My Possessive Twins

My Possessive Twins
72 : Perlakuan Manis



Setelah berhasil membujuk Devano dengan segala macam rayuan juga ancaman akhirnya Devina berhasil mendapat izin untuk pergi ke rumah Ziko. Sudah sejak lama Nazwa meminta kekasih anaknya itu untuk datang dan Ziko selalu memberikan alasan kalau Devina ada urusan atau Devina sedang sibuk, tapi lama kelamaan Devina jadi tidak enak sendiri.


Mendadak Devina merasa seperti orang sombong saja lalu setelah acara double date mereka dia merengek pada Devano yang akhirnya pria itu izinkan. Namun, seperti biasa meskipun memberi izin Devina tetap mendapat ultimatum dari kembarannya yang sebenarnya hal itu sudah sering sekali Devano katakan atau ingatkan.


"Jangan pulang terlalu malam kalau bisa jangan malam-malam dan kabarin aku kalau pulangnya malam." Kata Devano yang hanya dijawab dengan anggukan oleh kembarannya


"Tau kan batas pulangnya? Jangan sampai kayak...."


Dengan cepat Ziko memotong ucapan Devano.


"Jam sembilan harus udah sampai rumah kan? Iya gue inget dan gue bisa jamin Devina gak akan pulang sampai jam segitu." Kata Ziko dengan penuh keyakinan


"Bagus, kalau gitu aku pulang dulu ya Vin?" Kata Devano


Devina mengangguk sambil tersenyum ketika Devano mengusap puncak kepala dengan sayang sebelum mengajak Adara untuk pulang.


"Yuk Dar"


Seperti biasa Adara hanya menurut dan menaiki motor ketika Devano sudah mengeluarkannya. Sebelum pergi Adara menoleh ke arah Devina lalu melambaikan tangannya.


"Dadahhhh"


Setelah keduanya pergi Devina menatap Ziko dengan penuh semangat dan mengajak kekasihnya itu untuk pergi agar mereka punya banyak waktu.


"Sini pakai helmnya dulu." Kata Ziko sambil memakaikan helmnya di wajah Devina dan membuat gadis itu tersenyum senang


Padahal dia bisa melakukan sendiri.


"Aku bisa pakai sendiri." Kata Devina


"Gak papa"


Tanpa sadar beberapa orang yang ada di parkiran menatap ke arah mereka.


Setelah Ziko mengeluarkan motornya Devina segera naik dan berpegangan pada pundaknya, tidak dia tidak pernah memeluk Ziko dari belakang.


Malu


Hanya itu satu alasan yang akan dia katakan karena Devina benar-benar malu dan lagi dia rasa itu tidak perlu dia tidak akan jatuh meski tidak berpegangan.


Asalkan dia hanya duduk diam.


Devina sangat menikmati perjalanan mereka hingga akhirnya mereka berdua sampai di rumah Ziko dan ketika turun kekasihnya itu langsung menggenggam tangannya dengan cukup erat. Keduanya saling melemparkan senyum lalu bersama-sama memasuki rumah yang cukup besar itu.


Ini kali kedua Devina datang dan rasanya masih sama, dia gugup juga sedikit takut.


Perasaan itu hanya sebentar karena ketika Devina masuk ke dalam dan ketika matanya bertemu dengan mata milik Nazwa dia merasa lebih lega. Tatapan mata wanita paruh baya itu sama seperti tatapan Fahisa untuknya, penuh kelembutan juga kasih sayang.


Bukan hanya Ziko, tapi Devina juga mendapat pelukan hangat yang membuatnya senang.


"Akhirnya Ziko ajak kamu kesini lagi." Kata Nazwa senang


"Hehe maaf Tante aku baru bisa dateng kesini." Kata Devina


Nazwa mengangguk faham dan menggandeng tangan Devina lalu meminta gadis itu untuk duduk selagi dia mengambilkan minum.


