia tidak kuat.
¤¤¤
Selama perjalanan pulang wajah Adara terlihat kesal dia sepertinya sedang bad mood karena ketika keluar tadi ada beberapa gadis yang menghampiri Devano sambil memberikan coklat. Selain itu Devano juga hanya diam sambil menerima semuanya dan mengucapkan terima kasih dengan wajah datarnya.
Hal lain yang membuat kesal Devano sama sekali tidak peka kalau Adara merasa marah padanya, dia hanya diam dan fokus pada jalanan. Padahal Adara sangat-sangat kesal sekarang dia tidak suka dengan fakta bahwa ada banyak gadis yang menyukai kekasihnya.
"Aku antar ke rumah kamu ganti baju dulu aku mau ajak kamu ke suatu tempat." Kata Devano
"Kemana?" Tanya Adara ketus
"Pantai"
Adara terdiam dan menoleh lalu menatap Devano yang sibuk menyetir dengan mata menatap lurus ke depan.
"Kamu mau pakai baju sekolah?" Tanya Adara
"Ada ganti di belakang nanti aku ganti di rumah kamu." Kata Devano
Adara mengangguk faham dan menatap ke depan juga lalu tersenyum, pria itu selalu tau cara membuatnya senang.
"Kamu marah?" Tanya Devano
"Kesel!"
Tawa Devano terdengar dan membuat Adara kembali kesal.
"Kok ketawaaa?" Tanya Adara
"Enggak papa senang aja." Kata Devano
"Ihh kok malah senang sih?!" Tanya Adara
Kembali tertawa Devano mencubit pipi kekasihnya dan mengatakan sesuatu yang membuat Adara diam.
"Kamu cemburu kan? Cemburu itu tanda cinta berarti kamu cinta sama aku." Kata Devano
Wajah Adara mulai memerah dan membuat Devano yang meliriknya sekilas tersenyum lalu mengusap lembut pipinya.
"Lucu"
"Vann jangan gitu dong." Keluh Adara
"Gitu gimana?" Tanya Devano sambil tertawa
"Jangan gombal." Kata Adara
"Siapa yang gombal?" Tanya Devano
"Kamulah masa aku!" Kata Adara sambil mengerucutkan bibirnya sebal
"Mau dicium ya?" Kata Devano
Mata Adara membulat lalu dia memumul lengan Devano cukup kuat dan sekarang wajahnya benar-benar memerah.
"Diajarin siapa sih kamu? Sekarang sering banget ngomong gitu!" Kata Adara
"Alex"
Ah tentu saja siapa lagi kalau bukan Alexander.
¤¤¤
Sebelumnya Adara tidak terlalu suka dengan pantai, tapi kalau bersama Devano dia akan menyukainya meskipun mereka hanya duduk sambil menikmati es kelapa. Kalau diingat-ingat baru tiga kali Adara ke pantai dua kali bersama Bunda nya dan satu kali bersama Devano.
Suasana pantai memang sangat sejuk dan menenangkan bahkan meskipun ada cukup ramai pengunjung. Hari sabtu jadi pantai cukup ramai, tapi tidak masalah karena mereka berdua juga tidak berniat untuk bermain air.
Mengingat hari yang beranjak sore Adara berniat mengajak Devano pulang, tapi pria itu bilang mereka harus melihat sunset dulu. Selain itu baru sebentar juga mereka sampai makanya Devano meminta untuk pulang nanti saja.
Dia juga sudah izin pada orang tuanya dan jangan lupa pada Devina juga.
"Jadi? Kamu suka lihat sunset?" Tanya Adara
Devano menggelengkan kepalanya pelan.
"Terus kenapa kok gak mau pulang kalau belum lihat sunset?" Tanya Adara
"Katanya kalau lihat sunset sama orang yang kamu cinta itu romantis, aku mau jadi cowok romantis." Kata Devano membuat Adara tertawa mendengarnya
"Kata-kata dari mana itu?" Tanya Adara sambil tertawa
"Pernah denger aja." Kata Devano
Adara tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke depan.
"Aku pernah ke pantai dua kali sama Bunda waktu masih kecil." Kata Adara
"Jadi, ini yang ketiga?" Tanya Devano
Adara mengangguk lalu menatap Devano dengan senyuman.
"Iya, makasih Van." Kata Adara
Bergumam pelan Devano mengusap pipi Adara dengan sayang.
"Kenapa sih suka banget ngusap-ngusap pipi?" Tanya Adara penasaran
"Kalau cium memang boleh?" Canda Devano
Adara membulatkan matanya lalu memukul lengan Devano pelan.
"Jangan temenan sama Alex deh! Kamu jadi gak bener Van!"
Tertawa kecil Devano merangkul Adara dan menariknya mendekat.
"Yang bener kayak mana? Gini ya?"
Sekali lagi Devano membuat Adara terkejut ketika dia mencium puncak kepalanya.
Devano benar-benar tidak beres!
¤¤¤
Bilanginn Mommy Hisa sama Daddy Daffa yaa kamu Vannn😂
Double up untuk besok yaaa sekarang satu ajaaa😉