"Vina, aku ganti baju dulu ya?" Kata Ziko


Mendongakkan kepalanya Devina tersenyum lalu mengangguk singkat sebagai jawaban.


Beberapa saat setelah Ziko pergi ke kamarnya Nazwa kembali dengan membawa minuman juga beberapa makanan ringan.


"Terima kasih Tante maaf kalau merepotkan." Kata Devina sopan


"Enggak dong sayang Tante justru senang dan kalau bisa malah setiap hari aja kamu datang." Kata Nazwa dengan penuh antusias


"Hehe iya Tante"


Devina benar-benar bingung harus memberikan tanggapan apa, jadi dia hanya tertawa kecil saja.


"Kata Ziko kamu punya kembaran ya?" Tanya Nazwa yang dijawab dengan anggukan oleh Devina


"Iya, namanya Devano kami satu sekolah cuman kalau sama Vano beda kelas." Kata Devina


"Dulu Tante mau banget punya anak kembar, tapi malah cuman punya anak satu." Kata Nazwa


Devina hanya menanggapinya dengan senyuman.


Dia benar-benar bingung harus menjawab atau memberi tanggapan apa.


"Ziko itu anaknya humoris banget makanya Tante suka kesepian kalau dia gak ada di rumah." Kata Nazwa


"Iya di sekolah Ziko juga gitu sering buat orang-orang ketawa." Kata Devina


"Ziko juga selalu berhasil menghibur Tante kalau misal dia melihat Tante lagi sedih atau bad mood pasti dia langsung ambil gitar dan nyanyi." Kata Nazwa membuat Devina tersenyum ketika mendengarnya


Ziko juga sering melakukan hal itu padanya kalau Devina sedih atau kesal dia selalu menghiburnya.


"Tante harap kamu benar-benar takdir yang Tuhan kirimkan untuk Ziko." Kata Nazwa sambil mengusap pipi Devina dengan lembut


Tatapan matanya begitu penuh dengan ketulusan juga kasih sayang seorang Ibu.


Tidak ada yang bisa Devina katakan sehingga dia hanya tersenyum manis sambil menatap orang tua kekasihnya itu dengan tatapan penuh arti.


"Pasti Ziko udah selesai kamu ke kamarnya aja ada di atas yang pintu dekat tangga, nanti jangan langsung pulang ya? Makan dulu disini." Kata Nazwa dengan lembut


Sekali lagi Devina hanya mengangguk dan bergumam pelan lalu ketika wanita paruh baya itu pergi ke dapur Devina masih tetap diam, dia ragu untuk pergi ke kamar kekasihnya. Namun, berdiam diri sendirian juga tidak menyengangkan dan akhirnya setelah menaruh tasnya di sofa Devina melangkahkan kakinya menaiki tangga.


Seperti yang tadi Nazwa katakan Devina berdiri di depan pintu berwarna hitam dan mengetuknya pelan.


"Zikoo"


Beberapa kali Devina memanggil, tapi tetap tidak sahutan hingga akhirnya dia memutuskan untuk masuk dan tidak ada orang hanya saja ada suara gemercik air.


Devina tetap membiarkan pintu terbuka dan dia melangkahkan kakinya masuk. Kamar kekasihnya bernuansa hitam putih sama seperti kamar kembarannya, tapi kamar Devano lebih rapih.


Kamar kekasihnya juga tak kalah rapih hanya saja ada banyak buku yang berserakan di meja belajarnya bahkan ada yang keluar dari raknya juga. Tersenyum tipis Devina mendekat dan merapihkan buku yang berceceran di meja juga lantai tak lupa dia juga menutup kembali laci buku yang terbuka.


Menarik kursi Devina duduk dan matanya menangkap bingkai foto yang berdiri manis di meja belajar kekasihnya, foto itu foto mereka berdua ketika di pantai.


Mengambil bingkai itu Devina tersenyum senang dan tangannya mengusap foto itu dengan sangat lembut.


Tak lama setelahnya dia dibuat terkejut dengan suara Ziko juga pintu yang terbuka.


"Vina?"


Mengerjapkan matanya berkali-kali Devina mengalihkan pandangannya ketika melihat sang kekasih yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk di lehernya.


Tidak, Ziko sudah berpakaian tenang saja hanya rambutnya yang basah juga berantakan.


"Lama ya? Aku mandi dulu tadi." Kata Ziko


"Emm enggak juga aku kesini karena Mama kamu yang suruh." Kata Devina membuat Ziko mengangguk faham


Dia mengeringkan rambutnya dengan handuk dan Devina terus memperhatikannya dalam diam, kenapa Ziko tampan sekali?


"Ganteng ya Vin?" Kata Ziko seolah bisa membaca tetapan Devina


Sedangkan Devina yang kepergok memperhatikan kekasihnya itu memasang wajah cemberut lalu mengalihkan pandangannya dengan wajah yang memerah.


"Kamu rapihin meja aku?" Tanya Ziko ketika sadar kalau meja belajarnya sudah sangat rapih


Sebenarnya dia hampir tidak pernah belajar dan kenapa mejanya begitu berantakan karena setiap ingin menyiapkan buku yang lain Ziko hanya akan mengeluarkan buku yang ada di dalam tas lalu menaruh asal di meja.


Kalau laci yang terbuka dan buku yang berserakan itu karena dia yang sering terburu-buru ketika bangun kesiangan.


"Memang kadang kalau Mama masuk kamar pasti aku diomelin." Kata Ziko membuat Devina tertawa mendengarnya


Devina kembali memperhatikan Ziko yang sekarang sedang menggantungkan handuknya lalu mengambil sisir untuk merapihkan rambutnya yang masih setengah basah.


"Kamu rutin potong rambut ya Ziko?" Tanya Devina


Dia baru sadar kalau rambut Ziko selalu segitu, tapi Devina suka.


"Hmm biasa Mama bakal cerewet banget kalau rambut aku udah panjang." Kata Ziko


Kembali tersenyum Ziko menghampiri Devina dan mengulurkan tangannya.


"Yuk jangan berduaan di kamar gak boleh, mau nonton film?" Tanya Ziko


Devina mengangguk sebagai jawaban dan menyambut uluran tangan Ziko lalu mereka berdua sama-sama keluar dari kamar.


"Suka film horror?" Tanya Ziko


"Enggakkk"


"Action?" Tanya Ziko lagi


"Emm lumayan." Kata Devina sambil tersenyum


"Kalau gitu kita nonton action." Kata Ziko


Setelahnya Ziko meminta Devina untuk menunggu di ruang musik selagi dia mengambil laptop dan beberapa cemilan. Sambil menunggu kekasihnya Devina mengelilingi ruangan yang cukup luas ini dan mendekat ke arah jendela melihat keluar dari sana.


Sepi sekali hanya ada mobil yang terparkir juga beberapa orang yang berjalan.


Terkadang Devina ingin tinggal di daerah pedesaan atau pantai yang selalu ramai dengan orang-orang.


"Vina"


Mendengar suara itu Devina menoleh dan tersenyum pada Ziko yang sekarang sedang meletakkan laptop miliknya di meja.


Baiklah mari kita buat bioskop mini.


¤¤¤


Setiap bersama dengan Ziko waktu terasa begitu cepat hingga tanpa mereka sadari sekarang sudah menjelang malam dan keduanya tengah berada di ruang tengah. Mereka sudah menghabiskan dua film action dan Devina terlihat sangat-sangat senang karena bisa menghabiskan waktu dengan kekasihnya.


Beberapa saat yang lalu Devano juga sudah mengirim pesan untuknya dan mengatakan agar dia pulang sebelum jam sembilan. Tentu saja Devina juga sebentar lagi akan pulang.


Sekarang dia tengah asik dengan spidol ditangannya.


Menundukkan kepalanya Devina terlihat begtu fokus menggambar di power bank milik kekasihnya bahkan Ziko sampai tidak habis fikir dengan kelakuannya. Ada saja cara untuk menghilangkan bosan, tapi saat ini Devina terlihat begitu lucu.



Entah sudah berapa lama dia melakukannya, tapi ketika gadis itu mendongak dan tersenyum lebar sambil menunjukkan karyanya Ziko juga ikut merasa senang.


"Lucu kannn?" Kata Devina


Ziko mengangguk dan mencubit pipi Devina dengan cukup kencang.


"Lebih lucu yang buat." Kata Ziko


Kali ini Devina tidak marah karena pipinya dicubit, tapi dia kembali tersenyum dan meraih tangan kekasihnya lalu meletakkan power bank itu ditelapak tangannya.


"Harus disimpan dan dibawa kalau mau pergi." Kata Devina


"Kalau bawa kamu aja boleh gak?" Tanya Ziko membuat Devina menatapnya dengan malas


"Enggak boleh masih hak miliknya Mommy sama Daddy." Kata Devina


Mendengar hal itu Ziko tertawa dan keduanya menoleh bersamaan ketika suara Nazwa terdengar.


"Makan dulu yuk? Nanti Vina keburu pulang Mama gak mau kalau Vina pulang sebelum makan." Kata Nazwa


Belum sempat Ziko bicara Nazwa sudah menghampiri Devina lalu merangkulnya dan mengajak gadis itu ke ruang makan meninggalkan Ziko dibelakang.


Dia senang sekali karena Mama nya menyukai kekasihnya.


¤¤¤


"Udah pulang?"


Pertanyaan itu Devina jawab dengan anggukan juga pelukan hangat untuk kembaranya yang baru saja memasuki kamar. Tadi ketika dia sampai rumah Devano sedang keluar membeli martabak atas perintah Mommy makanya dia baru muncul.


Devano senang karena kembarannya itu menurut dan sampai rumah ketika pukul delapan malam. Sekarang Devina sudah berganti pakaian dengan piyama tidurnya dan tengah membalas pesan dari teman-temannya.


"Tadi ngapain aja? Gak keluar-keluar kan?" Tanya Devano penuh selidik


"Emm enggak kok tadi kita cuman nonton film terus makan hehe Mama nya Ziko baik banget Van." Kata Devina senang


Mendengar hal itu Devano ikut merasa senang.


"Vanooo"


"Hmm"


Devina melepaskan pelukannya dan menatap Devano dengan penuh permintaan.


"Tungguin aku tidur ya? Nanti kalau aku udah tidur Vano baru balik ke kamar." Kata Devina


Hanya anggukan yang Devano berikan dan ketika Devina membaringkan tubuhnya di ranjang secara refleks Devano menarik selimut untuk kembarannya.


"Vano ikut tidur aku mau peluk, kayak dulu hehe." Kata Devina sambil menunjukkan cengirannya


Menggelengkan kepalanya pelan Devano tetap menurut dan dengan penuh semangat Devina langsung memeluknya.


"Aku manja ya?" Tanya Devina


"Hmm"


"Vano kenapa suka kalau aku manja?" Tanya Devina pensaran


"Karena kamu lucu gemesin." Kata Devano sambil mencubit pelan pipinya


Saat Devina ingin bicara lagi Devano langsung menyuruhnya diam dan mengeratkan pelukannya.


"Tidur biar gak kesiangan"


Entah pelukan Devano yang terlalu nyaman atau Devina yang memang mengantuk, tapi gadis itu sudah mulai terlelap sekarang.


Setelah sekian lama Devina kembali tertidur di dalam pelukan kembarannya.



"Mimpi indah Devina"


¤¤¤


Huftt satu aja yaaa :)


Ini bener-bener udah luangin waktu ditengah kuliah😂


Harusnya udah dari tadi, tapi tiba-tiba ada tugas dari dosen yang harus dikumpul habis maghrib😂


Bagaimana dengan episode hari iniiii????